Spoiler (No Title yet)

“Kita akhiri saja semuanya…”

Kata-kata yang sudah berkali-kali keluar dari mulutku,

Seutas kalimat yang lebih banyak terucap dibandingkan kata-kata aku mencintaimu,

Tidak ada rasa tertahan sedikitpun untuk mengucapkannya, karena aku tahu, tak kan membutuhkan waktu yang lama bagi untaian kata itu untuk hilang, menguap tak berbekas.

Tapi kali ini berbeda,

Setiap kata yang terucap dari bibirku sendiri saat itu seolah-olah kembali memburuku, menghujani hatiku dengan sayatan-sayatan tipis yang tak terlihat, namun meninggalkan perih yang teramat sangat.

Aku tahu, kali ini semuanya benar-benar akan berakhir, tak lagi hanya menjadi seuntai kata yang akan menguap begitu saja seperti dulu.

Am I regret it?

Molla… aku pun masih mencari jawaban itu…


“Jae Kyung-shii…. Jae Kyung –shii!”

Seorang gadis muda dengan rambut hitam terurai rapi sebatas bahu terlihat diam, matanya yang bulat dengan berhias bulu-bulu mata panjang nan lentik, menatap tembok kosong di hadapannya tanpa berkedip. Sedetik kemudian,gadis itu terhenyak saat mendengar namanya dipanggil.

“Ahh… iye?” sahutnya menoleh kearah si pemanggil. Dalam hati ia bersyukur telah terbangun dari lamunan yang bisa membuatnya berurai air mata, lagi.

“Jae Kyung-shii, klien anda, Tuan Kim, sudah menunggu di ruang meeting. Anda bisa menemuinya sekarang.”

“Ow jinjjayo? Alis matanya saling bertaut. “Bukankah pertemuan dengan Tuan Kim masih dua jam lagi? Aku tidak menerima pesan apapun jika pertemuan ini dimajukan. Kau tahu kan saat ini masih ada hal penting yang sedang aku kerjakan.”

“Mi… mian…mianhamida Jae Kyung-shii, karena kekacauan tadi pagi, saya lupa menyampaikan hal itu. E… Tuan Kim memajukan pertemuan tadi pagi karena beliau ada acara setelah ini.”

“Arraseo… tapi aku tidak mau mentolerir kesalahan seperti ini lagi. Kau mengerti?” Hardik Jae Kyung pada asistennya, Ji Eun, dan tentu saja teguran itu berhasil merubah mimik muka Ji Eun yang ceria menjadi pucat pasi seketika. Hari ini tepat sebulan ia bekerja sebagai asisten Han Jae Kyung, atasan yang bisa membuatnya terkesan, kagum, kesal dan takut secara bersamaan.

Jae Kyung hanya bisa menghela nafas, mencoba memaklumi kesalahan asisten baru, yang umurnya tak terpaut jauh, hanya 2 tahun itu. Ia segera membereskan kertas-kertas yang dipenuhi dengan angka dan grafik berwarna-warni. Dengan enggan, ia menarik sebuah map kuning bertuliskan “Kim Tak Goo” yang tersusun rapi di meja kerjanya dan bergegas menuju ruang meeting untuk menemui kliennya, Tuan Kim, seorang pengusaha yang menguasai ritel roti besar di seluruh Korea, dan telah mempercayakan seluruh asset perusahaannya untuk dikelola oleh Jae Kyung.

“Jae Kyung-shii, sebelum saya lupa, seseorang dari agensi majalah datang untuk mengirimkan ini. Ujar Ji Eun menghentikan langkah Jae Kyung dan menyerahkan sebuah majalah yang tak terlalu tebal itu dengan senyuman kagum. “Anda terlihat cantik dan elegan.”

“Ah, gomaweoyo. Aku sampai lupa bulan ini mereka mulai menerbitkannya.” Pipi Jae Kyung bersemu merah mendengar pujian asistennya itu dan terlihat malu sekaligus ada kebanggaan terpancar darinya saat melihat foto dirinya yang tersenyum manis, dibalut blouse hitam dengan berhias bros emas berbentuk burung phoenix bermata zamrud yang menambah kesan anggun pada sosoknya, terpampang di cover majalah Bussiness Magz dengan judul “Han Jae Kyung, Financial Consultant Mempesona di Usia Muda”.

“Bisa tolong kau letakkan di meja kerjaku?” Pinta Jae Kyung pada Ji Eun, tak mau berlama-lama mengagumi dirinya sendiri dan membiarkan klien bernilai mahalnya itu menunggu.

Han Jae Kyung…

Nama yang tak mungkin tak dikenal oleh orang-orang yang berkecimpung di dunia keuangan dan chaebol-chaebol Korea yang mempercayakan harta kekayaannya pada institusi keuangan itu.

“Bagaimana dia bisa melakukannya?”

“Mungkin IQ-nya melebihi Einstein.”

“Dia itu hanya beruntung. Mungkin di kehidupan sebelumnya dia telah berhasil menyelamatkan semenanjung Korea.”

“Pasti dia berasal dari keluarga kaya raya, sehingga punya banyak koneksi untuk bisa mencapai posisinya yang sekarang ini.”

“Aku iri padanya. Padahal umur kami sama, tapi dia telah mencapai posisi tinggi seperti itu, sedangkan aku masih disini, menjadi jongos untuk orang-orang seperti dirinya.”

“Dunia ini tidak adil!”

Itulah beberapa komentar yang terlontar saat melihat sosok Han Jae Kyung. Komentar-komentar yang sebagian besar di gumamkan oleh yeoja-yeoja yang “tak ikhlas” dengan kesuksesan Jae Kyung. Namun hal itu berbeda 180 derajat dengan komentar-komentar yang tertutur manis dari bibir-bibir namja yang “terpesona” dengan sosok Jae Kyung.

“Apa dia masih single?”

“Sosok yeoja yang sempurna.”

“Dia itu tipe yeoja idelaku.”

“Kesalahan apa yang dia perbuat sampai-sampai surga membuang salah satu bidadarinya ke bumi?”

Komentar-komentar yang dikeluarkan dari dua jenis manusia yang berbeda, namun menimbulkan dampak yang sama di telinga Jae Kyung. Geli sekaligus muak. Dia tak habis pikir, bagaimana hati dan otak manusia bisa menjadi begitu gelap dan bergejolak secara tak wajar saat berkaitan dengan manusia lainnya. Ditambah lagi komentar-komentar itu keluar dari manusia-manusia berpakaian rapi, manusia-manusia yang berhasil menenteng secarik kertas bertuliskan ijazah berpendidikan tinggi, manusia-manusia yang seharusnya memiliki kasta yang lebih tinggi dibandingkan dengan manusia-manusia pasar.

Berusaha tidak peduli, namun terus berusaha menguak sosok yang dicemooh dan dipuja itu. Mungkin sebagian kesalahan memang pantas ditimpahkan pad Jae Kyung yang membuat image dirinya sendiri ‘misterius’. Dia tak suka membicarakan kehidupan pribadinya pada siapapun, termasuk teman kerja, kolega maupun kliennya. Mungkin orang yang tahu kehidupan yang dijalani Jae Kyung bisa dihitung dengan jari, hanya segelintir, eksklusif.

Tanpa diceritakanpun orang-orang itu berhasil menguak asal-usul keluarga Jae Kyung. Dan hal tersebut menjadi perbincangan yang terus berdengung selama berhari-hari dilingkungan industri keuangan itu.

“Pantas saja dia bisa sesukses itu. Jika aku berasal dari keluarga seperti itu pun pasti aku bisa ada diposisinya sekarang, bahkan lebih.”

Komentar seperti itu mau tak mau menjadi sarapan sehari-hari bagi indera pendengaran Jae Kyung. Untunglah Jae Kyung mewarisi salah satu sifat kakeknya yang cuek dan masa bodoh, sehingga tak begitu peduli dengan hiruk pikuk itu sampai mereda dan hilang dengan sendirinya.

Dari pengalamannya itu, Jae Kyung kini sangat berhati-hati dengan kehidupan pribadinya, terutama kehidupan cintanya, isu yang benar-benar menjadi buruan teratas bagi yeoja-yeoja iri yang haus akan bahan hujatan. Kehebohan masalah asal usul keluarga masih bisa ditangani oleh Jae Kyung dengan mudah, tapi jika masalah cintanya juga ikut terkuak, entah apa yang bisa dilakukan Jae Kyung, karena itu tidak hanya menyangkut dirinya sendiri, tapi menyangkut pribadi dan reputasi seseorang yang dia cintai, atau lebih tepatnya, namja yang dulu dia cintai.


Advertisements

One thought on “Spoiler (No Title yet)

  1. Akhiiiirrrnnnyaaaaaaaaaa dibikinin ff jugaaaaa,,

    Setelah sekian lama ff yg dulu cm digantungin smpe part1 doank n kebawa arus sungai han,,

    Ada hikmahnya juga ternyata kejadian tragis yg akhir2 ini baru aq alami hahahaaa,,

    Makaciiiiii suhuuuuuu,, aq terharuuu lhoo iniii kamuuu mau bikinin ff iniiii (walau br spoilernya) 😉

    Penasaran bgt bakal gmn jalan ceritanya,,,, siapa aja cast nyaaa??? Aaarrrggghhhhh g sabar buat baca selengkapnyaaa suhuuuu,, deg2an ini nunggu part 1 nya d posting,,
    Hahahaaa
    Semangaaattt suhuuuuu :*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s