Second Chance (Part 3)

Tik.. Tok.. Tik.. Tok.. Waktu terus berjalan…

Author kebut-kebutan nylesein FF ini sebelum hari berganti…

Sebelum author hrs meninggalkan blog ini sementara hiksss *nangis dipojokan..

Jeongmal Mianhae kalo ceritanya amburadul.. Sumprit deh…

Baiklah silahkan membaca kelanjutan kisah Jungshin-Leeteuk…

Seperti biasa, auhtor selalu menunggu comment dari kalian…

Terima kasih… *kiss and hug

 

Jungshin POV

            “LEETEUK-SHII….!!!”

            Aku benar-benar kaget melihat namja yang tadi baru saja tersenyum padaku itu kini terlihat hampir ambruk, sekuat tenaga menahan tubuhnya sendiri. Aku menjatuhkan kotak bekal berisi Gimbab begitu saja dan berlari ke arah Leeteuk.

            “Gwencana???” Tanpa dijawabpun aku tahu dia sedang kesakitan.

            Aku mengalungkan lengannya ke leherku dan memapahnya ke kasur di kamarku. Perlahan aku baringkan tubuhnya yang terlihat kurus dari terakhir kali kami bertemu.

            “Aku akan memanggil ambulance…” Belum sempat aku berbalik, tangan Leeteuk dengan cepat menahanku.

            “Andweeee… aku hanya perlu istirahat sebentar.” Ujarnya lirih.

            Akupun tak bisa menolak permintaannya itu, aku benar-benar tak bisa membantah setiap kali melihat wajahnya berubah ekspresi menjadi galak. Terpaksa aku menganggukkan kepalaku. Aku menyelimutkan selimut merah marun ku, berharap itu bisa membuatnya nyaman.

            “Jungshin-shii… tolong ambilkan obatku didalam tas. Mianhae…” pinta leeteuk masih terlihat lemah.

            “Kokcongma… aku akan merawatmu Leeteuk-shii.”

            Aku segera mencari obat yang dimaksudkan Leeteuk. Aku mengambilkan segelas air dan membantunya duduk agar dia bisa minum obat itu.

            “Aigooo Leeteuk-shii… badanmu sedikit demam…” Aku merasakan lengannya panas saat aku menyentuhnya, dan wajahnya yang putih juga terlihat sedikit merah.

            “Apa aku harus menelpon managermu?”

            “Aniya… aku hanya perlu beristirahat.”

            “Arraseo… penjamkan matamu Leeteuk-shii… aku akan mengambil kompres terlebih dahulu.”

            Kelihatannya Leeteuk tertidur saat aku kembali setelah mengambil peralatan kompresku. Hatiku terasa pedih melihatnya terbaring dikasurku. Wajah yang biasanya tersenyum manis dengan lesung pipinya itu kini terlihat pucat. Aku bisa melihat rasa sakit diwajahnya itu, alisnya terlihat bertaut.

            “Ya~~ Oppa… gwencana? Kumohon cepatlah sembuh.” Ujarku lirih

            Aku memeras kain kompresku dan meletakkannya perlahan didahi namja itu. Aku memegang pipinya, dan masih terasa panas.

            “Apa sakitmu ini sering kambuh? Seharusnya kau tidak kesini… seharusnya kau istirahat ditempatmu oppa…” Aku menggenggam tangannya.

            “Mianhae…” lanjutku lirih

            Aku masih memperhatikan wajahnya sambil mengganti kompres dikepalanya. Sesekali aku melihat alis Leeteuk saling bertaut, wajahnya seperti menahan sakit. Tentu saja aku merasa takut. Suster macam apa aku ini yang hanya bisa melihat pasiennya menahan sakit sendirian.

            “Leeteuk-shii… apa kau mau mendengarkan nyanyianku? Ommaku sering bernyanyi saat aku sakit. Dan itu membuatku merasa lebih tenang…” Aku berujar lirih.

Aku tidak peduli dia mendengarnya atau tidak. Aku hanya ingin merubah wajah kesakitannya itu menjadi wajah malaikat yang selama ini kulihat. Aku menarik nafasku dan mulai menyanyikan lagu yang selama beberapa hari ini selalu kuputar “Banmal Song” dengan suara lirih…

maen cheoeum neoreul bodeon nal

sujub giman hadeon neoye malgeun misodo

oneuri jinamyeon gakkawo jilgeoya

maeil seolleneun gidaereul hae

museun mareul geonde bolkka

eotteohke hamyeon niga useo julkka

soneul geonde boda eosaek hae jilkka bwa

meotjjeok eun useum man useo bwa

uri seoro banmal haneun sa iga dwe gireul

ajik jogeum seotureugo eosaek hande do

gomawo yo raneun maltu daeshin

jomdeo chinhage mareul hae jullae

uri seoro banmal haneun sa iga dwel geoya

hangeol eumsshik cheoncheonhi dagawa

ijen nae dununeul bara bomyeo mareul hae jullae

neol saranghae

*translate

Your bright smile full of shyness

we’ll get closer after today

Every day, I have heart-fluttering expectations

What to say to you

How to get you to laugh

I fear it’ll get awkward when I try to hold your hand

All I can do is smile shyly

Hopefully we can speak banmal to each other

Even though it’s still awkward and unfamiliar

Instead of saying ‘thank you’

Talk to me in a friendlier way

Hopefully we can speak banmal to each other

You walk towards me slowly, step by step

Now look at my two eyes and tell me

I love you

Leeteuk POV

            Aku rasa, sakit yang kurasakan tadi kini mulai berkurang. Aku mengerjapkan mataku, dan sedetik kemudian aku membuka mata, Gelap. Kain kompres jatuh dalam pangkuanku saat aku mencoba bangun dan duduk di kasur kecil ini, mencoba mengingat kejadian sebelumnya.

            Aku masih bisa melihat wajah Jungshin yang terlihat sangat khawatir saat memapah dan membaringkan tubuhku ke kasurnya tadi. Rasanya aku juga mendengar suaranya melantunkan sebuah lagu, dan suaranya itu benar-benar bisa membuatku tenang dan sedikit melupakan rasa nyeri dipunggungku ini.

            Aku beranjak dari ranjang, meraba-raba mencari saklar lampu.

            “Kleekkkk…”

            Aku mengerjapkan mataku lagi untuk menyesuaikan cahaya lampu yang cukup terang. Aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling kamar Jungshin. Kamarnya tidak terlalu besar, dan minimalis dengan cat putih dan hanya ada meja, kursi, lemari, dan ranjang kecil memenuhi ruangan itu. Aku berjalan ke arah tembok disebelah lemari yang tak begitu tinggi. Di situ aku menemukan banyak foto yang ditempel ditembok.

            “Rupanya dia seorang fotografer juga…” Aku berkata pada diriku sendiri

            Jariku menjelajahi setiap jengkal foto-foto itu. Rupanya Jungshin lebih suka memotret manusia. Aku tertarik melihat satu foto. Di situ Jungshin tertawa lebar diampit Omma, Appa, dan seorang namja yang sangat mirip dengannya, mungkin dia itu oppanya.

            Puas menikmati kamarnya itu, aku beranjak pergi keluar. Ruangan di apartemennya itu juga tidak besar, hanya ada dapur dan ruang TV. Kepalaku celingukan mencari sosok yeoja yang telah merawatku semalaman itu.

            “Aishhhhh apa dia keluar malam-malam lagi???” ujarku

            “Mianhae…” Aku mendengar suara kecil dari yeoja yang sedang aku cari.

            Aku menemukannya sedang tidur pulas di sofa coklat panjangnya. Rupanya di sedang mengigau memanggil ommanya. Aku mendekatinya dan menarik selimutnya yang jatuh ke lantai dan menyelimutkannya ketubuhnya yang meringkuk. Aku berjongkok untuk melihat wajahnya dari dekat.

            “Gomawoe susterku… Mianhae kau harus repot mengurusku… Mianhae aku tidak jadi mengajakmu jalan-jalan…” Aku mengusap keningnya dengan lembut.

            “OMMA!!! MIANHAE!!!” Lagi-lagi Jungshin mengigau dalam tidurnya, tapi kali ini suaranya lebih keras dan wajahnya terlihat ketakuatan.

            “Jungshin-ah… gwencahan??? Tenanglah itu hanya mimpi…” Aku mengusap kepalanya, berharap itu bisa membuatnya tenang. Tapi sepertinya usahaku tidak berhasil…

            “OMMA…” Jungshin berteriak dan duduk terbangun.

            “Jungshin-ah…” Aku memegang kedua pundaknya. Tubuhnya bergetar hebat. Wajahnya mulai merah dan aku semakin takut melihat air matanya mulai menetes.

            “Mianhae…” Ucap Jungshin menangis. Tubuhnya semakin bergetar hebat.

            Aku memeluk tubuhnya erat. Aku memegang kepalanya dan mengusap rambutnya untuk menenangkan yeoja yang sekarang masih menangis.

            “Tenanglah Jungshin-ah…. itu semua hanya mimpi.” Ujarku lirih

Jungshin POV

            Aku tidak bisa menahan air mataku. Aku tahu itu semua hanya mimpi. Tapi mimpi itu terasa sangat nyata. Aku melihat Ommaku menangis histeris, terus memegang tubuh seorang yeoja yang terbujur kaku diranjang pasien. Dia terus memanggil nama yeoja itu…

            “Jungshin-ah… kumohon jangan tinggalkan omma!!!”

            “Jungshin-ah… bangunlah… jebal!!! Omma akan membuatkan makanan kesukaanmu! Jebal bangunlah!”

            “Kau sudah berjanji tidak akan pernah meninggalkan omma sendirian.. Jungshin-ah… Jungshin-ah!!!”

            “Omma… Mianhae…” Aku masih berteriak walaupun aku sudah terbangun dari mimpiku. Itulah mengapa aku selalu berdoa pada Tuhan agar menyembuhkanku. Aku tidak ingin melihat orang-orang yang aku cintai terluka, menangis karena diriku ini. Aku sudah berjanji pada Omma waktu itu bahwa aku akan sembuh dan bisa kembali berkumpul, tertawa seperti halnya keluarga yang lain.

            “Jungshin—ah… ini semua hanya mimpi… Tenanglah…”

            Aku tidak sadar sedari tadi aku berada dalam pelukan Leeteuk. Aku baru menyadarinya saat jemarinya mengelus-elus rambutku dengan lembut dan mengucapkan kata-kata yang menenangkan dengan lirih ditelingaku.

            “Leeteuk-shii….” Aku mulai bisa sedikit mengontrol emosiku.

            “Gwencana?” Tangannya kini berganti memegang kedua pipiku, dan aku bisa merasakan jemarinya menyapu lembut air mataku yang masih tersisa.

            “Mianhae…”

            “Berbaringlah, aku akan mengambilkan segelas air.”

Author POV

            “Kamsahamnida Leeteuk-shii…” Jungshin mengambil segelas air putih dari tangan Leeteuk dan meneguknya perlahan.

            “Apa yang terjadi?”

            “Aniya… aku hanya bermimpi buruk… Mianhae mengagetkanmu…”

            Leeteuk mengurungkan niatnya untuk kembali bertanya saat melihat wajah Jungshin yang masih sedikit syok.

            “Aigoo… apa kau sudah sembuh Leeteuk-shii?” Jungshin kini menatap Leeteuk dan meletakkan telapak tangannya ke dahi Leeteuk, mencoba memeriksa apakah Leeteuk masih demam atau tidak.

            “Gwencana… sudah kubilang aku hanya perlu istirahat. Lagipula ada suster yang telah merawatku semalaman.” Leeteuk meraih tangan Jungshin yang tadi berada di dahinya dan tersenyum lembut menatap Jungshin.

            “Neo gateun saram tto eopseo”

“Jjuwireul dureobwado geujeo georeohdeongeol eodiseo channi”

Ringtone dari iphone Leeteuk berdering keras, mengagetkan namja dan yeoja yang masih saling bertatapan di sofa.

“Yeobboseo” Ujar Leeteuk mengangkat telpon.

“Ne Hyung aku akan segera kesana.”

“Mianhae… aku menginap di rumah chinguku tadi malam.”

“Arraseo… Sampai bertemu disana.”

Leeteuk menutup iphonenya dan kembali ke sofa tempat Jungshin masih terduduk.

“Aku harus pergi sekarang. Tidak apa aku meninggalkanmu sendiri? Gwencana?” tanya Leeteuk terlihat khawatir.

“Aniya Leeteuk-shii… harusnya kau mengkhawatirkan dirimu sendiri… Aku sudah terbiasa sendirian.” Jungshin tersenyum mencoba menenangkan.

“Arraseo… ah mianhae aku tidak jadi mengajakmu jalan-jalan. Aku akan menebusnya segera.”

“Hahaha… gwencana… aku tidak akan kemana-mana…” Ujar Jungshin tertawa.

“Semoga saja aku masih disini.” Lanjut Jungshin dalam hati.

“Sekali lagi gomawoe kau sudah merawatku. Aku pergi…” Leeteuk mengecup kening Jungshin. Dan itu membuat tubuh Jungshin tiba-tiba kaku.

“Annyeonghigeseyo hahahaha…” Leeteuk tertawa melihat reaksi Jungshin dan melambaikan tangannya, menghilang di balik pintu apartemen, meninggalkan Jungshin yang masih terdiam, syok.

Jungshin POV

Beberapa hari kemudian,

            “Omo… omo… apa kau terlalu banyak memakai maskara Jungshin-ah? Lihatlah lingkaran matamu hitam sekali.” Sooyoung memegang wajahku.

            “Aniyaa…” jawabku lemas.

            “Wae? Gwencana?”

            “Ne… gwencana… aku hanya tidak bisa tidur akhir-akhir ini.”

            “Aigooo.. jebal cuci mukamu. Dokter Han bisa marah melihat wajah susternya lesu dan berantakan seperti ini.

            “Ne…”

            Aku berjalan gontai menuju kamar mandi. Dan benar saja, mukaku benar-benar berantakan, tidak berubah walaupun sudah kubasuh berkali-kali.

            Aku memang tidak bisa tidur akhir-akhir ini karena setiap aku memejamkan mataku, aku kembali memimpikan omma, appa, oppa, sooyoung yang secara bergantian menangisi sosok yeoja yang terbujur kaku di hadapan mereka. Ditambah lagi, mimpiku tadi malam, aku melihat Leeteuk yang menangisi yeoja itu.  Aku bergidik mengingat mimpiku itu.

            “Apa ini pertanda kesempatanku sudah habis dan aku harus kembali ke hidupku yang dulu?” Aku bertanya pada diriku sendiri.

            “Jungshin-shii tolong kau antarkan peralatan suntik ini ke bagian farmasi…” Pinta Dokter Han saat aku kembali dari kamar mandi.

            “Ne.. Dokter Han.” Aku mengambil peralatan suntik yang ditata rapi disebuah nampan besi.

            Aku membuka pintu ruang periksa, baru 5 langkah aku berjalan keluar pintu, kepalaku terasa sakit, sakit sekali.

            “PRANKKKK…” Peralatan suntik yang kubawa meluncur dari tanganku dan jatuh berceceran dilantai.

            “Arrrrrrggghhhh….” Aku duduk jongkok dan memegang kepalaku. Aku tidak tahan dengan rasa sakit ini. Seperti ada beribu-ribu jarum dan paku yang ditancapkan di otakku. Rasa sakitnya persis seperti waktu itu.

            “Jungshin-ah… Gwencana? Apa yang terjadi!” Sooyoung berlari ke arahku dan memapahku ke kursi di lorong rumah sakit. Banyak mata yang tertuju ke arah kami. Aku tidak peduli. Rasa sakit ini tak kunjung reda.

            “Jungshin-ah…” Sooyoung memanggil namaku.

            Aku menutup kedua mataku dan berusaha mengatur nafas, berharap sakit ini akan berkurang. Untunglah rasa sakit ini tidak menetap lama. Berangsur-angsur jarum yang tertancap diotakku ini hilang.

            “Jungshin-ah…”

            “Gwencana… gwencana…” Jawabku walaupun masih terengah-engah.

            “Wae? Apa perlu kupanggilkan Dokter Han?”

            “Andwee… migranku kambuh.. sekarang sudah tidak apa-apa.” Jawabku bohong.

            “Tapi wajahmu terlihat pucat. Sebaiknya kau pulang sekarang. Aku akan menggantikanmu sementara.”

            “Ne… gomawoe Sooyoung-ah… Aku sangat berhutang budi padamu.”

            Aku menyusuri lorong Rumah Sakit menuju pintu keluar. Tiba-tiba hatiku berdegub kencang saat dari belokan diujung lorong, muncul rombongan orang yang sedang mendorong ranjang pasien. Wajah mereka terlihat diam. Jantungku semakin berdegub saat mereka melewatiku. Aku bisa melihat ada seseorang terbujur kaku diatas ranjang itu. Aku tidak bisa melihat wajahnya karena tertutup kain putih. Aku menengok untuk melihat kemana mereka akan pergi. Sesuai dugaanku, mereka terus berjalan ke arah kamar jenazah.

            “Ya Tuhan.. apa arti dari semua ini? Apa kau akan mengembalikanku sekarang? Apa waktunya akan tiba?” Ujarku masih menatap lurus ke ujung lorong tempat rombongan tadi menghilang.

Leeteuk POV

            “Hyung… ada acara malam ini? Ayo kita makan malam bersama sebelum kita siaran.” Ajak Eunhyuk setelah selesai syuting Super Junior Foresight.

            “Ahhh… mianhae… aku ada acara Hyukkie… kapan-kapan saja.”

            “Mwo? Tumben kau ada acara Hyung?’

            “Aku harus menebus sebuah janji.”

            “Janji? Ya~ Hyung… apa kau akan berkencan?” Eunhyuk menyenggol lenganku.

            “Begitulah…” Aku mengedipkan sebelah mataku dan tertawa.

            “Huwaaaaa benar kata Donghae… pasti kau mulai berkencan dengan suster itu.. Chukae Hyung!!!”

            “Hahahaha… sudahlah jangan menggodaku terus!!!”

            Aku memang berencana mengajak Jungshin jalan-jalan hari ini sebelum aku siaran radio. Aku senang mendengar suaranya yang riang mengiyakan ajakanku saat aku menelponnya tadi.

Author POV

            “Annyeong… Selamat datang di Toko Roti Rainbow… Ahhhh Leeteuk Oppa… ternyata kau yang datang.” Ujar seorang yeoja yang terlihat senang menyambut pelanggannya.

            “Hahaha sudah lama aku tidak kesini Yuna-ya… aku rindu merasakan roti buatanmu.”

            “Ne.. rotiku memang membuat orang ketagihan oppa hehehe.. Omo.. siapa yeoja itu?” Yuna memiringkan kepalanya agar bisa melihat dengan jelas yeoja yang sedari tadi digandeng oleh Leeteuk.

            “Lee Jungshin imnida…” Ujar yeoja itu memperkenalkan diri.

            “Ne… Choi Yuna imnida… Aigooo apa kalian ini pacaran?” Yuna tersenyum genit.

            “Andweeee…” jawab Leeteuk dan Jungshin bersamaan.

            “Ya~~ tidak usah gugup begitu… mana ada seorang yeoja dan namja bergandengan tangan tanpa ada hubungan apapun.” Yuna masih menggoda kedua pelanggannya itu. Sontak Leeteuk dan Jungshin melepaskan tangan mereka satu sama lain.

            “Aishhhh… berhenti menggoda kami berdua Yuna-ya, atau akan kulaporkan kau pada Kyuhyun…”

            “Ya~~ memangnya aku takut pada evil itu oppa? Laporkan saja padanya, lagipula sudah lama dia tidak kesini. Huff… itu membuatku kesal!”

            “Hahahaha… sudahlah… jebal kami ingin merasakan roti terbaik dari The Rainbow.”

            “Ahh ne.. ne.. silahkan kalian duduk…”

            “Ini dia, roti kebanggaan The Rainbow. Jangan salahkan kami bila anda ketagihan dan tidak bisa berhenti memakannya hahahaha…” Ujar Yuna meletakkan sekeranjang roti.

            “Omo… banyak sekali!!!” Seru Jungshin

            “Ne… karena semua roti disini adalah yang terbaik, jadi aku menawarkan semua roti yang ada.”

            “Aigoooo…. mana bisa kami menghabiskan ini semua!!!”

            “Ya oppa… jangan banyak protes. Jebal, makanlah… Aku harus pergi dulu memeriksa pangganganku… selamat menikmati…” Yuna meninggalkan namja yang yeoja yang masih menatap tak percaya sekeranjang roti yang ada dihadapan mereka.

            “Omo… Yuna tidak berbohong… jeongmal mashita!!!” Seru Jungshin saat memasukkan sepotong roti keju kedalam mulutnya.

            “Ne… aku tahu kau pasti akan suka. Makanya aku membawamu ke sini. Hahaha…” Leeteuk tertawa melihat Jungshin yang terlihat lahap menghabiskan roti yang ada dikedua tangannya.

            “Aishhhh… aku tidak bisa berhenti makan ini… Leeteuk-shii cobalah…” Jungshin menyuapkan sepotong roti dengan cappucino cream, dan itu membuat sebagian creamnya meluap keluar dan mengotori pipi Leeteuk.

            “Omo… mianhae… kau jadi belepotan hahahaha…”

            “Ya~~ lihatlah kau terlihat senang sekali… Awas kau!!!” Leeteuk mencolek cream dipipinya dan mengoleskannya dipipi Jungshin.

            “Leeteuk-shii!!!”

            Yuna menahan tawanya melihat tingkah kedua namja dan yeoja seperti anak kecil itu.

            “Aishhh… bagaimana mereka bisa bilang bahwa mereka tidak pacaran!” Yuna berkata pada dirinya sendiri.

            “Lihatlah… kau membuat mukaku penuh dengan cream Leeteuk-shii.”

            “Ya~~ kau terlihat cantik dengan cream itu Jungshin-shii… Neomu kyeoppta…”

            “Ya~~~ kau menggodaku lagi!!!” Jungshin menjitak kepala Leeteuk.

            “Hahahaha…”

            “Aku akan ke kamar mandi dulu membereskan ini semua.”

            “Ne… dandanlah yang cantik Jungshin-shii hahahaha…”

Jungshin menggembungkan pipinya protes. Leeteuk masih tertawa melihat yeoja itu berdiri dan pergi ke arah kamar mandi.

            “Lihatlah kau memang lebih cantik dengan cream tadi.” Seru Leeteuk saat Jungshin kembali dari kamar mandi.

            “Aishhh… awas kau Leeteuk-shii!!!” Jungshin berlari kecil menuju arah Leeteuk yang tertawa terpingkal-pingkal.

            “Auuwwwww…” Tinggal 3 langkah lagi sampai di tempat Leeteuk duduk, Jungshin berhenti dan memegang kepalanya, terlihat kesakitan.

            “Jungshin-ah!!!” Leeteuk segera memegang tubuh Jungshin tepat saat tubuh itu oleng kesamping.

            Yuna segera berlari menghampiri Jungshin yang kini tergeletak dipangkuan Leeteuk. Jungshin masih merintih kesakitan memegang kepalanya.

            “Yuna-ya… jebal panggil ambulance.” Seru Leeteuk.

            “Andweeee… kumohon jangan bawa aku ke rumah sakit!!!” Pinta Jungshin lirih.

            “Jungshin-ah… tapi kau kesakitan!” Wajah Leeteuk benar-benar ketakutan.

            “Kumohon antarkan aku pulang… aku tidak apa-apa…”

            Terpaksa Leeteuk menuruti permintaan Jungshin dan dengan hati-hati memapahnya keluar toko dan membaringkan Jungshin ke jok mobilnya.

            “Oppa… berhati-hatilah…” Yuna melambaikan tangannya saat mobil BMW putih itu melaju meninggalkan halaman parkir toko Rainbow.

            Mobil BMW putih milik Leeteuk melaju kencang membelah jalanan di Seoul. Mobil itu baru berhenti di basement apartemen Jungshin. Namun baik penumpang, maupun pengemudi di dalam mobil itu tidak kunjung keluar.

            “Jungshin-ah?” tanya Leeteuk lirih.

Rupanya Jungshin tertidur pulas. Leeteuk tidak berani membangunkannya yeoja disampingnya itu.

“Gwencana? Apa yang sebenarnya terjadi padamu? Kau tahu, aku sangat takut melihatmu kesakitan seperti itu…” Jemari Leeteuk mengusap kening Jungshin dengan lembut dan merapikan poni Jungshin kebelakang telinga yeoja yang masih tertidur itu.

Cukup lama mobil BMW itu terdiam di basement, sedetik kemudian pengemudinya itu menyalakan mobilnya lagi dan melaju keluar dari basement menuju jalanan Seoul.

Jungshin POV

Kepalaku masih terasa berat. Tapi tidak sesakit yang tadi. Aku mencium aroma parfum. Aku membuka mataku perlahan. Ternyata aku masih berada didalam mobil. Tubuhku berselimut jaket yang mengeluarkan aroma parfum yang kuhirup tadi. Aku menengok ke jok pengemudi, tapi aku tidak menemukan namja pemilik jaket ini. Aku mengedarkan pandanganku. Aku melihat punggung Leeteuk yang kini duduk dikap mobilnya. Aku membuka pintu mobil, dan aku takjub melihat view didepanku. Cahaya lampu tertempel indah berwarna-warni di langit malam. Pantulannya juga terpancar lembut di atas aliran air yang terbentang luas.

“Kau sudah bangun Jungshin-ah?” Tanya Leeteuk yang menyadari kehadiranku.

“Sungai Han dimalam hari memang indah…” lanjutnya saat melihatku masih terbengong menikmati hamparan sungai didepanku.

“Ne… indah sekali… tapi kenapa kau membawaku kemari?”

“Kau tertidur pulas tadi, aku tidak berani membangunkanmu, jadi dari pada menunggu dibasement yang sepi itu, lebih baik aku membawamu kesini. Apa kau tidak suka?”

“Andweeee… manii joahae… Jeongmal Kamsahamnida Leeteuk-shii…”

“Ya~~ berhentilah memanggilku dengan formal.. Kau bisa memanggilku Oppa…” Leeteuk tersenyum dan berjalan mendekatiku.

“Apa tidak apa-apa O-P-P-A???” Leeteuk tertawa melihatku mengeja kata oppa.

“Ne… itu lebih enak didengar karena kita sudah dekat sekarang. Benarkan?” Leeteuk tersenyum lagi memiringkan kepalanya hinggal aku bisa dengan jelas melihat lesung pipinya.

“Ah ya ini jaketmu oppa… gomawoe…” Aku berusaha mengalihkan wajahku sebelum dia bisa melihat semu merah dipipiku dan menyerahkan jaket baseballnya.

Leeteuk meraih jaketnya dan memakainya, tapi bukan dipakai sendiri, tapi dia berjalan ke belakangku dan memakaikan jaket baseballnya itu ke tubuhku, memelukku erat.

“Oppa…” Tentu saja aku kaget dipeluk namja tampan itu dari belakang.

“Berjanjilah kau tidak akan kesakitan seperti tadi…” Ujar Leeteuk lembut tepat ditelingaku.

“Oppa…”

“Kau tahu? Rasanya aku ingin mati melihatmu merintih kesakitan.”

“Jinjja?”

“Ne… aku tidak mau melihat susterku sakit. Bukankah kau harus merawatku? Jadi kau tidak boleh sakit.. arraseo???” Leeteuk membenamkan wajahnya ke pundakku.

“Andwee… Aku tidak bisa lagi menjadi sustermu oppa… Mianhae…” Aku melepaskan kedua tangan Leeteuk yang masih memelukku.

“Mwo? Wae?” Leeteuk menarik lenganku hingga kini aku berbalik menghadapnya. Rasanya jarum yang tadi menancap di otakku kini berpindah menancap dihatiku saat aku melihat wajah malaikatnya berubah, matanya menatapku tajam, alisnya kembali bertaut.

“Mianhae… aku tidak bisa selamanya menjadi sustermu oppa…”

“Wae!!! Jelaskan padaku!!! Apa kau akan pergi!!!” Suara Leeteuk yang biasanya lembut kini mulai meninggi.

“Ne… aku akan pergi… Aku tidak bisa bersamamu oppa… jeongmal mianhae…” Suaraku bergetar menahan agar air mataku tidak jatuh.

“Eodiga??? Aku akan pergi bersamamu!” Leeteuk meraih tanganku dengan erat.

“Oppa…”

“Jungshin-ah… jebal katakan!”

“Kau tidak bisa pergi bersamaku oppa… kau tidak bisa… kau harus tinggal disini.” Aku menangis… kali ini hatiku benar-benar sakit. Leeteuk menarikku dalam pelukannya.

“Wae? Apa kau akan pergi jauh? Apa kau akan ke luar negeri?”

Aku menggelengkan kepalaku.

“Jebal… katakan Jungshin-ah..” Leeteuk mempererat pelukannya.

Aku menggelengkan kepalaku lagi. Tentu saja aku tidak bisa bilang bahwa aku akan pergi, kembali ke kehidupanku, kehidupanku tanpa malaikat yang sekarang memelukku. Entah dari mana datangnya firasat ini, tapi aku tahu sebentar lagi aku akan kembali, kembali tergeletak diranjang operasiku, kembali merasakan jarum-jarum yang disuntikkan padaku, kembali melihat dan mendengar tangisan orang-orang yang kucintai.

“Aku akan mencarimu Jungshin-ah… Aku akan mencari dan menemukanmu, dimanapun kau berada… Aku berjanji…”

“Oppa… jeongmal mianhae…” Aku membalas pelukannya dan membenamkan wajahku kedalam pelukannya yang terasa hangat ditengah hempusan angin dipinggir Sungai Han.

“Tuhan… jika benar waktuku sebentar lagi, aku mohon jangan sakiti namja ini… Namja yang telah membuatku bahagia dalam kehidupan yang kau berikan lagi.. Kumohon… Aku…Aku mencintainya… Jeongmal Saranghae oppa…” Ujarku dalam hati.

To be continue alias bersambung…

 

Ahhh ya ini auhtor sertakan suasana Sungai Han di malam hari..
Huhuhu Oppa bawalah aku kesitu kapan-kapan…
Oppa… jangan lupa istirahat… kasian bgt tu pasti gy capek beud.. hiksss
Advertisements

3 thoughts on “Second Chance (Part 3)

  1. huwaaaaaaaaaaaaa…
    eikee juga mauu diajak ke situ..
    mw adekk minho..
    apa yesung oppa..
    pasrah dehh sp yg ngajak..
    tp jgn rebutan aq yya #plakkk
    hahhahaha..

    oke mantappppp crtanyaaaa..
    lanjuttt final partt..
    ihaaaaaaaaa

  2. kyaaaahhhhh aku hadiiiirrr..
    lama beuud gak berkunjung
    padahal dah lama bacana
    pi baru bisa komen
    jeongmal mianheyo *bow

    ini jungshin kasian beud si
    giliran udah deket
    dan ada rasa gt malah firasat mu mati
    hadooow sedii beuuudd huhu

    ini angst kah shin,huuaaaaahh #nangiskejer
    teukie oppaaaaaaaa *loh wkwkkw

    yahud thor
    mantaaabb dah, aku blm baca final part e,jadi penasaran,hahahha

    sungainya baguuuuuuusss
    aku mauuuu kesana
    soswiiiittt beud 😀

    teukie oppa bubu berdiri?? *nunjuk gambar*
    pi tetep unyu koq
    hahhahaha..
    iyaw oppa istirahatlah *chu~

    buwad authornya juga
    istirahatlah,jangan terlalu sepaneng belajarnya
    fightiiiiiing *chu~

  3. Jeng Shinhae ,,
    maafkan ayee baru bisa brkunjung skrg,,
    seminggu kmren aye jg hiatus dri dunia mnulis dan mmbca ff, krn sibuk ngrus futsal.
    okee curcol selesei .

    Ahhh kan gara2 uda bca part finalnya jdi lupa mau komen di part ini .

    hemmm singkat yaaaa pokoknya daebak deh Shin.
    part ini berasa hawa angst-nya.
    tpi krena uda bca finalnya jdi tau deh gmna akhirnya.

    yaaa aku lngsung komen di part final ajaa yaaa . .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s