Second Chance (Part 2)

Sebelum Author Hiatus selama sebulan penuh…

Author berusaha menyelesaikan FF ShinTeuk Couple ini nih…

Jeng…. Jeng…

Tapi ini juga masih Part 2 *tepok jidat…

Semoga readers pada suka and gak bingung hehehe…

Gomawoe…

Ditunggu komennya (harus)….

Jungshin POV

            Sudah hampir 3 minggu aku menjalani “kehidupan baruku”. Begitu banyak kejadian yang membuatku bahagia, gugup, senang, dan khawatir pada saat yang bersamaan. Sering kali otakku tidak kuat untuk menampung berbagai perasaan itu.

            Pekerjaanku sebagai suster bukanlah hal mudah, apalagi dengan backgroundku yang memang bukan di bidang kesehatan seperti ini. Berkali-kali Dokter Han menegurku.
“Aigooo Jungshin-shii bagaimana kau bisa salah mengambilkan obat suntik!!!”

            “Jungshin-shii… apa kau tidak pernah belajar membaca tulisan dokter! Kau salah mengartikan resep ini!”

            “Jungshin-shii… aku minta diambilkan stetoskop! Kenapa kau mengambilkan tensimeter!”

“Jungshin-shii.. apa kau ingin membunuh pasien!!!”

Setiap hari rasanya aku ingin menangis…

“Sooyoung-ah… bisakah aku pindah kerja!!! Aku merengek pada chinguku saat kami istirahat di kantin rumah sakit.

“Andweee.. apa kau lupa perjuanganmu untuk bisa sampai kesini!” Jawab Sooyoung datar, masih sibuk melahap roti coklat kesukaannya.

“Mwo??? Apa aku sangat menginginkan pekerjaan yang merepotkan ini?”

“Aigoooo… apa kau ini benar-benar amnesia!!! Kau sampai mengurung diri dikamar selama seminggu untuk belajar ujian masuk menjadi suster, setiap hari kau datang ke rumah sakit untuk bertanya pada setiap suster yang lewat didepanmu!!!”

“Jinjja? Aku???”

“Ne… tentu saja! Jadi kau tidak boleh berkata ingin berhenti jadi suster. Bukankah kau bilang menjadi suster itu adalah pekerjaan mulia!”

“Ne… kau benar… suster memang pekerjaan yang mulia. Aku juga merasa senang setiap melihat suster dengan pakaian putihnya selalu berusaha tersenyum dan menghibur pasiennya. Kau tahu, suster yang merawatku selama aku sakit juga selalu berusaha mengajakku bicara dan bercanda…” Aku tersenyum mengingat memori tentang suster yang dengan sabar merawatku.

“Aigooooo kau mulai berkhayal lagi.” Sooyoung menatapku tak percaya.

“Kau masih tidak percaya padaku?”

“Mollayo… terserah kau saja.”

“Hehehe… kau memang chingu terbaikku… Jadi apa kau siap megajariku menjadi suster yang baik?” Aku menatap chinguku itu dengan penuh harap.

“Aishhhhh… ne… ne… aku akan membantumu… asal kau menepati janjimu untuk mentraktirku setiap hari…

“Arraseo sahabatku, cintaku, sayangku Sooyoung-ah hahahaha…”

Sejak itulah Sooyoung menjadi mentor pribadiku. Dia berusaha dengan sangat sabar mengajari diriku yang malas ini tentang dasar-dasar menjadi suster. Dokter Hanpun sepertinya mulai sedikit sabar menghadapi setiap kecerobohon yang aku lakukan. Sekarang aku bisa membedakan mana itu stetoskop, mana itu tensimeter. Dan aku bisa berhasil membaca tulisan Dokter Han yang seperti cakar ayam itu.

“Huwaaaaa… aku tidak kuat lagi!!!”

Aku pasrah saat melihat tumpukan buku-buku kesehatan yang masih tertata rapi di atas meja coklatku. Sudah seminggu ini aku begadang membaca buku-buku yang aku pinjam dari perpustakaan.

Aku memutuskan istirahat sejenak. Aku mengambil sweeter dan kunci scooter. Aku turun ke basement dan menaiki scooter biruku. Sebelumnya aku juga sudah diajari oleh Sooyoung cara mengendarai kendaraan mungil ini. Aku mengencangkan helmku dan mulai menjalankan scooterku keluar dari basement apartemen mungilku.

“Aigooooo… segar sekali!!!” Aku mendongakkan wajahku, menikmati terpaan angin malam yang menyentuh setiap pori-pori di wajahku. Jalanan mulai sepi, hanya ada beberapa mobil melintas melewati scooterku.

“Omo… Seoul sudah banyak berubah…!!!” Aku takjub melihat berderet-deret toko dengan lampu yang masih terang benderang disepanjang jalan. Terakhir kali aku lewat sini, aku masih bisa melihat toko bunga langgananku di pojok jalan. Tapi kini sudah berubah menjadi sebuh butik mewah.

Puas berkeliliing jalan sendirian, aku berhenti di depan sebuah coffee shop. Aku memarkirakan scooter biruku di samping cafe dengan ornamen kayu itu.

“Klintingg….” suara lonceng terdengar berdenting lembut saat aku membuka pintu coffee shop itu.

Toko itu tidak terlalu besar, namun terlihat nyaman dan hangat dengan ornamen kayu dan batu bata yang ditata dengan sempurna disepanjang temboknya. Kursi-kursi kayu dan sofa berwarna merah marun terlihat kosong. Hanya ada penjaga cafe dan tiga orang namja terlihat sedang memesan minuman.

“Annyeong… ada yang ingin kau pesan?” Tanya penjaga cafe dengan ramah.

“Hmm… aku baru pertama kali ke sini… jadi tolong pilihkan minuman yang paling enak.” Aku bingung melihat berderet-deret menu minuman di cafe itu. Aku masih merasa asing.

“Green Tea Iced di sini yang paling enak…” Ujar salah seorang namja sebelum penjaga cafe itu menjawab pertanyaanku.

Aku  kaget saat memalingkan kepalaku untuk melihat namja yang sedari tadi terlihat sibuk dengan kedua chingunya.

“Kau???”

“Kita bertemu lagi suster…” Jawab namja itu tersenyum. Lagi-lagi lesung pipi menghiasi senyumannya itu.

Leeteuk POV

            “Kita bertemu lagi suster…”

            Aku tersenyum melihat reaksi yeoja yang terlihat kaget melihatku.

            “Kau??? Pasien yang waktu itu?” tanyanya, masih menunjuk-nunjuk diriku.

            “Ne… pasien yang telah membuatmu gugup setengah mati…”

            “Park JungSoo… benarkan?”

            “Omo.. kau masih mengingat namaku… rupanya aku telah benar-benar memberikan kesan mendalam kepadamu.” Aku terkekeh, lagi-lagi dia memperlihatkan reaksi kaget sekaligus gugup. Lucu sekali.

            “Andwee…” Sanggah yeoja itu.

            “Omo… lagi-lagi kau menggoda seorang gadis hyung…” ujar Donghae, dongsaengku, menepuk bahuku.

            “Hyung… kau ini memang jahil.. Jebal… kenalkan kami juga.” Sambung Eunhyuk

            “Ne… dia adalah Lee Jungshin, suster yang telah menyembuhkan jari kelingkingku yang patah.”

Jungshin POV

            “Ne… dia adalah Lee Jungshin, suster yang telah menyembuhkan jari kelingkingku yang patah.”

            Aku kaget bukan main, hatiku berdesir saat tiba-tiba namja yang aku tahu namanya Park Jungsoo itu mendekatiku dan memegang kedua pundakku dari belakang dan sedikit mendorongku untuk diperkenalkan pada kedua chingunya itu.

            “Ya~~” Sebelum hatiku makin berdesir dan aku tidak bisa mengontrolnya, aku melepaskan tangannya yang masih berada di pundakku.

            “Hahahaha… mianhae Jungshin-shii…” Namja itu tertawa, diikuti kedua chingunya.

            “Pantas saja kau tidak mau melepaskan perbanmu walaupun jarimu sudah pulih dengan sempurna Hyung…” Ujar salah satu namja berambut hitam cepak dengan wajah seperti anak kecil.

            “Ssssttt… jangan bocorkan rahasiaku di depan susterku Donghae-ya!!!” Jungsoo menjitak kepala namja itu.

            “Jungshin-shii… apa yang kau lakukan malam-malam begini? Apa kau sendirian?” Tanyanya kembali menengok padaku.

            “Ne… aku hanya sedang keluar mencari angin malam… Kau sendiri, apa yang kau lakukan?”

            “Aku dan kedua dongsaengku ini juga sedang keluar mencari angin malam.”

            “Aishhhh… kumohon jangan tersenyum seperti itu lagi! Apa dia ini sedang menggodaku!” Ujarku dalam hati saat melihat senyuman tersungging di wajahnya yang putih bersih.

            “Jadi, apa anda jadi memesan?” tanya penjaga cafe mengangetkanku.

            “Ah… ne… ne… aku pesan Green Tea Iced.” Jawabku gugup.

            “Pilihan yang tepat Jungshin-shii…” sambung namja itu.

            “Baiklah ini Green Tea Icednya… harganya 2000 won.”

            Belum sempat aku mengeluarkan dompetku, namja yang terlihat seperti malaikat saat pertama kami bertemu itu menyerahkan lembaran 2000 won pada penjaga cafe itu.

            “Jungsoo-shii…”

            “Anggap saja ini ucapan terima kasihku karena telah menyembuhkan jari kelingkingku ini.” Ujar namja itu memperlihatkan jari kelingkingnya tanpa perban yang aku lilitkan waktu itu.

            “Kamsahamnida Jungsoo-shii…”

            “Ne… sebaiknya kau segera pulang. Tidak baik seorang gadis sepertimu masih ada diluar malam-malam begini.”

            “Omo… ternyata namja ini sangat perhatian.” Ujarku dalam hati.

            “Ne… jeongmal kamsahamnida… Kalau begitu aku pergi… Annyeonghigeseyo.” Aku membungkukkan badanku untuk berpamitan pada ketiga namja itu.

            “Tunggu… jika kita bertemu lagi, panggil saja aku Leeteuk.” Seru Park Jungsoo sebelum aku meraih gagang pintu cafe.

            “Mwo? Leeteuk? Arraseo Jungsoo-shii… maksudku Leeteuk-shii…” Aku melambaikan tanganku dan melihatnya tersenyum lagi.

            “Hati-hati Jungshin-shii!!!!” Seru kedua chingunya sambil tertawa-tawa.

Leeteuk POV

            “Aigooo… kau benar-benar berhasil menggoda yeoja itu Hyung!” Eunhyuk menepuk pundakku memberi selamat.

            “Andweee… aku tidak bermaksud menggodanya.”

            “Apa yeoja itu yang kau ceritakan sehabis kau ke rumah sakit itu hyung?” tanya Donghae saat kami berjalan menuju van putih yang akan membawa kami kembali ke dorm setelah siaran Kiss The Radio.

            “Ne… dia suster aneh yang lucu.” Aku terkekeh setiap ingat wajah gugup itu.

            “Omo… jangan-jangan kau jatuh cinta pada pandangan pertama Hyung!!!”

            “Andweee… aku hanya senang melihat reaksinya yang gugup itu. Aku tidak mengenalnya sama sekali. Hubungan kami hanya sebatas pasien dan suster.”

Jungshin POV

Keesokan hari,

            Kantin Seoul Hospital siang itu tidak seramai biasanya. Hanya terlihat beberapa suster dan pengunjung Rumah Sakit sedang menikmati makan siang mereka, termasuk aku dan chingu berseragam putih khas suster yang kini sedang melahap sandwich keju kesukaan kami.

“Sooyoung-ah… Apa kau tahu pasien bernama Park Jungsoo?”

“Nugu? Park Jungsoo?”

“Ne… tapi Dokter Han sering memanggilnya Leeteuk.”

“Leeteuk? Maksudmu Leeteuk Leader Super Junior?” Sooyoung terlihat syok mendengar nama namja yang aku sebutkan tadi.

“Leader Super Junior? Apa lagi itu?”

“Omo… Omo… apa kau tidak pernah menonton TV?”

“Aigooo… kenapa semua orang bertanya seperti itu!!! Tentu saja aku menonton TV! Memangnya dia itu artis?”

“Jungshin-ah!!! Dia itu member dari Super Junior, salah satu boy band terbesar di Korea, bahkan Asia. Dan dia itu adalah Leadernya!!!” Mata Sooyoung terlihat berapi-api menceritakan namja itu.

“Owww… jadi benar… dia memang seorang artis.” Ujarku datar.

“Ya~~ apa kau bertemu dengannya? Kenapa kau tidak menceritakannya padaku! Aku juga ingin bertemu namja tampan itu!!!”

“Dia kesini memeriksakan jarinya yang patah saat aku pertama kali menjadi suster. Dan tadi malam aku bertemu dengannya di coffee shop.”

“Omo… Omo… kau sungguh beruntung Jungshin-ah!!! Apa dia benar-benar tampan?”

“Hmmm… Ne… wajahnya sangat halus. Tapi sepertinya dia itu besar kepala. Dia selalu menggodaku!” Aku jadi merasa kesal.

“Babo!!! Harusnya kau berterima kasih seorang idola yang digilai banyak yeoja itu mau mengajakumu bicara seorang yeoja babo sepertimu!” Sooyoung menjitak kepalaku!

“Ya~~ hati-hati dengan kepalaku!” Aku masih sedikit takut bila seseorang menyentuh kepalaku. Rasanya aku masih bisa merasakan nyeri yang aku rasakan waktu aku masih harus menjalani kemoterapi setiap hari.

“Mianhae…” Sepertinya Sooyoung menyadari perubahan mimik wajahku.

“Hahahaha… gwencana… baiklah mari kita lanjutkan pelajaran kita untuk menjadi super suster!” Aku berdiri dan menarik tangan chinguku itu.

“Ya~~ Aku masih belum selesai makan!!!”

Leeteuk POV

“Leeteuk Hyung… kau mau langsung pulang?” tanya Eunhyuk saat kami mengakhiri siaran Kiss The Radio.

“Ne… hari ini aku merasa lelah sekali.”

“Arraseo… hati-hatilah menyetir. Aku masih harus ke studio sebentar.”

“Ne… kau juga harus berhati-hati.”

Aku membereskan peralatanku dan bergegas ke basement setelah berpamitan pada semua staff di radio. Hari ini aku memang merasa sangat lelah, dari pagi aku disibukkan dengan syuting dan syuting. Belum lagi mendengar berita gosip yang tidak menyenangkan tentang Super Junior, membuatku down.

Aku membuka pintu BMW putihku dan melempar tasku ke jok belakang. Basement ini terlihat semakin terang saat aku menyalakan lampu mobil. Aku menginjak pedal gas dan melaju kencang dijalanan Seoul yang mulai sepi.

“Aissshhhh… !” Aku mengumpat saat lampu lalu lintas didepanku berubah merah. Terpaksa aku menghentikan mobilku. Aku membuka menekan power windowku hingga kaca jendela mobilku terbuka setengah. Aku menatap keluar jendela, berharap ada sesuatu yang bisa membuatku tertarik sambil menunggu lampu berubah hijau.

Dan benar saja, aku melihat sosok seorang yeoja berambut pendek, dengan poster yang cukup tinggi untuk ukuran seorang yeoja korea. Hoodie berwarna biru diselingi warna abu-abu terlihat cocok dengan celana jins biru tuanya. Wajahnya terlihat senang, sesekali dia berhenti dan terlihat menghirup udara malam.

“Tinnnnnnn” Mobil dibelakangku membunyikan klaksonnya. Aku sampai tidak sadar lampu sudah menjadi hijau karena pandanganku fokus melihat yeoja yang kini sudah menjauh.

“Ya~~~ Sabarlah!” umpatku lagi.

Aku menginjak pedal gasku. Aku melirik spion mobilku dan melihat sekarang yeoja itu sudah tertinggal dibelakang. Entah kenapa tanganku memutar stir dan menghentikan mobilku di pinggir trotoar.

Jungshin POV

“Huwaaaaa… berjalan memang sangat menyenangkan… Sudah lama aku tidak berjalan sejauh ini.”

Aku memang tidak pernah berjalan jauh lagi semenjak dokter mendiagnosis kanker otak padaku. Langkah paling jauh yang pernah aku lakukan hanya dari kamar rawatku sampai ke ruang kemoterapi, itupun hanya sesekali, karena lama kelamaan kondisiku semakin lemah dan harus duduk di kursi roda.

“Gomawoe Tuhan… jeongmal gomawoe telah mengabulkan permintaanku yang aneh ini.”

Aku berlari kecil di sepanjang jalan yang mulai sepi. Sesekali aku memutar tubuhku, seperti menari diterangi lampu jalan yang mulai sedikit redup.

“Kau ini memang suka keluar malam sendirian rupanya suster.” Ujar seorang namja.

Aku kaget saat melihat seorang namja yang bersender pada mobil BMW putih itu. Seperti pertama kali aku melihatnya, baru kali ini aku melihat malaikat dengan kemeja putih dan celana biru muda tersenyum padaku. Wajahnya semakin terlihat bercahaya karena efek lampu yang tepat ada di atasnya.

“Jungsoo-shii…” Mungkin wajahku kali ini benar-benar seperti orang bodoh. Mulutku memang bergerak, tapi otakku kosong, masih fokus menyusuri setiap jengkal ukiran di wajah malaikat itu.

“Sudah kubilang, panggil aku Leeteuk.” Dia berjalan mendekatiku.

“Ne… ne… Leeteuk-shii”

“Jadi… apa yang kau lakukan malam-malam begini? Apa kau mencari udara segar lagi?”

“Hahahaha… aku hanya berjalan-jalan, aku bosan diapartemen sendirian. Lalu, apa yang dilakukan seorang idola malam-malam begini dipinggir jalan?” Aku berusaha sebisa mungkin bersikap tenang.

“Omo… jadi sekarang kau tau diriku?”

“Ne… kau adalah Leeteuk, leader Super Junior, salah satu boy band besar di korea bahkan Asia.” Ujarku menirukan ucapan Sooyeong

            “Aigoooo… sepertinya kau mulai mencari tentang diriku suster…” Leeteuk tertawa kecil dan menepuk-nepuk pundakku.

            “Ne… aku tidak mau terlihat seperti orang bodoh dihadapanmu lagi, jadi kau tidak bisa menggodaku!” Aku menjulurkan lidahku, dan itu membuatnya tertawa lebih kencang.

            “Mianhae… mianhae jika perlakuanku selama ini membuatmu tidak nyaman. Hmmm… sebagai namja yang baik aku akan mengajakmu jalan-jalan sebagai permintaan maaf…”

            “Mwo?”

            “Bukankah kau bilang kau sedang bosan? Aku juga sedang merasa bosan… Kajja kita jalan-jalan!”

            Aku tidak bisa menolak ajakan namja itu karena dengan cepat dia meraih tanganku dan menarikku sehingga terpaksa aku mengikuti langkahnya.

            “Ya~~~ apa kau meninggalkan mobilmu begitu saja?”

            “Kokcongma… tidak akan ada yang berani mencuri mobilku dengan kantor Polisi tepat berada didepannya hahahaha…” Namja itu tertawa lagi sambil menunjuk kantor Polisi yang berada di seberang jalan.

            “Kajja… kita akan bersenang-senang malam ini!”

Author POV

            Disepanjang trotoar terlihat ahjumma dan ahjusshi berteriak menjajakan dagangannya. Tak sedikit pula namja dan yeoja berjalan berdua menikmati keramaian di trotoar kecil itu sambil sesekali berhenti melihat dan membeli dagangan yang beraneka ragam, dari mulai makanan, minuman, aksesoris, bahkan penjualan binatang peliharaan kecil. Trotoar itu seperti berubah menjadi pasar malam kecil.

            Seorang namja berkemeja putih dengan topi biru mudah yang senada dengan celananya itu terlihat menggandeng tangan seorang yeoja dengan tudung hoodie biru yang kini menutupi kepalanya.

            “Ramai sekali!!!” Seru Jungshin mengerjap-ngerjapkan matanya, terlihat takjub dengan situasi di trotoar itu.

            “Apa kau belum pernah kesini?” tanya Leeteuk melepaskan genggaman tangannya.

            “Ne… aku belum pernah kesini.”

            “Aigooo…  bukankah ini dekat dengan apartemenmu? Apa sebegitu sibuknya menjadi seorang suster sampai-sampai kau belum pernah kemari?”

            Jungshin hanya tersenyum menjawab pertanyaan Leeteuk.

            “Apa kau sendiri sering ke sini? Bukankah kau ini seorang idola? Bukankah sulit bagi seorang idola berjalan-jalan ditengah keramaian seperti ini?”

            “Kokcongma… apa selalu menyiapkan ini…” Leeteuk mengambil sebuah kacamata berbingkai hitam dari tas kecilnya dan memakainya.

          “Arraseo… penyamaran yang bagus… Tapi kau tetap tidak bisa menyamarkan aura ketampananmu hahahaha…”

            “Kau ini pintar sekali memuji. Kajja… kita berkeliling.

Leeteuk POV

            Sepertinya moodku berangsur-angur naik melihat yeoja yang sekarang berada di depanku itu berkali-kali tertawa melihat sekelilingnya. Tapi aku sedikit aneh melihat tingkahnya itu. Berkali-kali dia bertanya tenang makanan, minuman dan barang-barang yang seharusnya dia ketahui sebagai orang Korea. Dia itu seperti yeoja yang ketinggalan zaman. Seperti yeoja yang baru pertama kali menginjakkan kakinya di di dunia ini.

            “Leeteuk-shii… apa itu toppoki?” tanyanya menujuk sebuah gerai makanan.

            “Ne… apa kau mau makan itu?” tanyaku diiringi anggukan kepalanya.

            “Aigoooo…. jeongmal mashita!!!” Serunya saat menyuapkan setusuk toppoki, kue beras dengan saus merah.

            “Ya~~~ apa kau belum pernah memakan ini?”

            “Aniya… dari dulu aku ingin sekali memakan ini saat menonton TV, tapi dokter melarangku.” Jawabnya masih sibuk melahap toppoki yang ada dipiringnya.

            “Mwo? dokter? Kenapa dia melarangmu?”

            “Karena itu tidak baik untuk kanker otak.”

            “Mwo? kanker otak?” Aku benar-benar heran, waktu itu juga dia berkata tentang kanker otak.

            “Ahhh maksudku… maksudku adalah makanan ini tidak baik untuk pasien yang terkena kanker otak, dan aku sebagai suster yang baik harus menjadi contoh yang baik.”

            Aku tahu dia menyembunyikan sesuatu, lagi-lagi reaksinya terlihat gugup, tidak mau menatapku.

            “Jungshin-shii… sebenarnya siapa kau ini?” tanyaku dalam hati.

            Kami melanjutkan acara jalan-jalan kami setelah Jungshin puas melahap 2 piring toppoki. Kami duduk di bangku taman tak jauh dari pasar malam kecil itu. Kami mengobrol sejenak. Jungshin adalah yeoja yang lucu, berkali-kali perutku dibuat kaku karenanya. Dia juga seorang yeoja yang sangat bersemangat.

            “Omo… baru kali ini aku bertemu yeoja seoptimis dan bersemangat sepertimu.”

            “Hahaha… kita ini hidup hanya sekali, jadi kita harus terus bersemangat agar kita tidak menyesalinya.” Ujarnya tersenyum

            “Wow… sepertinya selama ini hidupmu selalu bahagia, jadi kau bisa berkata seperti itu.”

            “Ani… aniya… aku berani bertaruh hidupmu jauh lebih bahagia.”

            “Wae?”

            “Karena kau masih bisa tersenyum, berjalan, berlari, dan melakukan apapun sesuai keinginanmu. Bahkan kau bisa membuat orang lain ikut bahagia. Karena kau masih diberi kesehatan Leeteuk-shii… kau sungguh beruntung…” Jungshin menatapku langsung dan tersenyum. Tapi aku bisa melihat ada kesedihan dalam mata dan senyumannya itu.

            “Bukankah kau juga sehat? Kau ini seorang suster!”

            “Hahaha kau benar… sekarang aku adalah suster.” Jungshin mendongakkan kepalanya menatap langit.

            “Sebaiknya kau kuantarkan pulang sekarang…” Ujarku setelah sempat beberapa menit kami terdiam.

            “Aniya… aku bisa pulang sendiri Leeteuk-shii…”

            “Namja macam apa aku ini membiarkan seorang yeoja pulang sendiri ditengah malam!”

            Tanpa menunggu persetujuannya, aku menarik tangannya.

            “Leeteuk-shii!!!” Serunya protes

            Aku masih menggenggam tangannya saat kami sampai di tempat mobil BMW putihku terparkir sendirian.

            “Masuklah…” Aku membukakan pintu mobilku dan memperlihatkan wajah memaksakku sebelum yeoja itu membuka mulutnya untuk protes.

            “Kamsahamnida Leeteuk-shii…” Ujarnya saat perjalanan menuju apartemennya.

            “Nado… kamsahamnida, kau telah membuatku senang malam ini.”

            “Hahaha.. itu memang tugasku sebagai seorang suster.”

            “Ya~~~ saat ini aku bukan pasienmu lagi.”

            “Arraseo leeteuk-shii… kau tidak boleh menjadi pasienku lagi.”

            “Mwo? Wae?”

            “Aishhhh… jika kau menjadi pasienku lagi, itu berati kau sedang sakit!”

            “Hahahaha… apa kau mengkhawatirkanku suster?”

            “Andweee!!! Berhentilah menggodaku!”

            “Hahaha mianhae!!!” Aku sulit menghentikan tawaku saat aku meliriknya dan melihat wajahnya memerah, entah karena malu, atau karena kesal.

            “Stop… “ Ujarnya

            “Ahhh… jadi ini apartemenmu? Terlihat indah…” Aku menghentikan mobilku di depan sebuah gedung apartemen yang tidak terlalu besar tapi terlihat nyaman.

            “Ne… jeongmal kamsahamnida Leeteuk-shii… aku sangat senang seorang idola mau mengajak yeoja biasa sepertiku jalan-jalan hehehe…”

            “Hahaha ne… ne… aku juga senang melihat Susterku tertawa.”

            “Baiklah… hati-hati menyetir Leeteuk-shii.”

            “Tunggu!!!” Aku menarik lengan Jungshin sebelum dia keluar dari mobil.

            “Mwo?” tanyanya heran.

            Aku mengambil tasku di jok belakang dan mencari benda kecil yang aku beli tadi di pasar malam kecil.

            “Ini untukmu…” Ujarku menyerahkan sebuah bros kecil berbentuk bunga dengan warna yang berbeda disetiap kelopaknya.

            “Mwo? untukku?” Jungshin terlihat kaget kali ini.

            “Ne… ku pikir itu cocok untuk yeoja yang bersemangat sepertimu. Semoga hidupmu bisa berwarna seperti bros ini…”

            Aku melihat senyuman tergurat di wajahnya, dan rona merah mulai terlihat dikedua pipinya.

            “Kamsahamnida Leeteuk-shii… kali ini aku mengakuimu sebagai malaikat hahahaha…”

Jungsin POV

            Aku menghempaskan tubuhku di atas kasurku yang empuk setelah merasa lelah berjalan-jalan semalaman. Aku meraih bros pemberian Leeteuk dari kantong hoodieku. Aku mengangkatnya tinggi-tinggi. Kilauan warna-warni dari kelopaknya terlihat semakin indah saat terkena pantulan cahaya lampu kamarku. Aku belum pernah menerima hadiah indah seperti ini dari seorang namja. Seingatku, chinguku sewaktu sekolah hanya memberiku bunga, kartu ucapan, dan buah-buahan saat aku tergeletak di rumah sakit.

            “Gomawoe Leeteuk-shii…” Aku memeluk bros kecil itu dalam dekapanku dan menutup mataku, terlelap tidur, dengan mimpi indah tentang namja berlesung pipi itu.

Keesokan harinya,

            “Kamsahamnida… semoga cepat sembuh…” Ujarku ceria pada seorang pasien yang selesai diperiksa oleh Dokter Han.

            “Omo… kau terlihat sangan ceria Jungshin-shii, tidak gugup seperti biasanya.” Dokter Han tersenyum melihatku, masih melambaikan tangan pada pasien itu.

            “Ne… tentu saja Dokter…”

            Aku mulai terbiasa dengan pekerjaanku ini. Ternyata menjadi suster bukanlah hal yang mudah seperti yang aku lihat selama ini. Aku jadi teringat suster yang merawatku waktu itu. Dia selalu tersenyum saat memberikan laporan kesehatanku setiap hari. Walaupun hasilnya tidak baik, dia selalu berusah a menyampaikannya dengan ceria, sehingga akupun tidak terlalu khawatir dengan kondisiku sendiri.

            “Dreetttt…”

            Aku merogoh kantong seragamku mengambil handphone yang bergetar. Ternyata ada 1 text message dari nomor yang tak dikenal.

            Annyeong suster…

            Bagaimana kabarmu hari ini???

            Pasienmu- Leeteuk

            “Omo… Leeteuk-shii????” Rasanya tanganku bergetar. Tentu saja aku merasa kaget, seorang Idola sepertinya mengirimkan text message padaku.

            To        : Leeteuk

            Apa benar kau ini Leeteuk leader Super Junior itu?   Bagaimana kau tahu nomorku?

“Drettt”

From      : Leeteuk

Tentu saja ini aku… tidak ada namja yang menggunakan nama Leeteuk selain diriku hehehe… Hmmm… aku iseng menanyakan nomormu pada Dokter Han :p

To          : Leeteuk

Omo… apa yang inginkan dariku? Jangan-jangan kau ngefans padaku Leeteuk-shii hahaha…

“Dreeeettt”

From      :Leeteuk

Mungkin saja… kau ini yeoja yang aneh, aku jadi penasaran hahaha… Apa nanti malam kau keluar lagi?”

To          : Jungshin

Ya~~ apa kau menggodaku lagi? Aku memang aneh!!! Mollayo… wae? Kau mau mengajakku jalan-jalan lagi?

“Dreeet”

From      : Leeteuk

Hahaha mianhae Jungshin-shii… Tentu aku ingin jalan-jalan lagi denganmu, tapi hari ini jadwalku padat sekali. Jadi, sebaiknya kau tidak keluar malam ini.

To          : Leeteuk

Mwo? Wae?

“Dreeeet”

From      : Leeteuk

Karena aku tidak bisa menemanimu malam ini. Kau tidak boleh jalan-jalan sendirian seperti tadi malam. Kau tahu banyak penjahat di Seoul.

Tanpa sadar aku tersenyum melihat text message dari pasien pertamaku itu. Aku merasa senang mendapat perhatian darinya. Sejak itu, kami saling mengirimkan text message, walaupun tidak setiap hari. Terkadang aku masih tidak percaya jika namja yang mengirimiku text message itu adalah Leeteuk, namja yang dijuluki Angel oleh ELF, fans Super Junior.

Leeteuk POV

“Hyung… ku lihat akhir-akhir ini kau asik sekali dengan iphonemu… apa kau sedang pdkt dengan seorang yeoja?” Tanya roomateku Donghae saat aku tertawa membaca balasan dari Jungshin.

“Hahaha… rahasia…”

“Aishhhhh… Ya~~ Hyung ceritalah padaku… aku jadi semakin penasaran!!! Omo… omo… apa suster yang waktu itu bertemu kita di coffee shop?”

Aku mengangguk

“Jinjja??? Berarti benar kan kau jatuh cinta pada pandangan pertama Hyung!!! Chukae… Chukae…”

“Aniyoooo… aku hanya merasa nyaman bersamanya… tidak lebih…”

“Aigooooo… itu adalah awal dari cinta Hyung!!! Tidak mungkin namja dengan mantan yang banyak sepertimu tidak tahu masalah seperti ini hahahaha….”

“Ya~~~ Donghae-ya!!!” Aku mengejar dongsaengku yang kini berlari sambil tertawa menghindari lemparan bantalku.

            Sudah cukup lama aku tidak bertemu dengannya, tapi aku sudah merasa sangat dekat walaupun kami hanya berhubungun lewat text message dan kadang-kadang aku menelponnya. Aku belum bisa bertemu dan mengajaknya jalan-jalan lagi karena jadwalku yang padat akhir-akhir ini. Konser Super Show, syuting program talk show, pemotretan, dan siaran radio. Aku sendiri heran aku masih bisa menegakkan tubuhku dan tersenyum melewati itu semua.

            “Akhirnya hari ini kita bisa break sebentar… Aigoooo aku sangan merindukan Shinhae… jeongmal bogoshipo!!!!” Seru Donghae memeluk bantalnya.

            “Ya~~ Ya~~ cepatlah temui yeojamu itu… lama-lama kau seperti orang gila setiap hari memandangi foto Shinhae!”

            “Mianhae hyung hehehe… aku akan menemuinya nanti. Kau juga sebaiknya menemui sustermu itu Hyung… Lihatlah wajah malaikatmu lama-kelamaan luntur karena kecapekan.”

            “Ne… aku memang berencana mengajaknya jalan-jalan hari ini. Aku akan mandi dulu.. oh ya… sampaikan salamku untuk Shinhae”

            “Arraseo akan kusampaikan.”

            Aku mengambil iphoneku dan mencari kontak “Jungshin” di contact listku.

            “Yeobboseo…” ujar suara kecil itu

            “Apa kau libur hari ini Jungshin-shii?’

            “Ahhh Leeteuk-shii… ne.. aku libur. Wae?”

            “Aku ingin mengajakmu jalan-jalan lagi. Kau mau?”

            “Mwo? apa kau tidak sibuk?”

            “Aniya… kami libur sehari sehabis Super Show. Aku akan menjemputmu… arraseo…”

            “Ne… arraseo Leeteuk-shii…hati-hati dijalan”

            “Auwwwwww…” Tiba-tiba aku merasakan sedikit nyeri dipunggungku saat aku hendak mengambil jaket baseballku.

            “Aissshhhh kumohon jangan kambuh disaat seperti ini!!!” Ujarku lirih. Punggungku yang dulu terluka saat kecelakan mengerikan waktu itu, sering terasa nyeri akhir-akhir ini, mungkin karena aku kecapean.

            Aku berusaha menahan nyeri ini dan bergegas mengambil kunci mobilku. Untunglah nyeri itu sedikit berkurang saat aku memasuki basement apartemen Jungshin, dan melihat senyum dari yeoja yang membukakan pintunya untukku.

            “Leeteuk-shii… masuklah..”

            “Omo… sudah lama kita tidak bertemu dan kau terlihat semakin gemuk.”

            “Mwo??? itu berarti aku semakin sehat… Kau sendiri terlihat capek dan kurus. Apa tidak apa-apa kita jalan-jalan?” Jungshin menatap mataku terlihat khawatir.

            “Gwencana… jebal kita berangkat.”

            “Tunggu… aku mengambil bekal dulu. Aku membuat Gimbab untukmu.” Jungshin kembali tersenyum dan berlari kecil ke arah dapurnya.

            Tiba-tiba saja aku merasakan nyeri yang luar biasa di punggungku. Rasanya seperti ada beribu-ribu pisau yang ditancapkan ke dalam punggungku.

            “Arrrrghhhh… “ Aku mengerang kesakitan. Aku bertumpu pada tembok disebelahku. Sepertinya sebentar lagi aku akan ambruk, aku tidak kuat menahan rasa sakit ini.

            “LEETEUK-SHII….!!! Aku mendengar Jungshin berteriak melihat keadaanku. Dia berlari ke arahku dan menahanku agar tidak jatuh.

To be Continue alias bersambung

 

 

Advertisements

2 thoughts on “Second Chance (Part 2)

  1. kyaaaaaa akhirnya lanjutt ,,
    omoo jungshin itu kena kanker otak yaa,,
    woow,,
    tpii masih bngung knpa jungshin bs dpet second chance.
    ayoooo thorrrr part slanjutnya cepetan, gausa hiatus dulu ah.
    di tamatin dlu nie ff bru hiatus.. sbulan pulak.

    omooookau mnggambarkan leeteuk dsni bner2 sbgai malaikat yaa,,
    ckckckckkc.
    hae couple ttep eksis.
    hahahhahahaha, pdhl shinhae ama jungshin satu orang..
    omooo…

    daebak thorrr,,

    lanjuuutt !!!!!!!!!

  2. sedih rasanya..
    gg cuman author yg kudu hiatus..
    eike juga..
    aq 2 bulan malah..
    hahahhahahha..
    y Allah..
    bye twitter…dan FF
    bye..
    hiks…

    ice green tea itu terinspirasi dri minuman d amplas mesti..
    hahhahahahha…

    ini si tukak jg sakit tto..
    kog dua2nya sakit smua sih..
    wkwkwkkw..
    tukak boyoken itu…
    hahhhahahha…

    ceritanyaaa bagus yankkk..
    aq sukaaaaaaaaaaaa….
    tapi lebih rapi di part 1…

    ini sebenernya tukak sakit apa…
    jungshin2 jg knpa…
    penasarannnnnndan harus bersabarrr lagii
    dua bulan..
    hiks…
    harus bersabar jg…
    nunggu crtnya hae couple..
    omo…..
    bakal kangen masa2 baca2 FF
    hiks,…
    sabarrrrr *ngelus dada
    setelah smuanya berakhir…
    buruan dlnjutin y thor…
    salam perpisahaan jg buat smua..
    huhuhu..
    sedih dehhh…

    da hae.shinhae,jungshin,tukakk,sungrie, sungie….
    cuu..
    huhuhu….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s