The Good In Goodbye Episode 2

Untitled-1

 

“Oppa, bagaimana kau tahu aku ada disini?” Tanya Jae Kyung girang melihat sekretaris keluarga Han, atau lebih tepatnya sekretaris pribadi sekaligus tangan kanan kakak Jae Kyung, CEO Han Group, berdiri menunggunya.

“Oo.. Kau sudah disini Nona Han? Ada sesuatu yang ingin saya sampaikan.” Jawab Sekretaris Ji formal.

“Mwo? Nona Han? Oppa… kau tahu kan aku sangat benci jika kau memanggilku seperti itu!” Jae Kyung cemberut dan melipat kedua tangannya di dada, menegaskan ketidaksukaannya pada cara bicara Sekretaris Ji yang terlalu sopan.

“Ahhh mianhae… aku terbawa suasana karena terlalu banyak orang disini. Sebaikanya kita masuk ke mobil dulu.” Chang Wook membukaan pintu mobil mercedez benz hitam seri terbaru dan mempersilahkan Jae Kyung yang masih menampilkan wajah cemberutnya untuk masuk ke dalam mobil.

Walaupun Jae Kyung sudah terbiasa dengan sikap Sekretaris Keluarganya itu yang selalu bersikap formal jika berada di depan umum, apalagi sedang berada di lingkungan keluarga Han, ia tetap selalu merasa kesal jika namja yang telah dianggapnya sebagai oppa, bahkan melebihi kakak kandungnya sendiri itu, memanggilnya dengan sebutan Nona, sebutan yang membangunkan Jae Kyung pada kenyataan bahwa ia masih menjadi bagian dari Keluarga Han, sekeras apapun ia mengingkarinya.

“Mau kemana kita? Jika oppa membawaku pulang kerumah yang besarrrr itu, aku akan turun sekarang!” Ancam Jae Kyung pada namja yang kini telah duduk disampingnya, bersiap untuk meyalakan mesin mobil.

“Arra… aku tidak mau kejadian seperti dulu itu terulang lagi. Perlu beberapa hari untuk memulihkan lebam dimataku ini.” Tunjuk Chang Wook pada bekas luka kecil di sekitar matanya. “Aku akan mengantarmu pulang, tentu saja ke apartemenmu.”

“Oppaaaa… jeongmal mianhae… waktu itu kan aku tidak sengaja. Lagipula kenapa wajahmu bisa ada dalam jangkauan tinjuku hehehe?” Ujar Jae Kyung tak mau kalah, dan membuat senyuman kecil tersungging di bibir Chang Wook yang berusaha fokus menyetir. “Tapi, tidak mungkin seorang Ji Chang Wook, sekretaris pribadi andalan pewaris Group Han yang memiliki pekerjaan tersibuk di dunia ini memiliki waktu hanya untuk mengantarku pulang. Waeyo oppa?” Tatap Jae Kyung curiga.

“Ehemmm… itu… itu… apa kau ingin makan sesuatu?” Jawab Chang Wook yang tentu saja sangat terlihat gugup di mata Jae Kyung yang sudah hafal dengan perilaku Chang Wook yang akan membelokkan pembicaraan saat situasi membuatnya tak nyaman.

“Chang Wook Oppaaaa… waeyo? Pasti kau menjemputku karena perintah atasanmu itu. Iya kan? Waeyoo???” Desak Jae Kyung tak sabar.

Karena Jae Kyung terus mendesaknya, mau tak mau Chang Wook meminggirkan mobil dan berhenti di tepi jalan. Ia paham, menyetir saat membicarakan sesuatu yang serius dengan Jae Kyung akan membahayakan mereka berdua, karena ia yakin pembicaraan ini akan memakan waktu yang tak sebentar dan perlu konsentrasi tinggi.

Mobil hitam mewah yang kini terparkir diam, sediam suasana yang ada di dalamnya, sunyi senyap, hanya sesekali terdengar helaan nafas yeoja dan namja. Hiruk pikuk berbagai kendaraan yang lalu lalang di jalan utama Seoul itu tak mampu menembus kesenyapan yang mulai menyeruak di seluruh interior mewah berlapis kulit itu.

“Hmmm… begini. Kau benar, CEO Han yang menyuruhku menemuimu. Kau tahu kan minggu depan itu hari apa?” Tanya Chang Wook terlihat hati-hati.

“Minggu depan? Jika hari ini hari sabtu, tentu saja minggu depan adalah hari sabtu juga. Wae?” Jawab Jae Kyung masih tak mengerti dengan arah pembicaraan Chang Wook.

“Ne… minggu depan adalah hari sabtu, tanggal 25 Juni… hari itu adalah—“

“Ahh… sudah setahun rupanya? Huwaaah waktu benar-benar cepat berlalu. Sepertinya baru kemarin aku menonton berita yang menayangkan secara exlusive pesta megah yang selalu dinanti-nantikan para chabeol Korea itu. Aku masih sangat ingat headline news waktu itu, Group Han’s Anniversary Party” Ujar Jae Kyung dengan nada menyindir. “Ahhh… waktu itu aku juga ingat melihatmu sekilas di tv hahaha….” Jae Kyung meninju pelan lengan Chang Wook.

“Jae Kyung-ah…” Chang Wook memalingkan tubuhnya hingga kini ia dan Jae Kyung berhadap-hadapan.

“Mwogayo? Kenapa tampangmu serius seperti itu oppa? Kau tahu, kau tidak cocok dengan image serius seperti ini.” Jae Kyung tertawa geli melihat perubahan sikap namja dihadapannya itu.

“Jae Kyung-ah… dengarkan aku baik-baik. Hyung, ah… maksudku CEO Han, memberiku perintah untuk memberitahumu bahwa kau harus datang ke pesta nanti.” Ujar Chang Wook dalam satu tarikan nafas, seakan-akan nafasnya akan terputus ditengah jalan. Tapi tetap saja kegugupan terdengar dari nada suaranya.

“Ya~ oppa…kau ini membuatku khawatir saja. Aku pikir kau ingin membicarakan sesuatu yang serius, ternyata kau malah membuat lelucon yang sama sekali tidak lucu seperti ini.” Jae Kyung kembali memukul pelan lengan Chang Wook sambil terkekeh kecil.

“Aku tidak sedang bercanda. Aku benar-benar serius. Hyung menyuruhmu untuk datang ke pesta minggu depan. Lebih tepatnya Chairman Han yang menyuruhmu datang.”

“Mwo??? Oppa yang menyuruhku datang saja sudah menjadi hal yang tak masuk akal, dan kau bilang Kakek yang menyuruhku datang??? Omooo… jangan bilang setelah ini kau mengatakan padaku bahwa gajah punya sayap, atau kapal titanic tidak jadi tenggelam di atlantik sana!”

“Jae Kyung-ah!!!” Chang Wook terlihat sedikit frustasi .

“Oppa… yang benar saja… Aku diundang ke pesta yang selama bertahun-tahun terlarang bagiku, pesta dimana semua keluarga Han berkumpul kecuali diriku, pesta dimana semua orang terlihat lupa jika Chairman Han yang terhormat memiliki cucu perempuan bernama Han Jae Kyung. Dan sekarang tiba-tiba Chairman terhormat itu menyuruhku datang. Wae? Bukankah kau sendiri merasa aneh mendengarnya oppa?” Suara Jae Kyung bergetar, jari-jari tangannya mengepal keras.

“Anii… itu sama sekali tidak terdengar aneh ditelingaku. Bagiku itu hal yang wajar. Kau adalah cucu perempuan penerus Group Han. Apapun situasinya, apapun yang telah terjadi, hal itu tidak bisa mengubah kenyataan. Cepat atau lambat kau akan kembali pada keluarga Han.”

“Oppa oppa oppaaaa… kupikir setidaknya kau memahamiku selama ini. Mwo? Kembali? Memangnya selama ini aku pergi? Memangnya selama ini aku melarikan diri dari Keluarga Han yang termansyur ini???” Seru Jae Kyung setengah histeris.

“Jae Kyung-ah… mianhae… bukan maksudku seperti itu. Mian… Arraseo… kutarik semua ucapanku tadi.” Kebingungan dan kekhawatiran bercampur aduk di raut muka Chang Wook saat melihat reaksi Jae Kyung. Dengan lembut, Chang Wook menggenggam jemari Jae Kyung yang terkepal semakin kuat hingga urat-uratnya terlihat dan mengusap air mata yang menetes pelan di pipi Jae Kyung.

“Oppa… aku ingin pulang…” Pinta Jae Kyung sedikit terisak.

“Arra… aku akan mengantarmu pulang sekarang.” Chang Wook segera menyalakan mesin mobilnya dan menginjak pedal gas hingga mercedez bens hitam itu kini kembali ke Jalan raya Seoul yang padat dan melaju dengan kecepatan tinggi dengan genggaman tangan yang masih tak terlepas dari jemari Jae Kyung, berusaha untuk menjaganya agar tetap tenang.

Chang Wook mengerti, Jae Kyung adalah yeoja yang tegar, tapi tidak jika menyangkut keluarganya sendiri. Apapun yang telah terjadi di dalam keluarga Chaebol itu, benar-benar telah meninggalkan luka pada setiap penyandang nama Han.

“Gwencana?” Tanya Chang Wook setelah ia memarkirkan mobilnya di basement apartemen Green Hills, apartemen Jae Kyung, meskipun ia tau jawabannya hanya dengan melihat sikap Jae Kyung yang terus terdiam sepanjang perjalanan dan hanya disisipi sisa tangis yang berusaha ia redam.

“Ani… angwencana.” Jawab Jae Kyung apa adanya. “Gomaweo oppa sudah mengantarkanku pulang. Kuanggap pembicaraan tadi tidak pernah terjadi.” Tanpa menoleh sedikitpun ke arah Chang Wook, ia membuka pintu dan keluar dari mobil dengan sedikit gontai.

“Jae Kyung-ah!” Susul Chan Wook ikut beranjak dari mobilnya. Namun, langkahnya terhenti saat Jae Kyung mendadak berhenti dan perlahan memutar badannya. Ia menatap Chan Wook dengan pandangan kosong dan otot-otot pipinya terlihat kaku saat berusaha mengangkat kedua ujung bibirnya untuk tersenyum. Perlahan Jae Kyung menggelengkan kepalanya dan kembali berbalik pergi. Chang Wook paham, itu adalah tanda Jae Kyung saat ia ingin sendiri, tak ingin diganggu, dan tak butuh pertolongan dari siapapun. “ I’m not okey, but let me be alone for awhile, please”.

Tak ada yang bisa Chang Wook lakukan. Toh, ia hanya seorang sekretaris keluarga, tak lebih. Ia hanya bisa kembali ke kursi pengemudinya dan melihat Jae Kyung berjalan semakin jauh, dan benar-benar hilang dari pandangannya saat pintu masuk apartemen Green Hill di basement itu mulai menutup.

Di lain pihak, Jae Kyung tak sadar dirinya berjalan gontai dan hanya mengikuti instingnya untuk terus berjalan, mengetikkan password di keypad kecil yang tertanam di sebelah pintu kaca gelap yang selalu ia lewati untuk bisa masuk ke apartemennya, tanpa perlu berpikir, karena pikirannya sekarang berkelana entah kemana. Ia masih mengandalkan instingnya untuk berjalan maju melewati pintu kaca gelap yang perlahan terbuka dan kemudian menutup kembali dibelakangnya, dan berhenti di depan pintu lift stainless steel berbingkai marmer coklat kayu yang kini masih tertutup. Tombol panah naik berpendar hijau saat Jae Kyung menyentuh tombol di lift itu. Angka digital di atas pintu lift berkelip-kelip setiap angka berwarna merah itu satu per satu berganti, menandakan posisi lift yang bergerak turun menuju basement, tempat Jae Kyung yang berdiri masih linglung, tenggelam dalam pikirannya sendiri.

“Aku disuruh datang ke pesta? Aku? Orang yang selama ini mereka benci? Aku? Ke pesta? Apa mereka sudah gila? Atau aku yang sebenarnya gila?” Wae??????”

 

“TINGGGGG”

Dentingan dan pintu lift yang mulai terbuka membuat Jae Kyung sedikit terhenyak kaget. Dengan malas, ia melangkahkan kakinya masuk ke dalam lift. Masih dengan pikiran yang terganggu akibat undangan yang tak biasa tadi, Jae Kyung menekan angka 20, lantai dimana unit apartemennya berada. Jae Kyung menyandarkan tubuhnya pada salah satu sisi lift yang berbentuk segi empat sempurna itu dengan helaan nafas panjang. Sedetik kemudian pintu lift berlahan menutup.

“TUNGGU!!!!!!”

Teriakan yang cukup keras kembali membuat Jae Kyung terhenyak. Tanpa perlu mengetahui asal suara, Jae Kyung memahami maksud teriakan itu dan segera menahan pintu lift sebelum pintu berlapis stainless steal tersebut tertutup dengan sempurna.

“Ahh… kamsahamnida…” Benar saja, teriakan itu berasalah dari suara seorang namja yang kini terlihat terengah-engah masuk ke dalam lift sebelum pintu lift kembali tertutup.

Jae Kyung tersenyum kecil, bukan karena melihat namja yang masih berusaha mengatur ritme bernafasnya itu, tapi karena melihat sesuatu yang sedari tadi mengekor di belakang namja yang kini berdiri disampingnya.

“Hyungnim…” Panggil Jae Kyung yang sepertinya mengenal nama anjing kecil coklat yang terus menggerak-gerakkan ekor kecilnya dan menjulur-julurkan lidah merah mudanya.

“Oooog… Jae Kyung-shii…” Pemilik anjing yang kini sudah bisa bernafas normal itu sepertinya juga mengenali Jae Kyung.

“Annyeonghaseyoo Junhyung-shii…” Sapa Jae Kyung. “Apa yang kalian berdua lakukan sampai-sampai kau kehabisan nafas seperti itu?”

“Ahh… aku dan Hyungnim jogging sebentar keliling taman hahaha…”

“Malam-malam begini?”

“Ne… kau kan tau, aku hanya bisa berolahraga di malam hari.” Jawab Junhyung menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.

“Benar sekali. Hidupmu sudah terbolak-balik seperti kelelawar hahaha…” Jae Kyung tertawa kecil mengingat gaya hidup namja yang baru sebulan menjadi tetangga barunya itu.

Yong Junhyung, seorang produser sekaligus composer music di sebuah agensi besar di Korea itu pindah ke sebelah unit apartemen Jae Kyung tepat sebulan yang lalu. Berbeda dengan penghuni sebelumnya, yaitu sepasang pengantin baru yang selalu mengekspresikan dunia penuh cinta mereka kapanpun, dimanapun, dan pada siapapun, yang tentu saja membuat semua orang yang pertama kali melihat akan merasa terpesona, tapi secara cepat berubah menjadi perasaan muak saat harus melihatnya setiap hari, setiap jam, setiap menit, dan setiap detik, Junhyung adalah tipe tetangga kesukaan Jae Kyung. Bicara seperlunya, tak ada basa-basi, namun bisa diandalkan. Sebagai tambahan, Namja bergaya santai dengan rambut coklat tertata rapi itu memiliki seekor anjing yang kini menjadi teman bermain Jae Kyung, Karena terkadang Jae Kyung dimintai tolong oleh Junhyung untuk menjaganya saat ia tidak bisa pulang selama berhari-hari untuk menyelesaikan pekerjaan di studio pribadi namja yang hanya terpaut 1 tahun lebih tua dari Jae Kyung.

Yong JunHyung

“Jae Kyung-shii… gwencanayo? Tanya Junhyung tiba-tiba, mengrenyitkan dahinya.

“Mwo? Waeyo?”

“Ani… tapi wajahmu… wajahmu terlihat seperti habis berlari ber-ratus-ratus kilometer. Mianhaeyo… tapi matamu benar-benar seperti habis dipukuli orang.” Junhyun menggerakkan tangannya mengitari wajahnya sendiri, memperagakan kekhawatirannya melihat mata Jae Kyung yang sembab dan air mata yang belum benar-benar kering dari pipinya.

“Ahhh igoo… aniyaa… gwencanayo” Jawab Jae Kyung tersenyum canggung, enggan menceritakan apa yang telah membuat dirinya terlihat kacau. Junhyung-pun paham dan tak meneruskan keingintahuannya itu.

Keheningan menyeruak di dalam ruangan berbentuk kubus itu. Yang terdengar hanya dentingan lift disetiap lantai yang mereka lewati. Kedua yeoja dan namja itu tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing. Kecuali makhluk kecil coklat yang kini mulai mengusap-usapkan tubuh berbulunya itu ke kaki Jae Kyung.

“Hyungnim…” Jae Kyung menundukkan kepalanya ke arah sumber yang membuat kakinya terasa geli.

“Aigoooo… mianhae.. sepertinya Hyungnim ingin mendapatkan perhatianmu hahaha…” Junhyung tertawa dan berjongkok, mencoba menghentikan perilaku anjing kesayangannya itu.

“Anii… gwencanayo… mungkin Hyungnim rindu padaku. Sudah lama kita tidak bermain bersama. Benar kan hyungnim???” Jae Kyung ikut berjongkok dan menggendong Hyungnim ke dalam pelukannya.

“Guk… guk… guk…” Seru Hyungnim gembira dan tak lupa mengibas-ngibaskan ekor kecilnya. Perilaku yang sering hyungnim lakukan untuk menghibur Jae Kyung. Dan hal itu kembali berhasil menggembalikan senyuman Jae Kyung yang biasa terpampang diwajahnya.

TINGGGGG” Dentingan Lift kembali berbunyi, kali ini adalah pertanda bahwa mereka telah sampai ke lantai 20.

Jonghyung dan Jae Kyung yang masih menggendong Hyungnim, berjalan keluar menuju lorong berlapis cat coklat susu dengan lantai marmer berwarna senada yang mengarah ke unit apartemen mereka.

“Gomaweoyo Hyungnim…” Ujar Jae Kyung mengangkat anjing dalam gendongannya itu tinggi tinggi sebelum mengembalikannya pada pemiliknya saat mereka sampai di depan unit 2001, unit apartemen Jae Kyung.

“Huwaaah.. hyungnim.. apa yang telah kau perbuat hingga yeoja ini mengucapkan terima kasih?” Canda Junhyung.

“Berkat kau moodku kembali naik hahaha…” Jae Kyung mengusap-usap kepala hyungnim.

“Apa kau tidak mengucapkan terima kasih padaku juga?”

“Wae???”

“Aku kan pemilik hyungnim. Selama ini aku yang merawat dia hingga bisa semanis ini hahaha…”

“Yaaaah Junhyung-shii… setahuku Hyungnim lebih menurut padaku dibandingkan kau, majikannya sendiri.” Ujar Jae Kyung tak mau kalah.

“Ishhh… tentu saja.. Hyungnim ini seperti playboy… ia akan menurut pada semua yeoja cantik yang dekat dengannya.” Junhyung memelototi anjingnya sendiri. Gemas.

“Mwo? Maksudmu aku juga termasuk ke dalam kategori yeoja cantik?” Tanya Jae Kyung usil.

“Mwoya?? Ah.. aniyaa.. maksudku ia senang berada dekat dengan semua yeoja. Kau kan yeoja!” Junhyung sepertinya tidak sadar dengan apa yang telah ia katakan sebelumnya. “Sudahlah, sebaiknya kau segera masuk. Aku juga banyak kerjaan. Ayo Hyungnim!” Tanpa menoleh, Junhyung menggendong anjingnya dan berjalan ke arah unit 2002, unit apartemennya sendiri. Tak lupa ia melambaikan tangannya asal-asalan, sebagai tanda good-bye. Jae Kyung menahan tawa melihat tetangganya yang salah tingkah itu.

“Aigoooo… hari ini sungguh hari yang luar biasa… Semoga besok hanya akan menjadi hari yang biasa, tanpa ada kejutan-kejutan yang super seperti hari ini. Isshhh kenapa juga aku tadi harus menangis! Benar-benar menyebalkan!!!” Ujar Jae Kyung, berbicara pada dirinya sendiri merasa kesal sembari mengetikkan 4 digit password untuk masuk kedalam unit apartemennya, berharap semuanya akan terlupakan dan tidak menjadi mimpi buruk yang mengganggu tidurnya seperti malam-malam sebelumnya.

 

Sunday, Buskin & Robin Café, 13.00

“MWORAGO??? KAU DISURUH DATANG KE PESTA ITU????” Seru seorang yeoja bergaya casual yang tiba-tiba berdiri dari kursinya

“Ya~~~ apa perlu kuambilkan pengeras suara agar orang yang ada di luar juga bisa mendengar suaramu!!!!” Jae Kyung menarik tangan sahabatnya itu agar kembali duduk ke kursinya. “Cheosonghamnida… cheosonghamnida…” Ujar Jae Kyung pada pengunjung lain yang sepertinya terganggu dengan reaksi Ae Ri yang berlebihan itu.

“Jinjjayooo??? Kakek gila itu mengundangmu ke pesta? Setelah bertahun-tahun? Akhirnya? Kau??? Mereka mengundangmu? Wae? Wae? Wae? Lalu apa kau mau menerima undangan langka itu? Omo… ini sungguh berita yang mengemparkan! Haruskah aku menulis artikel khusus???” Ae Ri yang akhirnya bisa kembali duduk ke kursinya itu kini menatap Jae Kyung dengan mata yang berbinar-binar bercampur dengan keingintahuan tingkat tinggi. “Finally, Cucu Perempuan Satu-satunya dari Chairman Han Menghadiri Pesta Akbar Tahun Ini” Seru Ae Ri yang sepertinya berubah menjadi seorang Reporter yang mendapatkan bahan berita terpanas.

“YA~~~ Im Ae Ri!!! Apa kau ingin mati ditanganku??!!” Jae Kyung menjejalkan sesendok penuh Ice Cream Red Velvet ke mulut Ae Ri, berusaha menghentikan ocehannya itu.

“Ani… tapi ini sungguh aneh. Benarkan? Lalu apa reaksimu kemarin saat sekretarismu yang menawan itu memberikan kabar mengejutkan ini?” Tanya Ae Ri yang sesekali mengrenyit menahan dinginnnya ice cream yang ada di dalam mulutnya itu.

“Apa lagi yang bisa kulakukan. Tanpa bisa kukendalikan aku menangis di mobil kemarin.” Jae Kyung kembali merasa kesal mengingat kejadian kemarin malam itu.

“Sudah kuduga… sekuat apapun kau bersumpah untuk tidak mengeluarkan air mata setetes-pun karena keluargamu yang aneh itu, kau pasti akan tetap melakukannya hahaha…”

“Issshhhh… apa kau meledekku!!!”

“Mian… mian… lalu apa yang akan kau lakukan? Kau akan datang kan?”

“Micheosoo??? Apa kau sudah gila? Tentu saja aku menolaknya! Untuk apa aku ke sana???”

“Ya~ apa kau tidak penasaran kenapa kau akhirnya disuruh datang kesana? Mungkin saja kau akhirnya diperkenalkan secara resmi sebagai cucu perempuan satu-satunya penerus salah satu perusahaan di Group Han. Mungkin Chairman Han akhirnya mengakui kesuksesanmu dan ingin menarikmu untuk memperkuat Group Han bersama kakakmu itu. Dua Bersaudara Sukses Akhirnya Bersatu Untuk Memperkuat Eksistensi Group Han”. Ujar Ae Ri yang lagi-lagi bersikap seolah-olah ia sedang membuat judul artikel.

Jae Kyung hanya diam mendengar pernyataan Ae Ri. Namun, pikirannya terus berputar menjawab pertanyaan yang selama ini juga ia tanyakan.

“Tentu saja aku penasaran! Diundang ke pesta? Setelah setahun tak ada komunikasi denganku, dibuang seperti sampah, sekarang tiba-tiba mereka mengundangku ke sana? Yang benar saja. Apa yang Kakek pikirkan?Apa dia akhirnya bisa memaafkanku? Apa… apa akhirnya ia mau mengakuiku sebagai cucunya lagi? Ishhhh tidak mungkin. Jika itu sampai terjadi, aku bersumpah akan Diet selama setahun!!“

“Menurutku sebaiknya kau datang ke sana. Lagi pula ini kesempatan yang bagus untuk bertemu langsung dengan Kakekmu yang tercinta itu setelah sekian lama kan. Mungkin hatinya sudah berubah.” Lanjut Ae Ri yang memahami kebingungan yang terpancar di raut muka sahabatnya itu.

“ Berubah? Kau pikir Kakek keras kepala itu mau merubah hatinya sekarang untukku?” Jae Kyung menggenggam erat sendok ditangannya. “Kau tau Ae Ri, alasan paling logis yang bisa kupikirkan adalah Kakek ingin menunjukkan pada semua orang pelaku yang merenggut kebahagiannya sebagai seorang Ayah!”

Baik Ae Ri maupun Jae Kyung sendiri terhenyak kaget mendengar pernyataan yang terucap dari bibir Jae Kyung. Ia sendiri tak menyangka ia dapat mengucapkan kata-kata yang selama ini ia hindari itu. Ae Ri hanya bisa menatap Jae Kyung dengan tatapan prihatin, tak tahu harus berbuat apa.

Sedetik, dua detik berlalu. Dan akhirnya di tengah suara obrolan dari pengunjung café Buskin and Robin, terdengar helaan nafas. Bukan helaan nafas dari dua yeoja yang kini masih terdiam itu, tapi helaan nafas panjang dari seorang namja dengan rambut coklat yang ditata secara berantakan, yang entah disadari atau tidak, terlupakan atau tidak, telah duduk di samping Ae Ri sedari tadi.

 

Choi Woo Sik

 

“Jogiyo… menurutku kau sebaiknya datang ke pesta itu.” Ujar namja berkulit pucat dengan wajah polos itu. Otomatis Ae Ri memalingkan kepalanya kearah sumber suara.

“Omo… sejak kapan kau disini Woo Sik-shii?” Ae Ri terlihat sedikit terkejut melihat partner kerjanya itu berada di sampingnya sedari tadi.

“YA~~ kau anggap aku ini hantu atau sejenisnya???!!!! Apa kau lupa? Kau yang menyeretku untuk ikut denganmu! Iiishhhhhh!” Seru Woo Sik mencoba memprotes perlakuan Ae Ri.

“Jinjja? Eonje? Ahhhh Miaaaan…..” Masih dengan ekspresi tak bersalah, Ae Ri menjulurkan lidahnya mencoba meminta maaf karena telah melupakan Kameramennya itu.

“Ishhh…Molla!” Ujar Woo sik yang sepertinya sudah terbiasa diperlakukan semena-mena olah yeoja yang telah menjadi partner kerjanya selama 3 tahun itu.

“Tapi… bisakah kau ceritakan masalah antara dirimu dan Chairman Han?” Tanya Woo Sik pada Jae Kyung sembari menyedot habis sisa Banana Juice di gelasnya. Jae Kyung yang entah mengapa juga tidak menyadari kehadiran namja berwajah polos yang sedari tadi duduk di depannya itu sedikit terkejut mendengar pertanyaan yang dilontarkan Woo Sik. Mungkin karena pekerjaannya sebagai juru kamera, sehingga terkadang kehadirannya seakan antara ada dan tiada…

“Well, aku hanya penasaran.” Cengir Woo Sik. “Pertama, faktanya adalah kau cucu perempuan dari Chairman Han sekaligus adik dari pewaris Group Han, CEO Han. Kedua, kau satu-satunya anggota keluarga Han yang tak sekali pun dipublikasikan. Bahkan publik pun seakan tidak tahu bahwa Chairman Han memiliki cucu perempuan. Ketiga, mendengar ceritamu tadi, sepertinya kau memutuskan hubungan komunikasi dengan keluarga Han, atau sebaliknya. Keempat, melihat riwayat keluargamu, Chairman Han kehilangan anak perempuannya, yang yang tak lain adalah ibumu dan CEO Han 20 tahun yang lalu, dan beberapa tahun kemudian Ayahmu-….” Belum sempat Woo Sik meneruskan analisnya, pukulan keras mendarat di dahinya yang tertutup poni. Dan hanya rintihan kesakitan yang kini keluar dari bibirnya.

“YA~~ apa kau ini seorang detektif??? Kau ini salah minum obat atau apa! Kenapa kau jadi cerewet dan sok tahu begini???” Seru Ae Ri kesal.

“Ae Ri-ya!!! Ini namanya kekerasan dalam rumah tangga! Kenapa kau memukulku!!! Aku kan hanya menerapkan ilmuku sebagai seorang wartawan! Dasar Nenek Sihir!!!” Seru Woo Sik tak kalah kesalnya, masih mengusap-usap dahinya yang kini memerah.

“MWORAGOOOOO!!”

“YA~ kalian berdua, diam atau kulaporkan pada Captain Kim agar kalian segera dibawa ke Rumah Sakit jiwa!!” Jae Kyung merasa geli sekaligus malu melihat kelakukan kedua orang yang kini mulai bersiap-siap untuk melakukan tindakan anarkis yang selalu mereka lakukan saat keduanya bertengkar, yaitu menjambak rambut satu sama lain sampai seseorang yang cukup waras datang untuk melerai mereka berdua.

“Arraseoo…” Jawab namja dan yeoja secara serentak, seketika berubah menjadi kucing jinak saat nama bos mereka disebutkan.

“Jadi… kau datang atau tidak?” Tanya Woo Sik hati-hati, tak melepaskan lirikannya kearah Ae Ri, tak ingin dahinya menjadi sasaran kekejaman Ae Ri untuk kedua kalinya.

“Akan ku pikirkan. Aku masih punya waktu beberapa hari untuk menenangkan hati dan pikiranku sebelum berhadapan langsung dengan orang itu.”

“Atau… kau ingin menemui kakakmu dulu untuk mendiskusikan semua ini?” Usul Ae Ri.

“Mwo? Diskusi? Aku bahkan belum pernah berbicara selama 5 menit dengan kakakku itu. Lagi pula, dia itu seperti robot suruhan Chairman Han. Jadi sepertinya percuma menanyakan maksud kakek itu mengundangku ke pesta pada kakakku.”

“Aigooo… kukira aku hanya bisa menyaksikan kerumitan sebuah keluarga chaebol dari dalam drama tv. Tak kusangka kini kenyataan itu terpampang di hadapanku.” Woo Sik menggelangkan kepalanya perlahan dan mengrenyitkan alisnya seakan ikut sedih, merasakan apa yang dirasakan Jae Kyung. “Hey, kenapa kau tidak pergi ke pesta itu bersama sekretarismu yang tinggi itu?”

“Woo Sik-ah! Bagaimana kau tahu semua yang aku tahu tentang masalah Jae Kyung? Bahkan kau tahu tentang sekretaris Ji?” Ae Ri melotot,  menatap Woo Sik seakan tak percaya. Ia bahkan tidak pernah menceritakan masalah sahabatnya itu pada adik kandungnya sendiri.

“Hah! Jae Kyung-shii… lain kali jika kau punya rahasia, jangan pernah kau ceritakan pada nenek sihir ini.” Ujar Woo Sik tersenyum puas, membuat Ae Ri terheran-heran.

“Ahhh… maksudmu dia melakukan hal itu lagi? Aishhh… walupun sudah bertahun-tahun aku berteman dengannya, hal yang paling aku takutkan adalah saat ia melakukannya.” Jae Kyung menanggapi pernyataan Woo Sik seakan tahu maksudnya.

“Wae? Wae?? Memang apa yang aku lakukan? Aku bersumpah tidak pernah membocorkan rahasia apapun kepada siapapun?” Ae Ri terlihat panik. Jae Kyung dan Woo Sik menahan tawa melihatnya.

“Arraseo. Kau adalah orang yang sangat pintar menyimpan rahasia orang lain…” ujar Woo Sik.

“Tapi tidak saat kau mabuk hahahahahaha…..” Timpal Jae Kyung tak tahan lagi menahan tawanya.

“Apa kau tak ingat? Saat kau mabuk waktu itu, kau hampir menceritakan segalanya tentang keluarga Han hanya karna waktu itu kau melihat tayangan televisi tentang Group Han. Untung saja, aku, chingumu yang cerdas ini, berhasil menutup mulutmu sebelum rekan-rekan yang lain mendengar semua celotehanmu!” Woo Sik menepukkan tangannya ke dada, tanda kebanggaan.

“Aniyaaa… itu tak mungkin!!!!” Ae Ri menggelengkan kepalanya dengan cepat. Tak mungkin seorang Ae Ri membocorkan rahasia hanya gara-gara mabuk. Selama ini ia percaya, tak ada alcohol apapun yang bisa membuatnya mabuk. Yang tentu saja pendapat itu selalu ditentang oleh semua orang yang pernah minum bersamanya. Cukup 2 gelas kecil soju telah membuatnya tak sadarkan diri.

“Jae Kyung-shii… mianamida, aku tidak bermaksud apapun. Jika kau ingin marah, marahlah pada sahabatmu yang secara ceroboh menceritakan masalahmu pada diriku yang polos ini.” Woo Sik mengedipkan sebelah matanya pada Jae Kyung.

“Andwee… Jae Kyung-ah.. aku tidak mungkin melakukannya.” Ae Ri menggenggam tangan Jae Kyung mencoba mencari dukungan.

“Ckckckck.. bukankah sudah berkali-kali aku mengatakan kebiasaan burukmu itu, tapi kau tidak percaya. Apa kau lupa? Kau pernah menceritakan rahasia terdalam Donghae Oppa hanya gara-gara saat kau mabuk kau melihat ikan goreng di meja sebelah!! Hahahahaha….. tak kusangka sekarang aku yang kena batunya!!!”

“Jinjjayooo?? Andweeeeeeeeee…..” Ae Ri menyandarkan kepalanya ke meja, masih tak percaya.

“Jadi… bagaimana dengan sekretaris Ji?” Lanjut Woo Sik, tak menghiraukan partnernya yang kini mulai mengacak-acak rambutnya.

“Ani… walaupun aku ingin, tapi sepertinya hal itu juga tidak mungkin. Bagaimanapun hubungan Chang Wook oppa dengan Kakakku bukan hanya sekedar atasan dan bawahan. Mereka itu terkadang terlihat seperti Batman dan Robin, seperti Harry Potter dan Ron Weasly, atau seperti Sherlock Holmes dan Dr. Watson” Ujar Jae Kyung berusaha menggambarkan hubungan kedua oppanya itu. “Hey… apa kalian mau menemaniku ke pesta???” Ajak Jae Kyung berharap.

“Tentu saja kami mau. Tapi… weekend ini kami memiliki project baru. Seperti yang kau tahu, kami tidak akan bisa bebas sebelum darah kami habis dan air mata kami kering. Mianhae…”

“Sayang sekali…” Ujar Jae Kyung sedikit kecewa.

“Benar sekali. Sungguh sangat disayangkan. Seandainya saja kau belum putus, ia bisa menemanimu ke pesta. Paling tidak perhatian orang-orang akan teralihkan sedikit melihat mantanmu itu.” Ujar Woo Sik lagi-lagi dengan tampang polos tak berdosa. Tentu saja pernyataannya itu kembali mengejutkan Ae Ri. Jae Kyung hanya bisa mengusap wajahnya dan menggelangkan kepalanya perlahan.

“YA~~ CHOI WOO SIK!!!!!! Seberapa banyak yang aku bocorkan padamu saat mabuk???!!!!! Jae Kyung-ah… mianhae… jeongmal mianhae… aku benar-benar tak sengaja menceritkannya pada namja menyebalkan ini!” Ae Ri menatap Woo Sik dan Jae Kyung secara bergantian.

“Ah… apa aku seharusnya berpura-pura tidak tahu saja? Mianhae Jae Kyung-shii… kau bisa memegang janjiku. Aku, Choi Woo Sik, akan menyimpan rahasiamu sampai ke surga.”

“Surga??? Kau harusnya pergi ke neraka bersamaku!!!!!! YA~”

Akhirnya tanpa bisa dicegah lagi, tindakan anarkis itu akhirnya terjadi juga. Butuh waktu hampir satu jam sebelum akhirnya kejadian yang membuat pengunjung dan pegawai café mengeluarkan segala jurus untuk mencoba melerai mereka berdua itu terhenti, hanya karena menerima panggilan dari Captain Kim untuk segera kembali ke markas.

Perang yang telah menewaskan beberapa helai rambut mereka berdua itu entah mengapa seperti biasa diakhiri dengan tepukan hangat dari masing-masing pelaku anarkis itu dan dibarengi dengan ucapan “aku akan membuat janji dengan Juno Hair Salon untuk hair mask kita berdua.” Jae Kyung akhirnya juga bisa bernafas lega, ia hanya tidak ingin memiliki teman-teman dengan rambut hilang sebelah.

“Jae Kyung-ah aku akan mendukung sepenuhnya keputusanmu untuk datang atau tidak. Dan aku percaya kau sudah siap berhadapan dengan keluargamu itu.” Ujar Ae Ri merapikan rambutnya yang berantakan untuk bersiap kembali ke markas.

“Ne… nado. Jika terjadi sesuatu, kau bisa mengandalkan kami. Kami adalah reporter dari tim Investigasi Five. Kami siap beraksi!!!” Timpal Woo Sik dengan pose power Rangernya.

“Ya~ kau pikir kalian itu tim khusus investigasi polisi seperti di film-film atau apa hah? Ada-ada saja. Arraseo aku merasa tenang karena kalian. Palli… pergilah. Aku tidak ingin melihat kalian ada di berita utama sebagai korban pembantaian Captain Kim hanya karena terlambat.”

“Woo Sik-ah… Kajja”

“Arraseo… Let’s Go!”

“Bye.. byee… Gomwaoo chingu-yaaa…” Jae Kyung melambaikan tangannya pada kedua temannya itu sembari mengambil tas tentengnya sendiri untuk bersiap pergi dari café Buskin and Robin sebelum smartphonenya bordering.

“Yeoboseo… oppa waeyo?” Tanya Jae Kyung pada Sekretaris Ji di seberang sambungan sana.

“Eodi?”

“Na? aku sedang ada di Buskin and Robin, bersiap untuk pulang. Waeyo?”

“Tunggulah disitu, aku akan menjemputmu.”

Belum sempat Jae Kyung bertanya kembali, Chang Wook telah memutuskan sambungan teleponnya. Terpaksa Jae Kyung kembali duduk di kursinya semula dan memesan segelas air putih sembari menunggu kedatangan Chang wook yang entah ada agenda apalagi.

“Jae Kyung-ah” Namja yang ditungg-tunggu itu menepuk pundak Jae Kyung perlahan.

“Oppa… wasso, kau sudah datang rupanya.”

“Kajja kita pergi.” Ajak Chan Wook

“Jigum? Eodi?” Tanya Jae Kyung keheranan

“Akan aku beritahukan selagi kita dijalan.” Chan Wook terlihat terburu-buru. Tak hanya sekali ia melihat jam ditangannya.

“Andwe. Terakhir kali kau memberitahuku sesuatu di mobil, tidak membuatku ingin mengulanginya lagi oppa!” Tolak Jae Kyung, teringat pada undangan pesta yang diberikan Chan Wook saat terakhir kali mereka berbincang di dalam mobil.

“Ah mian..” Chan Wook oppa menautkan alisnya, mencoba mencari solusi yang tepat. “Arraseo… Jae Kyung-ah, kakakmu ingin bertemu denganmu sekarang.” Ujar Chan Wook mantab.

“Mwo? Oppa ingin menemuiku? Jigum? Wae”

“Masalah itu aku juga tidak tahu. Tapi sebaiknya kita pergi sekarang. Jebal…” Pinta Chang Wook. “Jae Kyung-ah… gwencana…” Ujarnya saat melihat Jae Kyung masih merasa tak yakin. “Bagaimanapun dia adalah kakak kandungmu. Kemungkinan terburuk apa yang bisa terjadi hanya karena kau bertemu dengan kakak kandungmu?” Chang Wook membungkukkan tubuhnya agar sejajar dengan Jae Kyung yang masih duduk di kursinya.

“Aku masih belum bisa melupakan ekrepsinya saat terakhir kali kami bertemu. Dan… dan aku tidak ingin melihatnya lagi.”

“Ani… kali ini berbeda. Percayalah padaku.” Chang Wook menggenggam jemari Jae Kyung berusaha meyakinkannya.

Mercedez hitam melaju cepat melewati jalan tol kota seoul. Pemandangan gedung-gedung tinggi menjulang berangsur-angsur berganti dengan pepohonan hijau dan sesekali sungai kecil terlihat mengalir di kejauhan. Udara kota seoul yang pengap juga mulai berganti dengan udara pedesaan yang membuat Jae Kyung menurunkan kaca jendela mobil untuk menarik nafas, mencoba mengisi rongga paru-parunya sekaligus mengalirkan oksigen ke dalam otaknya agar setidaknya ia bisa berpikiran jernih saat berhadapan dengan kakak lelaki satu-satunya itu.

“Apa oppa menungguku di tempat itu?” Tanya Jae Kyung tanpa mengalihkan pandangannya pada deretan bunga berwarna kuning di sepanjang jalan kota Andong, Gyongsangbuk-do.

800px-Korea-Andong-Okdong-Yellow_flower_field-03

“Ne… dia pasti sudah ada disana sekarang. Sebentar lagi kita sampai.” Chang Wook memelokkan arah mobilnya berbelok ke jalan yang lebih kecil dari jalan utama yang telah mereka lewati. Jalan itu membawa mereka ke sebuah danau kecil yang dikelilingi pepohonan rimbun disekelilingnya.

“Kita sampai.” Ujar Chang Wook mematikan mesin mobilnya. “Gwencana?”

“Ne… apa lagi yang bisa aku perbuat. Toh kita sudah sampai disini. Kajja…” Jae Kyung memantabkan hatinya. Tak peduli dengan entah apa yang akan terjadi nanti.

“Kajja…”

Jae Kyung dan Chan Wook berjalan berdua melewati jalan yang terbuat dari bebatuan dengan daun-daun coklat bertebaran jatuh dari pepohohonan yang mulai menua. Tak jauh dari tempat mereka berjalan, sebuah kursi taman dari kayu tua terlihat sesuai dengan suasana disekelilingnya yang natural. Namun, pemandangan berbeda terlihat disamping kursi tua itu. Sosok namja dengan setelan jas berpotongan modern memberikan sentuhan tersendiri pada sekelilingnya, berdiri seakan tengah menikmati danau kecil yang ada dihadapannya. Secara otomatis Jae Kyung memperlambat langkah kakinya hinggi kini ia berjalan dibelakang Chan Wook.

“Hyung…” Panggil Chan Wook ke arah sosok tersebut.

“Ne…” Jawabnya singkat. Namja yang kini hanya berjarak beberapa langkah dari Jae Kyung itu tersenyum singkat ke arah Sekretaris kepercayaannya itu dan kemudian mengalihkan pandangannya ke arah yeoja di sampingnya.

“Sudah lama kita tidak berjumpa… uri Jae Kyung…” sapa Hyun Bin, CEO Group Han, sekaligus Kakak kandung Jae Kyung.

Hyun Bin

To Be Continue…

Advertisements

Spoiler (No Title yet)

“Kita akhiri saja semuanya…”

Kata-kata yang sudah berkali-kali keluar dari mulutku,

Seutas kalimat yang lebih banyak terucap dibandingkan kata-kata aku mencintaimu,

Tidak ada rasa tertahan sedikitpun untuk mengucapkannya, karena aku tahu, tak kan membutuhkan waktu yang lama bagi untaian kata itu untuk hilang, menguap tak berbekas.

Tapi kali ini berbeda,

Setiap kata yang terucap dari bibirku sendiri saat itu seolah-olah kembali memburuku, menghujani hatiku dengan sayatan-sayatan tipis yang tak terlihat, namun meninggalkan perih yang teramat sangat.

Aku tahu, kali ini semuanya benar-benar akan berakhir, tak lagi hanya menjadi seuntai kata yang akan menguap begitu saja seperti dulu.

Am I regret it?

Molla… aku pun masih mencari jawaban itu…


“Jae Kyung-shii…. Jae Kyung –shii!”

Seorang gadis muda dengan rambut hitam terurai rapi sebatas bahu terlihat diam, matanya yang bulat dengan berhias bulu-bulu mata panjang nan lentik, menatap tembok kosong di hadapannya tanpa berkedip. Sedetik kemudian,gadis itu terhenyak saat mendengar namanya dipanggil.

“Ahh… iye?” sahutnya menoleh kearah si pemanggil. Dalam hati ia bersyukur telah terbangun dari lamunan yang bisa membuatnya berurai air mata, lagi.

“Jae Kyung-shii, klien anda, Tuan Kim, sudah menunggu di ruang meeting. Anda bisa menemuinya sekarang.”

“Ow jinjjayo? Alis matanya saling bertaut. “Bukankah pertemuan dengan Tuan Kim masih dua jam lagi? Aku tidak menerima pesan apapun jika pertemuan ini dimajukan. Kau tahu kan saat ini masih ada hal penting yang sedang aku kerjakan.”

“Mi… mian…mianhamida Jae Kyung-shii, karena kekacauan tadi pagi, saya lupa menyampaikan hal itu. E… Tuan Kim memajukan pertemuan tadi pagi karena beliau ada acara setelah ini.”

“Arraseo… tapi aku tidak mau mentolerir kesalahan seperti ini lagi. Kau mengerti?” Hardik Jae Kyung pada asistennya, Ji Eun, dan tentu saja teguran itu berhasil merubah mimik muka Ji Eun yang ceria menjadi pucat pasi seketika. Hari ini tepat sebulan ia bekerja sebagai asisten Han Jae Kyung, atasan yang bisa membuatnya terkesan, kagum, kesal dan takut secara bersamaan.

Jae Kyung hanya bisa menghela nafas, mencoba memaklumi kesalahan asisten baru, yang umurnya tak terpaut jauh, hanya 2 tahun itu. Ia segera membereskan kertas-kertas yang dipenuhi dengan angka dan grafik berwarna-warni. Dengan enggan, ia menarik sebuah map kuning bertuliskan “Kim Tak Goo” yang tersusun rapi di meja kerjanya dan bergegas menuju ruang meeting untuk menemui kliennya, Tuan Kim, seorang pengusaha yang menguasai ritel roti besar di seluruh Korea, dan telah mempercayakan seluruh asset perusahaannya untuk dikelola oleh Jae Kyung.

“Jae Kyung-shii, sebelum saya lupa, seseorang dari agensi majalah datang untuk mengirimkan ini. Ujar Ji Eun menghentikan langkah Jae Kyung dan menyerahkan sebuah majalah yang tak terlalu tebal itu dengan senyuman kagum. “Anda terlihat cantik dan elegan.”

“Ah, gomaweoyo. Aku sampai lupa bulan ini mereka mulai menerbitkannya.” Pipi Jae Kyung bersemu merah mendengar pujian asistennya itu dan terlihat malu sekaligus ada kebanggaan terpancar darinya saat melihat foto dirinya yang tersenyum manis, dibalut blouse hitam dengan berhias bros emas berbentuk burung phoenix bermata zamrud yang menambah kesan anggun pada sosoknya, terpampang di cover majalah Bussiness Magz dengan judul “Han Jae Kyung, Financial Consultant Mempesona di Usia Muda”.

“Bisa tolong kau letakkan di meja kerjaku?” Pinta Jae Kyung pada Ji Eun, tak mau berlama-lama mengagumi dirinya sendiri dan membiarkan klien bernilai mahalnya itu menunggu.

Han Jae Kyung…

Nama yang tak mungkin tak dikenal oleh orang-orang yang berkecimpung di dunia keuangan dan chaebol-chaebol Korea yang mempercayakan harta kekayaannya pada institusi keuangan itu.

“Bagaimana dia bisa melakukannya?”

“Mungkin IQ-nya melebihi Einstein.”

“Dia itu hanya beruntung. Mungkin di kehidupan sebelumnya dia telah berhasil menyelamatkan semenanjung Korea.”

“Pasti dia berasal dari keluarga kaya raya, sehingga punya banyak koneksi untuk bisa mencapai posisinya yang sekarang ini.”

“Aku iri padanya. Padahal umur kami sama, tapi dia telah mencapai posisi tinggi seperti itu, sedangkan aku masih disini, menjadi jongos untuk orang-orang seperti dirinya.”

“Dunia ini tidak adil!”

Itulah beberapa komentar yang terlontar saat melihat sosok Han Jae Kyung. Komentar-komentar yang sebagian besar di gumamkan oleh yeoja-yeoja yang “tak ikhlas” dengan kesuksesan Jae Kyung. Namun hal itu berbeda 180 derajat dengan komentar-komentar yang tertutur manis dari bibir-bibir namja yang “terpesona” dengan sosok Jae Kyung.

“Apa dia masih single?”

“Sosok yeoja yang sempurna.”

“Dia itu tipe yeoja idelaku.”

“Kesalahan apa yang dia perbuat sampai-sampai surga membuang salah satu bidadarinya ke bumi?”

Komentar-komentar yang dikeluarkan dari dua jenis manusia yang berbeda, namun menimbulkan dampak yang sama di telinga Jae Kyung. Geli sekaligus muak. Dia tak habis pikir, bagaimana hati dan otak manusia bisa menjadi begitu gelap dan bergejolak secara tak wajar saat berkaitan dengan manusia lainnya. Ditambah lagi komentar-komentar itu keluar dari manusia-manusia berpakaian rapi, manusia-manusia yang berhasil menenteng secarik kertas bertuliskan ijazah berpendidikan tinggi, manusia-manusia yang seharusnya memiliki kasta yang lebih tinggi dibandingkan dengan manusia-manusia pasar.

Berusaha tidak peduli, namun terus berusaha menguak sosok yang dicemooh dan dipuja itu. Mungkin sebagian kesalahan memang pantas ditimpahkan pad Jae Kyung yang membuat image dirinya sendiri ‘misterius’. Dia tak suka membicarakan kehidupan pribadinya pada siapapun, termasuk teman kerja, kolega maupun kliennya. Mungkin orang yang tahu kehidupan yang dijalani Jae Kyung bisa dihitung dengan jari, hanya segelintir, eksklusif.

Tanpa diceritakanpun orang-orang itu berhasil menguak asal-usul keluarga Jae Kyung. Dan hal tersebut menjadi perbincangan yang terus berdengung selama berhari-hari dilingkungan industri keuangan itu.

“Pantas saja dia bisa sesukses itu. Jika aku berasal dari keluarga seperti itu pun pasti aku bisa ada diposisinya sekarang, bahkan lebih.”

Komentar seperti itu mau tak mau menjadi sarapan sehari-hari bagi indera pendengaran Jae Kyung. Untunglah Jae Kyung mewarisi salah satu sifat kakeknya yang cuek dan masa bodoh, sehingga tak begitu peduli dengan hiruk pikuk itu sampai mereda dan hilang dengan sendirinya.

Dari pengalamannya itu, Jae Kyung kini sangat berhati-hati dengan kehidupan pribadinya, terutama kehidupan cintanya, isu yang benar-benar menjadi buruan teratas bagi yeoja-yeoja iri yang haus akan bahan hujatan. Kehebohan masalah asal usul keluarga masih bisa ditangani oleh Jae Kyung dengan mudah, tapi jika masalah cintanya juga ikut terkuak, entah apa yang bisa dilakukan Jae Kyung, karena itu tidak hanya menyangkut dirinya sendiri, tapi menyangkut pribadi dan reputasi seseorang yang dia cintai, atau lebih tepatnya, namja yang dulu dia cintai.


It’s You [Hae Couple] [Part 1]

Cast :

Author as Park Shinhae 😀

Lee Donghae Super Junior as him self

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Lee Jonghyun CN Blue as Shinhae’s classmate

Author emang gak bisa kalau gak menyelipin Hae Couple hahaha…

Jadi mendingan author bikin after story Hae Couple lagi ajah :p

Tapi kali ini seru juga author tambahin satu namja, namja yang membuat author jatuh cinta juga..

Namja dengan suara lembut kyk kapuk, manis kyk gulali di depan SD…

Lee Jonghyun (CN Blue)…. Arrrrhhhghhhhhhhhh *author teriak malem2…

Semoga reader suka ya… rencana mau one shot… tapi trnyta cerita melebar…

Mohon dimaklumi…

Dimohon comment saran dan kritiknya..

Gomawow.. muach.. muach…

 

 

Author POV

“Aigoo.. Donghae oppa pasti akan menangis terharu melihat ini semua Shinhae-ya…”

“Ne.. tentu saja… aku sudah mempersiapkannya sejak pagi. Aku akan membunuhnya jika dia tidak jadi datang.”

“Ya~~ bagaimana kau bisa membuat masakan seperti ini? Apa kau ikut kursus memasak?”

“Hahaha… aniya.. untuk apa diciptakan internet jika kau tidak bisa memanfaatkannya.”

“Aishhhh… sombong sekali kau Shinhae-ya.. kita lihat apakah Donghae oppa menyukai masakanmu ini.”

“Aku yakin 100% dia akan menyukainya! Gomawoe Seungri-ya kau mau membantuku!!”

Shinhae tersenyum puas melihat semua persiapan sudah lengkap. Pagi buta dia bangun pagi untuk memasak, menyiapkan lilin, dan wine demi membuat makan malam romantis yang baru pertama kali dia lakukan untuk menyambut namjachingunya, Lee Donghae yang akhirnya kembali ke Korea.

“Ya~ sudah jam 6. Jebal kau mandi dan bersiap-siap. Satu jam lagi dia datang. Kau tidak ingin kan Donghae oppa terpukau hanya karena masakan yang ada diatas meja itu dan melupakanmu hahaha…”

“Aigoo… aku sampai lupa menyiapkan baju… Eottokae Seungri-ya?”

“Aishhh… kau ini! Jebal kau mandi, aku akan menyiapkan dress untukmu!”

Buru-buru Seungri masuk ke kamar Shinhae memilihkan dress yang cocok untuk makan malam hari ini. Sedangkan Shinhae berlari mengambil handuk dan secepat kilat ke kamar mandi.

“Makanan OK, Meja OK, Kau sendiri sudah OK. Sebaiknya aku pergi sekarang.” Ujar Seungri melihat sekelilingnya.

“Ne… gomawoe Seungri-ya… jeongmal gomawoe.” Shinhae memeluk sahabatnya itu.

“Ahhh seharunya aku membuka event organizer. Pasti aku akan sukses hahaha…”

“Ne… kau benar. Doakan aku agar semuanya lancar dan Donghae oppa menyukai kejutanku ini.”

“Kau tidak memberitahunya kau menyiapakan makan malam?”

“Aniya… aku ingin memberi kejutan padanya. Aku hanya menyuruhnya datang seperti biasa hehehe…”

“Arraseo…. aku pergi sekarang. Anneyonghigeseyo… Good Luck.”

 

Shinhae POV

Hatiku benar-benar berdegub kencang menanti namjachinguku itu datang. Aku memang belum pernah memberikan kejutan seperti ini. Pikiranku kali ini dipenuhi dengan pertanyaan apakah dia akan menyukainya? Apa dia suka masakanku?

Berkali-kali aku memutar dan memindahkan piring, lilin, hiasan bunga agar terlihat sempurna. Aku benar-benar gugup. Tinggal 5 menit lagi saat aku menengok jam hitam yang sedari tadi berdetak di tembok apartemenku. Aku berdiri, berjalan mondar-mandir di depan pintu, berusaha agar terlihat tenang saat membukakan pintu dan melihat wajahnya yang tersenyum girang.

1 menit, 2 menit, 3 menit, 4 menit, 5 menit, 10 menit pun berlalu. Aku masih berjalan mondar-mandir.

“Mungkin jalanan Seoul sedang macet.” Ujarku dalam hati.

Aku menengok ke arah jam dindingku yang telah aku lihat beribu-ribu kali. Jarumnya menunjukkan pukul 19.30.

“Aishhh… tidak biasanya dia terlambat selama ini.”

“Tik… Tok… Tik… Tok…” Suara jarum jam itu semakin membuatku gelisah. Sudah 1 setengah jam berlalu, dan namja yang aku nanti-nantikan itu tidak kunjung datang.

“Ya~~ apa kau lupa oppa!!!” Aku masih berusaha menahan emosiku.

Berkali-kali aku mengecek Hpku, tapi namja itu kelihatannya tidak menghubungiku. Aku terduduk lemas dikursi makan, mungkin aku terlihat seperti bunga yang kini mulai layu berada di dalam vas bening yang telah aku siapkan dari tadi.

“Dreeetttt… Dretttt”

Aku melihat Hpku lagi dan melihat nama namjaku itu di layar.

“Dimana kau?” tanyaku sedikit ketus

“Mianhae jagi… jeongmal mianhae aku tidak bisa kesana.”

“Mwo? wae? Kau sudah berjanji oppa.”

“Ne… mianhae… aku tidak tahu bahwa aku ada jadwal malam ini.”

“Aishhhh… kenapa kau tidak memberitahuku dari tadi oppa!”

“Shinhae-ya… aku juga baru tahu sekarang…”

“Tapi… tapi… aku sudah…” Belum sempat aku memberitahunya, Donghae memotong pembicaraanku dan berkata dia harus menutup telponnya.

“Tuuuttt… Tuuut….” itu adalah suara satu-satunya yang aku dengar. Aku kesal, benar-benar kesal.

“Gurea… apa aku harus membuang semua makanan ini!!!” Aku menatap meja makanku yang sudah penuh dengan masakan buatanku. Aku sama sekali belum memakannya. Selera makanku tiba-tiba saja hilang.

“Oppa… kenapa kau tega padaku!” Aku memotong beef steak dengan kasar.

“Apa jika aku memberitahumu bahwa aku menyiapakan makan malam untukmu, kau akan membatalkan jadwalmu itu dan segera ke sini?” Aku menyuapkan sepotong daging ke mulutku yang sudah penuh. Aku tahu air mataku mulai menetes. Aku tidak bisa menahannya. Hatiku benar-benar kesal.

 

Seminggu kemudian,

“Shinhae-ya… kenapa dari tadi kau diam saja? Kenapa kau mengacuhkan namjamu ini..”

“Apa kau tidak lihat oppa… aku sedang sibuk!” Jawabku acuh, masih sibuk dengan laptop di mejaku.

“Aigooo… apa yang kau lakukan?” Donghae menarik kursi dan meletakkannya tepat disampingku.

“Aishhh…. bisakah kau diam sebentar! Aku sedang mencoba berkonsentrasi membuat tugas kuliahku!”

“Mwo? Kapan kau mulai kuliah lagi?”

“Ya~~ bukankah aku sudah bilang aku meneruskan kuliahku bulan lalu?” Aku kesal

“Jinjja?”

“Oppa! Kelihatannya otakmu hanya berisi lirik lagu, gerakan dance, dan skrip skenario saja! Tidak ada sedikitpun tempat untuk mengingatku!” Aku berbalik menatapnya tajam.

“Shinhae-ya… kenapa kau jadi sering marah? Mianhae jagi…” Namja tampan yang ada dihadapanku ini mencubit kedua pipiku.

“Oppa… berhenti melakukannya!”

“Aishhh kenapa kau masih marah! Wae? Aigoooo… apa kau marah gara-gara aku tidak jadi datang malam itu?”

“Akhirnya kau mengingat sesuatu tentangku oppa!”

“Ya~~~ berapa kali aku harus minta maaf? Lagipula apa yang terjadi malam itu? Apa kau menyiapakan kejutan untukku?”

“Mwo?”

“Gurae… tidak mungkin seorang Ratu Antartika menyiapkan kejutan untukku. Tidak mungkin kan kau membuatkan makan malam romantis untukku? Kau ini kan tidak bisa masak hahahaha…” Donghae tertawa puas. Kali ini aku ingin menjitak kepalanya. Aku kembali teringat bagaimana malam itu aku mondar mandir menunggunya seperti orang bodoh, bagaimana aku menghabisakan semua makanan yang ada dimeja seperti orang kelaparan.

“Ne… tidak mungkin aku bisa memasak untukmu oppa!” Ujarku dengan nada tinggi. Aku berdiri dari kursi kerjaku. Donghae terlihat kaget, mungkin dia melihat wajahku sudah merah padam menahan kesal.

“Ya Ya Shinhae-ya… kau benar-benar aneh hari ini…. gwencana? Apa aku berbuat salah?”

“Aniya… aku yang salah… semua kesalahan ada padaku.” Aku menundukkan kepalaku. Aishhhh harusnya aku tidak meneteskan air mata!

“Mwo? Jagiya…” Aku tahu Donghae pasti bingung melihat tingkahku yang tiba-tiba menangis. Dia memelukku. Tangisanku semakin keras. Aku benar-benar kesal padanya. Tapi aku tidak bisa melepaskan pelukan yang selama ini kurindukan.

“Shinhae-ya… katakan apa yang terjadi… apa kau kesal padaku? Mianhae… jeongmal mianhae jagi” Ujarnya lirih

Lama aku berada dalam pelukannya. Lama bagiku untuk menghentikan air mata yang terus turun ini.

“Gwencana?” tanyanya setelah isakanku berhenti. Aku menganggukkan kepalaku.

“Gurae… untuk mengurangi kekesalanmu padaku, bagaimana kalau malam ini kita makan malam. Sudah lama kita tidak keluar” Donghae tersenyum manis menatap wajahku yang masih sembab.

“Jinjja?”

“Ne… jebal kau bersiap-siap. Cuci mukamu itu. Aku tidak mau makan malam dengan yeoja berlinang air mata sepertimu.” Donghae mengacak-acak rambutku.

“Aishhh… arraseo… aku akan bersiap-siap oppa.” Hari ini moodku benar-benar dibuat naik turun oleh namja itu. Lama-lama aku tidak akan bisa bertahan mengikuti perubahan moodku yang terus bergerak secepat kilat.

“Oppa… aku sudah siap. Kajja…” Ujarku setelah selesai bersiap-siap.

“Shinhae-ya…” Belum sempat aku menghampirinya, aku melihat wajah Donghae yang sedikit takut. Perasaanku juga tiba-tiba tidak enak.

“Wae?”

“Kita… kita tidak bisa makan malam sekarang…” jawabnya hati-hati.

“Mwo?” Hatiku mencelos

“Baru saja Manager Hyung menelpon. Aku… aku harus menggantikan guest DJ di radio Heechul Hyung. Aku tidak bisa menolakknya.” Donghae mendekatiku dan menggenggam tanganku yang kini mulai dingin.

“Ahh.. Arrseo.. pergilah…” Aku menatap matanya dan mencoba menyunggingkan senyuman.

“Jinjja? Kau baik-baik saja? Kau tidak marah?”

“Aniya… kajja… kau akan terlambat.” Aku membalikkan tubuh namja tampan itu dan mendorongnya ke luar pintu. Aku melakukannya agar dia tidak bisa melihat wajahku yang mulai merah lagi.

“Gomaweoyo jagi.” Dengan cepat Donghae membalikkan tubuhnya dan mengecup keningku sebelum beranjak pergi.

Aku menutup pintu apartemen perlahan. Kali ini tidak ada air mata yang jatuh. Aku hanya bisa menghela nafas. Moodku kembali berubah. Bisa-bisa hatiku meledak menerima berbagai perasaan seharian ini.

 

15 menit kemudian,

“Dreettt… Dretttt…” Hp yang ada di dalam tas kecilku itu berbunyi.

“Yeobboseo Jonghyun-ah” Jawabku menerima telpon.

“Shinhae nonna… apa kau diapartemen sekarang?” tanyanya

“Ne… waegurae?”

“Kau sudah makan?”

“Mwo?”

“Aku lapar sekarang. Aku bingung mau makan apa. Jadi aku ingin mengajakmu makan malam. Kau mau kan?”

“Makan malam? Tapi…”

“Sudahlah… jebal kau turun, aku sudah ada di depan apartemenmu.”

“Mwoya? Aishhhhh… Jonghyun-ah ini pemaksaan namanya!”

 

Terpaksa aku turun ke lantai bawah untuk menemui teman kuliahku itu. Aku melihatnya tersenyum, bersender di mobil hitamnya.

“Omo… cepat sekali kau bersiap-siap. Jangan-jangan kau tahu aku akan mengajakmu?”

“Andweee… Ya~~ kenapa kau tiba-tiba kemari?” Aku memang langsung turun menemuinya tanpa sempat berganti pakaian. Toh pakaianku memang dimaksudkan untuk makan malam, walaupun batal.

“Kan sudah kubilang aku bingung mau makan dimana, aku tidak mau makan sendirian. Jadi aku mengajakmu Shinhae nonna… Kajja kita berangkat.” Lagi-lagi Jonghyun hanya tersenyum dan membukakkan pintu mobilnya untukku.

“Ya~~ berhenti memanggilku nonna. Kita hanya terpaut beberapa bulan!” Protesku

“Hahaha… andweee… lebih menyenangkan memanggilmu nonna Shinhae-ya… Jadi aku terlihat lebih muda darimu.”

“Aishhhhh kau ini!!!”

 

Sudah sebulan ini aku melanjutkan kuliahku di jurusan bisnis. Jadi sudah sebulan juga aku berteman dengan Jonghyun, namja manis yang menjadi teman sekelas sekaligus sekelompokku dalam menjalankan proyek kelas. Seperti biasa, dia selalu mengejutkanku. Tapi aku bersyukur dia datang malam ini. Setidaknya aku bisa mengalihkan rasa kesalku pada Donghae oppa.

“Gomawoe Jonghyun-ah atas makan malamnya. Tumben kau mau mentraktirku.” Ujarku saat dia mengantarkanku kembali ke apartemen setelah selesai makan malam.

“Hahaha… aku kan tidak pelit sepertinmu nonna. Gomawoe kau mau menemaniku malam ini…”

“Ne… sebaiknya kau cepat pulang Jonghyun-ah sebelum terlalu malam.”

“Arraseo… Kau juga sebaiknya cepat tidur nonna. Ah ya… kau juga sebaiknya mengompres kedua matamu itu.”

“Mwo? Wae?” Aku bingung mendengar pernyataannya itu.

“Apa kau tidak sadar sedari tadi matamu itu bengkak. Orang-orang melihatku dengan tatapan sinis, mereka mengira aku telah membuatmu menangis…” Jonghyun tersenyum menahan tawa.

“Hah? Jinjjayo? Omo….” Aku benar-benar merasa malu. Ini pasti karena aku tidak bisa berhenti menangis tadi. Aishhh…

“Hahaha… jebal tidurlah. Sampai bertemu di kelas besok. Anneyonghigeseyo Shinhae-ya” Aku masih bisa mendengar tawa Jonghyun dari dalam mobilnya. Dia melambaikan tangannya sesaat dan melesatkan mobilnya pergi meninggalkanku yang masih berdiri sendirian di depan pintu gedung apartemen.

“Ya~~ Donghae oppa! Kau benar-benar harus bertanggungjawab!” Seruku kesal pada namja yang entah sekarang berada dimana dan sedang apa.

 

 

Donghae POV

2 minggu kemudian,

“Aishhhh… kenapa sulit sekali menghubunginya!” Umpatku saat lagi-lagi aku hanya tersambung pada mesin penjawab saat aku mencoba menghubungi yeonjachinguku itu.

Aku heran, akhir-akhir ini dia sering sekali marah. Bukankah aku sudah minta maaf padanya.

“Donghae-ya sekarang giliranmu!” Seru fotografer Jang memanggilku

“Ne Hyung… tunggu sebentar.”

Aku mencoba peruntunganku untuk yang terakhir kali. Ku tekan tombol “call” untuk menghubungi yeoja itu lagi. Sepertinya masih ada harapan. Kali ini aku tidak mendengar mesin penjawab itu lagi.

“Wae oppa?” Akhirnya yeoja itu mengangkat telponnya. Tapi dari nada bicaranya itu, aku tahu dia sedang tidak dalam mood yang bagus.

“Kenapa sulit sekali menghubungimu Shinhae-ya!”

“Mian. Aku sedang sibuk. Wae?”

“Omo…apa perlu alasan untuk menelponmu? Memangnya apa yang sedang kau lakukan? Kenapa ramai sekali?”

“Aku sedang di tempat makan.”

“Donghae-shii.. jebal! Sekarang giliranmu!” Lagi-lagi fotografer Jang memanggilku.

“Shinhae-ya.. jangan matikan Hpmu. Aku akan menghubungmu nanti!” Terpaksa aku menutup telpon karena fotografer Jang berkali-kali melotot padaku.

“Aigoooo… akhirnya selesai juga. Jebal kita kembali ke dorm. Aku ingin segera tidur.” Seru Eunhyuk setelah kami menyelesaikan pemotretan kami.

“Ne… sudah beberapa hari ini aku hanya tidur 3 jam sehari. Donghae-ya apa yang kau lakukan? Apa Shinhae tidak mengangkat telponmu lagi? Tanya Leeteuk Hyung yang melihatku masih mengotak-atik iphoneku. Ya, lagi-lagi Shinhae mematikan Hpnya. Aishhhh apa yang sedang dia lakukan sebenarnya!!!

“Kajja kita pulang.”

“Kalian duluan saja. Aku masih ada urusan Hyung”

“Mwo? Pasti kau ingin menemuinya. Arraseo… sampaikan salamku padanya Donghae-ya.”

“Ne… aku pergi duluan.”

 

Aku mempercepat laju mobilku. Aku masih tidak bisa menghubunginya. Dan itu membuatku semakin kesal. Hampir saja aku melanggar lampu lalu lintas yang tiba-tiba saja berubah merah.

Aku membuka jendelaku agar bisa merasakan udara segar. Aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling bangunan di pinggir jalan sambil menunggu lampu berubah hijau. Ada sebuah rumah makan disudut jalan itu, tak terlalu jauh dari tempatku berhenti. Restoran itu terlihat ramai, aku bisa melihat dengan jelas orang-orang yang ada didalam karena hampir seluruh tembok restoran itu terbuat dari kaca.

Dari sekian orang di dalam restoran itu, pandanganku tak lepas dari sesosok yeoja. Yeoja dengan dress biru muda itu tersenyum pada seorang namja yang duduk disebelahnya. Aku juga melihat yeoja itu menepuk-nepuk punggung namja itu dan tertawa. Aku kenal betul siapa yeoja itu. Lagi-lagi dia tersenyum pada namja itu. Hatiku sedikit panas. Dan aliran darahku mengalir deras ke atas kepala saat tiba-tiba namja itu merangkul pundak yeoja itu dan tertawa bahagia.

“Shinhae-ya!!!”

 

Shinhae POV

Beberapa jam sebelumnya,

“Mwo? Mereka tidak mau menggantinya!”

“Ne… mereka tetap tidak mau bertanggungjawab.”

“Aishhhh!!!”

Pikiranku benar-benar tersita hari ini. Belum sempat aku menenangkan pikiran karena proyek kuliahku ditolak, sekarang ada masalah di Ride Car Hae. Salah satu pegawai dan muridku mengalami kecelakaan. Mobil mereka ditabrak oleh orang yang tidak mau bertanggungjawab. Pihak asuransi juga mempersulit urusannya. Sepertinya malaikat pelindungku sedang pergi hari ini!

“Shinhae-ya… kau akan datang ke acara makan-makan nanti kan?” tanya Yuri, chingu sekelasku di telpon.

“Ne… tentu aku kan datang.”

“Jangan lupa bawa namjachingumu. Karena temanya adalah sweet couple. Arraseo?”

“Mwo? Kenapa harus ada tema seperti itu! Merepotkan sekali.”

“Aishhh kau ini. Aku tidak peduli. Pokoknya kau harus datang dengan pasanganmu. Atau aku akan marah padamu!”

Jinjja… kenapa hari ini semuanya begitu mengesalkan. Tidak mungkin aku membawa namjachinguku ke acara itu. Membayangkannya saja aku tidak bisa. Lagipula mana mungkin si Fishy ada waktu untuk ini!

 

“Ya~~ Mana namjachingumu?” tanya Yuri saat aku datang sendirian ke Restoran tempat acara makan-makan.

“Mianhae… jeongmal mianhae… dia tidak bisa ikut.”

“Mwo? Alasan apa lagi yang akan kau katakan Shinhae-ya? Setiap kita berkumpul, kau selalu tidak bisa datang bersama namjamu itu.” Ujar Yuri berkacak pinggang.

“Mianhae Yuri-ya… dia benar-benar sibuk.”

“Aigooo… aku jadi semakin penasaran dengan namjamu itu. Dia itu seperti artis saja, selalu sibuk!” Aku hanya bisa tersenyum mendengar perkataannya. Ne… namjachinguku memang artis. Makanya aku tidak bisa mengajaknya.

Ahhhh seharunya aku tidak usah datang. Benar saja, semuanya membawa pasangan. Aku jadi seperti kambing congek di sini.

“Jonghyun-ah… akhirnya kau datang!!!” Seru Yuri menyambut seorang namja berambut hitam dengan pakaian semi formal. Namja itu tersenyum.

“Mianhae aku terlambat… Aku ketiduran tadi. Annyeong Shinhae-ya. Kau datang juga.” Ujar namja itu dan duduk tepat disebelahku.

“Ne… aku takut hidupku akan berakhir jika aku tidak datang ke acara Yuri hahaaha…”

“Aishhhh… memangnya aku ini monster!!!” Protes Yuri.

 

“Dreeeettt…” Baru saja aku menghidupkan Hpku, namja yang aku harapkan bersamaku sekarang itu menelpon.

“Wae oppa?” jawabku

“Kenapa sulit sekali menghubungimu Shinhae-ya!”

“Mian. Aku sedang sibuk. Wae?”

“Omo…apa perlu alasan untuk menelponmu? Memangnya apa yang sedang kau lakukan? Kenapa ramai sekali?”

“Aku sedang di tempat makan.”

“Donghae-shii.. jebal! Sekarang giliranmu!” Samar-samar aku mendengar seseorang memanggil namanya.

“Shinhae-ya.. jangan matikan Hpmu. Aku akan menghubungmu nanti!” Lagi-lagi belum sempat aku menjawab, dia sudah menutup telponnya. Aishhhh jadi untuk apa dia menelpon!

“Apa itu dari namjachingumu nonna?” tanya Jonghyun yang melihat kekesalanku itu.

“Ah… Ne…”

“Sayang sekali dia tidak datang bersamamu. Wae?”

“Mollayo… “ Jawabku lemas

Bagiku acara makan-makan ini berlangsung sedikit membosankan. Sejauh mataku memandang, aku hanya melihat pasangan-pasangan yang bermesraan. Saling merangkul, saling menyuapi… Aishhhhh benar-benar menyebalkan.

“Ya~~ apa kau tidak mau menghabiskan makananmu?” Ujar Jonghyun membuyarkan lamunanku.

“Ah.. aniya. Aku sudah kenyang. Kau mau menghabiskannya?”

“Baiklah jika kau memaksa hahaha”

“Dasar kau ini… bilang saja kau memang menginginkannya!!!” Aku tersenyum melihat tingkah chinguku yang satu ini.

“Sudah berapa lama kau tidak makan? Kau bisa tersedak bila makan seperti itu Jonghyun-ah” Aku menahan tawa melihat nafsu makan Jonghyun yang ternyata bergitu besar.

Baru beberapa detik aku mengingatkannya, Jonghyun benar-benar tersedak.

“Ya~~~ apa kubilang!!” Aku menepuk-nepuk pundaknya dan memberikannya segelas air.

“Ahhhh gomawoe nonna… Entahlah akhir-akhir ini aku gampang sekali merasa lapar.” Ujar Jonghyun mengelus-elus perutnya. Aku hanya bisa tertawa.

“Ya~~ Jonghyun-ah. Aku baru sadar. Kau tidak membawa pasangan?” tanya Yuri tiba-tiba

“Mwo? Memangnya kenapa?”

”Bukankah aku sudah bilang kemarin. Semuanya harus membawa pasangan. Kau ini!”

“Jinnjayo? Merepotkan sekali. Shinhae juga tidak membawa pasangan?” Jonghyun menoleh padaku.

“Ya~~ jangan bawa-bawa aku!” Protesku

“Kalian berdua ini sama saja. Aku tidak mau tahu, nanti akan ada lomba berpasangan!”

“Kalau begitu, Shinhae yang akan jadi pasanganku.” Tiba-tiba saja Jonghyun merangkul pundakku dan menarikku hingga kami berdua menempel.

“Ne Yuri-ya… Jadi berhentilah memarahiku.” Mau tidak mau aku setuju dengan rencana Jonghyun. Sedari tadi Yuri terus menyindirku karena tidak membawa pasangan.

“Arraseo… terserah kalian saja.  Yang penting acaraku bisa berjalan dengan lancar hahaha…”

“Dasar kau ini memang pemaksa Yuri-ya!!!”

 

Aku benar-benar capek hari ini. Yuri benar-benar mengerjaiku tadi. Aku harus menghabiskan segelas air es berukuran jumbo karena aku kalah dalam lomba aneh yang dia adakan. Sekarang kepala pusing, migranku kambuh. Dari pagi hingga malam, baik pikiran maupun tubuhku benar-benar diforsir. Aku berharap setidaknya ada sedikit hal yang bagus terjadi padaku hari ini.

Sepertinya harapanku terwujud. Aku mendapatkan apa yang aku inginkan saat pintu lift apartemenku terbuka. Aku melihatnya berdiri di depan pintu apartemenku. Rasanya aku ingin berlari, memeluknya, dan melihat senyuman yang bisa melumerkan seluruh kekesalanku hari ini. Tapi semakin aku mendekatinya, aku semakin sadar wajahnya terlihat kesal, tidak ada senyuman lembut yang aku harapkan tergurat diwajah fishy itu.

“Donghae oppa…” Sapaku lirih

“Dari mana saja kau?” tanyanya dengan nada datar.

“Aku… aku dari acara chinguku. Wae?”

“Kenapa Hpmu mati? Bukankah sudah kubilang jangan matikan Hpmu!”

“Mianhae oppa… Hpku low bat, jadi aku matikan. Wae? Kenapa kau terlihat kesal begitu?

“Apa kau datang ke acara itu sendirian?” Tanyanya, masih dengan ekspresi kesal.

“Ne… aku datang sendirian. Wae?”

“Lalu siapa namja itu?”

“Mwo? namja? Nugu?”

“Aishhhh… tentu saja namja yang duduk disebelahmu.”

“Maksudmu Jonghyun? Dia teman kuliahku. Wae? Bagaimana kau tahu dia duduk disebelahku?

“Chingu?  Mana ada chingu yang merangkulmu dengan erat seperti tadi! Apa karena itu kau mematikan Hpmu? Agar kau tidak ingin terganggu?” Suaranya makin lama makin meninggi. Aku benar-benar bingung dibuatnya.

“Apa maksudmu oppa?”

“Kau kesal padaku hanya karena aku membatalkan janjiku, dan sekarang kau pergi makan malam dengan namja lain!” Wajahnya mulai merah

“Mwoya??? Sudah kubilang dia itu hanya chinguku, dan aku tidak pergi makan malam berdua saja! Kenapa kau jadi marah-marah begini!” Pikiranku benar-benar kacau, aku mulai emosi.

“Aishhhh tentu saja aku marah! Berkali-kali kau mereject telponku! Dan aku melihat kau dengan namja itu! Apa kau tidak mengerti perasaanku!”

“Perasaanmu? Bagaimana dengan perasaanku! Apa kau pernah memikirkannya!” Emosiku sudah ada dipuncak. Aku tidak sadar nada suaraku meninggi.

“Shinhae-ya!” Seru Donghae

“Kau marah hanya karena melihatku bersama namja lain. Apa kau pikir aku tidak marah saat melihatmu bersama yeoja-yeoja itu! Apa kau pikir aku tidak kesal Oppa!” Aku menatapnya tajam

“Aishhhh… bukankah kau tahu itu semua hanya karena pekerjaanku! Itu semua hanya akting! Kenapa kau ungkit-ungkit hal itu lagi! Apa kau tidak percaya padaku Shinhae-ya!” Donghae memegang kedua pundakku dengan erat.

“Aku selalu berusaha percaya padamu Oppa! Aku selalu berusaha memahamimu! Tapi apa kau pernah mencoba percaya dan memahamiku!”

“Mwo?”

“Bagaimana aku bisa terus percaya bahwa kau akan bersamaaku saat berkali-kali aku melihatmu bersama yeoja-yeoja itu, memuji memuji mereka. Bagaimana jika salah satu yeoja itu benar-benar menyukaimu. Bagaimana jika akhirnya… akhirnya…” Aku tidak bisa melanjutkan kata-kataku.

“Shinhae-ya…”

“Oppa… bagaimanapun aku ini hanya gadis biasa. Aku ingin seperti pasangan lain. Aku ingin kau bisa ada kapanpun aku membutuhkanmu. Aku ingin memperkenalkanmu di depan teman-temanku, dan berkata bahwa Lee Donghae adalah namjachinguku. Apa kau tahu itu?”

“Shinhae-ya… aku selalu berusaha ada untukmu. Tapi… kau tahu aku tidak mungkin melakukannya.”

“Ne… arraseo… Aku sangat paham dengan hal itu. Aku sangat paham.” Aku terdiam sejenak.

“Terkadang aku berpikir, aku tidak pantas untukmu oppa..” Aku berusaha sekuat mungkin mengontrol suaraku yang mulai bergetar.

“Ya~~ Apa yang kau katakan!”

“Mianhae… mianhae tingkahku seperti anak kecil hahaha….” Aku tahu tawaku terlihat sangat terpaksa. Aku mengusap air mataku sebelum berhasil jatuh ke pipiku.

“Sebaiknya kau pulang sekarang oppa..” lanjutku

“Andweee… kita belum selesai bicara!”

“Pulanglah. Aku lelah sekali hari ini.” Belum sempat aku melangkah untuk membuka pintu, Donghae menarik tanganku.

“Apa kau lelah bersamaku?” tanyanya tegas.

“Mollayo…” Aku menepis tangannya.

“Arraseo… “ Donghae menatap mataku. Aku tahu dia masih kesal. Aku hanya bisa menatap punggungnya saat dia berlalu pergi.

“Apa kau tidak pernah bisa mengerti aku oppa?” Ujarku lirih. Aku benar-benar tidak bisa berpikir. Kepalaku sakit, tapi itu tidak seberapa dibanding sakit yang ada di hatiku ini.

 

Donghae POV

            “Donghae-ya!! Darimana saja kau ini?” Leeteuk Hyung yang sedang sibuk dengan laptopnya menoleh menyadari kehadiranku.

“Ya~~~ ada apa denganmu?” Tanyanya lagi

“Aniya…” Aku melewatinya begitu saja. Aku sedang malas bicara dengan siapapun. Tanpa berganti pakaian, aku menjatuhkan tubuhku ke kasur. Aku menatap langit-langit kamarku. Pikiranku tidak bisa lepas dari kejadian tadi.

“Kenapa kau jadi seperti ini Shinhae-ya? Apa sebenarnya kesalahanku!” Ujarku bicara sendiri. Aku memejamkan mataku, berusaha tidur. Berharap kejadian tadi hanyalah mimpi. Esok saat aku bangun, semuanya akan kembali seperti semula.

 

Beberapa hari kemudian,

“Sudah kuduga kalian berdua bertengkar!” Ujar Eunhyuk saat aku mengunjungi dormnya.

“Aku sungguh tidak mengerti dengan jalan pikirannya!”

“Tadi, kau bilang Shinhae-shii bersama dengan seorang namja?”

“Ne… aku melihat mereka berdua di sebuah restoran. Shinhae bilang dia itu teman kuliahnya. Tapi tetap saja aku merasa kesal! Dan dia menyalahkanku karena pekerjaanku ini! Aishhhhh!!!

“Kalian bertengkar lagi?” Tanya Yesung Hyung yang tiba-tiba masuk ke kamar Eunhyuk.

“Ne… mereka bertengkar hebat.” Jawab Eunhyuk menepuk-nepuk pundakku.

“Aku tidak tahu apa sebenarnya kesalahanku!” Seruku kesal.

“Aigooo… kupikir hubungan kalian bisa bertambah mesra setelah kejutan yang diberikan Shinhae-shii.” Ujar Yesung hyung datar.

“Mwo? Kejutan?” Aku heran mendengarnya

“Ne… Seungri bilang, Shinhae menyiapkan makan malam romantis untukmu.”

“Makan malam? Tidak mungkin Shinhae berbuat seperti itu.” Aku masih tak percaya.

“Seungri bilang, Shinhae menyiapkan semuanya sejak pagi buta. Ya~ Kenapa wajahmu seperti itu? Jangan bilang kau tidak datang malam itu…” Sepertinya Hyung tahu dari ekspresi wajahku.

“Dia… dia tidak bilang menyiapkan makan malam untukku!”

“Ya~ Babo… namanya saja kejutan! Pantas saja dia marah padamu!” Eunhyuk menjitak kepalaku.

Aku jadi teringat aku pernah mengejeknya bahwa tidak mungkin dia menyiapkan makan malam untukku. Pantas saja dia marah saat itu. Aishhhhh kenapa aku tidak menyadarinya!

“Pantas saja Shinhae-shii bilang kau tidak memperhatikannya… Kau ini!” Ucapan Eunhyuk semakin menamparku.

“Eunhyuk-ah… aku pinjam mobilmu sebentar.”

“Andweeee… aku masih sayang dengan mobilku!”

“Aishhhh… kumohon.. aku malas mengambil kunci mobilku ke atas. Aku harus pergi menebus kesalahanku!”

“Tapi kau harus berjanji mengembalikan mobilku tanpa lecet sedikitpun!”

“Gomawoe jagi… Saranghae yeongwonhie!!!” Seruku memeluk coupleku itu.

Aku segera mengambil kunci mobil dari tangan sahabatku itu dan segera meluncur ke apartemen Shinhae. Sebelumnya, aku berhenti di Toko Bunga, dan membelikannya seikat mawar merah sebagai permintaan maafku.

“Semoga kau menyukainya jagi…” Ujarku dalam hati saat mecium aroma mawar merah yang khas.

Aku tak sabar menemui yeojaku itu. Aku memarkirkan mobil tak jauh dari pintu masuk. Aku keluar dari mobil dan merapikan pakaianku di depan kaca mobil.

Tak lama sebuah mobil melintas disampingku. Mobil sport hitam itu berbelok dan parkir tak jauh dari tempatku berdiri. Aku tak memperdulikan yeoja dan namja yang turun dari mobil itu sebelum aku mendengar tawa dari yeoja itu.

“Shinhae?” Aku menoleh ke arah yeoja itu untuk memastikan. Dan benar saja, Shinhae sedang tertawa saat namja itu membukakan pintu untuknya. Shinhae terlihat senang sekali. Tanpa sadar aku meremas rangkaian mawar yang ada ditanganku. Lagi-lagi hatiku merasa panas melihat namja itu juga tertawa.

“YA~~!!!!” Seruku lantang. Aku tidak tahan lagi saat melihat Namja itu memeluk yeojachinguku.

 

Author POV

            Donghae membuang rangkaian mawarnya begitu saja hingga kelopak-kelopaknya bertebaran di lantai basement. Dia berjalan ke arah Shinhae dan Jonghyun dengan amarah yang terlihat dari wajahnya.

“Oppa?” Shinhae terlihat kaget melihat kehadiran namjachingunya itu.

“Apa yang kalian berdua lakukan!” Seru Donghae. Shinhae menyadari posisinya yang berada dalam pelukan Jonghyun.

“Oppa… aku hampir jatuh dan Jonghyun menahanku…”

“Jangan banyak alasan!” Donghae menarik tangan Shinhae dengan kasar sampai Shinhae mengerenyit kesakitan.

“Ya~~ apa yang kau lakukan. Apa kau tidak bisa memperlakukan yeoja dengan lembut!” Jonghyun yang sedari tadi diam akhirnya tak tahan melihat perlakuan Donghae. Tak disangka Jonghyun menarik lengan Shinhae agar terlepas dari genggaman Donghae.

“Jonghyun-ah…” Shinhae benar-benar kaget.

“BUKKK….!” Kepalan tangan Donghae tiba-tiba saja mendarat di wajah Jonghyun. Darah mengalir di sudut bibir Jonghyun.

“OPPA!!! Apa yang kau lakukan!!!!” Seru Shinhae

Sepertinya Donghae benar-benar meluapkan emosinya. Dengan cepat Donghae mencengkram krah Jonghyun yang masih terlihat pusing setelah pukulan pertama Donghae.

“OPPA!!!” Shinhae menahan tangan Donghae yang siap melayang ke arah Jonghyun.

“Hentikan! Kau seperti anak kecil!” Seru Shinhae lagi.

“Kau membelanya!” Seru Donghae tak kalah kesal

“Ne… aku membela pihak yang tak bersalah! Hentikan kekonyolanmu ini oppa!”

“Minta maaf padanya!” Lanjut Shinhae keras

“Mwo! Minta maaf!!!”

“Ne… kau yang salah, jadi kau yang harus minta maaf!”

“Shinhae-ya! Kau…. Aishhhhh!!!” Donghae melepaskan cengkramannya, menatap Shinhae kesal dan pergi begitu saja.

“OPPA!!!” Donghae tetap melangkahkan kakinya pergi tanpa menoleh dan tak memperdulikan panggilan Shinhae.

 

Shinhae POV

            “Mianhae… ini semua salahku.” Ujarku membersihkan luka di sudut bibir Jonghyun.

“Kogcongma… sebaiknya kau menghubunginya sekarang.”

“Ani… biarkan dia menyadari kesalahannya. Dia sudah keterlaluan.”

“Namja itu… Lee Donghae?”

“Ne… dia Donghae. Wae?”

“Omo… tak kusangka namjachingumu itu seorang artis. Pantas saja kau tidak pernah membawanya saat berkumpul dengan yang lain.” Jonghyun tersenyum melihatku.

“Hahaha akupun tak menyangka ada artis seperti dirinya mau bersamaku. Babo…”

“Gwencana?” Tanyanya lirih. Aku sadar tawaku terlihat sangat terpaksa. Tapi aku tidak sadar air mataku mulai menggenang.

“Apa aku keterlaluan padanya Jonghyun-ah?”

“Jebal… temui dia sekarang…” Jonghyun menatapku kedua mataku yang sudah merah.

“Ani… “ Aku memalingkan wajahku

“Arraseo… istirahatlah. Tenangkan pikiranmu nonna.” Ujar Jonghyun lembut, mengusap kepalaku.

 

 

Bersumbang….

Can’t Handle My Own Heart [Part 1]

 

Cast :

Lee Hyukje a.k.a Eunhyuk Super Junior as him self

 

Elbri Yunesti A. as Jang HyuRi

Lee Sora as Eunhyuk’s sister

Park Shinhae as HyuRi’s friend

 

 

Jeng… Jeng… Gedubrakkkk #auhtor kepleset

Jeongmal Mianhae buat my bestis Elbri a.k.a Elbri lama bgt ngepost FF buatmu…

Ahhhh…. semoga kamu dan para reader suka ya… #author berdebar…

O iya… author juga terinspirasi sama Drama You’re Beautiful hehe…

Langsung aj deh.. bingung mo ngomong apa lagi…

Pokoknya met baca…

Kritik dan saran ditunggu… so jng lupa comment..

percuma Auhtor bikin capek2 klo g dicomment :D…

 

 

Author POV

 

“Eonnie… kenapa nasib percintaanku seperti ini???

“HyuRi-ya… kenapa tiba-tiba kau datang dan merengek seperti itu? Gwencana?”

“Aniyaaa… aku… aku baru saja putus.. Huwaaaa Eonnie eottokae???”

“Aigoo… kau putus lagi? Wae?”

“Dia!!! namja itu selingkuh! Aku memergokinya sedang bermesraan dengan yeoja di cafe!”

“Jinjjayo? Maksudmu namja yang berwajah polos itu?”

“Ne… namja polos berhati busuk!”

Seorang yeoja berambut hitam pendek itu memukul meja yang ada dihadapannya, membuat yeoja berambut panjang yang terlihat lebih tua darinya itu terhenyak kaget.

“Ya~~ sabarlah… mungkin dia memang bukan jodohmu HyuRi-ya…”

“Eonnie… tapi aku capek setiap kali selalu bertemu namja brengsek seperti dia! Apa semua namja di dunia ini memang brengsek?” Yeoja itu kembali menangis menundukkan kepalanya di meja.

“Andwe… tidak semua namja itu brengsek. Kau tidak lihat namja baik hati seperti diriku?” Tiba-tiba seorang namja membuka pintu kamar dan mengagetkan kedua yeoja yang sedang curhat itu.

“Omo… Eunhyuk-ah… kau pulang!!!” Seru yeoja berambut panjang yang langsung berdiri dan memeluk namja itu.

“Ya~~ Sora nonna… aku tidak bisa bernafas!!! Kau memelukku terlalu kencang!”

“Aisshhhh… salah kau sendiri sudah lama tidak pulang! Omma dan Nonnamu ini sangat merindukanmu!”

“Hahahaha… ne.. ne… mianhae… aku tidak sempat pulang karena jadwalku padat sekali. Kau kan tahu Super Junior harus keliling Asia untuk konser.”

“Arraseo… aku bangga punya dongsaeng sepertimu Hyukje!” Lee Sora mengacak-acak rammbut adik kandungnya itu dengan lembut.

“Tentu saja kau harus bangga nonna..” Eunhyuk tertawa memperlihatkan gummynya.

“Ya~ Apa yeoja berambut pendek dengan muka ditekuk itu adalah chinguku Jang HyuRi?” Eunhyuk memiringkan kepalanya dan tersenyum jahil melihat yeoja yang masih sedikit terisak.

“Aishhhh Eunhyuk-ah jangan menggoda HyuRi… dia baru saja putus cinta.” Sora menjitak kepala dongsaengnya itu.

“Hahahaha… kau putus cinta lagi HyuRi-ya? Aigooo… kau memang yeoja yang diliputi kemalangan dalam bercinta…” Eunhyuk menghampiri HyuRi yang melotot tajam padanya.

“Ya~~ Lee Hyukjie… lebih baik kau diam saja sebelum vas bunga ini melayang ke wajahmu!!!” HyuRi bersiap-siap melempar vas bunga putih yang ada diatas meja.

“Aigooo… kau ini sedari dulu tak berubah… mana aja namja yang tahan dengan muka galakmu itu!”

“Huwaaaaaa…. kau benar… aku memang galak!!! Eottokae!!!” Lagi-lagi HyuRi menangis, dan itu membuat Eunhyuk salah tingkah.

“Kau lihat Hyukkie! Kau harus bertanggungjawab menenangkannya!” Sora berkacak pinggang.

“Ya~~ HyuRi-ya…mianhae… aku hanya bercanda.. Kau yeoja yang cantik, namja itu yang brengsek meninggalkanmu…” Eunhyuk menepuk-nepuk punggung HyuRi.

Sepertinya tepukan Eunhyuk tidaklah cukup untuk menenangkan yeoja itu. Butuh waktu sejam baginya untuk bisa membuat air mata HyuRi kering, dan membuat dirinya sendiri bercucuran keringat karena Eunhyuk menghibur HyuRi dengan mengeluarkan seluruh kemampuannya sebagai dance mechanie boy band setenar Super Junior.

“Sebaiknya aku pulang sekarang eonnie…” HyuRi berpamitan setelah meluapkan segala keluh kesahnya pada kakak beradik itu.

“Mwo??? Kau pulang begitu saja! Apa kau tidak melihat seluruh kaosku basah kena keringat! Ya~~”

“Hahahaha… aku tidak memintamu untuk melakukan tarian-tarian konyol seperti itu Hyukkie-ya!!!”

“Aishhhh…” Eunhyuk menjitak kepala HyuRi

“Hahaha… ne.. ne… jeongmal kamsahmanida… gomawoe Lee Hyukjie… kau memang seorang dance mechine…. Gomawoe sudah menghibur chingumu ini…” HyuRi membungkukkan badannya dengan tawa yang tak bisa dia kendalikan.

“Hahahaha kalian ini tidak berubah… selalu saja bertengkar! Hyukje-ya… jebal antarkan HyuRi pulang…” Ujar Lee Sora yang ikut tertawa.

“Aniya eonnie… aku bisa pulang sendiri.”

“Ne… lagipula aku kan baru saja datang nonna… aku capek harus mengantarkan yeoja manja ini..” Eunhyuk dan HyuRi saling melotot.

“Aishhhh bukankah kau bilang kau ini namja yang baik. Mana ada namja yang baik tega membiarkan seorang yeoja pulang ke rumah malam-malam begini…”

“Eonnie… gwencana aku bisa pulang sendiri.”

“Andweee… kau harus pulang bersama dongsaengku… Jebal!” Sora mendorong tubuh HyuRi dan Eunhyuk bersamaan ke luar pintu kamar. Terpaksa kedua namja dan yeoja itu menuruti perintah Lee Sora.

 

Eunhyuk POV

“Jadi… apa yang kau lakukan sekarang? Apa kau meneruskan restoran keluargamu?” Tanyaku saat berjalan bersama chinguku itu.

“Ne… kau harus mampir ke restoran kami besok. Sudah sangat lama kau tidak kesana. Ommaku pasti sangat senang melihat pelanggan kesayangannya ini hahaha” Yeoja itu tertawa dan menyenggol lenganku.

“Aigooo… aku sangat ingin merasakan udang buatan ommamu.. Tapi aku tidak bisa.”

“Mwo? Wae?”

“Aku harus kembali ke Seoul besok.”

“Besok? Kenapa cepat sekali? Apa mereka tidak bisa memberikanmu libur lebih panjang?”

“Hahaha… itulah susahnya jadi superstar.”

“Aishhhh… bangga sekali kau dengan julukan itu!”

“Tentu saja… apa kau tidak bangga punya chingu terkenal sepertiku?” Aku tertawa dan mengacak-acak rambutnya. Sudah lama aku tidak melakukannya.

“Kau ini tetap saja menyebalkan Hyukje-ya!” Ujarnya protes.

“Ya~ HyuRi-ya… aku tidak menyangka taman itu masih ada.” Aku sedikit kaget melihat taman yang dulu sering aku gunakan untuk bermain-main bersama chingu-chinguku itu masih sama seperti dulu.

“Kajja kita kesana…” Aku menarik tangan HyuRi dan berlari kecil ke arah ayunan ditengah taman. Taman itu sekarang sepi, hanya ada aku dan HyuRi, juga lampu-lampu taman yang tidak begitu terang, tapi terlihat indah, menyatu bersama cahaya bulan malam itu.

“Aigoooo… lihatlah kau ini seperti anak kecil Hyukje-ya… apa di Seoul tidak ada ayunan seperti ini?” Tanya HyuRi yang geli melihatku tertawa lebar mengayunkan ayunan tinggi-tinggi.

“HyuRi-ya… apa kau ingat aku suka sekali berayun di sini dan kau sibuk bermain pasir disana?”

“Ne… tentu saja. Kau berdiri di ayunan itu dan berlagak kau ini seorang Superman hahaha…”

“Aku pasti terlihat keren sekali saat itu.”

“Ne.. kau keren sekali saat jatuh terjembab karena mencoba terbang hahaha…” HyuRi tertawa keras memegang perutnya.

“Aishhhh… Ya~~ siapa yeoja yang berlarian ke arahku dan menangis tersedu-sedu melihatku jatuh?”

“Mollayooo… aku lupa.” HyuRi mengangkat kedua pundak dan menjulurkan lidahnya ke arahku.

“Ya~~ Jang HyuRi! Awas kau!” Aku beranjak dari ayunanku dan mengejar yeoja yang sudah berlari duluan meninggalkanku. Aku benar-benar senang malam ini. Tertawa lepas bersama chingu yang sudah lama tidak aku temui. Aku benar-benar merindukannya.

“Jeongmal gomawoe Hyukje-ya sudah mengantarkanku pulang.” Ujar HyuRi tersenyum manis saat kami tiba di depan rumahnya.

“Kau pasti senang sudah diantarkan idola sepertiku hahaha…”

“Ne… aku sangat senang. Sayang sekali kau harus kembali besok.”

“Ya~~ kapan-kapan kau harus ke Seoul mengunjungku.”

“Bagaimana aku bisa menemui idola sibuk sepertimu! Aku pasti akan terlihat seperti fans-fans gila yang berusaha menemui namja idolanya.”

“Hahahaha… andwee… aku akan sangat senang dan menyambutmu seperti tamu istimewa. Aku janji.” Ujarku sambil membentuk jariku menjadi huruf V.

“Arraseo…jebal pulanglah… pasti unnie masih merindukan dongsaengnya ini.”

“Ne… kau masuklah duluan. Sampaikan salamku pada omma, oppa, dan hyungmu.”

“Ne… Good Night my monkey.” HyuRi melambaikan tangannya dan tersenyum lembut sebelum menghilang dibalik pintu rumahnya.

“Good Night my chingu… Jeongmal Bogoshipo…” Ujarku lirih, masih berdiri di depan gerbang rumah HyuRi, menatap pintu kayunya, berharap dia membuka pintu itu dan kembali ke hadapanku.

 

Beberapa minggu kemudian,

Seoul,

“Hyukkie hyung… apa kau ini tuli? Dari tadi iphonemu berbunyi!” Seru Kyuhyun membangunkanku. Terpaksa aku bangun, menoleh ke arah iphone yang bergetar di atas meja disamping ranjangku.

“Yeobboseo…” Ujarku malas

“Ya~~~ kenapa lama sekali mengangkat telpon?” Seru si penelpon.

“Nonna? Tumben kau menelpon?” Aku baru sadar yang menelponku ini adalah kakak perempuanku

“Aishhhh… pasti kau baru bangun tidur!”

“Ne… aku baru konser tadi malam. Jadi aku capek sekali.”

“Arraseo… apa HyuRi menghubungimu?”

“Mwo? Nugu? HyuRi? Aniya… dia tidak menghubungiku. Wae?”

“Dia ke Seoul hari ini.”

“Seoul? Jinjja?”

“Ne… Kukira dia menghubungimu. Dia berangkat tadi pagi, jadi mungkin nanti siang dia sudah sampai di stasiun Seoul.”

“Aishhh… kenapa dia tidak memberitahuku! Aku akan menjemputnya nanti.”

“Mwo? Kau bisa melakukannya?”

“Ne tentu saja. Aku sudah berjanji padanya kalau dia ke Seoul, aku akan menjemputnya. Aku akan menelponnya sekarang.”

“Syukurlah… jaga dia baik-baik Hyukje-ya.”

“Hahaha… arraseo… aku ini kan penjaganya…”

 

 

Author POV

Seoul Station,

Hiruk pikuk orang berlalu lalang, dan suara-suara kereta api yang lewat dan berhenti sudah menjadi rutinitas yang biasa di stasiun besar di Seoul itu. Seorang yeoja berbalut jaket biru dongker dipadu dengan celana jins dengan warna senada, terlihat berkali-kali menoleh mencari seseorang. Yeoja itu terlonjak kaget saat seorang namja menepuk pundaknya.

“Ya~ tidak baik seorang yeoja berdiri sendirian di sini.” Ujar namja dengan jumper, topi dan kacamata hitam itu.

“Aigoooo…. kau mengagetkanku Hyukje-ya!” Seru HyuRi

“Sssshhhh… jangan keras-keras memanggil namaku. Kau mau semua orang mengenaliku?”

“Aniya… orang-orang di sini sibuk dengan kegiatannya masing-masing, mereka tidak akan memperdulikan kita! Dasar kau ini sok sekali!” HyuRi menarik topi namja di hadapannya itu hingga menutupi hidungnya.

“Arraseo… arraseo… kajja kita pergi dari sini. Aku sudah menunggu lama!” Tangan kiri Eunhyuk mengangkat koper milik HyuRi, sedangkan tangan kanannya dengan cepat menggenggam jemari HyuRi.

“Ya~~!” HyuRi terlihat kaget. Eunhyuk hanya tertawa memperlihatkan gummy smilenya.

 

“Jadi… apa yang membawamu ke Seoul? Apa kau ingin menemuiku?” tanya Eunhyuk yang tengah sibuk menyetir mobilnya.

“Andweeee… ada hal yang lebih penting yang harus aku lakukan dari pada menemui monkey sepertimu.”

“Aigoooo…. jahat sekali kau ini. Memangnya hal penting apa itu?”

“Aku akan meneruskan kuliahku di Seoul.”

“Mwo? Kuliah?”

“Ne… appa menyuruhku meneruskan kuliah di jurusan bisnis.”

“Bisnis? Kau bilang kau meneruskan usaha restoran keluargamu?”

“Maka dari itu. Kau tahu kan bakat memasak omma tidak menurun padaku, jadi aku yang akan mengelola restoran itu. Bagian masak memasak akan diserahkan pada Oppaku.”

“Hahahaha… arasseo… pasti restoranmu itu langsung tutup jika kau yang memasak.”

“Aishhhh!” HyuRi menjitak kepala Eunhyuk

“Lalu dimana kau akan tinggal?”

“Di tempat teman kuliahku. Dia memaksaku untuk tinggal bersamanya.”

“Mwo? Apa dia seorang namja?”

“Ya~~ Kau pikir aku ini wanita seperti apa Hyukje-ya!”

“Barangkali saja kau sudah punya namjachingu lagi di sini hahahaha.”

“Awas kau ya! Ya~~ belok ke kanan. Apartemennya ada di sebelah sana.” Ujar HyuRi menunjukkan arah apartemen chingunya itu.

“Disini?” tanya Eunhyuk saat menghentikan mobilnya di basement sebuah apartemen.

“Ne… chinguku itu tinggal di sini. Wae?”

“Aniyaa… hanya saja aku pernah ke sini mengantarkan temanku.”

Tanpa memperdulikan Eunhyuk yang masih terlihat berusaha mengingat sesuatu, HyuRi turun dari mobil dan mengeluarkan koper besarnya.

“Ya~~ Apa kau tidak ikut ke atas?”

“Ah ne… ne… aku ikut.” Eunhyuk segera menyusul HyuRi yang sudah berjalan meninggalkannya.

“Baiklah apartemen lantai 13 no 1325… Kita sampai!” Ujar HyuRi tersenyum puas.

“Mwo? Disini? Jangan-jangan….” Belum sempat Eunhyuk melanjutkan kata-katanya, pintu apartemen itu terbuka dan seorang yeoja berambut pendek sebahu berteriak girang melihat kedatangan mereka.

“HYURI-YA… akhirnya kau datang!!!!” Seru yeoja itu memeluk HyuRi

“Ne… akhirnya aku datang ke Seoul…” Seru HyuRi tak kalah hebohnya.

“Aigooooo… dunia ini benar-benar sempit!!! Hahahahaha” Eunhyuk tertawa keras, membuat kedua yeoja di hadapannya itu menghentikan kehebohan mereka dan menoleh ke arah Eunhyuk yang masih tertawa.

“Omo… Eunhyuk-shii!” Yeoja itu terlihat kaget melihat Eunhyuk.

“Anyyeong Shinhae-shii…” Eunhyuk membungkukkan badannya, masih tertawa

“Kalian berdua sudah saling kenal?” tanya HyuRi heran melihat kedua chingunya itu.

“Hahaha… ne… dia ini yeojachingu Lee Donghae.” Ujar Eunhyuk menepuk nepuk pundak Shinhae.

“Mwo? Lee Donghae? Maksudmu Donghae member Super Junior? Soulmatemu itu?” Kali ini gantian HyuRi yang kaget. Shinhae hanya tersenyum.

“Ya~~ Shinhae-ya! Kenapa kau tidak cerita hal sepenting itu!” Lanjut HyuRi

“Mianhae… kau tidak pernah bertanya tentang masalah itu hahaha… Tapi, bagaimana kau mengenal Eunhyuk-shii? Jangan-jangan kalian ini….”

“ANDWEEE…” Seru HyuRi dan Eunhyuk bersamaan memotong kata-kata Shinhae.

“Wae???” Shinhae menahan tawa melihat ekspresi namja dan yeoja itu.

“Dia ini chinguku dari kecil.” Ujar Eunhyuk dibarengi anggukan kepala HyuRi

“Ara… Ara… sebaiknya kita masuk. Tidak baik mengobrol di depan pintu.”

“Mianhae… aku harus kembali sekarang.” Ujar Eunhyuk

“Jinjja?”

“Ne… aku ada jadwal syuting. Aku akan menghubungimu nanti HyuRi-ya.”

“Arraseo… gomawoe Hyukje-ya sudah mengantarkanku.”

“Kogcongma… sudah kubilang aku akan menyambutmu jika kau ke Seoul. Shinhae-shii, aku titip chinguku ini. Mianhae kalau dia akan merepotkanmu hahaha…” HyuRi melotot mendengar perkataan Eunhyuk.

“Ne…  tentu saja Eunhyuk-shii.”

“Aku pergi dulu. Anneyonghigeseyo…” Eunhyuk membungkukkan badannya untuk pamit pergi.

 

HyuRi POV

            Tidak kusangka sekarang aku ada di Seoul. Tidak kusangka juga sekarang aku bisa bertemu dengan chingu ku yang jahil itu, Hyukje. Syukurlah dia tidak begitu berubah walaupun sekarang dia telah menjadi seorang Idola di Korea.

Hari-hariku di Seoul begitu menyenangkan. Selain kuliah, aku menghabiskan waktuku untuk berkeliling di jalan-jalan Seoul, mencicipi segala jenis makanan yang ada. Setidaknya aku bisa mendapatkan inspirasi untuk mengembangkan Restoran keluargaku nanti.

“Yeobboseo…” sapaku mengangkat telpon

“HyuRi-ya… ini aku Eunhyuk.”

“Ahh Hyukje-ya… kau ganti nomor?”

“Aniya… ini nomorku yang satunya. Simpanlah.”

“Arrsaseo…”

“Apa yang sedang kau lakukan sekarang? Kenapa ramai sekali?”

“Aku… aku sedang jalan-jalan. Tapi sepertinya aku tersesat.”

“Mwoya!!! Tersesat??? Apa kau sendirian?” suara Eunhyuk terdengar sedikit khawatir.

“Ne… aku sendirian.”

“Aissshhhh kau ini… Kenapa kau tidak mengajak Shinhae!”

“Dia sedang sibuk. Aku tidak enak merepotkannya terus terusan. Tenanglah.. aku baik-baik saja”

“Bagaimana aku bisa tenang. Kau sendiri tidak tau kau ada dimana.”

“Hyukje-ya… kau pikir aku ini anak kecil? Aku bisa tanya pada polisi.” Ujarku berusaha menenangkannya. Aku bingung kenapa dia khawatir sekali.

“Jebal…sebutkan apapun yang ada disekitarmu. Mungkin aku bisa mengenalinya.”

“Hmmm… sekarang aku berdiri tepat di depan Pizza Hut.”

“Aishhhh lebih spesifik lagi… banyak sekali Pizza Hut di Seoul.”

“Hmmm… sepertinya aku ada di daerah Myeongdong. Ramai sekali disini… Aku jadi pusing.”

“Ahhhh ara… aku tahu daerah itu.Jangan tutup telponnya.”

“Wae?”

“Aku akan menjadi guidemu hari ini.”

“Mwo? Bagaimana bisa? Kau bilang hari ini kau ada jadwal?”

“Ne… makanya jangan tutup telponnya. Aku akan membimbingmu lewat telpon hahaha….” Aku mendengar tawa Eunhyuk yang renyah dari seberang sana.

“Hahahaha… kau ini… Baiklah… tolong bimbing aku ke tempat-tempat yang menyenangkan Mr. Guide.” Ujarku ikut tertawa.

“Okeyyy.. apa yang ingin kau lakukan sekarang?”

“Hmmm… aku lapar sekali sekarang.”

“Sudah kuduga. Hal pertama yang kau cari adalah makanan hahaha… Hmmm… kau suka mie kan? Aku tahu tempat yang enak. Apa kau tahu myeongdong subway?”

“Ne… aku tadi baru dari sana.”

“Okey… belok kiri di perempatan pertama, ada Woori Bank disana, lalu ada toko Who A U, kau bisa belok kanan. Disana kau akan menemukan toko mie Myeongdong Gyoja.”

“Omo… kau benar-benar hafal Hyukje-ya… arraseo aku akan berangkat sekarang.”

Aku melangkahkan kakiku mengikuti petunjuk chinguku itu. Aku merasa senang sekali. Aku merasa aku sedang berjalan bersamanya, walaupun kami hanya berinteraksi via telpon. Itu sudah cukup bagiku.

“Omo… jeongmal mashita… pilihan tempat makanmu benar-benar daebak. Apa kau sering kemari?” tanyaku saat aku selesai menghabiskan semangkok Konguksu (sup mie susu kedelai).

“Ne… dulu aku sering ke situ saat masih debut. Syukurlah kau menyukainya.”

“Kita harus makan bersama kapan-kapan. Sudah lama kita tidak makan bersama.”

“Tentu saja. Kau harus mentraktirku.”

“Mwo? Kau kan yang kaya sekarang. Kau yang harus mentraktirku.”

“Hahaha… ara… ara…”

Selesai makan, aku meneruskan perjalananku di daerah Myeongdong. Ramai sekali di sini. Toko-toko baju, aksesoris berjejeran tanpa ujung. Jika tidak ada petunjuk dari Eunhyuk, aku yakin aku akan tersesat. Aku merasa pusing melihat begitu banyak orang berlalu lalang di sini. Sepertinya semakin malam tempat ini semakin menarik perhatian orang-orang untuk datang.

“Baiklah… kemana lagi kita?” tanya Eunhyuk yang masih sabar menemaniku.

“Mollayo… aku sudah capek sekali. Sepertinya aku pulang saja.”

“Pulang? Apa kau tahu jalan pulang?”

“Itu dia. Aku tidak tahu. Tolong beri tahu aku Hyukje-ya.”

“Ahhhh… tentu saja aku ingin memberitahumu. Tapi aku tidak bisa melakukannya.”

“Mwo??? Wae???” Aku sedikit kaget mendengar jawabannya.

“Mianhae… aku tidak bisa memberitahumu lewat telpon.”

“Waeyo??? Bukankah kau ini guideku! Eottokae… aku ingin pulang!!!”

“Hahahahaha… apa kau menangis sekarang?” Aku merasa kesal. Bisa-bisanya dia tertawa.

“Aniya!!”

“Tapi mukamu kelihatan merah… Pasti sebentar lagi kau menangis.”

“Aniyaaa… mukaku merah karena aku capek!!!” Seruku

“Tungguuuuu… bagaimana kau tahu mukaku merah!!!” Lanjutku kaget.

“Hahahaha… seharusnya kau berjalan melihat kedepan! Bagaimana kalau kau menabrak sesuatu!”

Secara reflek aku menengok ke sebalah kanan dan kiriku. Tepat saat aku mengarahkan pandanganku ke depan, aku melihat namja itu. Namja dengan topi, kacamata hitam, dan jaket baseball. Aku kenal betul namja itu. Aku kenal dengan senyuman gummy khasnya itu. Tanpa menghiraukan suara tawa dari telponku, aku berlari ke arah namja itu.

“Hyukje-ya!!! Bagaimana… bagaimana kau bisa kemari? Kau bilang kau belum selesai siaran???” Seruku senang.

“Tenanglah… Jebal kita pergi dari sini. Terlalu ramai…” Eunhyuk tersenyum melihat tingkahku dan menarik lenganku menuju mobil Audi yang terparkir di pinggir Toko aksesoris.

 

Eunhyuk POV

            “Apa kau kaget melihatku?” tanyaku sambil menyetir.

“Tentu saja. Kau tidak bilang bahwa kau akan muncul dihadapanku.”

“Ya~~ namanya juga kejutan. Aku ingin melihat reaksimu. Lucu sekali hahahaha…”

“Aishhh kau ini… dari dulu senang sekali mempermainkanku! Awas kau… tunggu pembalasanku!” Ujarnya mencubit lenganku.

“Jahat sekali kau ini… mencubit guide yang sudah mengantarmu kemana-mana!”

“Huffff…. kau membuatku kesal! Tapi… gomawoe sudah mau menemaniku.”

“Jadi… kemana kita sekarang?” lanjutnya

“Hmmmm… aku ingin membawamu ke sungai Han.”

“Sungai Han?”

“Ne… kau akan takjub melihatnya nanti. Lagipula tidak terlalu ramai disana pada jam-jam segini. Jadi aku tidak harus memakai peralatan menyamarku.”

“Hahaha… terserah kau saja.”

Aku memarkirkan mobil silverku dipinggiran Sungai Han. Suasana di sini tidak berubah sejak dulu. Lampu-lampu kecil bertebaran disepanjang sungai, terpantul indah di atas aliran airnya.

“Baguskan?” tanyaku pada HyuRi. Tanpa dijawab pun aku sudah tau dia menyukainya. Senyuman lebar terlukis diwajahnya itu. Matanya yang besar berbinar-binar memantulkan cahaya lampu.

“Omoooooo…. indah sekali Hyukje-ya…” Serunya merentangkan kedua tangannya lebar-lebar, seakan-akan akan terbang.

“Apa sungai ini ada ujungnya?” tanyanya.

“Hahaha… ayo kita jalan-jalan menyusurinya. Kau lihat saja sendiri.”

 

            Aku mengikuti sosoknya dari belakang. Sosok yeoja yang kini berjalan perlahan di depanku, menikmati cahaya lampu yang terpantul lembut di atas aliran Sungai Han yang membentang panjang. Sesekali yeoja itu menoleh, tersenyum, dan kadang tertawa kecil melihatku. Jika ku bisa, aku ingin berlari ke arahnya, dan memeluk tubuhnya yang kecil itu. Tapi aku tidak bisa. Aku tidak bisa melakukannya. Karena aku, Lee Hyukje adalah chingu dari Jang HyuRi.

 

Flashback

Taman di belakang gedung SMA Neunggok

            “Hyukje-ya… apa benar kau tidak menyukainya? Dia itu kan yeoja yang cantik.”

            “Aishhhhh harus kukatakan berapa kali padamu Gun Wook-ah! Dia itu hanya chinguku! Lagipula dia itu bukan tipeku!”

            “Jinjjayo?”

            “Ne… ne… aku ini menyukai yeoja yang manis, feminim, lemah lembut. Apa kau tidak tahu HyuRi itu yeoja seperti apa? Dia itu galak sekali, apalagi kalau moodnya sedang jelek! Huwaaaaaaaa…”

            “Jeongmalyo?”

            “Percaya padaku. Sudah beribu-ribu kali aku kena amarahnya.”

            “Jadi… benar kau tidak menyukainya?”

            “Shireo… aku tidak akan pernah menyukainya.”

            “Arraseo… jadi kau tidak keberatankan jika aku menembaknya?”

            “Mwo??? kau akan menembakknya?”

            “Ne… aku menyukainya sejak kami pertama kali bertemu. Tapi aku sempat mundur karena kau begitu dekat dengannya. Aku melihat kalian seperti pasangan kekasih. Syukurlah kalian ini hanya teman… “

            “Hahaha… itu tidak mungkin terjadi…”

            Aku tertawa mendengar pengakuan sahabatku itu. Tak kusangka selama ini dia menyimpan perasaan untuk HyuRi. Aku senang mendengarnya, tapi entah mengapa sesaat tadi rasanya Hatiku berdegub, seperti ada batu yang dihantamkan langsung ke dalamnya. Aku tidak tahu itu. Dan aku terlambat untuk menyadarinya.

 

            “HyuRi-ya, jadi, kau sudah menerima Gun Wook sebagai namjachingumu?”

            “Ah ne… dia menembakku tadi malam. Wae?”

            “Chukae… kalian akan menjadi pasangan yang serasi hahaha…” Aku tertawa, lebih tepatnya berusaha untuk tertawa.

            “Kau kelihatan senang sekali Hyukje-ya”

            “Tentu saja. Jadi sekarang kau tidak akan menggangguku lagi HyuRi-ya”

            “Apa aku begitu mengganggumu selama ini?” Aku sedikit terkejut mendengar pertanyaannya. Dia tidak bercanda. Aku tahu itu. Matanya yang bulat dan besar menatap tajam ke arahku.

            “Hahaha kau baru menyadarinya? Kau ini selalu menggangguku. Kau ini selalu manja padaku. Sempat aku berpikir bahwa kau menyukaiku HyuRi-ya…” Aishhh apa yang ku katakan!

            “Mianhae…” HyuRi tersenyum. Tapi bukan ini yang aku inginkan. Bukan senyum ini yang aku harapkan. Aku ingin dia memukul atau mencubitku seperti biasa. Aku benar-benar tidak menyukai situasi seperti ini.

            Itu adalah terakhir kalinya aku bertemu HyuRi sebelum aku sibuk ke Seoul untuk menjadi trainee di SM entertainment. Untuk mengejar impianku sebagai dancer profesional.Itu juga terakhir kalinya aku berhubungan dengannya. Berhubungan dengan sahabatku, sekaligus yeoja yang telah merebut hatiku.

Flashback END

 

 

 

Bersumbang….

 

 

 

Berikut foto-foto daerah Myeongdong, Seoul

 

 

 

What Should I Do??? [Part 2]

 

Cast :

Kyuhyun Super Junior as him self

Efith Linda Pramono Siwi as Park han Byul

Restya Agung Nugrahanti as Kim Hyun Ra

 

Bwahahaha… seneng juga da yg penasaran ama lanjutan ceritanya…

Hmmm… Makasih reader setiaku semua #author sok

Author masih bingung mau dijadiin berapa part… kayaknya bakalan panjang nie..

Auhtor juga masih bingung ntr endingnya gmn #author geje #dibantai reader

So… dimohon sarannya lewat comment..

Gomawoe… Luv You…

 

 

 

Kyuhyun POV

            Aishhhh… aku benar-benar tidak mengerti jalan pikiranmu Han Byul-ah… kau benar-benar telah berubah. Dulu kau yang selalu datang pertama dan menungguku saat kita akan bertemu. Kau berusaha keras menepati janjimu. Kenapa kau sekarang dengan mudahnya melupakan itu semua!

“Huwaaaaaaaaaaaaaaaa!!!” Yeoja yang sekarang duduk disebelahku itu berkali-kali berteriak melihat setiap adegan di film itu.

“Ya~~ apa kau tidak bisa tenang sedikit!” protesku

“Omo… Mianhae… tapi film ini benar-benar menegangkan! Seharunya kau juga ikut berteriak Kyuhyun-shii…”

Aku hanya terdiam menatap layar besar dihadapanku. Pikiranku tidak fokus. Seharusnya aku menikmati film favoritku ini, tapi aku tidak bisa membohongi hatiku yang masih terasa kesal. Sepanjang 120 menit aku hanya duduk, dan sesekali menutup telingaku saat yeoja disebelahku itu berteriak lagi.

 

Author POV

“Omoo… pilihan filmmu benar-benar daebak Kyuhyun-shii. Apa kau lihat saat aktor itu meloncat dari helikopter.. Omo… “ Ujar Hyun Ra saat mereka keluar dari bioskop.

“Andwee…” Jawab Kyuhyun datar

“Aigooo… jangan-jangan dari tadi kau tidak menontonnya??? Omo… apa kau masih merasa kesal?”

“Itu bukan urusanmu!”

“Aishhhh… jangan berkata seperti itu! Kau yang memaksaku ikut bersamamu! Kau tahu, harusnya sekarang aku sudah berada di kasurku yang empuk!” Hyun Ra bersungut-sungut.

“Ya~~ Salahkan majikanmu. Seharusnya dia yang ada diposisimu sekarang!”

“Kyuhyun-shii! Kau pikir aku pembantunya! Aku ini asistennya! Berhenti memanggilnya majikan!”

“Ya~~ Babo! Pembantu dan asisten itu sama saja!”

“Aishhhh… kau ini benar-benar evil! Terserah kau saja!” Hyun Ra terlihat benar-benar kesal.

“Kruyuuuuukkkkk….”

“Hahahaha… lihatlah perutmu saja protes!” Kyuhyun tertawa mendengar perut Hyun Ra yang berbunyi.

“Aisshhhhh ini semua gara-gara kau Kyuhyun-shii!!!”

“Salah sendiri kau belum makan!”

“Ya~~ ini semua karena kau dan Han Byul unnie! Aku buru-buru kesini untuk menyampaikan pesan dari yeojachingumu itu! Dan kau memaksaku untuk menemani menonton film yang kau sendiri tidak menontonnya! Bagaimana aku bisa makan!”

“Ne… ne… mianhae… baiklah aku akan mentraktirmu makan.” Kyuhyun terlihat tidak tega melihat wajah yeoja dihadapannya itu merah padam menahan amarah.

“Andweee… sebaiknya aku pulang.”

“Ya~~ kau tidak boleh menolak niat baik dari seorang namja sepertiku.”

“Apa kau selalu bersikap kasar pada yeoja Kyuhyun-shii? Pantas saja unnie sering menangis!”

“Aishhhh… jangan bahas yeoja itu lagi. Jebal kita makan.” Lagi-lagi Kyuhyun tidak memperdulikan Hyun Ra yang sudah menampilkan raut wajah penolakan.

 

Hyun Ra POV

“Omo… kenapa aku harus bertemu namja seperti ini! Kenapa aku harus terbelit masalah percintaanya dengan Han Byul Unnie!!! Eottakae!!!”

“Ya~~ kau ingin makan dimana?” Tanya namja itu tanpa menengok ke arahku.

“Igo!” aku menunjuk sebuah foodcourt yang menjual burger.

“Aku pesan Big Burger dengan keju dan mayonise yang banyak sekali! Jangan lupa tambahkan ekstra tomat. Ahhh ya.. aku juga ingin pesan kentang goreng.” Ujarku mantap pada penjual burger itu. Aku tidak memperdulikan muka Kyuhyun yang terlihat kaget mendengar pesananku.

“Kau ini memang monster.” Ujarnya terkekeh

Aku benar-benar kesal dengan perlakuannya yang selalu memaksa itu. Padahal ini baru kedua kalinya kami bertemu. Dan aku bersumpah tidak ingin  bertemu dengan namja evil ini. Aku heran kenapa banyak yeoja yang mengidolakannya.

“Ya~~ apa kau ini tidak bisa tenang? Lihatlah saosnya menempel dimukamu!” Seru Kyuhyun tertawa mengejek. Aku hanya terdiam, melanjutkan suapan burgerku.

“Aigoo… mana ada yeoja sepertimu! Apa kau benar-benar lapar!” lanjutnya.

“Aishhh…. berhentilah mengomentariku! Makanlah punyamu sendiri!” Aku tidak tahan mendengar ucapannya itu.

 

Kyuhyun POV

            “Aigoo… sepertinya yeoja ini benar-benar lapar. Lihat saja dia memakan burger yang bertumpuk itu dengan lahapnya.” Ujarku dalam hati. Aku geli melihat Hyun Ra, yeoja yang duduk dihadapanku ini, sedang sibuk menghabiskan burgernya. Berkali-kali dia melotot ke arahku setiap kali aku mengomentari cara makannya.

“Jadi… sudah berapa lama kau menjadi asistennya?”

“Nugu?”

“Aishhh… tentu saja artis itu!” Aku masih merasa kesal hingga sulit mengucapkan namanya.

“Ya~~ artis itu punya nama!”

“Ne… ne.. ne… Park Han Byul. Kau puas!”

“Hahaha… tentu saja… Aku menjadi asistennya sejak dia debut. Sebenarnya dia adalah kakak kelasku sewaktu SMA dulu. Dia sudah menganggapku sebagai adik kandungnya.”

“Jadi kau satu SMA dengannya?”

“Ne…”

“Jadi kau juga satu SMA denganku?”

“Ne.. tentu saja. Apa aku tidak ingat denganku Kyuhyun-shii?”

“Ahhhh… jeotha! Aku ingat. Kau yeoja yang sering datang ke kelasnya dan pergi kemana-mana berdua?”

“Omo… ingatanmu benar-benar kuat Kyuhyun-shii…”

“Tentu saja… perlu berapa kali aku bilang bahwa otakku ini memang encer!”

“Aishhh… terserah kau saja!” Yeoja itu memalingkan mukanya dan kembali sibuk menghabiskan sepiring kentang goreng.

“Apa kau begitu menyukai unniemu itu sampai-sampai kau menjadi asistennya sekarang?”

“Ya~~ apa maksudmu!”

“Aniya… kau ini jadi seperti penguntit.”

“Aishhh… apa mulutmu itu tidak bisa mengeluarkan kata-kata yang manis! Aku menjadi asistennya agar aku bisa mengumpulkan uang!”

“Mwo?”

“Aku belum mendapat pekerjaan setelah aku lulus, jadi dari pada menjadi pengangguran, aku menerima ajakan unnie untuk menjadi asistennya. Wae? kau mau protes lagi?”

“Ahhh… ara…ara…”

“Aigooo… aku sudah selesai makan. Sebaiknya aku pulang sekarang.” Ujarnya mengelap bibirnya dengan tissue dan membereskan tasnya.

“Ya~~ apa begitu cara seorang yeoja yang sudah ditraktir makan?”

“Wae? Kau yang memaksaku menerima ajakanmu ini. Jadi aku tidak harus berterima kasih.”

“Aishhh… kau ini sama saja dengan majikanmu itu!”

“Terserah kau saja Kyuhyun-shii… Sebaiknya kau segera pulang sebelum ada yang mengenalimu. Aku pergi…” Yeoja itu membungkukkan badannya dan pergi.

Hyun Ra POV

            “Jangan pernah membuat janji jika kau tidak bisa menepatinya unnie! Kau tahu, aku menderita karenamu!” Seruku keesokan harinya saat bertemu Han Byul Unnie.

“Wae? Apa dia marah?”

“Ne… Dia kesal sekali. Dan aku yang menjadi sasarannya! Aishhhh!”

“Omo… mianhae Hyun Ra-ya. Bukan maksudku untuk memanfaatkanmu. Tapi aku tidak tega membatalkan janji secara langsung. Memangnya apa yang dia lakukan padamu?”

“Dia memaksaku menggantikanmu! Jadi aku menonton film bersamanya! Aishhhhhh menyebalkan! Lain kali aku tidak mau ikut campur dengan masalahmu unnie!”

“Hahaha… mianhae.. jeongmal mianhae.. kau memang asisten sekaligus sahabat terbaiku!!!” Han Byul unnie tertawa dan memelukku. Aku hanya bisa menggembungkan mulutku tanda protes.

 

Han Byul POV

            “Ahhhh aku memang benar-benar pengecut…” ujarku dalam hati setiap mengingat Kyuhyun. Aku merasa tidak punya nyali untuk menghubunginya.

“Dreeeeetttt…. Dreeeetttt…”

Aku merasakan sesuatu bergetar di dalam tasku. Aku merogoh ke dalamnya dan mengambil benda yang bergetar itu. Hatiku berdegub saat melihat layar blackberry hitamku.

“Yeobboseo… Kyuhyun oppa?” tanyaku pelan.

“Kukira kau lupa padaku!”

“Aniyaa… mana mungkin aku lupa padamu oppa…”

“…….” Dia diam, tak berkata apapun.

“Mianhae…” ujarku berusaha memecahkan keheningan.

“Aku sudah bosan mendengar kata-kata itu. Asistenmu itu sudah mengucapkannya beribu-ribu kali!” Aku tahu Kyuhyun benar-benar kesal. Suaranya benar-benar ketus.

“Oppa… aku juga baru tahu kalau aku harus ke studio. Kau kira aku sengaja?”

“Mollayo”

“Ya~~ kenapa kau seperti ini! Kau juga sering seperti itu! Sering membatalkan janji kita!”

“Mwo! Jadi kau ingin balas dendam!”

“OPPA!!! Bagaimana kau bisa sepicik itu!”

“Ya~~~ kenapa kau yang jadi emosi! Seharusnya aku yang marah padamu! Sulit sekali meluangkan waktu untuk bertemu! Dan kau tiba-tiba membatalkannya!”

“Sudah kubilang! Aku juga tidak bisa mengendalikannya! Kenapa kau tidak mau mengerti!”

“Dan kau malah mengirim asistenmu padaku! Apa kau begitu pengecut untuk mengatakannya langsung padaku Han Byul-ah!” Suaranya kali ini benar-benar meninggi.

“CUKUP! Kau selalu begini! Kau selalu menyalahkanku!”

“Karena kau memang salah Han Byul-ah!”

“Aku kan sudah mengaku salah! Aku sudah minta maaf padamu! Terserah padamu oppa! Aku capek!” Aku menutup telponku seketika. Aku tidak bisa mengerti jalan pikirannya. Terkadang dia terlihat sayang padaku, tapi dilain waktu, dia seperti menekanku.

“Choi Kyuhyun!!!! Apa sebenarnya maumu!!!!!”

 

Beberapa hari kemudian,

Author POV

“Unnie… aku sudah menyiapkan semua propertimu. Tapi aku tidak bisa menemukan gelang-gelangmu… eottokae???” tanya Hyun Ra terlihat bingung.

“Mwo? Bukankah semuanya sudah ada di dalam mobil tadi? Hmmm… mungkin ada di bawah jok. Apa kau sudah mencari di situ?”

“Ani… baiklah aku akan mencarinya lagi. Mianhae unnie…”

“Kogcongma… tapi kau harus cepat sedikit. Aku harus memakainya. Sebentar lagi syuting dimulai.” Ujar Park Han Byul sambil menyisir rambut panjangnya.

“Arraseo.” Hyun Ra segera pergi meninggalkan ruang make up untuk mencari gelang-gelang Park Han Byul.

Tak lama seorang namja membuka pintu ruangan make up itu dan membuat Park Han Byul terlihat syok.

“Oppa?”

Namja itu hanya diam. Tak peduli dengan Han Byul yang terlihat kaget dengan kedatangannya. Namja itu hanya menatapnya.

“Apa… apa yang membuatmu kemari?” tanya Han Byul

“Wae? aku tidak boleh kesini?” Namja itu perlahan berjalan mendekat dan menarik sebuah kursi, menaruhnya, dan duduk tepat didepan Han Byul.

“Ani… aniya… maksudku.. kau.. kau tidak pernah menemuiku di ruang make sebelumnya.” Han Byul terlihat gugup menerima kedatangan namja yang masih menjadi namjachingunya itu. Kyuhyun hanya diam, mengambil sebuah gelang perak di atas meja rias, dan memainkannya. Han Byul terlihat semakin salah tingkah.

“Oppa… apa kau tidak ada jadwal?” tanya Han Byul berusaha mencairkan suasana.

“Hmmm… tentu saja ada.” Jawab Kyuhyun singkat, masih sibuk dengan gelang peraknya.

“Ya~~ kenapa kau ketus begitu! Kau masih marah???”

“Waeyo? Kenapa aku harus marah?” Kali ini Kyuhyun meletakkan gelang perak di tempat semula dan mengalihkan pandangannya ke arah Han Byul.

“Oppa… jangan bersikap seperti ini. Jika kau marah, kau boleh memarahiku sekarang. Tapi jangan bersikap acuh seperti ini!”

“Ahhhh… aku sedang tidak ingin marah.”

“Mwo? Mwoya? Lalu apa yang kau lakukan disini? Bukankah kau ingin menemuiku dan memarahiku?” Han Byul semakin tidak mengerti jalan pikiran namja yang sekarang tersenyum di depannya.

“Aniyaa… aku kesini tidak ingin menemuimu.” Kyuhyun tersenyum. Para fans sering menyebutnya Evil Smile.

“Mwo? bukan aku? Lalu… lalu… siapa yang ingin kau temui?”

Kyuhyun masih tersenyum menatap Han Byul. Beberapa detik kemudian suara seorang yeoja dengan nafas yang terputus-putus masuk ke dalam ruang make up.

“Omo… ahhhh…. aku… aku menemukannya unnie… aku menemukan gelangmu.” Seru Hyun Ra terbata-bata.

“Aku ingin bertemu dengannya!” Ujar Kyuhyun tenang dan menunjuk Hyun Ra yang masih tertunduk berusaha mengatur nafas. Sepertinya Hyun Ra tidak menyadari kehadiran Kyuhyun.

“Mwo??? Kau… kau ingin bertemu asistenku Hyun Ra?” Han Byul terlihat kaget, lebih kaget daripada saat melihat Kyuhyun datang ke ruang makeupnya.

“Ne… aku ingin bertemu dengan asistenmu.” Kyuhyun berdiri dan menghampiri Hyun Ra.

“Omo… Kyuhyun-shii???” Seru Hyun Ra yang mulai sadar ada namja jangkung yang sekarang berdiri tepat disampingnya.

“Annyeong HyunRa-ya…” Kyuhyun tersenyum menatap HyunRa yang masih terlihat bingung.

“Ahhhh annyeong… Maaf aku mengganggu kalian. Aku… aku akan pergi sekarang.”

“Andwe… aku datang kesini untuk bertemu denganmu.”

“Mwo? Aku?” Hyun Ra secara bergantian menatap Kyuhyun dan Han Byul berusaha mencari jawaban apa yang sebenarnya terjadi. Tapi sepertinya wajah Han Byul pun sama dirinya, masih terlihat bingung dengan kunjungan Kyuhyun.

“Hahahahaha… kenapa wajah kalian seperti orang bodoh? Ya~~ “ Kyuhyun tiba-tiba saja tertawa, membuat kedua yeoja itu menatapnya.

“Kyuhyun-shii… apa sebenarnya maumu?” tanya Hyun Ra

“Aissshhhh… kau ini memang babo… apa kau tidak mendengar kataku tadi? Aku ingin bertemu denganmu.”

“Wae??? kenapa kau ingin bertemu denganku?”

“Sudahlah sebaiknya kau ikut denganku.”

“Andweee… apa kau tidak lihat aku sedang bekerja!”

“Han Byul-ah… bolehkan aku meminjam asistenmu sebentar?” tanya Kyuhyun pada Han Byul.

“Mwo? apa yang sebenarnya kau inginkan? Dia itu asistenku, dan dia sedang bekerja untukku! Kau tidak boleh seenaknya datang dan membawanya pergi!” Seru Han Byul keras.

“Aissshhhh… aku hanya meminjamnya sebentar, lagipula sebentar lagi kau mulai syuting. Jadi kau tidak memerlukannya.” Ujar Kyuhyun tak mau kalah.

“Oppa! Kenapa kau selalu seperti ini! Memaksakan kehendakmu!”

“Sudahlah. Jebal kita pergi sekarang.” Kyuhyun menarik tangan Hyun Ra tanpa memperdulikan Han Byul yang sudah merah padam.

“Ya~~~ Kyuhyun-shii!!! Apa yang kau lakukan!!!” Hyun Ra berkali-kali mencoba melepaskan genggaman tangan Kyuhyun, tapi hasilnya nihil. Dia terlalu kuat untuk Hyun Ra. Terpaksa Hyun Ra mengikuti langkah Kyuhyun. Hyun Ra hanya bisa menatap artisnya itu dengan tatapan meminta maaf.

“OPPA!!! AKU BENCI PADAMU!!!” Han Byul berteriak keras tanpa bisa melakukan apapun. Han Byul hanya bisa melihat asisten dan namjachingunya itu pergi dari hadapannya.

 

Hyun Ra POV

            “Kyuhyun-shii!! Apa yang kau lakukan! Lepaskan aku sekarang!” Seruku meronta, berusaha melepaskan cengkraman namja yang sekarang masih menggenggam pergelangan tanganku dengan erat.

            “Diamlah! Semua orang akan memperhatikan kita jika kau ribut seperti ini!”

            “Ya~~~ aku akan berteriak jika kau tak melepaskan tanganku!” Ancamku

            Sepertinya namja ini bersikeras, tak mempan dengan ancamanku itu. Terpakasa aku menarik nafas dalam-dalam, bersiap untuk berteriak sekencang-kencangnya.

            “HUUW…..”

Tiba-tiba saja tangan Kyuhyun membekap mulutku.

           “Ya~~~ Kau ini benar-benar yeoja gila!” Akhirnya namja itu berhenti dan melepaskan tanganku dengan kasar.

            “Kau yang gila! Menyeret yeoja lemah sepertiku. Apa sebenarnya maumu!”

            “Ikut denganku, aku akan menjelaskannya nanti!”

            “Mwo?? Andwe… aku masih bekerja sekarang!” Aku bersiap-siap membalikkan tubuhku dan pergi dari hadapan namja itu.

            “Aishhhh… !” Lagi-lagi namja itu mendahuluiku dan menghadangku.

            “Kau! Apa kau gila! Apa yang kau inginkan!”

            “Kau harus ikut denganku sekarang… aku ingin meminta bantuanmu…”

            “Bantuan? Apa begini cara seseorang meminta bantuan!” Aku benar-benar emosi dibuatnya.

            “Ara… ara… aku minta maaf. Tapi kau harus ikut denganku sekarang.” Suara namja itu tidak sekeras sebelumnya.

            “Waeyo? Jelaskan dulu padaku sekarang. Baru aku mau ikut denganmu.”

            “Aissshhhhh… ini… ini tentang Han Byul.”

            “Han Byul Eonnie?” Aku makin penasaran dibuatnya. Bukankah dia baru saja bertemu dengannya, jadi apa masalahnya sekarang. Aku benar-benar tidak mengerti.

Bersumbang…

Second Chance (Final Part)

Tik.. Tok.. Tik.. Tok.. Waktu masih berjalan rupanya…

Hmmm… ini adalah FF terakhir Auhtor sebelum hiatus..

Huwaaaaa… author jadi sedihhh, tak bersemangat…

Jeongmal Mianhae klo ceritanya masih amburadul dan aneh seperti part sebelumnya..

Author ngebut ini bikinnya hahaha…

Sudahlah sebelum author menangis hrs meninggalakan kegiatan perFFan,

silahkan anda membaca karya terakhir author…

(Note: sepertinya ini blm bisa dikatakan final hehe)

Mohon commentnya…

Kamsahamnida…

  

Leeteuk POV

            Masih terekam jelas dalam ingatanku saat kejadian tadi malam. Saat Jungshin terlihat ketakutan, saat Jungshin berada dalam pelukanku menangis. Sikapnya memang sangat aneh. Seakan dia akan benar-benar pergi jauh, dan aku tidak bisa bertemu dengannya lagi.

            “Hyung… Gwencana??? Kau tidak ke kamar tadi malam? Jangan-jangan kau tidak tidur?” Aku masih terdiam mendengar pertanyaan Donghae.

            “Ya~~ Hyung ada apa denganmu? Eunhyuk bilang kau tidak siaran tadi malam. Apa terjadi sesuatu?”

            “Mianhae… aku benar-benar sibuk tadi malam…” jawabku datar.

            “Aishhhh… Hyung kau seperti mayat hidup. Jebal katakan apa yang sebenarnya terjadi?”

            “Dia akan meninggalkanku Donghae-ya…”

            “Nugu?”

            “Padahal aku belum sempat mengungkapkan perasaanku…”

            “Ya~~ Hyung… nugu? Suster itu?”

            “Aku masih bisa merasakan tubuhnya berada dalam pelukankku…”

            “Mwo? Kau memelukknya?”

            “Tapi dia bilang tidak bisa bersamaku… Aku bisa gila dibuatnya… Eottokae Donghae-ya!!!” Aku menguncang-guncangkan dongsaengku itu.

            “Jinjja? Dia bilang begitu? Padahal kau belum mengungkapkan isi hatimu Hyung?” Aku mengangguk pelan.

            “Kalau begitu kau harus menemuinya lagi dan membuat suatu hal yang romantis hingga membuatnya tersentuh dan menerimamu Hyung..”

            “Ne… kau benar… aku harus melakukannya sekarang.”

            “Andweee… tidak bisa hari ini Hyung.” Donghae menahanku yang siap berdiri dari sofa.

            “Wae??”

            “Kita harus bersiap-siap. Siang nanti kita harus ke Thailand.”

            “Mwo? Thailand?”

            “Aigoooo… cinta memang telah membuatmu lupa segalanya Hyung… Super Show Hyung… apa kau lupa!!!”

            “Ahhhh… ya… aku benar-benar lupa”

            “Aishhhh… sebaiknya kau memikirkan rencananya dengan matang Hyung. Jadi kau bisa menemuinya langsung setelah kembali ke Korea nanti.”

            “Ya~~ aku dinasehati oleh dongsaengku sendiri… Kau ini memang seorang player Donghae-ya… kasihan Shinhae harus bersamamu hahahaha…”

            “Ya~~~ awas kau Hyung!!!”

Jungshin POV

Beberapa hari kemudian,

            “Jungshin-ya… semakin lama kau terlihat pucat. Gwencana?”

            “Gwencana Sooyoung-ah… migranku akhir-akhir ini sering kambuh.”

            “Aigooo… sebaiknya kau periksakan ke Dokter Han.”

            “Andweeee… aku cukup minum obat.” Tentu saja aku tidak perlu ke Dokter Han. Aku sendiri sudah tahu sakit apa yang menimpaku. Sakitnya sama persis seperti dulu.

            “Kau memang keras kepala… atau jangan-jangan migranmu kambuh karena terlalu banyak memikirkan Park Jungsoo???”

            “Hahahaha aniya…”

            Ya, aku juga memikirkannya. Aku merasa bersalah jika mengingat wajahnya waktu itu. Aku masih ingin berada dalam dekapannya, aku masih ingin melihat senyumannya, dan mendengar suara tawanya yang khas. Tapi aku tidak bisa, aku akan menyakitinya jika aku lebih dekat dengannya.

            Mulai detik ini, aku harus mulai menjauh dari orang-orang yang kusayangi. Aku tidak mau melihat mereka menangis waktu aku pergi nanti. Aku masih terbayang dengan mimpiku itu. Aku menangis bila mengingatnya. Aku pun menangis tadi malam, saat aku menemui omma yang sangat aku cintai.

Flashback

            “Omma… apa kau menyayangiku?”Tanyaku saat tidur dipangkuannya

            “Aigooo… pertanyaan macam apa itu? Mana ada orangtua yang tidak menyayangi anaknya?” Omma menjitak kepalaku lembut

            “Apa kau akan sedih jika aku pergi?”

            “Aigoooo… ada apa denganmu? Kau aneh sekali…”

            “Aniya… jebal jawablah… apa kau akan sedih jika aku pergi selamanya?”

            “Tentu saja anak bodoh… Omma tidak akan memaafkanmu jika kau pergi meninggalkan omma sendirian.”

            “Mianhae omma…” Aku memeluknya erat.

            “Ya~~ kenapa kau ini? Apa kau akan pergi?”

            “Hehehe.. aniya… itu hanya permisalan… Aku tidak akan pergi dari sisimu omma.”

            “Jangan pernah membuat ommamu ini sedih… Arraseo?”

            “Ne… Arraseo…”

Siang hari,

Author POV

            Seorang yeoja terlihat tergopoh-gopoh berlari masuk ke dalam ruang suster mencari chingunya.

            “Jungshin-ah… jebal… gawat…” Seru yeoja itu terbata-bata

            “Wae? Wae Sooyoung-ah?”

            “Leeteuk-shii… Leeteuk-shii…!”

            “Wae? Kenapa dengan Leeteuk?” Jungshin terlihat panik mendengar nama itu.

            “Dia… sekarang ada dikamar pasien.”

            “Mwo? Dia sakit?”

            “Jebal… kau pergi kesana. Ke kamar no 62…”

Jungsin POV

            Segera aku meninggalkan dokumen-dokumen pasien yang sedang kuperiksa dan berlari ke kamar 62, tempat Leeteuk berada. Aku tidak tahu apa yang terjadi padanya. Aku tidak bisa membayangkan wajah Leeteuk yang kesakitan seperti waktu itu.

            “Awwwww…” Tiba-tiba saja rasa sakit itu datang lagi. Aku memegang kepalaku. Jarum-jarum itu kini datang lagi ke dalam otakku.

            “Kumohon sebentar lagi… biarkan aku menemuinya sekali ini saja.” Aku memohon pada Tuhan.

            Mungkin Tuhan mendengar permintaan terakhirku ini. Aku memejamkan mataku dan perlahan rasa sakit itu berkurang.

            “Gomawoe…” Ujarku dalam hati. Aku pun melanjutkan langkahku menuju kamar 62.

            Hatiku berdebar saat memutar kenop pintu. Aku takut melihat ke dalam.

            “Oppa…” Hatiku kini rasanya lepas dari nadinya saat aku melihat namja dengan senyum malaikat itu tergeletak di atas ranjang, matanya tertutup.

            “Dokter… apa yang terjadi padanya?” Aku bertanya pada Dokter Han yang berdiri disamping ranjang.

            “Mendekatlah Jungshin-shii…” Dokter Han tidak menjawab pertanyaanku.

            Akupun mendekatkan diri ke ranjang. Aku meraih jemarinya yang terkulai lemas.

            “Jungshin-ah… kau datang…” Ujar Leeteuk lirih saat membuka matanya dan melihatku.

            “Ne… aku ada disini Oppa… Apa yang terjadi padamu? Gwencana?” Aku menempelkan gengaman tangannya ke pipiku.

            “Aniya… rasanya aku sakit.”

            “Mwo? mana yang sakit? Dokter Han.. tolong sembuhkan Leeteuk-shii…” Ujarku panik.

            “Mianhae… aku tidak bisa menyembuhkannya Jungshin-shii…”

            “Mwo??? Wae??? Apa separah itu sampai Dokter tidak bisa menyembuhkannya?” Aku semakin panik. Aku melihat Leeteuk lagi, kini matanya kembali tertutup.

            “Ne… aku tidak bisa menyembuhkannya… penyakit ini terlalu kompleks… Hanya satu orang yang bisa menyembuhkannya.”

            “Nugu? Nugu? Aku akan mencarinya sekarang dokter.”

            “Kau tidak perlu mencarinya Jungshin-shii… dia sudah ada disini.”

            Aku semakin bingung mendengar perkataan Dokter Han, karena selain kami bertiga, tidak ada seorangpun diruangan ini.

            “Nugu?” Aku benar-benar bingung dan panik. Air mataku mulai tergenang

            “Kau” Jawab Dokter Han menunjukku.

            “Mwo? Aku? Bagaimana… bagaimana bisa aku menyembuhkannya?”

            “Katakan bahwa kau tidak akan meninggalkanku, maka sakitku akan hilang.” Ujar Leeteuk, kali ini suaranya tidak seperti tadi, kali ini suaranya seperti menahan tawa.

            “Mwo??? Apa yang terjadi? Apa kalian mengerjaiku!!!” Seketika aku berdiri dan melepaskan genggaman tanganku melihat Leeteuk dan Dokter Han yang tersenyum geli padaku.

            “Katakanlah kau tidak akan meniggalkannya Jungshin-shii… Kau tidak lihat wajahnya sudah memelas seperti itu..” Ujar Dokter Han menahan tawa.

            “Ne… aku tidak akan bangun dari ranjang ini sebelum kau mengatakannya Jungshin-ah…” sambung Leeteuk

            “Ya~~ Oppa!!! Tega-teganya kau mengerjaiku!!!” Tidak hanya kesal, aku juga malu. Benar-benar malu. Tanpa bisa ditahan air mataku jatuh.

            “Ya~~ Leeteuk-shii kau telah membuat anak orang menangis.”

            Aku melihat Leeteuk terburu-buru menyibakkan selimutnya dan turun dari ranjang, meraih tanganku dan memelukku.

            “Mianhae Jungshin-ah… Apa aku keterlaluan?” Tanyanya, aku hanya mengangguk pelan.

            “Jeongmal minhae…”

            “Aissshhhh… saatnya aku pergi… bersenang-senanglah anak muda hahaha.”

            “Kau keterlaluan oppa…” Ujarku saat Dokter Han pergi.

            “Mianhae… hanya ini satu-satunya cara membuatmu berada dalam pelukanku dan menghentikanmu untuk pergi dariku.”

            “Jangan pernah lakukan hal ini lagi. Aku takut melihatmu tergeletak tak bergerak tadi!!!”

            “Hahaha… tapi aku benar-benar akan tergeletak seperti itu jika kau meninggalkanku.”

            “Wae?”

            “Karena aku ingin bersamamu selamanya… Aku ingin kau menjadi susterku selamanya… karena aku mencintaimu… Saranghae Jungshin-ah…” Leeteuk menatapku lembut dan menyunggingkan senyum malaikatnya lagi.

            “Oppa…”

            “Ya~ Kenapa memanggilku… kau harusnya bilang… nado saranghae oppa”

            “Hahaha… aku tidak mau mengatakannya”

            “Wae??? Wae??? Apa cintaku bertepuk sebelah tangan?”

            “Aniya… aku hanya ingin menghukummu karena kau mengerjainku tadi. Jadi aku tidak akan mengucapkan kata-kata yang sangat kau inginkan itu.” Aku tersenyum melihat raut wajah Leeteuk yang cemberut.

            “Aissshhhh… arraseoo… aku akan memelukmu sampai kau mengatakannya.” Namja dihadapanku itu kembali menarikku dalam pelukannya.

            Aku merasa sangat bahagia berada dalam pelukannya. Pelukan seorang malaikat. Aku pun berdoa agar aku bisa berada dalam pelukan namja yang aku cintainya ini selamanya. Tapi, sepertinya kesempatan doaku untuk dikabulkan lagi telah habis.

            “Arrrrgghhhhhh…” Aku melepaskan pelukan Leeteuk. Aku merintih kesakitan.

            Kali ini bukan hanya jarum dan paku yang menghantam kepalaku. Sepertinya ada martil besar yang berkali-kali menghantam kepalaku. Rasanya sebentar lagi kepalaku akan pecah.

            “Jungshin-ah… ada apa denganmu?” Aku hanya bisa mendengar suara Leeteuk dan merasakan tangannya yang menopang tubuhku yang telah jatuh. Aku tidak bisa membuka mataku. Terlalu sakit untuk melakukannya.

            Aku bisa merasakan tubuhku diangkat dan dibaringkan diranjang, tempat Leeteuk tadi terbaring.

            “Bertahanlah… aku akan memanggil Dokter.” Suara Leeteuk terlihat panik. Aku berusaha meraih tangannya dan menahannya untuk pergi.

            “Andweee… tidak ada yang bisa menyelamatkanku sekarang. Ini waktunya aku pergi.” Aku berusaha bicara walaupun terengah-engah.

            “Mwo??? Kau sudah berjanji tidak akan meninggalkanku!” Leeteuk memeluku erat, suaranya bergetar.

            “Mianhae.. aku berbohong… Aku tidak bisa bersamamu oppa… “

            “Wae??? Wae???”

            “Gomawoe sudah memberikan kenangan yang indah untukku…”

            “Jungshin-ah!!” Leeteuk memegang kedua pundakku. Aku tahu dia menangis, tapi aku tidak bisa melihat wajahnya untuk yang terakhir kali.

            “Mianhae aku harus pergi sekarang… Mianhae…” Aku juga bisa merasakan air mataku mengalir, bukan air mata kesakitan, tapi air mata kesedihan.

            “Andweeee… kau tidak boleh pergi..”

            “Kau tidak boleh mencariku oppa… karena kau tidak akan bisa menemukanku lagi.”

            “Andweeee aku akan tetap mencarimu… dan aku akan menemukanmu kemanapun kau berada… kau dengar… aku tidak akan melepaskanmu!!!” Leeteuk memelukku erat.

            “ARRRGHHHHHHHH….!!!” Kali ini kepalaku benar-benar pecah. Aku tidak bisa menahannya lagi.

            “Oppa… nado saranghae…”

            Itu adalah kata-kata terakhir yang bisa aku ucapkan dari beribu-ribu kata yang ingin kusampaikan. Ini adalah batasnya.

            “Gomawoe Tuhan… kau telah memberikanku kehidupan yang sempurna untukku.” Ujarku dalam hati.

            Sepertinya seluruh indraku satu persatu telah dilumpuhkan. Aku sudah tidak bisa melihat, aku juga tidak bisa merasakan sentuhan namja yang aku sayangi, hanya indra pendengaranku saja yang berfungsi walau hanya sebentar karena aku masih bisa mendengar suara Leeteuk yang terus memanggil namaku.

            “Gomawoe oppa… selamat tinggal…”

           Beberapa detik atau menit atau jam atau hari atau minggu atau bulan atau beberapa tahun kemudian, entahlah, aku pun tak tahu….

            Aku membuka mataku perlahan.

            “Apa ini surga?” Aku berkata dalam hati saat aku mengedarkan pandanganku, dan aku melihat hamparan ruangan putih tak berunjung. Dan aku terduduk sendirian.

            “Apa aku sudah mati?” Aku berdiri dan perlahan berjalan tanpa arah.

            Sepertinya cukup lama aku berjalan, tapi aku tetap tidak menemukan ujung dari ruangan putih besar ini. Sedetik kemudian mataku terasa silau. Ada cahaya yang sangat terang didepanku. Akupun berjalan perlahan menuju cahaya itu. Hampir setengah jarakku dengan cahaya itu sebelum aku berhenti karena mendengar suara lembut yang memanggil namaku.

            “Jungshin-ah… kembalilah!!!” Seru suara itu.

            Aku menengokkan kepalaku untuk mencari sumber suara itu. Aku menemukannya, sosok itu berdiri ditempat aku pertama kali membuka mataku tadi. Aku pun mendekati sosok itu. Entahlah, aku hanya merasa ada yang mendorongku untuk mendekatinya.

            Sekarang aku bisa melihat sosok itu dengan jelas saat jarak kami semakin dekat. Dia adalah seorang namja. Aku pikir dia itu seorang malaikat karena wajahnya tampan sekali. Tapi aku meragukannya. Mana ada malaikat berambut pirang gelap dan memakai kemeja dan celana walaupun berwarna putih. Lagipula dia tidak mempunyai sayap.

            “Jebal… kembalilah Jungshin-ah…” Namja itu tersenyum lembut dan mengulurkan tangannya. Namja itu manis sekali dengan lesung pipi saat dia tersenyum.

            “Tapi aku harus pergi kecahaya itu…” Ujarku menunjuk cahaya diujung lorong, tapi kini cahaya itu tak seterang tadi.

            “Andweee… belum waktunya kau kesana… Banyak yang harus kau lakukan terlebih dahulu.” Jawab namja itu menarik tanganku dan menuntunku berjalan kearah sebuah pintu besar berlapis emas.

            “Kajja… kita pergi dari sini..” Namja itu membuka pintu besar dengan sekali dorong.

Akupun menurutinya dan melangkahkan kakiku ke balik pintu itu. Namja itu kembali tersenyum, dan sedetik kemudian dia mendorongku. Semuanya menjadi gelap, aku tak bisa merasakan apapun. Aku hanya bisa merasakan tubuhku yang terhempas ke bawah, jatuh tanpa tahu akhirnya…

Leeteuk POV

            “ANDWEEEEE…..”

            “Hyung… ada apa!!! Apa kau bermimpi buruk???”

            Aku masih terengah-engah. Jantungku berdetak dengan kencang. Aku melihat sekelilingku dan hanya menemukan Donghae yang terlihat khawatir melihatku terbangun tiba-tiba.

            “Hyung… gwencana?” tanyanya lagi.

            “Ne… ne… gwencana…”

            “Mimpi apa kau Hyung? Lihatlah kau sampai basah kuyup seperti itu.”

            “Mollayo…”

            Aku juga tidak tahu apa yang terjadi. Mimpi itu terasa sangat nyata. Aku juga bisa merasakan hatiku sakit, tanpa tahu sebabnya.

            Dalam mimpiku, aku berdiri sendirian disebuah lorong. Dan aku mendengar suara itu, suara seorang yeoja.

            “Oppa… Oppa…”

            Aku berlari mencari suara itu. Dan pencarianku terhenti saat aku melihat sosok seorang yeoja berambut pendek tersenyum manis padaku.

            “Oppa… kau datang…”ujar yeoja itu.

            Aku tidak tahu siapa dia sebenarnya, tapi kakiku berlari tanpa kusuruh. Aku berlari ke arahnya dan memeluk yeoja itu. Entahlah aku merasa sangat merindukannya.

            “Gomawoe oppa… akhirnya kau menemukanku.” Ujar yeoja itu dan membalas pelukanku.

            “Kumohon jangan pergi lagi…” Aku juga tidak tahu mengapa aku mengucapkan kata-kata itu.

            Yeoja itu melepaskan pelukanku dan tersenyum. Dia menciumku lembut.

            “Gomawoe…”Yeoja itu lagi-lagi tersenyum dan mundur meninggalkanku.

            “Ya~~~ “

            Aku berlari mengejarnya, tapi semakin aku mempercepat langkahku, yeoja itu terlihat semakin jauh…

            “ANDWEEEEE…” Yeoja itu menghilang diujung lorong walaupun aku berteriak mencegahnya  pergi.

Sebulan kemudian, di lokasi syuting Super Junior Foresight

Author POV

            “Arrrrghhhhhh…” Seorang namja berambut pirang gelap menjerit kesakitan memegang jari kelingkingnya.

            “Ya~~ Leeteuk Hyung… gwencana?”

            “Aishhhhh… kelihatannya kelingkingku patah.”

            “Mwo??? Jinjja? Jebal pergilah ke Rumah Sakit.”

            “Ne… aku akan pergi setelah syuting ini selesai.”

            “Aishhhh kau ini memang ceroboh Hyung… berkali-kali kau melukai dirimu sendiri.”

            “Hahaha… mollayo Eunyhuk-ah… aku memang tidak beruntung.”

            “Apa perlu kutemani kau ke Rumah Sakit?”

            “Ya~~ apa kau lupa umurku sudah 28 tahun??? Aku bisa pergi sendiri.”

            “Hahaha.. arraseo… berhati-hatilah nanti”

Seoul Hospital,

            “Tok.. Tok…” terdengar suara pintu ruang periksa diketuk.

            “Ne… masuklah.”

            “Annyeong Dokter Han…”

            “Aigooo… Jungshin-ah… tumben kau kemari… apa ada masalah?”

            “Aniya… aku hanya ingin memberimu ini…” Ujar yeoja berambut pendek memakai piyama Rumah Sakit menyerahkan sebuah bungkusan.

            “Mwo? apa ini?”

            “Sebentar lagi aku bisa keluar dari Rumah Sakit. Jadi sebagai ungkapan terima kasih, aku membuat album foto khusus untukmu Dokter, agar kau tidak merindukan pasienmu ini.” Jawab yeoja itu ceria.

            “Aigoooo… ini semua hasil fotomu selama ini Jungshin-ah?” Tanya Dokter Han saat membuka lembaran demi lembaran dalam album itu.

            “Ne… setidaknya aku masih bisa melakukan hobiku selama aku dirawat disini.”

            “Bagus sekali Jungshin-shii… kau harus membuka galleri foto setelah keluar dari Rumah Sakit…”

            “Hahaha… itu memang rencanaku sejak awal. Dengan kondisiku sekarang aku bisa melakukan apapun.”

            “Ne… untunglah operasi pengangkatan kankermu berhasil. Sungguh keajaiban bisa melihatmu seperti sekarang. Kau tahu sebelum operasi seluruh staff dokter pasrah dengan kondisimu waktu itu.”

            “Jeongmal kamsahamnida Dokter Han kau telah berusaha menyembuhkanku.” Jungshin membungkukkan badannya.

            “Aniya… ini semua juga berkat doa seluruh orang yang menyayangimu dan juga semangatmu untuk terus hidup. Kau yeoja yang penuh semangat Jungshin-ah…”

            “Hahahaha… gomapsimnida Dokter Han… Ah ya aku juga membuatkan rangkaian bunga untukmu.” Ujar Jungshin memperlihatkan sebuah vas yang telah berisi mawar putih yang indah.

            “Omo… Omo… kau ini sungguh pasien yang kreatif. Bisa kau letakkan diatas lemari itu Jungshin-ah?”

            “Ne.. tentu saja.” Jungshin tersenyum cerah.

            “Tok.. Tok…” Lagi-lagi pintu ruang periksa itu kembali diketuk selagi Jungshin menata rangkaian bungnya.

            “Ne.. masuklah..”

            “Annyeong Dokter Han…” Sapa seorang namja berambut pirang gelap.

   “Ahhh Leeteuk-shii…” jawab dokter Han.

“Apa yang terjadi padamu sekarang? Apa punggungmu terasa nyeri lagi?” tanya Dokter Han pada namja itu.

“Aniya… kali ini jari kelingkingku patah.” Jawab Namja itu memperlihatkan jari kelingkingnya yang sedikit bengkok.

“Aigoo… Aigooo… kenapa bisa jarimu ini patah??? Apa kau melakukan hal yang ekstrim saat syuting???

“Baiklah Dokter, aku sudah meletakkan bungnya disana.” Ujar Jungshin memotong pembicaraan kedua namja diruangan itu.

“Omo… Mianhae…” Jungshin menyadari kesalahannya.

Jungshin POV

            “Omo… Mianhae…” Aku baru sadar ada pasien lain yang ada diruangan ini.

   Aku melihat namja yang duduk dikursi itu. Mataku tak berkedip saat melihat namja itu. Aku seperti melihat malaikat. Rambutnya yang pirang gelap terlihat cocok dengan kulitnya yang putih. Dan senyumnya itu… Senyum dengan lesung pipi kecil… adalah seorang senyum malaikat. Aku sedikit tersentak melihat namja itu. Sepertinya aku mengenalnya. Namja itu sepertinya tidak asing. Aku benar-benar tidak asing melihat seyuman itu.

Leeteuk POV

            Yeoja itu menatapku tanpa berkedip. Yeoja itu sepertinya adalah seorang pasien karena dia memakai piyama putih dengan bunga-bunga kecil, sama seperti piyama yang aku pakai saat Super Junior mengalami kecelakaan waktu itu. Saat aku harus diopname dan menerima puluhan jahitan dipunggungku ini.

 Aku tersenyum melihat yeoja itu masih fokus menatapku. Tapi semakin lama aku memperhatikannya, aku seperti pernah bertemu dengannya, entahlah, tapi aku tidak asing melihat wajahnya yang gugup itu.

            “Ahhh… chosonghamnida aku mengganggu kalian. Dokter Han sebaiknya aku pergi.” Ujar yeoja itu setelah melepaskan pandangannya dariku.

            “Annyeonghigaseo…” yeoja itu membungkukkan badannya dan tersenyum padaku.

            “Leeteuk-shii… Ya~~ Apa kau masih sadar???” Dokter Han mengagetkanku. Aku tidak sadar aku masih menatap pintu yang ditutup oleh yeoja itu.

            “Yeoja tadi, nugu?” tanyaku pada Dokter Han.

         “Owh… Dia Jungshin, pasien di sini. Dia itu sakit kanker otak, tapi dia telah sehat sekarang. Kankernya 100% telah hilang. Wae? Apa kau mengenalnya?”

            “Andwee… “ Tapi aku masih tidak bisa melupakan senyumannya tadi, senyuman itu terasa sangat familiar.

            “Jadi… sepertinya jarimu harus digips dan diperban Leeteuk-shii.”

            “Leeteuk-shii?” Dokter Han memanggilku lagi. Pikiranku benar-benar terfokus pada yeoja tadi.

            “Ahhh… chosonghamnida Dokter Han… aku permisi sebentar…”

            Senyuman itu benar-benar melekat diotakku. Aku berdiri dari kursiku dan bergegas keluar ruangan meninggalkan Dokter Han yang bingung melihat reaksiku. Aku berlari dilorong Rumah sakit berusaha mencari yeoja itu lagi. Aku ingat, lorong ini adalah lorong yang ada dalam mimpiku, hanya saja lorong ini tidak sepi seperti dalam mimpiku. Aku tahu banyak mata yang menatapku. Aku tidak peduli apakah mereka menatapku karena melihat seorang namja yang berlari-lari kebingungan, atau mereka menatapku karena mereka mengenalku sebagai seorang idola. Tujuanku saat ini hanya satu, menemukan yeoja itu, tanpa ada alasan yang masuk akal.

            Nafasku tersengal-sengal, aku menengok kanan kiri berharap menemukan yeoja itu. Tapi nihil. Ditambah lagi, banyak pasien yeoja yang memakai piyama yang sama. Sudah 5 kali aku salah orang. Aku kembali berlari ke ujung lorong.

            “Gubrakkkkkk….”

            Sepertinya aku menabrak seseorang.

            “Awwwwww….” orang yang aku tabrak ternyata seorang yeoja dan dia merintih memegang lengannya..

            “Chosonghamnida… aku menabrakmu. Gwencana?” Aku berusaha membantunya berdiri.

            “K… Kau???” Aku kaget melihat yeoja yang aku tabrak itu adalah yeoja yang sedang aku cari. Yeoja itu juga terlihat kaget saat melihatku.

Author POV

            Terlihat namja berambut pirang gelap dan yeoja berambut pendek saling bertatapan dilorong Rumah Sakit.

            “Apa aku mengenalmu???” Seru namja dan yeoja itu bersamaan.

            “Hahahahaha….” Lagi-lagi keduanya tertawa bersamaan.

            “Mianhae… kau sepertinya tidak asing… entahlah mungkin kita pernah bertemu disuatu tempat.” Ujar Namja itu masih sedikit tertawa.

            “Aku juga tidak asing melihatmu… mungkin kita bertemu saat kau ke rumah sakit ini. Karena hampir separuh hidupku menetap di Rumah Sakit ini.”

            “Jinjja??? Aneh sekali..” Namja itu menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

            “Chonun Jungshin-imnida…” Yeoja itu membungkukkan badan dan memperkenalkan dirinya.

            “Ne… Park Jungsoo-imnida… tapi aku lebih sering dipanggil Leeteuk.” Namja itu juga membungkukkan badannya memperkenalkan diri.

            “Leeteuk-shii… mannaseo pangapsumnida…” Jungshin tersenyum

            “Nado mannaseo pangapsumnida Jungshin-shii…” Leeteuk juga tersenyum memperlihatkan lesung pipinya.

            Keduanya kembali tertawa melihat tingkah mereka satu sama lain. Namja dan yeoja itu terlihat asik mengobrol dan bersamaan melangkahkan sepasang kaki mereka pergi. Pergi ke arah lorong, lorong kehidupan yang masih panjang untuk mereka lalui.

THE END

 

 Nah ni jari kelingking Teukie yang patah… Hadehhhh aneh2 bgt ni oppa emang…

Note :
Oppa.. jagimu ini mau berhiatus sebulan…
Tolong berikan semangat buat belajar hikssss…
My Angel… My Fishy… author bakalan merindukan kalian…

Bagi para readers…
Author bener2 mohon doanya biar bisa lulus ujian komprehensif bulan Mei bsk…
Hikssssss….
Gomawoeeeeee semuaaaaa….