The Good In Goodbye Episode 2

Untitled-1

 

“Oppa, bagaimana kau tahu aku ada disini?” Tanya Jae Kyung girang melihat sekretaris keluarga Han, atau lebih tepatnya sekretaris pribadi sekaligus tangan kanan kakak Jae Kyung, CEO Han Group, berdiri menunggunya.

“Oo.. Kau sudah disini Nona Han? Ada sesuatu yang ingin saya sampaikan.” Jawab Sekretaris Ji formal.

“Mwo? Nona Han? Oppa… kau tahu kan aku sangat benci jika kau memanggilku seperti itu!” Jae Kyung cemberut dan melipat kedua tangannya di dada, menegaskan ketidaksukaannya pada cara bicara Sekretaris Ji yang terlalu sopan.

“Ahhh mianhae… aku terbawa suasana karena terlalu banyak orang disini. Sebaikanya kita masuk ke mobil dulu.” Chang Wook membukaan pintu mobil mercedez benz hitam seri terbaru dan mempersilahkan Jae Kyung yang masih menampilkan wajah cemberutnya untuk masuk ke dalam mobil.

Walaupun Jae Kyung sudah terbiasa dengan sikap Sekretaris Keluarganya itu yang selalu bersikap formal jika berada di depan umum, apalagi sedang berada di lingkungan keluarga Han, ia tetap selalu merasa kesal jika namja yang telah dianggapnya sebagai oppa, bahkan melebihi kakak kandungnya sendiri itu, memanggilnya dengan sebutan Nona, sebutan yang membangunkan Jae Kyung pada kenyataan bahwa ia masih menjadi bagian dari Keluarga Han, sekeras apapun ia mengingkarinya.

“Mau kemana kita? Jika oppa membawaku pulang kerumah yang besarrrr itu, aku akan turun sekarang!” Ancam Jae Kyung pada namja yang kini telah duduk disampingnya, bersiap untuk meyalakan mesin mobil.

“Arra… aku tidak mau kejadian seperti dulu itu terulang lagi. Perlu beberapa hari untuk memulihkan lebam dimataku ini.” Tunjuk Chang Wook pada bekas luka kecil di sekitar matanya. “Aku akan mengantarmu pulang, tentu saja ke apartemenmu.”

“Oppaaaa… jeongmal mianhae… waktu itu kan aku tidak sengaja. Lagipula kenapa wajahmu bisa ada dalam jangkauan tinjuku hehehe?” Ujar Jae Kyung tak mau kalah, dan membuat senyuman kecil tersungging di bibir Chang Wook yang berusaha fokus menyetir. “Tapi, tidak mungkin seorang Ji Chang Wook, sekretaris pribadi andalan pewaris Group Han yang memiliki pekerjaan tersibuk di dunia ini memiliki waktu hanya untuk mengantarku pulang. Waeyo oppa?” Tatap Jae Kyung curiga.

“Ehemmm… itu… itu… apa kau ingin makan sesuatu?” Jawab Chang Wook yang tentu saja sangat terlihat gugup di mata Jae Kyung yang sudah hafal dengan perilaku Chang Wook yang akan membelokkan pembicaraan saat situasi membuatnya tak nyaman.

“Chang Wook Oppaaaa… waeyo? Pasti kau menjemputku karena perintah atasanmu itu. Iya kan? Waeyoo???” Desak Jae Kyung tak sabar.

Karena Jae Kyung terus mendesaknya, mau tak mau Chang Wook meminggirkan mobil dan berhenti di tepi jalan. Ia paham, menyetir saat membicarakan sesuatu yang serius dengan Jae Kyung akan membahayakan mereka berdua, karena ia yakin pembicaraan ini akan memakan waktu yang tak sebentar dan perlu konsentrasi tinggi.

Mobil hitam mewah yang kini terparkir diam, sediam suasana yang ada di dalamnya, sunyi senyap, hanya sesekali terdengar helaan nafas yeoja dan namja. Hiruk pikuk berbagai kendaraan yang lalu lalang di jalan utama Seoul itu tak mampu menembus kesenyapan yang mulai menyeruak di seluruh interior mewah berlapis kulit itu.

“Hmmm… begini. Kau benar, CEO Han yang menyuruhku menemuimu. Kau tahu kan minggu depan itu hari apa?” Tanya Chang Wook terlihat hati-hati.

“Minggu depan? Jika hari ini hari sabtu, tentu saja minggu depan adalah hari sabtu juga. Wae?” Jawab Jae Kyung masih tak mengerti dengan arah pembicaraan Chang Wook.

“Ne… minggu depan adalah hari sabtu, tanggal 25 Juni… hari itu adalah—“

“Ahh… sudah setahun rupanya? Huwaaah waktu benar-benar cepat berlalu. Sepertinya baru kemarin aku menonton berita yang menayangkan secara exlusive pesta megah yang selalu dinanti-nantikan para chabeol Korea itu. Aku masih sangat ingat headline news waktu itu, Group Han’s Anniversary Party” Ujar Jae Kyung dengan nada menyindir. “Ahhh… waktu itu aku juga ingat melihatmu sekilas di tv hahaha….” Jae Kyung meninju pelan lengan Chang Wook.

“Jae Kyung-ah…” Chang Wook memalingkan tubuhnya hingga kini ia dan Jae Kyung berhadap-hadapan.

“Mwogayo? Kenapa tampangmu serius seperti itu oppa? Kau tahu, kau tidak cocok dengan image serius seperti ini.” Jae Kyung tertawa geli melihat perubahan sikap namja dihadapannya itu.

“Jae Kyung-ah… dengarkan aku baik-baik. Hyung, ah… maksudku CEO Han, memberiku perintah untuk memberitahumu bahwa kau harus datang ke pesta nanti.” Ujar Chang Wook dalam satu tarikan nafas, seakan-akan nafasnya akan terputus ditengah jalan. Tapi tetap saja kegugupan terdengar dari nada suaranya.

“Ya~ oppa…kau ini membuatku khawatir saja. Aku pikir kau ingin membicarakan sesuatu yang serius, ternyata kau malah membuat lelucon yang sama sekali tidak lucu seperti ini.” Jae Kyung kembali memukul pelan lengan Chang Wook sambil terkekeh kecil.

“Aku tidak sedang bercanda. Aku benar-benar serius. Hyung menyuruhmu untuk datang ke pesta minggu depan. Lebih tepatnya Chairman Han yang menyuruhmu datang.”

“Mwo??? Oppa yang menyuruhku datang saja sudah menjadi hal yang tak masuk akal, dan kau bilang Kakek yang menyuruhku datang??? Omooo… jangan bilang setelah ini kau mengatakan padaku bahwa gajah punya sayap, atau kapal titanic tidak jadi tenggelam di atlantik sana!”

“Jae Kyung-ah!!!” Chang Wook terlihat sedikit frustasi .

“Oppa… yang benar saja… Aku diundang ke pesta yang selama bertahun-tahun terlarang bagiku, pesta dimana semua keluarga Han berkumpul kecuali diriku, pesta dimana semua orang terlihat lupa jika Chairman Han yang terhormat memiliki cucu perempuan bernama Han Jae Kyung. Dan sekarang tiba-tiba Chairman terhormat itu menyuruhku datang. Wae? Bukankah kau sendiri merasa aneh mendengarnya oppa?” Suara Jae Kyung bergetar, jari-jari tangannya mengepal keras.

“Anii… itu sama sekali tidak terdengar aneh ditelingaku. Bagiku itu hal yang wajar. Kau adalah cucu perempuan penerus Group Han. Apapun situasinya, apapun yang telah terjadi, hal itu tidak bisa mengubah kenyataan. Cepat atau lambat kau akan kembali pada keluarga Han.”

“Oppa oppa oppaaaa… kupikir setidaknya kau memahamiku selama ini. Mwo? Kembali? Memangnya selama ini aku pergi? Memangnya selama ini aku melarikan diri dari Keluarga Han yang termansyur ini???” Seru Jae Kyung setengah histeris.

“Jae Kyung-ah… mianhae… bukan maksudku seperti itu. Mian… Arraseo… kutarik semua ucapanku tadi.” Kebingungan dan kekhawatiran bercampur aduk di raut muka Chang Wook saat melihat reaksi Jae Kyung. Dengan lembut, Chang Wook menggenggam jemari Jae Kyung yang terkepal semakin kuat hingga urat-uratnya terlihat dan mengusap air mata yang menetes pelan di pipi Jae Kyung.

“Oppa… aku ingin pulang…” Pinta Jae Kyung sedikit terisak.

“Arra… aku akan mengantarmu pulang sekarang.” Chang Wook segera menyalakan mesin mobilnya dan menginjak pedal gas hingga mercedez bens hitam itu kini kembali ke Jalan raya Seoul yang padat dan melaju dengan kecepatan tinggi dengan genggaman tangan yang masih tak terlepas dari jemari Jae Kyung, berusaha untuk menjaganya agar tetap tenang.

Chang Wook mengerti, Jae Kyung adalah yeoja yang tegar, tapi tidak jika menyangkut keluarganya sendiri. Apapun yang telah terjadi di dalam keluarga Chaebol itu, benar-benar telah meninggalkan luka pada setiap penyandang nama Han.

“Gwencana?” Tanya Chang Wook setelah ia memarkirkan mobilnya di basement apartemen Green Hills, apartemen Jae Kyung, meskipun ia tau jawabannya hanya dengan melihat sikap Jae Kyung yang terus terdiam sepanjang perjalanan dan hanya disisipi sisa tangis yang berusaha ia redam.

“Ani… angwencana.” Jawab Jae Kyung apa adanya. “Gomaweo oppa sudah mengantarkanku pulang. Kuanggap pembicaraan tadi tidak pernah terjadi.” Tanpa menoleh sedikitpun ke arah Chang Wook, ia membuka pintu dan keluar dari mobil dengan sedikit gontai.

“Jae Kyung-ah!” Susul Chan Wook ikut beranjak dari mobilnya. Namun, langkahnya terhenti saat Jae Kyung mendadak berhenti dan perlahan memutar badannya. Ia menatap Chan Wook dengan pandangan kosong dan otot-otot pipinya terlihat kaku saat berusaha mengangkat kedua ujung bibirnya untuk tersenyum. Perlahan Jae Kyung menggelengkan kepalanya dan kembali berbalik pergi. Chang Wook paham, itu adalah tanda Jae Kyung saat ia ingin sendiri, tak ingin diganggu, dan tak butuh pertolongan dari siapapun. “ I’m not okey, but let me be alone for awhile, please”.

Tak ada yang bisa Chang Wook lakukan. Toh, ia hanya seorang sekretaris keluarga, tak lebih. Ia hanya bisa kembali ke kursi pengemudinya dan melihat Jae Kyung berjalan semakin jauh, dan benar-benar hilang dari pandangannya saat pintu masuk apartemen Green Hill di basement itu mulai menutup.

Di lain pihak, Jae Kyung tak sadar dirinya berjalan gontai dan hanya mengikuti instingnya untuk terus berjalan, mengetikkan password di keypad kecil yang tertanam di sebelah pintu kaca gelap yang selalu ia lewati untuk bisa masuk ke apartemennya, tanpa perlu berpikir, karena pikirannya sekarang berkelana entah kemana. Ia masih mengandalkan instingnya untuk berjalan maju melewati pintu kaca gelap yang perlahan terbuka dan kemudian menutup kembali dibelakangnya, dan berhenti di depan pintu lift stainless steel berbingkai marmer coklat kayu yang kini masih tertutup. Tombol panah naik berpendar hijau saat Jae Kyung menyentuh tombol di lift itu. Angka digital di atas pintu lift berkelip-kelip setiap angka berwarna merah itu satu per satu berganti, menandakan posisi lift yang bergerak turun menuju basement, tempat Jae Kyung yang berdiri masih linglung, tenggelam dalam pikirannya sendiri.

“Aku disuruh datang ke pesta? Aku? Orang yang selama ini mereka benci? Aku? Ke pesta? Apa mereka sudah gila? Atau aku yang sebenarnya gila?” Wae??????”

 

“TINGGGGG”

Dentingan dan pintu lift yang mulai terbuka membuat Jae Kyung sedikit terhenyak kaget. Dengan malas, ia melangkahkan kakinya masuk ke dalam lift. Masih dengan pikiran yang terganggu akibat undangan yang tak biasa tadi, Jae Kyung menekan angka 20, lantai dimana unit apartemennya berada. Jae Kyung menyandarkan tubuhnya pada salah satu sisi lift yang berbentuk segi empat sempurna itu dengan helaan nafas panjang. Sedetik kemudian pintu lift berlahan menutup.

“TUNGGU!!!!!!”

Teriakan yang cukup keras kembali membuat Jae Kyung terhenyak. Tanpa perlu mengetahui asal suara, Jae Kyung memahami maksud teriakan itu dan segera menahan pintu lift sebelum pintu berlapis stainless steal tersebut tertutup dengan sempurna.

“Ahh… kamsahamnida…” Benar saja, teriakan itu berasalah dari suara seorang namja yang kini terlihat terengah-engah masuk ke dalam lift sebelum pintu lift kembali tertutup.

Jae Kyung tersenyum kecil, bukan karena melihat namja yang masih berusaha mengatur ritme bernafasnya itu, tapi karena melihat sesuatu yang sedari tadi mengekor di belakang namja yang kini berdiri disampingnya.

“Hyungnim…” Panggil Jae Kyung yang sepertinya mengenal nama anjing kecil coklat yang terus menggerak-gerakkan ekor kecilnya dan menjulur-julurkan lidah merah mudanya.

“Oooog… Jae Kyung-shii…” Pemilik anjing yang kini sudah bisa bernafas normal itu sepertinya juga mengenali Jae Kyung.

“Annyeonghaseyoo Junhyung-shii…” Sapa Jae Kyung. “Apa yang kalian berdua lakukan sampai-sampai kau kehabisan nafas seperti itu?”

“Ahh… aku dan Hyungnim jogging sebentar keliling taman hahaha…”

“Malam-malam begini?”

“Ne… kau kan tau, aku hanya bisa berolahraga di malam hari.” Jawab Junhyung menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.

“Benar sekali. Hidupmu sudah terbolak-balik seperti kelelawar hahaha…” Jae Kyung tertawa kecil mengingat gaya hidup namja yang baru sebulan menjadi tetangga barunya itu.

Yong Junhyung, seorang produser sekaligus composer music di sebuah agensi besar di Korea itu pindah ke sebelah unit apartemen Jae Kyung tepat sebulan yang lalu. Berbeda dengan penghuni sebelumnya, yaitu sepasang pengantin baru yang selalu mengekspresikan dunia penuh cinta mereka kapanpun, dimanapun, dan pada siapapun, yang tentu saja membuat semua orang yang pertama kali melihat akan merasa terpesona, tapi secara cepat berubah menjadi perasaan muak saat harus melihatnya setiap hari, setiap jam, setiap menit, dan setiap detik, Junhyung adalah tipe tetangga kesukaan Jae Kyung. Bicara seperlunya, tak ada basa-basi, namun bisa diandalkan. Sebagai tambahan, Namja bergaya santai dengan rambut coklat tertata rapi itu memiliki seekor anjing yang kini menjadi teman bermain Jae Kyung, Karena terkadang Jae Kyung dimintai tolong oleh Junhyung untuk menjaganya saat ia tidak bisa pulang selama berhari-hari untuk menyelesaikan pekerjaan di studio pribadi namja yang hanya terpaut 1 tahun lebih tua dari Jae Kyung.

Yong JunHyung

“Jae Kyung-shii… gwencanayo? Tanya Junhyung tiba-tiba, mengrenyitkan dahinya.

“Mwo? Waeyo?”

“Ani… tapi wajahmu… wajahmu terlihat seperti habis berlari ber-ratus-ratus kilometer. Mianhaeyo… tapi matamu benar-benar seperti habis dipukuli orang.” Junhyun menggerakkan tangannya mengitari wajahnya sendiri, memperagakan kekhawatirannya melihat mata Jae Kyung yang sembab dan air mata yang belum benar-benar kering dari pipinya.

“Ahhh igoo… aniyaa… gwencanayo” Jawab Jae Kyung tersenyum canggung, enggan menceritakan apa yang telah membuat dirinya terlihat kacau. Junhyung-pun paham dan tak meneruskan keingintahuannya itu.

Keheningan menyeruak di dalam ruangan berbentuk kubus itu. Yang terdengar hanya dentingan lift disetiap lantai yang mereka lewati. Kedua yeoja dan namja itu tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing. Kecuali makhluk kecil coklat yang kini mulai mengusap-usapkan tubuh berbulunya itu ke kaki Jae Kyung.

“Hyungnim…” Jae Kyung menundukkan kepalanya ke arah sumber yang membuat kakinya terasa geli.

“Aigoooo… mianhae.. sepertinya Hyungnim ingin mendapatkan perhatianmu hahaha…” Junhyung tertawa dan berjongkok, mencoba menghentikan perilaku anjing kesayangannya itu.

“Anii… gwencanayo… mungkin Hyungnim rindu padaku. Sudah lama kita tidak bermain bersama. Benar kan hyungnim???” Jae Kyung ikut berjongkok dan menggendong Hyungnim ke dalam pelukannya.

“Guk… guk… guk…” Seru Hyungnim gembira dan tak lupa mengibas-ngibaskan ekor kecilnya. Perilaku yang sering hyungnim lakukan untuk menghibur Jae Kyung. Dan hal itu kembali berhasil menggembalikan senyuman Jae Kyung yang biasa terpampang diwajahnya.

TINGGGGG” Dentingan Lift kembali berbunyi, kali ini adalah pertanda bahwa mereka telah sampai ke lantai 20.

Jonghyung dan Jae Kyung yang masih menggendong Hyungnim, berjalan keluar menuju lorong berlapis cat coklat susu dengan lantai marmer berwarna senada yang mengarah ke unit apartemen mereka.

“Gomaweoyo Hyungnim…” Ujar Jae Kyung mengangkat anjing dalam gendongannya itu tinggi tinggi sebelum mengembalikannya pada pemiliknya saat mereka sampai di depan unit 2001, unit apartemen Jae Kyung.

“Huwaaah.. hyungnim.. apa yang telah kau perbuat hingga yeoja ini mengucapkan terima kasih?” Canda Junhyung.

“Berkat kau moodku kembali naik hahaha…” Jae Kyung mengusap-usap kepala hyungnim.

“Apa kau tidak mengucapkan terima kasih padaku juga?”

“Wae???”

“Aku kan pemilik hyungnim. Selama ini aku yang merawat dia hingga bisa semanis ini hahaha…”

“Yaaaah Junhyung-shii… setahuku Hyungnim lebih menurut padaku dibandingkan kau, majikannya sendiri.” Ujar Jae Kyung tak mau kalah.

“Ishhh… tentu saja.. Hyungnim ini seperti playboy… ia akan menurut pada semua yeoja cantik yang dekat dengannya.” Junhyung memelototi anjingnya sendiri. Gemas.

“Mwo? Maksudmu aku juga termasuk ke dalam kategori yeoja cantik?” Tanya Jae Kyung usil.

“Mwoya?? Ah.. aniyaa.. maksudku ia senang berada dekat dengan semua yeoja. Kau kan yeoja!” Junhyung sepertinya tidak sadar dengan apa yang telah ia katakan sebelumnya. “Sudahlah, sebaiknya kau segera masuk. Aku juga banyak kerjaan. Ayo Hyungnim!” Tanpa menoleh, Junhyung menggendong anjingnya dan berjalan ke arah unit 2002, unit apartemennya sendiri. Tak lupa ia melambaikan tangannya asal-asalan, sebagai tanda good-bye. Jae Kyung menahan tawa melihat tetangganya yang salah tingkah itu.

“Aigoooo… hari ini sungguh hari yang luar biasa… Semoga besok hanya akan menjadi hari yang biasa, tanpa ada kejutan-kejutan yang super seperti hari ini. Isshhh kenapa juga aku tadi harus menangis! Benar-benar menyebalkan!!!” Ujar Jae Kyung, berbicara pada dirinya sendiri merasa kesal sembari mengetikkan 4 digit password untuk masuk kedalam unit apartemennya, berharap semuanya akan terlupakan dan tidak menjadi mimpi buruk yang mengganggu tidurnya seperti malam-malam sebelumnya.

 

Sunday, Buskin & Robin Café, 13.00

“MWORAGO??? KAU DISURUH DATANG KE PESTA ITU????” Seru seorang yeoja bergaya casual yang tiba-tiba berdiri dari kursinya

“Ya~~~ apa perlu kuambilkan pengeras suara agar orang yang ada di luar juga bisa mendengar suaramu!!!!” Jae Kyung menarik tangan sahabatnya itu agar kembali duduk ke kursinya. “Cheosonghamnida… cheosonghamnida…” Ujar Jae Kyung pada pengunjung lain yang sepertinya terganggu dengan reaksi Ae Ri yang berlebihan itu.

“Jinjjayooo??? Kakek gila itu mengundangmu ke pesta? Setelah bertahun-tahun? Akhirnya? Kau??? Mereka mengundangmu? Wae? Wae? Wae? Lalu apa kau mau menerima undangan langka itu? Omo… ini sungguh berita yang mengemparkan! Haruskah aku menulis artikel khusus???” Ae Ri yang akhirnya bisa kembali duduk ke kursinya itu kini menatap Jae Kyung dengan mata yang berbinar-binar bercampur dengan keingintahuan tingkat tinggi. “Finally, Cucu Perempuan Satu-satunya dari Chairman Han Menghadiri Pesta Akbar Tahun Ini” Seru Ae Ri yang sepertinya berubah menjadi seorang Reporter yang mendapatkan bahan berita terpanas.

“YA~~~ Im Ae Ri!!! Apa kau ingin mati ditanganku??!!” Jae Kyung menjejalkan sesendok penuh Ice Cream Red Velvet ke mulut Ae Ri, berusaha menghentikan ocehannya itu.

“Ani… tapi ini sungguh aneh. Benarkan? Lalu apa reaksimu kemarin saat sekretarismu yang menawan itu memberikan kabar mengejutkan ini?” Tanya Ae Ri yang sesekali mengrenyit menahan dinginnnya ice cream yang ada di dalam mulutnya itu.

“Apa lagi yang bisa kulakukan. Tanpa bisa kukendalikan aku menangis di mobil kemarin.” Jae Kyung kembali merasa kesal mengingat kejadian kemarin malam itu.

“Sudah kuduga… sekuat apapun kau bersumpah untuk tidak mengeluarkan air mata setetes-pun karena keluargamu yang aneh itu, kau pasti akan tetap melakukannya hahaha…”

“Issshhhh… apa kau meledekku!!!”

“Mian… mian… lalu apa yang akan kau lakukan? Kau akan datang kan?”

“Micheosoo??? Apa kau sudah gila? Tentu saja aku menolaknya! Untuk apa aku ke sana???”

“Ya~ apa kau tidak penasaran kenapa kau akhirnya disuruh datang kesana? Mungkin saja kau akhirnya diperkenalkan secara resmi sebagai cucu perempuan satu-satunya penerus salah satu perusahaan di Group Han. Mungkin Chairman Han akhirnya mengakui kesuksesanmu dan ingin menarikmu untuk memperkuat Group Han bersama kakakmu itu. Dua Bersaudara Sukses Akhirnya Bersatu Untuk Memperkuat Eksistensi Group Han”. Ujar Ae Ri yang lagi-lagi bersikap seolah-olah ia sedang membuat judul artikel.

Jae Kyung hanya diam mendengar pernyataan Ae Ri. Namun, pikirannya terus berputar menjawab pertanyaan yang selama ini juga ia tanyakan.

“Tentu saja aku penasaran! Diundang ke pesta? Setelah setahun tak ada komunikasi denganku, dibuang seperti sampah, sekarang tiba-tiba mereka mengundangku ke sana? Yang benar saja. Apa yang Kakek pikirkan?Apa dia akhirnya bisa memaafkanku? Apa… apa akhirnya ia mau mengakuiku sebagai cucunya lagi? Ishhhh tidak mungkin. Jika itu sampai terjadi, aku bersumpah akan Diet selama setahun!!“

“Menurutku sebaiknya kau datang ke sana. Lagi pula ini kesempatan yang bagus untuk bertemu langsung dengan Kakekmu yang tercinta itu setelah sekian lama kan. Mungkin hatinya sudah berubah.” Lanjut Ae Ri yang memahami kebingungan yang terpancar di raut muka sahabatnya itu.

“ Berubah? Kau pikir Kakek keras kepala itu mau merubah hatinya sekarang untukku?” Jae Kyung menggenggam erat sendok ditangannya. “Kau tau Ae Ri, alasan paling logis yang bisa kupikirkan adalah Kakek ingin menunjukkan pada semua orang pelaku yang merenggut kebahagiannya sebagai seorang Ayah!”

Baik Ae Ri maupun Jae Kyung sendiri terhenyak kaget mendengar pernyataan yang terucap dari bibir Jae Kyung. Ia sendiri tak menyangka ia dapat mengucapkan kata-kata yang selama ini ia hindari itu. Ae Ri hanya bisa menatap Jae Kyung dengan tatapan prihatin, tak tahu harus berbuat apa.

Sedetik, dua detik berlalu. Dan akhirnya di tengah suara obrolan dari pengunjung café Buskin and Robin, terdengar helaan nafas. Bukan helaan nafas dari dua yeoja yang kini masih terdiam itu, tapi helaan nafas panjang dari seorang namja dengan rambut coklat yang ditata secara berantakan, yang entah disadari atau tidak, terlupakan atau tidak, telah duduk di samping Ae Ri sedari tadi.

 

Choi Woo Sik

 

“Jogiyo… menurutku kau sebaiknya datang ke pesta itu.” Ujar namja berkulit pucat dengan wajah polos itu. Otomatis Ae Ri memalingkan kepalanya kearah sumber suara.

“Omo… sejak kapan kau disini Woo Sik-shii?” Ae Ri terlihat sedikit terkejut melihat partner kerjanya itu berada di sampingnya sedari tadi.

“YA~~ kau anggap aku ini hantu atau sejenisnya???!!!! Apa kau lupa? Kau yang menyeretku untuk ikut denganmu! Iiishhhhhh!” Seru Woo Sik mencoba memprotes perlakuan Ae Ri.

“Jinjja? Eonje? Ahhhh Miaaaan…..” Masih dengan ekspresi tak bersalah, Ae Ri menjulurkan lidahnya mencoba meminta maaf karena telah melupakan Kameramennya itu.

“Ishhh…Molla!” Ujar Woo sik yang sepertinya sudah terbiasa diperlakukan semena-mena olah yeoja yang telah menjadi partner kerjanya selama 3 tahun itu.

“Tapi… bisakah kau ceritakan masalah antara dirimu dan Chairman Han?” Tanya Woo Sik pada Jae Kyung sembari menyedot habis sisa Banana Juice di gelasnya. Jae Kyung yang entah mengapa juga tidak menyadari kehadiran namja berwajah polos yang sedari tadi duduk di depannya itu sedikit terkejut mendengar pertanyaan yang dilontarkan Woo Sik. Mungkin karena pekerjaannya sebagai juru kamera, sehingga terkadang kehadirannya seakan antara ada dan tiada…

“Well, aku hanya penasaran.” Cengir Woo Sik. “Pertama, faktanya adalah kau cucu perempuan dari Chairman Han sekaligus adik dari pewaris Group Han, CEO Han. Kedua, kau satu-satunya anggota keluarga Han yang tak sekali pun dipublikasikan. Bahkan publik pun seakan tidak tahu bahwa Chairman Han memiliki cucu perempuan. Ketiga, mendengar ceritamu tadi, sepertinya kau memutuskan hubungan komunikasi dengan keluarga Han, atau sebaliknya. Keempat, melihat riwayat keluargamu, Chairman Han kehilangan anak perempuannya, yang yang tak lain adalah ibumu dan CEO Han 20 tahun yang lalu, dan beberapa tahun kemudian Ayahmu-….” Belum sempat Woo Sik meneruskan analisnya, pukulan keras mendarat di dahinya yang tertutup poni. Dan hanya rintihan kesakitan yang kini keluar dari bibirnya.

“YA~~ apa kau ini seorang detektif??? Kau ini salah minum obat atau apa! Kenapa kau jadi cerewet dan sok tahu begini???” Seru Ae Ri kesal.

“Ae Ri-ya!!! Ini namanya kekerasan dalam rumah tangga! Kenapa kau memukulku!!! Aku kan hanya menerapkan ilmuku sebagai seorang wartawan! Dasar Nenek Sihir!!!” Seru Woo Sik tak kalah kesalnya, masih mengusap-usap dahinya yang kini memerah.

“MWORAGOOOOO!!”

“YA~ kalian berdua, diam atau kulaporkan pada Captain Kim agar kalian segera dibawa ke Rumah Sakit jiwa!!” Jae Kyung merasa geli sekaligus malu melihat kelakukan kedua orang yang kini mulai bersiap-siap untuk melakukan tindakan anarkis yang selalu mereka lakukan saat keduanya bertengkar, yaitu menjambak rambut satu sama lain sampai seseorang yang cukup waras datang untuk melerai mereka berdua.

“Arraseoo…” Jawab namja dan yeoja secara serentak, seketika berubah menjadi kucing jinak saat nama bos mereka disebutkan.

“Jadi… kau datang atau tidak?” Tanya Woo Sik hati-hati, tak melepaskan lirikannya kearah Ae Ri, tak ingin dahinya menjadi sasaran kekejaman Ae Ri untuk kedua kalinya.

“Akan ku pikirkan. Aku masih punya waktu beberapa hari untuk menenangkan hati dan pikiranku sebelum berhadapan langsung dengan orang itu.”

“Atau… kau ingin menemui kakakmu dulu untuk mendiskusikan semua ini?” Usul Ae Ri.

“Mwo? Diskusi? Aku bahkan belum pernah berbicara selama 5 menit dengan kakakku itu. Lagi pula, dia itu seperti robot suruhan Chairman Han. Jadi sepertinya percuma menanyakan maksud kakek itu mengundangku ke pesta pada kakakku.”

“Aigooo… kukira aku hanya bisa menyaksikan kerumitan sebuah keluarga chaebol dari dalam drama tv. Tak kusangka kini kenyataan itu terpampang di hadapanku.” Woo Sik menggelangkan kepalanya perlahan dan mengrenyitkan alisnya seakan ikut sedih, merasakan apa yang dirasakan Jae Kyung. “Hey, kenapa kau tidak pergi ke pesta itu bersama sekretarismu yang tinggi itu?”

“Woo Sik-ah! Bagaimana kau tahu semua yang aku tahu tentang masalah Jae Kyung? Bahkan kau tahu tentang sekretaris Ji?” Ae Ri melotot,  menatap Woo Sik seakan tak percaya. Ia bahkan tidak pernah menceritakan masalah sahabatnya itu pada adik kandungnya sendiri.

“Hah! Jae Kyung-shii… lain kali jika kau punya rahasia, jangan pernah kau ceritakan pada nenek sihir ini.” Ujar Woo Sik tersenyum puas, membuat Ae Ri terheran-heran.

“Ahhh… maksudmu dia melakukan hal itu lagi? Aishhh… walupun sudah bertahun-tahun aku berteman dengannya, hal yang paling aku takutkan adalah saat ia melakukannya.” Jae Kyung menanggapi pernyataan Woo Sik seakan tahu maksudnya.

“Wae? Wae?? Memang apa yang aku lakukan? Aku bersumpah tidak pernah membocorkan rahasia apapun kepada siapapun?” Ae Ri terlihat panik. Jae Kyung dan Woo Sik menahan tawa melihatnya.

“Arraseo. Kau adalah orang yang sangat pintar menyimpan rahasia orang lain…” ujar Woo Sik.

“Tapi tidak saat kau mabuk hahahahahaha…..” Timpal Jae Kyung tak tahan lagi menahan tawanya.

“Apa kau tak ingat? Saat kau mabuk waktu itu, kau hampir menceritakan segalanya tentang keluarga Han hanya karna waktu itu kau melihat tayangan televisi tentang Group Han. Untung saja, aku, chingumu yang cerdas ini, berhasil menutup mulutmu sebelum rekan-rekan yang lain mendengar semua celotehanmu!” Woo Sik menepukkan tangannya ke dada, tanda kebanggaan.

“Aniyaaa… itu tak mungkin!!!!” Ae Ri menggelengkan kepalanya dengan cepat. Tak mungkin seorang Ae Ri membocorkan rahasia hanya gara-gara mabuk. Selama ini ia percaya, tak ada alcohol apapun yang bisa membuatnya mabuk. Yang tentu saja pendapat itu selalu ditentang oleh semua orang yang pernah minum bersamanya. Cukup 2 gelas kecil soju telah membuatnya tak sadarkan diri.

“Jae Kyung-shii… mianamida, aku tidak bermaksud apapun. Jika kau ingin marah, marahlah pada sahabatmu yang secara ceroboh menceritakan masalahmu pada diriku yang polos ini.” Woo Sik mengedipkan sebelah matanya pada Jae Kyung.

“Andwee… Jae Kyung-ah.. aku tidak mungkin melakukannya.” Ae Ri menggenggam tangan Jae Kyung mencoba mencari dukungan.

“Ckckckck.. bukankah sudah berkali-kali aku mengatakan kebiasaan burukmu itu, tapi kau tidak percaya. Apa kau lupa? Kau pernah menceritakan rahasia terdalam Donghae Oppa hanya gara-gara saat kau mabuk kau melihat ikan goreng di meja sebelah!! Hahahahaha….. tak kusangka sekarang aku yang kena batunya!!!”

“Jinjjayooo?? Andweeeeeeeeee…..” Ae Ri menyandarkan kepalanya ke meja, masih tak percaya.

“Jadi… bagaimana dengan sekretaris Ji?” Lanjut Woo Sik, tak menghiraukan partnernya yang kini mulai mengacak-acak rambutnya.

“Ani… walaupun aku ingin, tapi sepertinya hal itu juga tidak mungkin. Bagaimanapun hubungan Chang Wook oppa dengan Kakakku bukan hanya sekedar atasan dan bawahan. Mereka itu terkadang terlihat seperti Batman dan Robin, seperti Harry Potter dan Ron Weasly, atau seperti Sherlock Holmes dan Dr. Watson” Ujar Jae Kyung berusaha menggambarkan hubungan kedua oppanya itu. “Hey… apa kalian mau menemaniku ke pesta???” Ajak Jae Kyung berharap.

“Tentu saja kami mau. Tapi… weekend ini kami memiliki project baru. Seperti yang kau tahu, kami tidak akan bisa bebas sebelum darah kami habis dan air mata kami kering. Mianhae…”

“Sayang sekali…” Ujar Jae Kyung sedikit kecewa.

“Benar sekali. Sungguh sangat disayangkan. Seandainya saja kau belum putus, ia bisa menemanimu ke pesta. Paling tidak perhatian orang-orang akan teralihkan sedikit melihat mantanmu itu.” Ujar Woo Sik lagi-lagi dengan tampang polos tak berdosa. Tentu saja pernyataannya itu kembali mengejutkan Ae Ri. Jae Kyung hanya bisa mengusap wajahnya dan menggelangkan kepalanya perlahan.

“YA~~ CHOI WOO SIK!!!!!! Seberapa banyak yang aku bocorkan padamu saat mabuk???!!!!! Jae Kyung-ah… mianhae… jeongmal mianhae… aku benar-benar tak sengaja menceritkannya pada namja menyebalkan ini!” Ae Ri menatap Woo Sik dan Jae Kyung secara bergantian.

“Ah… apa aku seharusnya berpura-pura tidak tahu saja? Mianhae Jae Kyung-shii… kau bisa memegang janjiku. Aku, Choi Woo Sik, akan menyimpan rahasiamu sampai ke surga.”

“Surga??? Kau harusnya pergi ke neraka bersamaku!!!!!! YA~”

Akhirnya tanpa bisa dicegah lagi, tindakan anarkis itu akhirnya terjadi juga. Butuh waktu hampir satu jam sebelum akhirnya kejadian yang membuat pengunjung dan pegawai café mengeluarkan segala jurus untuk mencoba melerai mereka berdua itu terhenti, hanya karena menerima panggilan dari Captain Kim untuk segera kembali ke markas.

Perang yang telah menewaskan beberapa helai rambut mereka berdua itu entah mengapa seperti biasa diakhiri dengan tepukan hangat dari masing-masing pelaku anarkis itu dan dibarengi dengan ucapan “aku akan membuat janji dengan Juno Hair Salon untuk hair mask kita berdua.” Jae Kyung akhirnya juga bisa bernafas lega, ia hanya tidak ingin memiliki teman-teman dengan rambut hilang sebelah.

“Jae Kyung-ah aku akan mendukung sepenuhnya keputusanmu untuk datang atau tidak. Dan aku percaya kau sudah siap berhadapan dengan keluargamu itu.” Ujar Ae Ri merapikan rambutnya yang berantakan untuk bersiap kembali ke markas.

“Ne… nado. Jika terjadi sesuatu, kau bisa mengandalkan kami. Kami adalah reporter dari tim Investigasi Five. Kami siap beraksi!!!” Timpal Woo Sik dengan pose power Rangernya.

“Ya~ kau pikir kalian itu tim khusus investigasi polisi seperti di film-film atau apa hah? Ada-ada saja. Arraseo aku merasa tenang karena kalian. Palli… pergilah. Aku tidak ingin melihat kalian ada di berita utama sebagai korban pembantaian Captain Kim hanya karena terlambat.”

“Woo Sik-ah… Kajja”

“Arraseo… Let’s Go!”

“Bye.. byee… Gomwaoo chingu-yaaa…” Jae Kyung melambaikan tangannya pada kedua temannya itu sembari mengambil tas tentengnya sendiri untuk bersiap pergi dari café Buskin and Robin sebelum smartphonenya bordering.

“Yeoboseo… oppa waeyo?” Tanya Jae Kyung pada Sekretaris Ji di seberang sambungan sana.

“Eodi?”

“Na? aku sedang ada di Buskin and Robin, bersiap untuk pulang. Waeyo?”

“Tunggulah disitu, aku akan menjemputmu.”

Belum sempat Jae Kyung bertanya kembali, Chang Wook telah memutuskan sambungan teleponnya. Terpaksa Jae Kyung kembali duduk di kursinya semula dan memesan segelas air putih sembari menunggu kedatangan Chang wook yang entah ada agenda apalagi.

“Jae Kyung-ah” Namja yang ditungg-tunggu itu menepuk pundak Jae Kyung perlahan.

“Oppa… wasso, kau sudah datang rupanya.”

“Kajja kita pergi.” Ajak Chan Wook

“Jigum? Eodi?” Tanya Jae Kyung keheranan

“Akan aku beritahukan selagi kita dijalan.” Chan Wook terlihat terburu-buru. Tak hanya sekali ia melihat jam ditangannya.

“Andwe. Terakhir kali kau memberitahuku sesuatu di mobil, tidak membuatku ingin mengulanginya lagi oppa!” Tolak Jae Kyung, teringat pada undangan pesta yang diberikan Chan Wook saat terakhir kali mereka berbincang di dalam mobil.

“Ah mian..” Chan Wook oppa menautkan alisnya, mencoba mencari solusi yang tepat. “Arraseo… Jae Kyung-ah, kakakmu ingin bertemu denganmu sekarang.” Ujar Chan Wook mantab.

“Mwo? Oppa ingin menemuiku? Jigum? Wae”

“Masalah itu aku juga tidak tahu. Tapi sebaiknya kita pergi sekarang. Jebal…” Pinta Chang Wook. “Jae Kyung-ah… gwencana…” Ujarnya saat melihat Jae Kyung masih merasa tak yakin. “Bagaimanapun dia adalah kakak kandungmu. Kemungkinan terburuk apa yang bisa terjadi hanya karena kau bertemu dengan kakak kandungmu?” Chang Wook membungkukkan tubuhnya agar sejajar dengan Jae Kyung yang masih duduk di kursinya.

“Aku masih belum bisa melupakan ekrepsinya saat terakhir kali kami bertemu. Dan… dan aku tidak ingin melihatnya lagi.”

“Ani… kali ini berbeda. Percayalah padaku.” Chang Wook menggenggam jemari Jae Kyung berusaha meyakinkannya.

Mercedez hitam melaju cepat melewati jalan tol kota seoul. Pemandangan gedung-gedung tinggi menjulang berangsur-angsur berganti dengan pepohonan hijau dan sesekali sungai kecil terlihat mengalir di kejauhan. Udara kota seoul yang pengap juga mulai berganti dengan udara pedesaan yang membuat Jae Kyung menurunkan kaca jendela mobil untuk menarik nafas, mencoba mengisi rongga paru-parunya sekaligus mengalirkan oksigen ke dalam otaknya agar setidaknya ia bisa berpikiran jernih saat berhadapan dengan kakak lelaki satu-satunya itu.

“Apa oppa menungguku di tempat itu?” Tanya Jae Kyung tanpa mengalihkan pandangannya pada deretan bunga berwarna kuning di sepanjang jalan kota Andong, Gyongsangbuk-do.

800px-Korea-Andong-Okdong-Yellow_flower_field-03

“Ne… dia pasti sudah ada disana sekarang. Sebentar lagi kita sampai.” Chang Wook memelokkan arah mobilnya berbelok ke jalan yang lebih kecil dari jalan utama yang telah mereka lewati. Jalan itu membawa mereka ke sebuah danau kecil yang dikelilingi pepohonan rimbun disekelilingnya.

“Kita sampai.” Ujar Chang Wook mematikan mesin mobilnya. “Gwencana?”

“Ne… apa lagi yang bisa aku perbuat. Toh kita sudah sampai disini. Kajja…” Jae Kyung memantabkan hatinya. Tak peduli dengan entah apa yang akan terjadi nanti.

“Kajja…”

Jae Kyung dan Chan Wook berjalan berdua melewati jalan yang terbuat dari bebatuan dengan daun-daun coklat bertebaran jatuh dari pepohohonan yang mulai menua. Tak jauh dari tempat mereka berjalan, sebuah kursi taman dari kayu tua terlihat sesuai dengan suasana disekelilingnya yang natural. Namun, pemandangan berbeda terlihat disamping kursi tua itu. Sosok namja dengan setelan jas berpotongan modern memberikan sentuhan tersendiri pada sekelilingnya, berdiri seakan tengah menikmati danau kecil yang ada dihadapannya. Secara otomatis Jae Kyung memperlambat langkah kakinya hinggi kini ia berjalan dibelakang Chan Wook.

“Hyung…” Panggil Chan Wook ke arah sosok tersebut.

“Ne…” Jawabnya singkat. Namja yang kini hanya berjarak beberapa langkah dari Jae Kyung itu tersenyum singkat ke arah Sekretaris kepercayaannya itu dan kemudian mengalihkan pandangannya ke arah yeoja di sampingnya.

“Sudah lama kita tidak berjumpa… uri Jae Kyung…” sapa Hyun Bin, CEO Group Han, sekaligus Kakak kandung Jae Kyung.

Hyun Bin

To Be Continue…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s