Hae Couple Intermezzo

Kenapa judulnya Intermezzo?

Yah karena author bikinna intermezzo (?)

Gak da kerjaan dimalam hari, akhrinya iseng bikin Hae Couple (lagi)

Dan menurut author ni FF geje, beneran gak jelas…

Jadi author sangat sangat berterima kasih pada pihak-pihak yang mau bersedia

meluangkan waktunya yang berharga hanya demi membaca FF Geje Auhtor Ini..

Demi kemajuan dan perkembangan fishyangel.wordpress.com

comment sangat dianjurkan…

Gomawoe readers semua!!! *Kiss Love and Gaeol

 

Cute Baby as Park Chae Kyung

 

Super Junior’s Apartment,

“Hyung… sebaiknya aku membeli boneka barbie atau teddy bear?” Tanya Donghae pada Hyungnya sambil memutar-mutar gelas yang sedari tadi digenggamannya.

“Mwo? Menurutku lebih baik belikan bunga mawar seperti biasanya.” Jawab Leeteuk

“Andwe…”

“Wae? Bukankah boneka barbie dan teddy bear itu terlalu kekanak-kanakan untuk Shinhae?”

“Aniya… itu bukan untuk Shinhae.” Jawab Donghae dengan santainya

“Mwo???? Jangan bilang kau membelikannya untuk wanita lain!” Botol Juice yang baru akan dituangkan ke dalam gelasnya hampir saja terlepas dari genggaman tangannya.

“Tentu saja tidak. Lebih tepatnya yeoja yang akan menjadi seorang wanita.” Donghae meneguk juicenya santai tanpa menghiraukan ekspresi Leeteuk yang terlihat kaget.

“Ya~~~ kau… kau selingkuh??? Apa kau sudah gila!” Leeteuk membelalakkan matanya, tak habis pikir dengan dongsaengnya yang satu ini.

“Hyung!!! Kenapa kau berteriak padaku??? Mana berani aku berselingkuh!”

“Arraseo… kau akan mati seketika jika kau berani selingkuh darinya. Akan kupastikan kau mati ditanganku!” Ujar Leeteuk mengepalkan tangannya tepat di depan wajah Donghae.

“Hyung… aku akan mati terlebih dahulu di tangan Shinhae.”

“Ne kau benar. Lalu… siapa wanita yang kau maksud?” tanya Leeteuk semakin penasaran

“Ahh itu… Kau tahu kan Sepupu Shinhae yang tinggal di Jepang itu?”

“Hmm… Dong Wook hyung? Wae? Dia kembali?”

“Ne… seminggu yang lalu dia pulang ke Korea, tapi karena masih ada urusan di Jepang dia dan istrinya harus kembali ke Jepang sebentar, Jadi anak mereka, Chae Kyung dititipkan pada Shinhae.” Ujar Donghae panjang lebar.

“Arraseo… jadi kau ingin membelikan Chae Kyung hadiah?”

“Ne… Kau harus bertemu anak itu hyung… jeongmal Kyeopta!!!”

“Aissshhhh kau ini… dasar pedophile.”

“Kau akan menarik kata-katamu saat bertemu dengannya Hyung.” Ujar Donghae membela diri.

“Shinhae akan cemburu bila mendengarnya hahahahahaha…”

 

Shinhae’s Apartment

“Chae Kyung-ah!!! Lihatlah Oppa membawakanmu sesuatu!!!” Seru seorang namja girang. Kedua tangannya sibuk menenteng bungkusan besar berwarna pink. Namja itu semakin girang saat seorang anak kecil berumur sekitar 4 tahun berlari kecil menyambutnya.

“Kau senang dengan hadiah oppa?”

“Ne!!!” Seru Chae Kyung sibuk membongkar hadiahnya.

“Oppa? Donghae oppa… bukankah kau terlalu tua untuk dipanggil oppa oleh Chae Kyung?” Ujar seorang yeoja yang muncul dari arah dapur. Yeoja itu tersenyum geli melihat namjachingu dan keponakannya sibuk dengan kotak-kotak mainan.

“Wae??? Aku kan awet muda. Bukankah itu yang membuatmu jatuh cinta padaku Shinhae-ya?” Donghae mengerlingkan matanya mencoba menggoda yeojachingunya itu.

“Mwoya??? Aku jatuh cinta padamu karena kau pandai sekali menggombal.” Canda Shinhae. Donghae segera membalasnya dengan kiss bye.

“Chae Kyung-ah kau harus menghabiskan makan malammu dulu. Kajjaa…” Ajak Shinhae berusaha mengalihkan perhatian keponakannya itu dari boneka barbie barunya.

“Ahjumma… aku sudah kenyang.” Jawab Chae Kyung tanpa menoleh pada bibinya itu. “Chae Kyung-ah… sebaiknya sekarang kita makan malam bersama. Setelah itu oppa akan menemanimu bermain lagi. Kau mau kan?” Ujar Shinhae lembut. Tapi ajakannya lagi-lagi hanya disambut dengan gelengan kepala.

 

Melihat reaksi Chae Kyung, Shinhae dan Donghae saling berpandangan. Donghae terkikik pelan dibuatnya, tapi itu tak berlangsung lama setelah Shinhae memelototinya. Sadar akan kesalahannya itu, Donghae mulai mengeluarkan jurusnya untuk membujuk Chae Kyung.

“Ne… nanti ahjumma juga akan ikut bermain bersama kita. Lihatlah barbienya kelihatan lapar. Dia akan kenyang kalau melihat pemiliknya makan dengan lahap.

“Jinjjayo?” tanya Chae Kyung polos

“Tentu saja. Apa kau tidak percaya pada oppa tampan ini?” Ujar Donghae berusaha meyakinkan Chae Kyung.

“Jadi, aku harus makan sekarang?”

“Ne… kajja…” Jawab Shinhae mengelus pelan kepala Chae Kyung.

“Atau kau ingin oppa suapi?” tanya Donghae tiba-tiba. Chae Kyung menganggukkan kepalanya tanda setuju.

“Dasar kau ini hahaha…” Shinhae mencubit pelan lengan Donghae dan kembali ke Dapur mengambil makan malam untuk Chae Kyung.

 

Chae Kyung terlihat girang memainkan boneka-boneka barunya setelah makan malamnya selesai. Suara tawa anak kecil bercampur dengan suara tawa namja yang ikut bermain bersamanya.

“Lihatlah… sepertinya kau lebih senang dari pada Chae Kyung.” Ujar Shinhae geli melihat tingkah laku namjanya itu.

“Tentu saja… aku tidak bisa seperti ini setiap hari.”

“Aku bertaruh pasti kau akan menangis saat Chae Kyung pulang nanti hahaha…” Goda Shinhae yang tengah sibuk mengupas buah untuk keponakan kecil dan namjanya itu.

“Ya~ aku tidak secengeng itu! Lagipula Chae Kyung akan sering main ke sini. Benarkan sayang???” Donghae mencubit pipi merah Chae Kyung perlahan.

“Oppa… kau terlalu berhalusinasi.”

“Chae Kyung-ah…. apa kau sayang pada oppa?” tanya Donghae berharap.

“Ne… “ Jawab Chae Kyung singkat, masih sibuk memakaikan baju pada barbie pirangnya.

“Chae Kyung-ah… kau lebih sayang ahjumma kan?” Seru Shinhae dari balik dapur

“Ne… Ahjumma… You are my everything….” Jawab Chae Kyung sedikit terbata-bata. Dan itu membuat Shinhae bersorak girang. Sedangkan Donghae memanyunkan bibirnya karena merasa kalah.

“Chae kyung-ah kenapa kau lakukan ini pada oppa? Bukankah oppa sudah membelikanmu banyak hadiah???” Ujar Donghae kecewa.

“Kau pikir Chae Kyung bisa disuap dengan hadiah??? Dia kan pintar sepertiku oppa.”

“Mwo??? Aku hanya perlu membelikanmu setangkai mawar untuk membuatmu jatuh cinta kepadaku.” Ujar Donghae tak mau kalah.

“Aishhhh… lihatlah… kau lebih kekanakan dari Chae Kyung.” Goda Shinhae lagi.

“Chae Kyung-ah… ahjummamu itu jahat sekali pada oppamu ini…” Donghae memasang mimik menangis. Chae Kyung, tanpa mengerti apa yang sedang terjadi, menepuk-nepuk tangan Donghae seakan menenangkan Ahjussie yang hanya mau dipanggil oppa itu.

“Shinhae-ya… kau lihat… Chae Kyung membelaku. Omo… kau sungguh malaikat kecil Chae Kyung-ah… Aku harap anak kita nanti bisa selucu dan berhati malaikat seperti Chae Kyung.”

“Kita?” Shinhae terlihat kaget.

“Wae? Kenapa ekspresimu seperti itu?”

“Kau bilang anak kita?” tanya Shinhae memastikan.

“Tentu saja anak kita, mau anak siapa lagi!”

“Omo… apa aku pernah bilang ingin punya anak darimu oppa?”

“Ya~~ kau pikir kau ingin punya anak dari siapa??? Kau pikir aku akan mengizinkanmu punya anak dari orang lain!!!”

“Sssstttt… jangan berteriak. Ada Chae Kyung disebelahmu..”

“Kau yang membuatku kesal Shinhae-ya!!!” Ujar Donghae mengecilkan suaranya.

“Aniya… aku hanya terkejut kau membicarakan hal seperti itu.”

“Wae??? aku senang membicarakan masa depan kita.”

“Arraseo… tapi bukankah kau sudah menikah sekarang…” Ujar Shinhae tanpa menoleh pada Donghae.

“Menikah? Apa maksudmu?”

“Omo bagaimana kau bisa lupa telah menikah dengan artis itu…”

“Artis??? Aigooo… maksudmu Eun So? Ya~~ kau kan tahu itu hanya variety show…

“Aku tahu itu… tapi kalian terlihat serasi bersama. Anak kalian pasti lebih lucu dari Chae Kyung.” Ujar Shinhae dengan nada datar.

“Ya~~~ kau yang mengizinkanku ikut WGM (We Got Married), dan sekarang kau mempermasalahkannya! Kau mulai cemburu?”

“Untuk apa aku cemburu…Melelahkan.”

“Tapi kau….” Belum sempat Donghae melanjutkan kata-katanya, Shinhae segera menyuapkan sepotong melon ke dalam mulutnya.

“Chae Kyung-ah.. aaaaaaaaaa…..” Kini Shinhae menyupkan sepotong lagi ke mulut Chae Kyung.

Donghae hanya bisa menghela napas melihat tingkah Shinhae yang tiba-tiba berubah.

“Aku hanya bercanda. Tentu saja hanya anakku yang nantinya akan menyebutmu Appa.” Ujar Shinhae pelan, menatap Donghae dengan senyuman tersungging diwajahnya.

Entah karena terpesona dengan yeojanya itu, atau karena terbawa suasana, tanpa memperdulikan kehadiran anak kecil disampingnya, Donghae menempelkan telapak tangannya ke pipi Shinhae dan menariknya perlahan hingga keduanya wajah mereka saling berdekatan. Dengan lembut Donghae mencium Shinhae.

“Oppa!!!” Shinhae yang baru menyadarinya langsung mendorong tubuh donghae perlahan.

“Ya~~~ apa kau lupa ada Chae Kyung disini!!!” lanjut Shinhae panik.

“Popo (cium)??? Celetuk Chae Kyung dengan wajah polosnya.

“Hahahaha…” Tawa Donghae meledak.

“Omo… Omo… Mianhae Chae Kyung-ah…” Shinhae semakin panik.

“Chae Kyung-ah… kau mau oppa cium juga?”

“Ya~~~ Oppa!!!” Seru Shinhae menjitak kepala Donghae. Chae Kyung tertawa melihatnya.

“Hahaha kita benar-benar seperti keluarga yang bahagia.” Donghae tertawa puas dan segera menggendong Chae Kyung kedalam pangkuannya.

“Chae Kyung-ah… apa kau mau jika aku dan Shinhae menjadi appa dan ommamu?” lanjut Donghae.

“Ne… Donghae Appa… Shinhae Omma… jeongmal Sarangheyooo…” Seru Chae Kyung walaupun masih terbata-bata. Tapi itu membuatnya semakin menggemaskan.

“Omo… Nado sarangheyooooo…” Ujar Donghae dan Shinhae bersamaan sambil memeluk Chae Kyung.

“Shinhae-ya… saranghae..” Bisik Donghae

“Nado oppa…”

 

THE END

Second Chance (Final Part)

Tik.. Tok.. Tik.. Tok.. Waktu masih berjalan rupanya…

Hmmm… ini adalah FF terakhir Auhtor sebelum hiatus..

Huwaaaaa… author jadi sedihhh, tak bersemangat…

Jeongmal Mianhae klo ceritanya masih amburadul dan aneh seperti part sebelumnya..

Author ngebut ini bikinnya hahaha…

Sudahlah sebelum author menangis hrs meninggalakan kegiatan perFFan,

silahkan anda membaca karya terakhir author…

(Note: sepertinya ini blm bisa dikatakan final hehe)

Mohon commentnya…

Kamsahamnida…

  

Leeteuk POV

            Masih terekam jelas dalam ingatanku saat kejadian tadi malam. Saat Jungshin terlihat ketakutan, saat Jungshin berada dalam pelukanku menangis. Sikapnya memang sangat aneh. Seakan dia akan benar-benar pergi jauh, dan aku tidak bisa bertemu dengannya lagi.

            “Hyung… Gwencana??? Kau tidak ke kamar tadi malam? Jangan-jangan kau tidak tidur?” Aku masih terdiam mendengar pertanyaan Donghae.

            “Ya~~ Hyung ada apa denganmu? Eunhyuk bilang kau tidak siaran tadi malam. Apa terjadi sesuatu?”

            “Mianhae… aku benar-benar sibuk tadi malam…” jawabku datar.

            “Aishhhh… Hyung kau seperti mayat hidup. Jebal katakan apa yang sebenarnya terjadi?”

            “Dia akan meninggalkanku Donghae-ya…”

            “Nugu?”

            “Padahal aku belum sempat mengungkapkan perasaanku…”

            “Ya~~ Hyung… nugu? Suster itu?”

            “Aku masih bisa merasakan tubuhnya berada dalam pelukankku…”

            “Mwo? Kau memelukknya?”

            “Tapi dia bilang tidak bisa bersamaku… Aku bisa gila dibuatnya… Eottokae Donghae-ya!!!” Aku menguncang-guncangkan dongsaengku itu.

            “Jinjja? Dia bilang begitu? Padahal kau belum mengungkapkan isi hatimu Hyung?” Aku mengangguk pelan.

            “Kalau begitu kau harus menemuinya lagi dan membuat suatu hal yang romantis hingga membuatnya tersentuh dan menerimamu Hyung..”

            “Ne… kau benar… aku harus melakukannya sekarang.”

            “Andweee… tidak bisa hari ini Hyung.” Donghae menahanku yang siap berdiri dari sofa.

            “Wae??”

            “Kita harus bersiap-siap. Siang nanti kita harus ke Thailand.”

            “Mwo? Thailand?”

            “Aigoooo… cinta memang telah membuatmu lupa segalanya Hyung… Super Show Hyung… apa kau lupa!!!”

            “Ahhhh… ya… aku benar-benar lupa”

            “Aishhhh… sebaiknya kau memikirkan rencananya dengan matang Hyung. Jadi kau bisa menemuinya langsung setelah kembali ke Korea nanti.”

            “Ya~~ aku dinasehati oleh dongsaengku sendiri… Kau ini memang seorang player Donghae-ya… kasihan Shinhae harus bersamamu hahahaha…”

            “Ya~~~ awas kau Hyung!!!”

Jungshin POV

Beberapa hari kemudian,

            “Jungshin-ya… semakin lama kau terlihat pucat. Gwencana?”

            “Gwencana Sooyoung-ah… migranku akhir-akhir ini sering kambuh.”

            “Aigooo… sebaiknya kau periksakan ke Dokter Han.”

            “Andweeee… aku cukup minum obat.” Tentu saja aku tidak perlu ke Dokter Han. Aku sendiri sudah tahu sakit apa yang menimpaku. Sakitnya sama persis seperti dulu.

            “Kau memang keras kepala… atau jangan-jangan migranmu kambuh karena terlalu banyak memikirkan Park Jungsoo???”

            “Hahahaha aniya…”

            Ya, aku juga memikirkannya. Aku merasa bersalah jika mengingat wajahnya waktu itu. Aku masih ingin berada dalam dekapannya, aku masih ingin melihat senyumannya, dan mendengar suara tawanya yang khas. Tapi aku tidak bisa, aku akan menyakitinya jika aku lebih dekat dengannya.

            Mulai detik ini, aku harus mulai menjauh dari orang-orang yang kusayangi. Aku tidak mau melihat mereka menangis waktu aku pergi nanti. Aku masih terbayang dengan mimpiku itu. Aku menangis bila mengingatnya. Aku pun menangis tadi malam, saat aku menemui omma yang sangat aku cintai.

Flashback

            “Omma… apa kau menyayangiku?”Tanyaku saat tidur dipangkuannya

            “Aigooo… pertanyaan macam apa itu? Mana ada orangtua yang tidak menyayangi anaknya?” Omma menjitak kepalaku lembut

            “Apa kau akan sedih jika aku pergi?”

            “Aigoooo… ada apa denganmu? Kau aneh sekali…”

            “Aniya… jebal jawablah… apa kau akan sedih jika aku pergi selamanya?”

            “Tentu saja anak bodoh… Omma tidak akan memaafkanmu jika kau pergi meninggalkan omma sendirian.”

            “Mianhae omma…” Aku memeluknya erat.

            “Ya~~ kenapa kau ini? Apa kau akan pergi?”

            “Hehehe.. aniya… itu hanya permisalan… Aku tidak akan pergi dari sisimu omma.”

            “Jangan pernah membuat ommamu ini sedih… Arraseo?”

            “Ne… Arraseo…”

Siang hari,

Author POV

            Seorang yeoja terlihat tergopoh-gopoh berlari masuk ke dalam ruang suster mencari chingunya.

            “Jungshin-ah… jebal… gawat…” Seru yeoja itu terbata-bata

            “Wae? Wae Sooyoung-ah?”

            “Leeteuk-shii… Leeteuk-shii…!”

            “Wae? Kenapa dengan Leeteuk?” Jungshin terlihat panik mendengar nama itu.

            “Dia… sekarang ada dikamar pasien.”

            “Mwo? Dia sakit?”

            “Jebal… kau pergi kesana. Ke kamar no 62…”

Jungsin POV

            Segera aku meninggalkan dokumen-dokumen pasien yang sedang kuperiksa dan berlari ke kamar 62, tempat Leeteuk berada. Aku tidak tahu apa yang terjadi padanya. Aku tidak bisa membayangkan wajah Leeteuk yang kesakitan seperti waktu itu.

            “Awwwww…” Tiba-tiba saja rasa sakit itu datang lagi. Aku memegang kepalaku. Jarum-jarum itu kini datang lagi ke dalam otakku.

            “Kumohon sebentar lagi… biarkan aku menemuinya sekali ini saja.” Aku memohon pada Tuhan.

            Mungkin Tuhan mendengar permintaan terakhirku ini. Aku memejamkan mataku dan perlahan rasa sakit itu berkurang.

            “Gomawoe…” Ujarku dalam hati. Aku pun melanjutkan langkahku menuju kamar 62.

            Hatiku berdebar saat memutar kenop pintu. Aku takut melihat ke dalam.

            “Oppa…” Hatiku kini rasanya lepas dari nadinya saat aku melihat namja dengan senyum malaikat itu tergeletak di atas ranjang, matanya tertutup.

            “Dokter… apa yang terjadi padanya?” Aku bertanya pada Dokter Han yang berdiri disamping ranjang.

            “Mendekatlah Jungshin-shii…” Dokter Han tidak menjawab pertanyaanku.

            Akupun mendekatkan diri ke ranjang. Aku meraih jemarinya yang terkulai lemas.

            “Jungshin-ah… kau datang…” Ujar Leeteuk lirih saat membuka matanya dan melihatku.

            “Ne… aku ada disini Oppa… Apa yang terjadi padamu? Gwencana?” Aku menempelkan gengaman tangannya ke pipiku.

            “Aniya… rasanya aku sakit.”

            “Mwo? mana yang sakit? Dokter Han.. tolong sembuhkan Leeteuk-shii…” Ujarku panik.

            “Mianhae… aku tidak bisa menyembuhkannya Jungshin-shii…”

            “Mwo??? Wae??? Apa separah itu sampai Dokter tidak bisa menyembuhkannya?” Aku semakin panik. Aku melihat Leeteuk lagi, kini matanya kembali tertutup.

            “Ne… aku tidak bisa menyembuhkannya… penyakit ini terlalu kompleks… Hanya satu orang yang bisa menyembuhkannya.”

            “Nugu? Nugu? Aku akan mencarinya sekarang dokter.”

            “Kau tidak perlu mencarinya Jungshin-shii… dia sudah ada disini.”

            Aku semakin bingung mendengar perkataan Dokter Han, karena selain kami bertiga, tidak ada seorangpun diruangan ini.

            “Nugu?” Aku benar-benar bingung dan panik. Air mataku mulai tergenang

            “Kau” Jawab Dokter Han menunjukku.

            “Mwo? Aku? Bagaimana… bagaimana bisa aku menyembuhkannya?”

            “Katakan bahwa kau tidak akan meninggalkanku, maka sakitku akan hilang.” Ujar Leeteuk, kali ini suaranya tidak seperti tadi, kali ini suaranya seperti menahan tawa.

            “Mwo??? Apa yang terjadi? Apa kalian mengerjaiku!!!” Seketika aku berdiri dan melepaskan genggaman tanganku melihat Leeteuk dan Dokter Han yang tersenyum geli padaku.

            “Katakanlah kau tidak akan meniggalkannya Jungshin-shii… Kau tidak lihat wajahnya sudah memelas seperti itu..” Ujar Dokter Han menahan tawa.

            “Ne… aku tidak akan bangun dari ranjang ini sebelum kau mengatakannya Jungshin-ah…” sambung Leeteuk

            “Ya~~ Oppa!!! Tega-teganya kau mengerjaiku!!!” Tidak hanya kesal, aku juga malu. Benar-benar malu. Tanpa bisa ditahan air mataku jatuh.

            “Ya~~ Leeteuk-shii kau telah membuat anak orang menangis.”

            Aku melihat Leeteuk terburu-buru menyibakkan selimutnya dan turun dari ranjang, meraih tanganku dan memelukku.

            “Mianhae Jungshin-ah… Apa aku keterlaluan?” Tanyanya, aku hanya mengangguk pelan.

            “Jeongmal minhae…”

            “Aissshhhh… saatnya aku pergi… bersenang-senanglah anak muda hahaha.”

            “Kau keterlaluan oppa…” Ujarku saat Dokter Han pergi.

            “Mianhae… hanya ini satu-satunya cara membuatmu berada dalam pelukanku dan menghentikanmu untuk pergi dariku.”

            “Jangan pernah lakukan hal ini lagi. Aku takut melihatmu tergeletak tak bergerak tadi!!!”

            “Hahaha… tapi aku benar-benar akan tergeletak seperti itu jika kau meninggalkanku.”

            “Wae?”

            “Karena aku ingin bersamamu selamanya… Aku ingin kau menjadi susterku selamanya… karena aku mencintaimu… Saranghae Jungshin-ah…” Leeteuk menatapku lembut dan menyunggingkan senyum malaikatnya lagi.

            “Oppa…”

            “Ya~ Kenapa memanggilku… kau harusnya bilang… nado saranghae oppa”

            “Hahaha… aku tidak mau mengatakannya”

            “Wae??? Wae??? Apa cintaku bertepuk sebelah tangan?”

            “Aniya… aku hanya ingin menghukummu karena kau mengerjainku tadi. Jadi aku tidak akan mengucapkan kata-kata yang sangat kau inginkan itu.” Aku tersenyum melihat raut wajah Leeteuk yang cemberut.

            “Aissshhhh… arraseoo… aku akan memelukmu sampai kau mengatakannya.” Namja dihadapanku itu kembali menarikku dalam pelukannya.

            Aku merasa sangat bahagia berada dalam pelukannya. Pelukan seorang malaikat. Aku pun berdoa agar aku bisa berada dalam pelukan namja yang aku cintainya ini selamanya. Tapi, sepertinya kesempatan doaku untuk dikabulkan lagi telah habis.

            “Arrrrgghhhhhh…” Aku melepaskan pelukan Leeteuk. Aku merintih kesakitan.

            Kali ini bukan hanya jarum dan paku yang menghantam kepalaku. Sepertinya ada martil besar yang berkali-kali menghantam kepalaku. Rasanya sebentar lagi kepalaku akan pecah.

            “Jungshin-ah… ada apa denganmu?” Aku hanya bisa mendengar suara Leeteuk dan merasakan tangannya yang menopang tubuhku yang telah jatuh. Aku tidak bisa membuka mataku. Terlalu sakit untuk melakukannya.

            Aku bisa merasakan tubuhku diangkat dan dibaringkan diranjang, tempat Leeteuk tadi terbaring.

            “Bertahanlah… aku akan memanggil Dokter.” Suara Leeteuk terlihat panik. Aku berusaha meraih tangannya dan menahannya untuk pergi.

            “Andweee… tidak ada yang bisa menyelamatkanku sekarang. Ini waktunya aku pergi.” Aku berusaha bicara walaupun terengah-engah.

            “Mwo??? Kau sudah berjanji tidak akan meninggalkanku!” Leeteuk memeluku erat, suaranya bergetar.

            “Mianhae.. aku berbohong… Aku tidak bisa bersamamu oppa… “

            “Wae??? Wae???”

            “Gomawoe sudah memberikan kenangan yang indah untukku…”

            “Jungshin-ah!!” Leeteuk memegang kedua pundakku. Aku tahu dia menangis, tapi aku tidak bisa melihat wajahnya untuk yang terakhir kali.

            “Mianhae aku harus pergi sekarang… Mianhae…” Aku juga bisa merasakan air mataku mengalir, bukan air mata kesakitan, tapi air mata kesedihan.

            “Andweeee… kau tidak boleh pergi..”

            “Kau tidak boleh mencariku oppa… karena kau tidak akan bisa menemukanku lagi.”

            “Andweeee aku akan tetap mencarimu… dan aku akan menemukanmu kemanapun kau berada… kau dengar… aku tidak akan melepaskanmu!!!” Leeteuk memelukku erat.

            “ARRRGHHHHHHHH….!!!” Kali ini kepalaku benar-benar pecah. Aku tidak bisa menahannya lagi.

            “Oppa… nado saranghae…”

            Itu adalah kata-kata terakhir yang bisa aku ucapkan dari beribu-ribu kata yang ingin kusampaikan. Ini adalah batasnya.

            “Gomawoe Tuhan… kau telah memberikanku kehidupan yang sempurna untukku.” Ujarku dalam hati.

            Sepertinya seluruh indraku satu persatu telah dilumpuhkan. Aku sudah tidak bisa melihat, aku juga tidak bisa merasakan sentuhan namja yang aku sayangi, hanya indra pendengaranku saja yang berfungsi walau hanya sebentar karena aku masih bisa mendengar suara Leeteuk yang terus memanggil namaku.

            “Gomawoe oppa… selamat tinggal…”

           Beberapa detik atau menit atau jam atau hari atau minggu atau bulan atau beberapa tahun kemudian, entahlah, aku pun tak tahu….

            Aku membuka mataku perlahan.

            “Apa ini surga?” Aku berkata dalam hati saat aku mengedarkan pandanganku, dan aku melihat hamparan ruangan putih tak berunjung. Dan aku terduduk sendirian.

            “Apa aku sudah mati?” Aku berdiri dan perlahan berjalan tanpa arah.

            Sepertinya cukup lama aku berjalan, tapi aku tetap tidak menemukan ujung dari ruangan putih besar ini. Sedetik kemudian mataku terasa silau. Ada cahaya yang sangat terang didepanku. Akupun berjalan perlahan menuju cahaya itu. Hampir setengah jarakku dengan cahaya itu sebelum aku berhenti karena mendengar suara lembut yang memanggil namaku.

            “Jungshin-ah… kembalilah!!!” Seru suara itu.

            Aku menengokkan kepalaku untuk mencari sumber suara itu. Aku menemukannya, sosok itu berdiri ditempat aku pertama kali membuka mataku tadi. Aku pun mendekati sosok itu. Entahlah, aku hanya merasa ada yang mendorongku untuk mendekatinya.

            Sekarang aku bisa melihat sosok itu dengan jelas saat jarak kami semakin dekat. Dia adalah seorang namja. Aku pikir dia itu seorang malaikat karena wajahnya tampan sekali. Tapi aku meragukannya. Mana ada malaikat berambut pirang gelap dan memakai kemeja dan celana walaupun berwarna putih. Lagipula dia tidak mempunyai sayap.

            “Jebal… kembalilah Jungshin-ah…” Namja itu tersenyum lembut dan mengulurkan tangannya. Namja itu manis sekali dengan lesung pipi saat dia tersenyum.

            “Tapi aku harus pergi kecahaya itu…” Ujarku menunjuk cahaya diujung lorong, tapi kini cahaya itu tak seterang tadi.

            “Andweee… belum waktunya kau kesana… Banyak yang harus kau lakukan terlebih dahulu.” Jawab namja itu menarik tanganku dan menuntunku berjalan kearah sebuah pintu besar berlapis emas.

            “Kajja… kita pergi dari sini..” Namja itu membuka pintu besar dengan sekali dorong.

Akupun menurutinya dan melangkahkan kakiku ke balik pintu itu. Namja itu kembali tersenyum, dan sedetik kemudian dia mendorongku. Semuanya menjadi gelap, aku tak bisa merasakan apapun. Aku hanya bisa merasakan tubuhku yang terhempas ke bawah, jatuh tanpa tahu akhirnya…

Leeteuk POV

            “ANDWEEEEE…..”

            “Hyung… ada apa!!! Apa kau bermimpi buruk???”

            Aku masih terengah-engah. Jantungku berdetak dengan kencang. Aku melihat sekelilingku dan hanya menemukan Donghae yang terlihat khawatir melihatku terbangun tiba-tiba.

            “Hyung… gwencana?” tanyanya lagi.

            “Ne… ne… gwencana…”

            “Mimpi apa kau Hyung? Lihatlah kau sampai basah kuyup seperti itu.”

            “Mollayo…”

            Aku juga tidak tahu apa yang terjadi. Mimpi itu terasa sangat nyata. Aku juga bisa merasakan hatiku sakit, tanpa tahu sebabnya.

            Dalam mimpiku, aku berdiri sendirian disebuah lorong. Dan aku mendengar suara itu, suara seorang yeoja.

            “Oppa… Oppa…”

            Aku berlari mencari suara itu. Dan pencarianku terhenti saat aku melihat sosok seorang yeoja berambut pendek tersenyum manis padaku.

            “Oppa… kau datang…”ujar yeoja itu.

            Aku tidak tahu siapa dia sebenarnya, tapi kakiku berlari tanpa kusuruh. Aku berlari ke arahnya dan memeluk yeoja itu. Entahlah aku merasa sangat merindukannya.

            “Gomawoe oppa… akhirnya kau menemukanku.” Ujar yeoja itu dan membalas pelukanku.

            “Kumohon jangan pergi lagi…” Aku juga tidak tahu mengapa aku mengucapkan kata-kata itu.

            Yeoja itu melepaskan pelukanku dan tersenyum. Dia menciumku lembut.

            “Gomawoe…”Yeoja itu lagi-lagi tersenyum dan mundur meninggalkanku.

            “Ya~~~ “

            Aku berlari mengejarnya, tapi semakin aku mempercepat langkahku, yeoja itu terlihat semakin jauh…

            “ANDWEEEEE…” Yeoja itu menghilang diujung lorong walaupun aku berteriak mencegahnya  pergi.

Sebulan kemudian, di lokasi syuting Super Junior Foresight

Author POV

            “Arrrrghhhhhh…” Seorang namja berambut pirang gelap menjerit kesakitan memegang jari kelingkingnya.

            “Ya~~ Leeteuk Hyung… gwencana?”

            “Aishhhhh… kelihatannya kelingkingku patah.”

            “Mwo??? Jinjja? Jebal pergilah ke Rumah Sakit.”

            “Ne… aku akan pergi setelah syuting ini selesai.”

            “Aishhhh kau ini memang ceroboh Hyung… berkali-kali kau melukai dirimu sendiri.”

            “Hahaha… mollayo Eunyhuk-ah… aku memang tidak beruntung.”

            “Apa perlu kutemani kau ke Rumah Sakit?”

            “Ya~~ apa kau lupa umurku sudah 28 tahun??? Aku bisa pergi sendiri.”

            “Hahaha.. arraseo… berhati-hatilah nanti”

Seoul Hospital,

            “Tok.. Tok…” terdengar suara pintu ruang periksa diketuk.

            “Ne… masuklah.”

            “Annyeong Dokter Han…”

            “Aigooo… Jungshin-ah… tumben kau kemari… apa ada masalah?”

            “Aniya… aku hanya ingin memberimu ini…” Ujar yeoja berambut pendek memakai piyama Rumah Sakit menyerahkan sebuah bungkusan.

            “Mwo? apa ini?”

            “Sebentar lagi aku bisa keluar dari Rumah Sakit. Jadi sebagai ungkapan terima kasih, aku membuat album foto khusus untukmu Dokter, agar kau tidak merindukan pasienmu ini.” Jawab yeoja itu ceria.

            “Aigoooo… ini semua hasil fotomu selama ini Jungshin-ah?” Tanya Dokter Han saat membuka lembaran demi lembaran dalam album itu.

            “Ne… setidaknya aku masih bisa melakukan hobiku selama aku dirawat disini.”

            “Bagus sekali Jungshin-shii… kau harus membuka galleri foto setelah keluar dari Rumah Sakit…”

            “Hahaha… itu memang rencanaku sejak awal. Dengan kondisiku sekarang aku bisa melakukan apapun.”

            “Ne… untunglah operasi pengangkatan kankermu berhasil. Sungguh keajaiban bisa melihatmu seperti sekarang. Kau tahu sebelum operasi seluruh staff dokter pasrah dengan kondisimu waktu itu.”

            “Jeongmal kamsahamnida Dokter Han kau telah berusaha menyembuhkanku.” Jungshin membungkukkan badannya.

            “Aniya… ini semua juga berkat doa seluruh orang yang menyayangimu dan juga semangatmu untuk terus hidup. Kau yeoja yang penuh semangat Jungshin-ah…”

            “Hahahaha… gomapsimnida Dokter Han… Ah ya aku juga membuatkan rangkaian bunga untukmu.” Ujar Jungshin memperlihatkan sebuah vas yang telah berisi mawar putih yang indah.

            “Omo… Omo… kau ini sungguh pasien yang kreatif. Bisa kau letakkan diatas lemari itu Jungshin-ah?”

            “Ne.. tentu saja.” Jungshin tersenyum cerah.

            “Tok.. Tok…” Lagi-lagi pintu ruang periksa itu kembali diketuk selagi Jungshin menata rangkaian bungnya.

            “Ne.. masuklah..”

            “Annyeong Dokter Han…” Sapa seorang namja berambut pirang gelap.

   “Ahhh Leeteuk-shii…” jawab dokter Han.

“Apa yang terjadi padamu sekarang? Apa punggungmu terasa nyeri lagi?” tanya Dokter Han pada namja itu.

“Aniya… kali ini jari kelingkingku patah.” Jawab Namja itu memperlihatkan jari kelingkingnya yang sedikit bengkok.

“Aigoo… Aigooo… kenapa bisa jarimu ini patah??? Apa kau melakukan hal yang ekstrim saat syuting???

“Baiklah Dokter, aku sudah meletakkan bungnya disana.” Ujar Jungshin memotong pembicaraan kedua namja diruangan itu.

“Omo… Mianhae…” Jungshin menyadari kesalahannya.

Jungshin POV

            “Omo… Mianhae…” Aku baru sadar ada pasien lain yang ada diruangan ini.

   Aku melihat namja yang duduk dikursi itu. Mataku tak berkedip saat melihat namja itu. Aku seperti melihat malaikat. Rambutnya yang pirang gelap terlihat cocok dengan kulitnya yang putih. Dan senyumnya itu… Senyum dengan lesung pipi kecil… adalah seorang senyum malaikat. Aku sedikit tersentak melihat namja itu. Sepertinya aku mengenalnya. Namja itu sepertinya tidak asing. Aku benar-benar tidak asing melihat seyuman itu.

Leeteuk POV

            Yeoja itu menatapku tanpa berkedip. Yeoja itu sepertinya adalah seorang pasien karena dia memakai piyama putih dengan bunga-bunga kecil, sama seperti piyama yang aku pakai saat Super Junior mengalami kecelakaan waktu itu. Saat aku harus diopname dan menerima puluhan jahitan dipunggungku ini.

 Aku tersenyum melihat yeoja itu masih fokus menatapku. Tapi semakin lama aku memperhatikannya, aku seperti pernah bertemu dengannya, entahlah, tapi aku tidak asing melihat wajahnya yang gugup itu.

            “Ahhh… chosonghamnida aku mengganggu kalian. Dokter Han sebaiknya aku pergi.” Ujar yeoja itu setelah melepaskan pandangannya dariku.

            “Annyeonghigaseo…” yeoja itu membungkukkan badannya dan tersenyum padaku.

            “Leeteuk-shii… Ya~~ Apa kau masih sadar???” Dokter Han mengagetkanku. Aku tidak sadar aku masih menatap pintu yang ditutup oleh yeoja itu.

            “Yeoja tadi, nugu?” tanyaku pada Dokter Han.

         “Owh… Dia Jungshin, pasien di sini. Dia itu sakit kanker otak, tapi dia telah sehat sekarang. Kankernya 100% telah hilang. Wae? Apa kau mengenalnya?”

            “Andwee… “ Tapi aku masih tidak bisa melupakan senyumannya tadi, senyuman itu terasa sangat familiar.

            “Jadi… sepertinya jarimu harus digips dan diperban Leeteuk-shii.”

            “Leeteuk-shii?” Dokter Han memanggilku lagi. Pikiranku benar-benar terfokus pada yeoja tadi.

            “Ahhh… chosonghamnida Dokter Han… aku permisi sebentar…”

            Senyuman itu benar-benar melekat diotakku. Aku berdiri dari kursiku dan bergegas keluar ruangan meninggalkan Dokter Han yang bingung melihat reaksiku. Aku berlari dilorong Rumah sakit berusaha mencari yeoja itu lagi. Aku ingat, lorong ini adalah lorong yang ada dalam mimpiku, hanya saja lorong ini tidak sepi seperti dalam mimpiku. Aku tahu banyak mata yang menatapku. Aku tidak peduli apakah mereka menatapku karena melihat seorang namja yang berlari-lari kebingungan, atau mereka menatapku karena mereka mengenalku sebagai seorang idola. Tujuanku saat ini hanya satu, menemukan yeoja itu, tanpa ada alasan yang masuk akal.

            Nafasku tersengal-sengal, aku menengok kanan kiri berharap menemukan yeoja itu. Tapi nihil. Ditambah lagi, banyak pasien yeoja yang memakai piyama yang sama. Sudah 5 kali aku salah orang. Aku kembali berlari ke ujung lorong.

            “Gubrakkkkkk….”

            Sepertinya aku menabrak seseorang.

            “Awwwwww….” orang yang aku tabrak ternyata seorang yeoja dan dia merintih memegang lengannya..

            “Chosonghamnida… aku menabrakmu. Gwencana?” Aku berusaha membantunya berdiri.

            “K… Kau???” Aku kaget melihat yeoja yang aku tabrak itu adalah yeoja yang sedang aku cari. Yeoja itu juga terlihat kaget saat melihatku.

Author POV

            Terlihat namja berambut pirang gelap dan yeoja berambut pendek saling bertatapan dilorong Rumah Sakit.

            “Apa aku mengenalmu???” Seru namja dan yeoja itu bersamaan.

            “Hahahahaha….” Lagi-lagi keduanya tertawa bersamaan.

            “Mianhae… kau sepertinya tidak asing… entahlah mungkin kita pernah bertemu disuatu tempat.” Ujar Namja itu masih sedikit tertawa.

            “Aku juga tidak asing melihatmu… mungkin kita bertemu saat kau ke rumah sakit ini. Karena hampir separuh hidupku menetap di Rumah Sakit ini.”

            “Jinjja??? Aneh sekali..” Namja itu menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

            “Chonun Jungshin-imnida…” Yeoja itu membungkukkan badan dan memperkenalkan dirinya.

            “Ne… Park Jungsoo-imnida… tapi aku lebih sering dipanggil Leeteuk.” Namja itu juga membungkukkan badannya memperkenalkan diri.

            “Leeteuk-shii… mannaseo pangapsumnida…” Jungshin tersenyum

            “Nado mannaseo pangapsumnida Jungshin-shii…” Leeteuk juga tersenyum memperlihatkan lesung pipinya.

            Keduanya kembali tertawa melihat tingkah mereka satu sama lain. Namja dan yeoja itu terlihat asik mengobrol dan bersamaan melangkahkan sepasang kaki mereka pergi. Pergi ke arah lorong, lorong kehidupan yang masih panjang untuk mereka lalui.

THE END

 

 Nah ni jari kelingking Teukie yang patah… Hadehhhh aneh2 bgt ni oppa emang…

Note :
Oppa.. jagimu ini mau berhiatus sebulan…
Tolong berikan semangat buat belajar hikssss…
My Angel… My Fishy… author bakalan merindukan kalian…

Bagi para readers…
Author bener2 mohon doanya biar bisa lulus ujian komprehensif bulan Mei bsk…
Hikssssss….
Gomawoeeeeee semuaaaaa….

Second Chance (Part 3)

Tik.. Tok.. Tik.. Tok.. Waktu terus berjalan…

Author kebut-kebutan nylesein FF ini sebelum hari berganti…

Sebelum author hrs meninggalkan blog ini sementara hiksss *nangis dipojokan..

Jeongmal Mianhae kalo ceritanya amburadul.. Sumprit deh…

Baiklah silahkan membaca kelanjutan kisah Jungshin-Leeteuk…

Seperti biasa, auhtor selalu menunggu comment dari kalian…

Terima kasih… *kiss and hug

 

Jungshin POV

            “LEETEUK-SHII….!!!”

            Aku benar-benar kaget melihat namja yang tadi baru saja tersenyum padaku itu kini terlihat hampir ambruk, sekuat tenaga menahan tubuhnya sendiri. Aku menjatuhkan kotak bekal berisi Gimbab begitu saja dan berlari ke arah Leeteuk.

            “Gwencana???” Tanpa dijawabpun aku tahu dia sedang kesakitan.

            Aku mengalungkan lengannya ke leherku dan memapahnya ke kasur di kamarku. Perlahan aku baringkan tubuhnya yang terlihat kurus dari terakhir kali kami bertemu.

            “Aku akan memanggil ambulance…” Belum sempat aku berbalik, tangan Leeteuk dengan cepat menahanku.

            “Andweeee… aku hanya perlu istirahat sebentar.” Ujarnya lirih.

            Akupun tak bisa menolak permintaannya itu, aku benar-benar tak bisa membantah setiap kali melihat wajahnya berubah ekspresi menjadi galak. Terpaksa aku menganggukkan kepalaku. Aku menyelimutkan selimut merah marun ku, berharap itu bisa membuatnya nyaman.

            “Jungshin-shii… tolong ambilkan obatku didalam tas. Mianhae…” pinta leeteuk masih terlihat lemah.

            “Kokcongma… aku akan merawatmu Leeteuk-shii.”

            Aku segera mencari obat yang dimaksudkan Leeteuk. Aku mengambilkan segelas air dan membantunya duduk agar dia bisa minum obat itu.

            “Aigooo Leeteuk-shii… badanmu sedikit demam…” Aku merasakan lengannya panas saat aku menyentuhnya, dan wajahnya yang putih juga terlihat sedikit merah.

            “Apa aku harus menelpon managermu?”

            “Aniya… aku hanya perlu beristirahat.”

            “Arraseo… penjamkan matamu Leeteuk-shii… aku akan mengambil kompres terlebih dahulu.”

            Kelihatannya Leeteuk tertidur saat aku kembali setelah mengambil peralatan kompresku. Hatiku terasa pedih melihatnya terbaring dikasurku. Wajah yang biasanya tersenyum manis dengan lesung pipinya itu kini terlihat pucat. Aku bisa melihat rasa sakit diwajahnya itu, alisnya terlihat bertaut.

            “Ya~~ Oppa… gwencana? Kumohon cepatlah sembuh.” Ujarku lirih

            Aku memeras kain kompresku dan meletakkannya perlahan didahi namja itu. Aku memegang pipinya, dan masih terasa panas.

            “Apa sakitmu ini sering kambuh? Seharusnya kau tidak kesini… seharusnya kau istirahat ditempatmu oppa…” Aku menggenggam tangannya.

            “Mianhae…” lanjutku lirih

            Aku masih memperhatikan wajahnya sambil mengganti kompres dikepalanya. Sesekali aku melihat alis Leeteuk saling bertaut, wajahnya seperti menahan sakit. Tentu saja aku merasa takut. Suster macam apa aku ini yang hanya bisa melihat pasiennya menahan sakit sendirian.

            “Leeteuk-shii… apa kau mau mendengarkan nyanyianku? Ommaku sering bernyanyi saat aku sakit. Dan itu membuatku merasa lebih tenang…” Aku berujar lirih.

Aku tidak peduli dia mendengarnya atau tidak. Aku hanya ingin merubah wajah kesakitannya itu menjadi wajah malaikat yang selama ini kulihat. Aku menarik nafasku dan mulai menyanyikan lagu yang selama beberapa hari ini selalu kuputar “Banmal Song” dengan suara lirih…

maen cheoeum neoreul bodeon nal

sujub giman hadeon neoye malgeun misodo

oneuri jinamyeon gakkawo jilgeoya

maeil seolleneun gidaereul hae

museun mareul geonde bolkka

eotteohke hamyeon niga useo julkka

soneul geonde boda eosaek hae jilkka bwa

meotjjeok eun useum man useo bwa

uri seoro banmal haneun sa iga dwe gireul

ajik jogeum seotureugo eosaek hande do

gomawo yo raneun maltu daeshin

jomdeo chinhage mareul hae jullae

uri seoro banmal haneun sa iga dwel geoya

hangeol eumsshik cheoncheonhi dagawa

ijen nae dununeul bara bomyeo mareul hae jullae

neol saranghae

*translate

Your bright smile full of shyness

we’ll get closer after today

Every day, I have heart-fluttering expectations

What to say to you

How to get you to laugh

I fear it’ll get awkward when I try to hold your hand

All I can do is smile shyly

Hopefully we can speak banmal to each other

Even though it’s still awkward and unfamiliar

Instead of saying ‘thank you’

Talk to me in a friendlier way

Hopefully we can speak banmal to each other

You walk towards me slowly, step by step

Now look at my two eyes and tell me

I love you

Leeteuk POV

            Aku rasa, sakit yang kurasakan tadi kini mulai berkurang. Aku mengerjapkan mataku, dan sedetik kemudian aku membuka mata, Gelap. Kain kompres jatuh dalam pangkuanku saat aku mencoba bangun dan duduk di kasur kecil ini, mencoba mengingat kejadian sebelumnya.

            Aku masih bisa melihat wajah Jungshin yang terlihat sangat khawatir saat memapah dan membaringkan tubuhku ke kasurnya tadi. Rasanya aku juga mendengar suaranya melantunkan sebuah lagu, dan suaranya itu benar-benar bisa membuatku tenang dan sedikit melupakan rasa nyeri dipunggungku ini.

            Aku beranjak dari ranjang, meraba-raba mencari saklar lampu.

            “Kleekkkk…”

            Aku mengerjapkan mataku lagi untuk menyesuaikan cahaya lampu yang cukup terang. Aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling kamar Jungshin. Kamarnya tidak terlalu besar, dan minimalis dengan cat putih dan hanya ada meja, kursi, lemari, dan ranjang kecil memenuhi ruangan itu. Aku berjalan ke arah tembok disebelah lemari yang tak begitu tinggi. Di situ aku menemukan banyak foto yang ditempel ditembok.

            “Rupanya dia seorang fotografer juga…” Aku berkata pada diriku sendiri

            Jariku menjelajahi setiap jengkal foto-foto itu. Rupanya Jungshin lebih suka memotret manusia. Aku tertarik melihat satu foto. Di situ Jungshin tertawa lebar diampit Omma, Appa, dan seorang namja yang sangat mirip dengannya, mungkin dia itu oppanya.

            Puas menikmati kamarnya itu, aku beranjak pergi keluar. Ruangan di apartemennya itu juga tidak besar, hanya ada dapur dan ruang TV. Kepalaku celingukan mencari sosok yeoja yang telah merawatku semalaman itu.

            “Aishhhhh apa dia keluar malam-malam lagi???” ujarku

            “Mianhae…” Aku mendengar suara kecil dari yeoja yang sedang aku cari.

            Aku menemukannya sedang tidur pulas di sofa coklat panjangnya. Rupanya di sedang mengigau memanggil ommanya. Aku mendekatinya dan menarik selimutnya yang jatuh ke lantai dan menyelimutkannya ketubuhnya yang meringkuk. Aku berjongkok untuk melihat wajahnya dari dekat.

            “Gomawoe susterku… Mianhae kau harus repot mengurusku… Mianhae aku tidak jadi mengajakmu jalan-jalan…” Aku mengusap keningnya dengan lembut.

            “OMMA!!! MIANHAE!!!” Lagi-lagi Jungshin mengigau dalam tidurnya, tapi kali ini suaranya lebih keras dan wajahnya terlihat ketakuatan.

            “Jungshin-ah… gwencahan??? Tenanglah itu hanya mimpi…” Aku mengusap kepalanya, berharap itu bisa membuatnya tenang. Tapi sepertinya usahaku tidak berhasil…

            “OMMA…” Jungshin berteriak dan duduk terbangun.

            “Jungshin-ah…” Aku memegang kedua pundaknya. Tubuhnya bergetar hebat. Wajahnya mulai merah dan aku semakin takut melihat air matanya mulai menetes.

            “Mianhae…” Ucap Jungshin menangis. Tubuhnya semakin bergetar hebat.

            Aku memeluk tubuhnya erat. Aku memegang kepalanya dan mengusap rambutnya untuk menenangkan yeoja yang sekarang masih menangis.

            “Tenanglah Jungshin-ah…. itu semua hanya mimpi.” Ujarku lirih

Jungshin POV

            Aku tidak bisa menahan air mataku. Aku tahu itu semua hanya mimpi. Tapi mimpi itu terasa sangat nyata. Aku melihat Ommaku menangis histeris, terus memegang tubuh seorang yeoja yang terbujur kaku diranjang pasien. Dia terus memanggil nama yeoja itu…

            “Jungshin-ah… kumohon jangan tinggalkan omma!!!”

            “Jungshin-ah… bangunlah… jebal!!! Omma akan membuatkan makanan kesukaanmu! Jebal bangunlah!”

            “Kau sudah berjanji tidak akan pernah meninggalkan omma sendirian.. Jungshin-ah… Jungshin-ah!!!”

            “Omma… Mianhae…” Aku masih berteriak walaupun aku sudah terbangun dari mimpiku. Itulah mengapa aku selalu berdoa pada Tuhan agar menyembuhkanku. Aku tidak ingin melihat orang-orang yang aku cintai terluka, menangis karena diriku ini. Aku sudah berjanji pada Omma waktu itu bahwa aku akan sembuh dan bisa kembali berkumpul, tertawa seperti halnya keluarga yang lain.

            “Jungshin—ah… ini semua hanya mimpi… Tenanglah…”

            Aku tidak sadar sedari tadi aku berada dalam pelukan Leeteuk. Aku baru menyadarinya saat jemarinya mengelus-elus rambutku dengan lembut dan mengucapkan kata-kata yang menenangkan dengan lirih ditelingaku.

            “Leeteuk-shii….” Aku mulai bisa sedikit mengontrol emosiku.

            “Gwencana?” Tangannya kini berganti memegang kedua pipiku, dan aku bisa merasakan jemarinya menyapu lembut air mataku yang masih tersisa.

            “Mianhae…”

            “Berbaringlah, aku akan mengambilkan segelas air.”

Author POV

            “Kamsahamnida Leeteuk-shii…” Jungshin mengambil segelas air putih dari tangan Leeteuk dan meneguknya perlahan.

            “Apa yang terjadi?”

            “Aniya… aku hanya bermimpi buruk… Mianhae mengagetkanmu…”

            Leeteuk mengurungkan niatnya untuk kembali bertanya saat melihat wajah Jungshin yang masih sedikit syok.

            “Aigoo… apa kau sudah sembuh Leeteuk-shii?” Jungshin kini menatap Leeteuk dan meletakkan telapak tangannya ke dahi Leeteuk, mencoba memeriksa apakah Leeteuk masih demam atau tidak.

            “Gwencana… sudah kubilang aku hanya perlu istirahat. Lagipula ada suster yang telah merawatku semalaman.” Leeteuk meraih tangan Jungshin yang tadi berada di dahinya dan tersenyum lembut menatap Jungshin.

            “Neo gateun saram tto eopseo”

“Jjuwireul dureobwado geujeo georeohdeongeol eodiseo channi”

Ringtone dari iphone Leeteuk berdering keras, mengagetkan namja dan yeoja yang masih saling bertatapan di sofa.

“Yeobboseo” Ujar Leeteuk mengangkat telpon.

“Ne Hyung aku akan segera kesana.”

“Mianhae… aku menginap di rumah chinguku tadi malam.”

“Arraseo… Sampai bertemu disana.”

Leeteuk menutup iphonenya dan kembali ke sofa tempat Jungshin masih terduduk.

“Aku harus pergi sekarang. Tidak apa aku meninggalkanmu sendiri? Gwencana?” tanya Leeteuk terlihat khawatir.

“Aniya Leeteuk-shii… harusnya kau mengkhawatirkan dirimu sendiri… Aku sudah terbiasa sendirian.” Jungshin tersenyum mencoba menenangkan.

“Arraseo… ah mianhae aku tidak jadi mengajakmu jalan-jalan. Aku akan menebusnya segera.”

“Hahaha… gwencana… aku tidak akan kemana-mana…” Ujar Jungshin tertawa.

“Semoga saja aku masih disini.” Lanjut Jungshin dalam hati.

“Sekali lagi gomawoe kau sudah merawatku. Aku pergi…” Leeteuk mengecup kening Jungshin. Dan itu membuat tubuh Jungshin tiba-tiba kaku.

“Annyeonghigeseyo hahahaha…” Leeteuk tertawa melihat reaksi Jungshin dan melambaikan tangannya, menghilang di balik pintu apartemen, meninggalkan Jungshin yang masih terdiam, syok.

Jungshin POV

Beberapa hari kemudian,

            “Omo… omo… apa kau terlalu banyak memakai maskara Jungshin-ah? Lihatlah lingkaran matamu hitam sekali.” Sooyoung memegang wajahku.

            “Aniyaa…” jawabku lemas.

            “Wae? Gwencana?”

            “Ne… gwencana… aku hanya tidak bisa tidur akhir-akhir ini.”

            “Aigooo.. jebal cuci mukamu. Dokter Han bisa marah melihat wajah susternya lesu dan berantakan seperti ini.

            “Ne…”

            Aku berjalan gontai menuju kamar mandi. Dan benar saja, mukaku benar-benar berantakan, tidak berubah walaupun sudah kubasuh berkali-kali.

            Aku memang tidak bisa tidur akhir-akhir ini karena setiap aku memejamkan mataku, aku kembali memimpikan omma, appa, oppa, sooyoung yang secara bergantian menangisi sosok yeoja yang terbujur kaku di hadapan mereka. Ditambah lagi, mimpiku tadi malam, aku melihat Leeteuk yang menangisi yeoja itu.  Aku bergidik mengingat mimpiku itu.

            “Apa ini pertanda kesempatanku sudah habis dan aku harus kembali ke hidupku yang dulu?” Aku bertanya pada diriku sendiri.

            “Jungshin-shii tolong kau antarkan peralatan suntik ini ke bagian farmasi…” Pinta Dokter Han saat aku kembali dari kamar mandi.

            “Ne.. Dokter Han.” Aku mengambil peralatan suntik yang ditata rapi disebuah nampan besi.

            Aku membuka pintu ruang periksa, baru 5 langkah aku berjalan keluar pintu, kepalaku terasa sakit, sakit sekali.

            “PRANKKKK…” Peralatan suntik yang kubawa meluncur dari tanganku dan jatuh berceceran dilantai.

            “Arrrrrrggghhhh….” Aku duduk jongkok dan memegang kepalaku. Aku tidak tahan dengan rasa sakit ini. Seperti ada beribu-ribu jarum dan paku yang ditancapkan di otakku. Rasa sakitnya persis seperti waktu itu.

            “Jungshin-ah… Gwencana? Apa yang terjadi!” Sooyoung berlari ke arahku dan memapahku ke kursi di lorong rumah sakit. Banyak mata yang tertuju ke arah kami. Aku tidak peduli. Rasa sakit ini tak kunjung reda.

            “Jungshin-ah…” Sooyoung memanggil namaku.

            Aku menutup kedua mataku dan berusaha mengatur nafas, berharap sakit ini akan berkurang. Untunglah rasa sakit ini tidak menetap lama. Berangsur-angsur jarum yang tertancap diotakku ini hilang.

            “Jungshin-ah…”

            “Gwencana… gwencana…” Jawabku walaupun masih terengah-engah.

            “Wae? Apa perlu kupanggilkan Dokter Han?”

            “Andwee… migranku kambuh.. sekarang sudah tidak apa-apa.” Jawabku bohong.

            “Tapi wajahmu terlihat pucat. Sebaiknya kau pulang sekarang. Aku akan menggantikanmu sementara.”

            “Ne… gomawoe Sooyoung-ah… Aku sangat berhutang budi padamu.”

            Aku menyusuri lorong Rumah Sakit menuju pintu keluar. Tiba-tiba hatiku berdegub kencang saat dari belokan diujung lorong, muncul rombongan orang yang sedang mendorong ranjang pasien. Wajah mereka terlihat diam. Jantungku semakin berdegub saat mereka melewatiku. Aku bisa melihat ada seseorang terbujur kaku diatas ranjang itu. Aku tidak bisa melihat wajahnya karena tertutup kain putih. Aku menengok untuk melihat kemana mereka akan pergi. Sesuai dugaanku, mereka terus berjalan ke arah kamar jenazah.

            “Ya Tuhan.. apa arti dari semua ini? Apa kau akan mengembalikanku sekarang? Apa waktunya akan tiba?” Ujarku masih menatap lurus ke ujung lorong tempat rombongan tadi menghilang.

Leeteuk POV

            “Hyung… ada acara malam ini? Ayo kita makan malam bersama sebelum kita siaran.” Ajak Eunhyuk setelah selesai syuting Super Junior Foresight.

            “Ahhh… mianhae… aku ada acara Hyukkie… kapan-kapan saja.”

            “Mwo? Tumben kau ada acara Hyung?’

            “Aku harus menebus sebuah janji.”

            “Janji? Ya~ Hyung… apa kau akan berkencan?” Eunhyuk menyenggol lenganku.

            “Begitulah…” Aku mengedipkan sebelah mataku dan tertawa.

            “Huwaaaaa benar kata Donghae… pasti kau mulai berkencan dengan suster itu.. Chukae Hyung!!!”

            “Hahahaha… sudahlah jangan menggodaku terus!!!”

            Aku memang berencana mengajak Jungshin jalan-jalan hari ini sebelum aku siaran radio. Aku senang mendengar suaranya yang riang mengiyakan ajakanku saat aku menelponnya tadi.

Author POV

            “Annyeong… Selamat datang di Toko Roti Rainbow… Ahhhh Leeteuk Oppa… ternyata kau yang datang.” Ujar seorang yeoja yang terlihat senang menyambut pelanggannya.

            “Hahaha sudah lama aku tidak kesini Yuna-ya… aku rindu merasakan roti buatanmu.”

            “Ne.. rotiku memang membuat orang ketagihan oppa hehehe.. Omo.. siapa yeoja itu?” Yuna memiringkan kepalanya agar bisa melihat dengan jelas yeoja yang sedari tadi digandeng oleh Leeteuk.

            “Lee Jungshin imnida…” Ujar yeoja itu memperkenalkan diri.

            “Ne… Choi Yuna imnida… Aigooo apa kalian ini pacaran?” Yuna tersenyum genit.

            “Andweeee…” jawab Leeteuk dan Jungshin bersamaan.

            “Ya~~ tidak usah gugup begitu… mana ada seorang yeoja dan namja bergandengan tangan tanpa ada hubungan apapun.” Yuna masih menggoda kedua pelanggannya itu. Sontak Leeteuk dan Jungshin melepaskan tangan mereka satu sama lain.

            “Aishhhh… berhenti menggoda kami berdua Yuna-ya, atau akan kulaporkan kau pada Kyuhyun…”

            “Ya~~ memangnya aku takut pada evil itu oppa? Laporkan saja padanya, lagipula sudah lama dia tidak kesini. Huff… itu membuatku kesal!”

            “Hahahaha… sudahlah… jebal kami ingin merasakan roti terbaik dari The Rainbow.”

            “Ahh ne.. ne.. silahkan kalian duduk…”

            “Ini dia, roti kebanggaan The Rainbow. Jangan salahkan kami bila anda ketagihan dan tidak bisa berhenti memakannya hahahaha…” Ujar Yuna meletakkan sekeranjang roti.

            “Omo… banyak sekali!!!” Seru Jungshin

            “Ne… karena semua roti disini adalah yang terbaik, jadi aku menawarkan semua roti yang ada.”

            “Aigoooo…. mana bisa kami menghabiskan ini semua!!!”

            “Ya oppa… jangan banyak protes. Jebal, makanlah… Aku harus pergi dulu memeriksa pangganganku… selamat menikmati…” Yuna meninggalkan namja yang yeoja yang masih menatap tak percaya sekeranjang roti yang ada dihadapan mereka.

            “Omo… Yuna tidak berbohong… jeongmal mashita!!!” Seru Jungshin saat memasukkan sepotong roti keju kedalam mulutnya.

            “Ne… aku tahu kau pasti akan suka. Makanya aku membawamu ke sini. Hahaha…” Leeteuk tertawa melihat Jungshin yang terlihat lahap menghabiskan roti yang ada dikedua tangannya.

            “Aishhhh… aku tidak bisa berhenti makan ini… Leeteuk-shii cobalah…” Jungshin menyuapkan sepotong roti dengan cappucino cream, dan itu membuat sebagian creamnya meluap keluar dan mengotori pipi Leeteuk.

            “Omo… mianhae… kau jadi belepotan hahahaha…”

            “Ya~~ lihatlah kau terlihat senang sekali… Awas kau!!!” Leeteuk mencolek cream dipipinya dan mengoleskannya dipipi Jungshin.

            “Leeteuk-shii!!!”

            Yuna menahan tawanya melihat tingkah kedua namja dan yeoja seperti anak kecil itu.

            “Aishhh… bagaimana mereka bisa bilang bahwa mereka tidak pacaran!” Yuna berkata pada dirinya sendiri.

            “Lihatlah… kau membuat mukaku penuh dengan cream Leeteuk-shii.”

            “Ya~~ kau terlihat cantik dengan cream itu Jungshin-shii… Neomu kyeoppta…”

            “Ya~~~ kau menggodaku lagi!!!” Jungshin menjitak kepala Leeteuk.

            “Hahahaha…”

            “Aku akan ke kamar mandi dulu membereskan ini semua.”

            “Ne… dandanlah yang cantik Jungshin-shii hahahaha…”

Jungshin menggembungkan pipinya protes. Leeteuk masih tertawa melihat yeoja itu berdiri dan pergi ke arah kamar mandi.

            “Lihatlah kau memang lebih cantik dengan cream tadi.” Seru Leeteuk saat Jungshin kembali dari kamar mandi.

            “Aishhh… awas kau Leeteuk-shii!!!” Jungshin berlari kecil menuju arah Leeteuk yang tertawa terpingkal-pingkal.

            “Auuwwwww…” Tinggal 3 langkah lagi sampai di tempat Leeteuk duduk, Jungshin berhenti dan memegang kepalanya, terlihat kesakitan.

            “Jungshin-ah!!!” Leeteuk segera memegang tubuh Jungshin tepat saat tubuh itu oleng kesamping.

            Yuna segera berlari menghampiri Jungshin yang kini tergeletak dipangkuan Leeteuk. Jungshin masih merintih kesakitan memegang kepalanya.

            “Yuna-ya… jebal panggil ambulance.” Seru Leeteuk.

            “Andweeee… kumohon jangan bawa aku ke rumah sakit!!!” Pinta Jungshin lirih.

            “Jungshin-ah… tapi kau kesakitan!” Wajah Leeteuk benar-benar ketakutan.

            “Kumohon antarkan aku pulang… aku tidak apa-apa…”

            Terpaksa Leeteuk menuruti permintaan Jungshin dan dengan hati-hati memapahnya keluar toko dan membaringkan Jungshin ke jok mobilnya.

            “Oppa… berhati-hatilah…” Yuna melambaikan tangannya saat mobil BMW putih itu melaju meninggalkan halaman parkir toko Rainbow.

            Mobil BMW putih milik Leeteuk melaju kencang membelah jalanan di Seoul. Mobil itu baru berhenti di basement apartemen Jungshin. Namun baik penumpang, maupun pengemudi di dalam mobil itu tidak kunjung keluar.

            “Jungshin-ah?” tanya Leeteuk lirih.

Rupanya Jungshin tertidur pulas. Leeteuk tidak berani membangunkannya yeoja disampingnya itu.

“Gwencana? Apa yang sebenarnya terjadi padamu? Kau tahu, aku sangat takut melihatmu kesakitan seperti itu…” Jemari Leeteuk mengusap kening Jungshin dengan lembut dan merapikan poni Jungshin kebelakang telinga yeoja yang masih tertidur itu.

Cukup lama mobil BMW itu terdiam di basement, sedetik kemudian pengemudinya itu menyalakan mobilnya lagi dan melaju keluar dari basement menuju jalanan Seoul.

Jungshin POV

Kepalaku masih terasa berat. Tapi tidak sesakit yang tadi. Aku mencium aroma parfum. Aku membuka mataku perlahan. Ternyata aku masih berada didalam mobil. Tubuhku berselimut jaket yang mengeluarkan aroma parfum yang kuhirup tadi. Aku menengok ke jok pengemudi, tapi aku tidak menemukan namja pemilik jaket ini. Aku mengedarkan pandanganku. Aku melihat punggung Leeteuk yang kini duduk dikap mobilnya. Aku membuka pintu mobil, dan aku takjub melihat view didepanku. Cahaya lampu tertempel indah berwarna-warni di langit malam. Pantulannya juga terpancar lembut di atas aliran air yang terbentang luas.

“Kau sudah bangun Jungshin-ah?” Tanya Leeteuk yang menyadari kehadiranku.

“Sungai Han dimalam hari memang indah…” lanjutnya saat melihatku masih terbengong menikmati hamparan sungai didepanku.

“Ne… indah sekali… tapi kenapa kau membawaku kemari?”

“Kau tertidur pulas tadi, aku tidak berani membangunkanmu, jadi dari pada menunggu dibasement yang sepi itu, lebih baik aku membawamu kesini. Apa kau tidak suka?”

“Andweeee… manii joahae… Jeongmal Kamsahamnida Leeteuk-shii…”

“Ya~~ berhentilah memanggilku dengan formal.. Kau bisa memanggilku Oppa…” Leeteuk tersenyum dan berjalan mendekatiku.

“Apa tidak apa-apa O-P-P-A???” Leeteuk tertawa melihatku mengeja kata oppa.

“Ne… itu lebih enak didengar karena kita sudah dekat sekarang. Benarkan?” Leeteuk tersenyum lagi memiringkan kepalanya hinggal aku bisa dengan jelas melihat lesung pipinya.

“Ah ya ini jaketmu oppa… gomawoe…” Aku berusaha mengalihkan wajahku sebelum dia bisa melihat semu merah dipipiku dan menyerahkan jaket baseballnya.

Leeteuk meraih jaketnya dan memakainya, tapi bukan dipakai sendiri, tapi dia berjalan ke belakangku dan memakaikan jaket baseballnya itu ke tubuhku, memelukku erat.

“Oppa…” Tentu saja aku kaget dipeluk namja tampan itu dari belakang.

“Berjanjilah kau tidak akan kesakitan seperti tadi…” Ujar Leeteuk lembut tepat ditelingaku.

“Oppa…”

“Kau tahu? Rasanya aku ingin mati melihatmu merintih kesakitan.”

“Jinjja?”

“Ne… aku tidak mau melihat susterku sakit. Bukankah kau harus merawatku? Jadi kau tidak boleh sakit.. arraseo???” Leeteuk membenamkan wajahnya ke pundakku.

“Andwee… Aku tidak bisa lagi menjadi sustermu oppa… Mianhae…” Aku melepaskan kedua tangan Leeteuk yang masih memelukku.

“Mwo? Wae?” Leeteuk menarik lenganku hingga kini aku berbalik menghadapnya. Rasanya jarum yang tadi menancap di otakku kini berpindah menancap dihatiku saat aku melihat wajah malaikatnya berubah, matanya menatapku tajam, alisnya kembali bertaut.

“Mianhae… aku tidak bisa selamanya menjadi sustermu oppa…”

“Wae!!! Jelaskan padaku!!! Apa kau akan pergi!!!” Suara Leeteuk yang biasanya lembut kini mulai meninggi.

“Ne… aku akan pergi… Aku tidak bisa bersamamu oppa… jeongmal mianhae…” Suaraku bergetar menahan agar air mataku tidak jatuh.

“Eodiga??? Aku akan pergi bersamamu!” Leeteuk meraih tanganku dengan erat.

“Oppa…”

“Jungshin-ah… jebal katakan!”

“Kau tidak bisa pergi bersamaku oppa… kau tidak bisa… kau harus tinggal disini.” Aku menangis… kali ini hatiku benar-benar sakit. Leeteuk menarikku dalam pelukannya.

“Wae? Apa kau akan pergi jauh? Apa kau akan ke luar negeri?”

Aku menggelengkan kepalaku.

“Jebal… katakan Jungshin-ah..” Leeteuk mempererat pelukannya.

Aku menggelengkan kepalaku lagi. Tentu saja aku tidak bisa bilang bahwa aku akan pergi, kembali ke kehidupanku, kehidupanku tanpa malaikat yang sekarang memelukku. Entah dari mana datangnya firasat ini, tapi aku tahu sebentar lagi aku akan kembali, kembali tergeletak diranjang operasiku, kembali merasakan jarum-jarum yang disuntikkan padaku, kembali melihat dan mendengar tangisan orang-orang yang kucintai.

“Aku akan mencarimu Jungshin-ah… Aku akan mencari dan menemukanmu, dimanapun kau berada… Aku berjanji…”

“Oppa… jeongmal mianhae…” Aku membalas pelukannya dan membenamkan wajahku kedalam pelukannya yang terasa hangat ditengah hempusan angin dipinggir Sungai Han.

“Tuhan… jika benar waktuku sebentar lagi, aku mohon jangan sakiti namja ini… Namja yang telah membuatku bahagia dalam kehidupan yang kau berikan lagi.. Kumohon… Aku…Aku mencintainya… Jeongmal Saranghae oppa…” Ujarku dalam hati.

To be continue alias bersambung…

 

Ahhh ya ini auhtor sertakan suasana Sungai Han di malam hari..
Huhuhu Oppa bawalah aku kesitu kapan-kapan…
Oppa… jangan lupa istirahat… kasian bgt tu pasti gy capek beud.. hiksss

Second Chance (Part 2)

Sebelum Author Hiatus selama sebulan penuh…

Author berusaha menyelesaikan FF ShinTeuk Couple ini nih…

Jeng…. Jeng…

Tapi ini juga masih Part 2 *tepok jidat…

Semoga readers pada suka and gak bingung hehehe…

Gomawoe…

Ditunggu komennya (harus)….

Jungshin POV

            Sudah hampir 3 minggu aku menjalani “kehidupan baruku”. Begitu banyak kejadian yang membuatku bahagia, gugup, senang, dan khawatir pada saat yang bersamaan. Sering kali otakku tidak kuat untuk menampung berbagai perasaan itu.

            Pekerjaanku sebagai suster bukanlah hal mudah, apalagi dengan backgroundku yang memang bukan di bidang kesehatan seperti ini. Berkali-kali Dokter Han menegurku.
“Aigooo Jungshin-shii bagaimana kau bisa salah mengambilkan obat suntik!!!”

            “Jungshin-shii… apa kau tidak pernah belajar membaca tulisan dokter! Kau salah mengartikan resep ini!”

            “Jungshin-shii… aku minta diambilkan stetoskop! Kenapa kau mengambilkan tensimeter!”

“Jungshin-shii.. apa kau ingin membunuh pasien!!!”

Setiap hari rasanya aku ingin menangis…

“Sooyoung-ah… bisakah aku pindah kerja!!! Aku merengek pada chinguku saat kami istirahat di kantin rumah sakit.

“Andweee.. apa kau lupa perjuanganmu untuk bisa sampai kesini!” Jawab Sooyoung datar, masih sibuk melahap roti coklat kesukaannya.

“Mwo??? Apa aku sangat menginginkan pekerjaan yang merepotkan ini?”

“Aigoooo… apa kau ini benar-benar amnesia!!! Kau sampai mengurung diri dikamar selama seminggu untuk belajar ujian masuk menjadi suster, setiap hari kau datang ke rumah sakit untuk bertanya pada setiap suster yang lewat didepanmu!!!”

“Jinjja? Aku???”

“Ne… tentu saja! Jadi kau tidak boleh berkata ingin berhenti jadi suster. Bukankah kau bilang menjadi suster itu adalah pekerjaan mulia!”

“Ne… kau benar… suster memang pekerjaan yang mulia. Aku juga merasa senang setiap melihat suster dengan pakaian putihnya selalu berusaha tersenyum dan menghibur pasiennya. Kau tahu, suster yang merawatku selama aku sakit juga selalu berusaha mengajakku bicara dan bercanda…” Aku tersenyum mengingat memori tentang suster yang dengan sabar merawatku.

“Aigooooo kau mulai berkhayal lagi.” Sooyoung menatapku tak percaya.

“Kau masih tidak percaya padaku?”

“Mollayo… terserah kau saja.”

“Hehehe… kau memang chingu terbaikku… Jadi apa kau siap megajariku menjadi suster yang baik?” Aku menatap chinguku itu dengan penuh harap.

“Aishhhhh… ne… ne… aku akan membantumu… asal kau menepati janjimu untuk mentraktirku setiap hari…

“Arraseo sahabatku, cintaku, sayangku Sooyoung-ah hahahaha…”

Sejak itulah Sooyoung menjadi mentor pribadiku. Dia berusaha dengan sangat sabar mengajari diriku yang malas ini tentang dasar-dasar menjadi suster. Dokter Hanpun sepertinya mulai sedikit sabar menghadapi setiap kecerobohon yang aku lakukan. Sekarang aku bisa membedakan mana itu stetoskop, mana itu tensimeter. Dan aku bisa berhasil membaca tulisan Dokter Han yang seperti cakar ayam itu.

“Huwaaaaa… aku tidak kuat lagi!!!”

Aku pasrah saat melihat tumpukan buku-buku kesehatan yang masih tertata rapi di atas meja coklatku. Sudah seminggu ini aku begadang membaca buku-buku yang aku pinjam dari perpustakaan.

Aku memutuskan istirahat sejenak. Aku mengambil sweeter dan kunci scooter. Aku turun ke basement dan menaiki scooter biruku. Sebelumnya aku juga sudah diajari oleh Sooyoung cara mengendarai kendaraan mungil ini. Aku mengencangkan helmku dan mulai menjalankan scooterku keluar dari basement apartemen mungilku.

“Aigooooo… segar sekali!!!” Aku mendongakkan wajahku, menikmati terpaan angin malam yang menyentuh setiap pori-pori di wajahku. Jalanan mulai sepi, hanya ada beberapa mobil melintas melewati scooterku.

“Omo… Seoul sudah banyak berubah…!!!” Aku takjub melihat berderet-deret toko dengan lampu yang masih terang benderang disepanjang jalan. Terakhir kali aku lewat sini, aku masih bisa melihat toko bunga langgananku di pojok jalan. Tapi kini sudah berubah menjadi sebuh butik mewah.

Puas berkeliliing jalan sendirian, aku berhenti di depan sebuah coffee shop. Aku memarkirakan scooter biruku di samping cafe dengan ornamen kayu itu.

“Klintingg….” suara lonceng terdengar berdenting lembut saat aku membuka pintu coffee shop itu.

Toko itu tidak terlalu besar, namun terlihat nyaman dan hangat dengan ornamen kayu dan batu bata yang ditata dengan sempurna disepanjang temboknya. Kursi-kursi kayu dan sofa berwarna merah marun terlihat kosong. Hanya ada penjaga cafe dan tiga orang namja terlihat sedang memesan minuman.

“Annyeong… ada yang ingin kau pesan?” Tanya penjaga cafe dengan ramah.

“Hmm… aku baru pertama kali ke sini… jadi tolong pilihkan minuman yang paling enak.” Aku bingung melihat berderet-deret menu minuman di cafe itu. Aku masih merasa asing.

“Green Tea Iced di sini yang paling enak…” Ujar salah seorang namja sebelum penjaga cafe itu menjawab pertanyaanku.

Aku  kaget saat memalingkan kepalaku untuk melihat namja yang sedari tadi terlihat sibuk dengan kedua chingunya.

“Kau???”

“Kita bertemu lagi suster…” Jawab namja itu tersenyum. Lagi-lagi lesung pipi menghiasi senyumannya itu.

Leeteuk POV

            “Kita bertemu lagi suster…”

            Aku tersenyum melihat reaksi yeoja yang terlihat kaget melihatku.

            “Kau??? Pasien yang waktu itu?” tanyanya, masih menunjuk-nunjuk diriku.

            “Ne… pasien yang telah membuatmu gugup setengah mati…”

            “Park JungSoo… benarkan?”

            “Omo.. kau masih mengingat namaku… rupanya aku telah benar-benar memberikan kesan mendalam kepadamu.” Aku terkekeh, lagi-lagi dia memperlihatkan reaksi kaget sekaligus gugup. Lucu sekali.

            “Andwee…” Sanggah yeoja itu.

            “Omo… lagi-lagi kau menggoda seorang gadis hyung…” ujar Donghae, dongsaengku, menepuk bahuku.

            “Hyung… kau ini memang jahil.. Jebal… kenalkan kami juga.” Sambung Eunhyuk

            “Ne… dia adalah Lee Jungshin, suster yang telah menyembuhkan jari kelingkingku yang patah.”

Jungshin POV

            “Ne… dia adalah Lee Jungshin, suster yang telah menyembuhkan jari kelingkingku yang patah.”

            Aku kaget bukan main, hatiku berdesir saat tiba-tiba namja yang aku tahu namanya Park Jungsoo itu mendekatiku dan memegang kedua pundakku dari belakang dan sedikit mendorongku untuk diperkenalkan pada kedua chingunya itu.

            “Ya~~” Sebelum hatiku makin berdesir dan aku tidak bisa mengontrolnya, aku melepaskan tangannya yang masih berada di pundakku.

            “Hahahaha… mianhae Jungshin-shii…” Namja itu tertawa, diikuti kedua chingunya.

            “Pantas saja kau tidak mau melepaskan perbanmu walaupun jarimu sudah pulih dengan sempurna Hyung…” Ujar salah satu namja berambut hitam cepak dengan wajah seperti anak kecil.

            “Ssssttt… jangan bocorkan rahasiaku di depan susterku Donghae-ya!!!” Jungsoo menjitak kepala namja itu.

            “Jungshin-shii… apa yang kau lakukan malam-malam begini? Apa kau sendirian?” Tanyanya kembali menengok padaku.

            “Ne… aku hanya sedang keluar mencari angin malam… Kau sendiri, apa yang kau lakukan?”

            “Aku dan kedua dongsaengku ini juga sedang keluar mencari angin malam.”

            “Aishhhh… kumohon jangan tersenyum seperti itu lagi! Apa dia ini sedang menggodaku!” Ujarku dalam hati saat melihat senyuman tersungging di wajahnya yang putih bersih.

            “Jadi, apa anda jadi memesan?” tanya penjaga cafe mengangetkanku.

            “Ah… ne… ne… aku pesan Green Tea Iced.” Jawabku gugup.

            “Pilihan yang tepat Jungshin-shii…” sambung namja itu.

            “Baiklah ini Green Tea Icednya… harganya 2000 won.”

            Belum sempat aku mengeluarkan dompetku, namja yang terlihat seperti malaikat saat pertama kami bertemu itu menyerahkan lembaran 2000 won pada penjaga cafe itu.

            “Jungsoo-shii…”

            “Anggap saja ini ucapan terima kasihku karena telah menyembuhkan jari kelingkingku ini.” Ujar namja itu memperlihatkan jari kelingkingnya tanpa perban yang aku lilitkan waktu itu.

            “Kamsahamnida Jungsoo-shii…”

            “Ne… sebaiknya kau segera pulang. Tidak baik seorang gadis sepertimu masih ada diluar malam-malam begini.”

            “Omo… ternyata namja ini sangat perhatian.” Ujarku dalam hati.

            “Ne… jeongmal kamsahamnida… Kalau begitu aku pergi… Annyeonghigeseyo.” Aku membungkukkan badanku untuk berpamitan pada ketiga namja itu.

            “Tunggu… jika kita bertemu lagi, panggil saja aku Leeteuk.” Seru Park Jungsoo sebelum aku meraih gagang pintu cafe.

            “Mwo? Leeteuk? Arraseo Jungsoo-shii… maksudku Leeteuk-shii…” Aku melambaikan tanganku dan melihatnya tersenyum lagi.

            “Hati-hati Jungshin-shii!!!!” Seru kedua chingunya sambil tertawa-tawa.

Leeteuk POV

            “Aigooo… kau benar-benar berhasil menggoda yeoja itu Hyung!” Eunhyuk menepuk pundakku memberi selamat.

            “Andweee… aku tidak bermaksud menggodanya.”

            “Apa yeoja itu yang kau ceritakan sehabis kau ke rumah sakit itu hyung?” tanya Donghae saat kami berjalan menuju van putih yang akan membawa kami kembali ke dorm setelah siaran Kiss The Radio.

            “Ne… dia suster aneh yang lucu.” Aku terkekeh setiap ingat wajah gugup itu.

            “Omo… jangan-jangan kau jatuh cinta pada pandangan pertama Hyung!!!”

            “Andweee… aku hanya senang melihat reaksinya yang gugup itu. Aku tidak mengenalnya sama sekali. Hubungan kami hanya sebatas pasien dan suster.”

Jungshin POV

Keesokan hari,

            Kantin Seoul Hospital siang itu tidak seramai biasanya. Hanya terlihat beberapa suster dan pengunjung Rumah Sakit sedang menikmati makan siang mereka, termasuk aku dan chingu berseragam putih khas suster yang kini sedang melahap sandwich keju kesukaan kami.

“Sooyoung-ah… Apa kau tahu pasien bernama Park Jungsoo?”

“Nugu? Park Jungsoo?”

“Ne… tapi Dokter Han sering memanggilnya Leeteuk.”

“Leeteuk? Maksudmu Leeteuk Leader Super Junior?” Sooyoung terlihat syok mendengar nama namja yang aku sebutkan tadi.

“Leader Super Junior? Apa lagi itu?”

“Omo… Omo… apa kau tidak pernah menonton TV?”

“Aigooo… kenapa semua orang bertanya seperti itu!!! Tentu saja aku menonton TV! Memangnya dia itu artis?”

“Jungshin-ah!!! Dia itu member dari Super Junior, salah satu boy band terbesar di Korea, bahkan Asia. Dan dia itu adalah Leadernya!!!” Mata Sooyoung terlihat berapi-api menceritakan namja itu.

“Owww… jadi benar… dia memang seorang artis.” Ujarku datar.

“Ya~~ apa kau bertemu dengannya? Kenapa kau tidak menceritakannya padaku! Aku juga ingin bertemu namja tampan itu!!!”

“Dia kesini memeriksakan jarinya yang patah saat aku pertama kali menjadi suster. Dan tadi malam aku bertemu dengannya di coffee shop.”

“Omo… Omo… kau sungguh beruntung Jungshin-ah!!! Apa dia benar-benar tampan?”

“Hmmm… Ne… wajahnya sangat halus. Tapi sepertinya dia itu besar kepala. Dia selalu menggodaku!” Aku jadi merasa kesal.

“Babo!!! Harusnya kau berterima kasih seorang idola yang digilai banyak yeoja itu mau mengajakumu bicara seorang yeoja babo sepertimu!” Sooyoung menjitak kepalaku!

“Ya~~ hati-hati dengan kepalaku!” Aku masih sedikit takut bila seseorang menyentuh kepalaku. Rasanya aku masih bisa merasakan nyeri yang aku rasakan waktu aku masih harus menjalani kemoterapi setiap hari.

“Mianhae…” Sepertinya Sooyoung menyadari perubahan mimik wajahku.

“Hahahaha… gwencana… baiklah mari kita lanjutkan pelajaran kita untuk menjadi super suster!” Aku berdiri dan menarik tangan chinguku itu.

“Ya~~ Aku masih belum selesai makan!!!”

Leeteuk POV

“Leeteuk Hyung… kau mau langsung pulang?” tanya Eunhyuk saat kami mengakhiri siaran Kiss The Radio.

“Ne… hari ini aku merasa lelah sekali.”

“Arraseo… hati-hatilah menyetir. Aku masih harus ke studio sebentar.”

“Ne… kau juga harus berhati-hati.”

Aku membereskan peralatanku dan bergegas ke basement setelah berpamitan pada semua staff di radio. Hari ini aku memang merasa sangat lelah, dari pagi aku disibukkan dengan syuting dan syuting. Belum lagi mendengar berita gosip yang tidak menyenangkan tentang Super Junior, membuatku down.

Aku membuka pintu BMW putihku dan melempar tasku ke jok belakang. Basement ini terlihat semakin terang saat aku menyalakan lampu mobil. Aku menginjak pedal gas dan melaju kencang dijalanan Seoul yang mulai sepi.

“Aissshhhh… !” Aku mengumpat saat lampu lalu lintas didepanku berubah merah. Terpaksa aku menghentikan mobilku. Aku membuka menekan power windowku hingga kaca jendela mobilku terbuka setengah. Aku menatap keluar jendela, berharap ada sesuatu yang bisa membuatku tertarik sambil menunggu lampu berubah hijau.

Dan benar saja, aku melihat sosok seorang yeoja berambut pendek, dengan poster yang cukup tinggi untuk ukuran seorang yeoja korea. Hoodie berwarna biru diselingi warna abu-abu terlihat cocok dengan celana jins biru tuanya. Wajahnya terlihat senang, sesekali dia berhenti dan terlihat menghirup udara malam.

“Tinnnnnnn” Mobil dibelakangku membunyikan klaksonnya. Aku sampai tidak sadar lampu sudah menjadi hijau karena pandanganku fokus melihat yeoja yang kini sudah menjauh.

“Ya~~~ Sabarlah!” umpatku lagi.

Aku menginjak pedal gasku. Aku melirik spion mobilku dan melihat sekarang yeoja itu sudah tertinggal dibelakang. Entah kenapa tanganku memutar stir dan menghentikan mobilku di pinggir trotoar.

Jungshin POV

“Huwaaaaa… berjalan memang sangat menyenangkan… Sudah lama aku tidak berjalan sejauh ini.”

Aku memang tidak pernah berjalan jauh lagi semenjak dokter mendiagnosis kanker otak padaku. Langkah paling jauh yang pernah aku lakukan hanya dari kamar rawatku sampai ke ruang kemoterapi, itupun hanya sesekali, karena lama kelamaan kondisiku semakin lemah dan harus duduk di kursi roda.

“Gomawoe Tuhan… jeongmal gomawoe telah mengabulkan permintaanku yang aneh ini.”

Aku berlari kecil di sepanjang jalan yang mulai sepi. Sesekali aku memutar tubuhku, seperti menari diterangi lampu jalan yang mulai sedikit redup.

“Kau ini memang suka keluar malam sendirian rupanya suster.” Ujar seorang namja.

Aku kaget saat melihat seorang namja yang bersender pada mobil BMW putih itu. Seperti pertama kali aku melihatnya, baru kali ini aku melihat malaikat dengan kemeja putih dan celana biru muda tersenyum padaku. Wajahnya semakin terlihat bercahaya karena efek lampu yang tepat ada di atasnya.

“Jungsoo-shii…” Mungkin wajahku kali ini benar-benar seperti orang bodoh. Mulutku memang bergerak, tapi otakku kosong, masih fokus menyusuri setiap jengkal ukiran di wajah malaikat itu.

“Sudah kubilang, panggil aku Leeteuk.” Dia berjalan mendekatiku.

“Ne… ne… Leeteuk-shii”

“Jadi… apa yang kau lakukan malam-malam begini? Apa kau mencari udara segar lagi?”

“Hahahaha… aku hanya berjalan-jalan, aku bosan diapartemen sendirian. Lalu, apa yang dilakukan seorang idola malam-malam begini dipinggir jalan?” Aku berusaha sebisa mungkin bersikap tenang.

“Omo… jadi sekarang kau tau diriku?”

“Ne… kau adalah Leeteuk, leader Super Junior, salah satu boy band besar di korea bahkan Asia.” Ujarku menirukan ucapan Sooyeong

            “Aigoooo… sepertinya kau mulai mencari tentang diriku suster…” Leeteuk tertawa kecil dan menepuk-nepuk pundakku.

            “Ne… aku tidak mau terlihat seperti orang bodoh dihadapanmu lagi, jadi kau tidak bisa menggodaku!” Aku menjulurkan lidahku, dan itu membuatnya tertawa lebih kencang.

            “Mianhae… mianhae jika perlakuanku selama ini membuatmu tidak nyaman. Hmmm… sebagai namja yang baik aku akan mengajakmu jalan-jalan sebagai permintaan maaf…”

            “Mwo?”

            “Bukankah kau bilang kau sedang bosan? Aku juga sedang merasa bosan… Kajja kita jalan-jalan!”

            Aku tidak bisa menolak ajakan namja itu karena dengan cepat dia meraih tanganku dan menarikku sehingga terpaksa aku mengikuti langkahnya.

            “Ya~~~ apa kau meninggalkan mobilmu begitu saja?”

            “Kokcongma… tidak akan ada yang berani mencuri mobilku dengan kantor Polisi tepat berada didepannya hahahaha…” Namja itu tertawa lagi sambil menunjuk kantor Polisi yang berada di seberang jalan.

            “Kajja… kita akan bersenang-senang malam ini!”

Author POV

            Disepanjang trotoar terlihat ahjumma dan ahjusshi berteriak menjajakan dagangannya. Tak sedikit pula namja dan yeoja berjalan berdua menikmati keramaian di trotoar kecil itu sambil sesekali berhenti melihat dan membeli dagangan yang beraneka ragam, dari mulai makanan, minuman, aksesoris, bahkan penjualan binatang peliharaan kecil. Trotoar itu seperti berubah menjadi pasar malam kecil.

            Seorang namja berkemeja putih dengan topi biru mudah yang senada dengan celananya itu terlihat menggandeng tangan seorang yeoja dengan tudung hoodie biru yang kini menutupi kepalanya.

            “Ramai sekali!!!” Seru Jungshin mengerjap-ngerjapkan matanya, terlihat takjub dengan situasi di trotoar itu.

            “Apa kau belum pernah kesini?” tanya Leeteuk melepaskan genggaman tangannya.

            “Ne… aku belum pernah kesini.”

            “Aigooo…  bukankah ini dekat dengan apartemenmu? Apa sebegitu sibuknya menjadi seorang suster sampai-sampai kau belum pernah kemari?”

            Jungshin hanya tersenyum menjawab pertanyaan Leeteuk.

            “Apa kau sendiri sering ke sini? Bukankah kau ini seorang idola? Bukankah sulit bagi seorang idola berjalan-jalan ditengah keramaian seperti ini?”

            “Kokcongma… apa selalu menyiapkan ini…” Leeteuk mengambil sebuah kacamata berbingkai hitam dari tas kecilnya dan memakainya.

          “Arraseo… penyamaran yang bagus… Tapi kau tetap tidak bisa menyamarkan aura ketampananmu hahahaha…”

            “Kau ini pintar sekali memuji. Kajja… kita berkeliling.

Leeteuk POV

            Sepertinya moodku berangsur-angur naik melihat yeoja yang sekarang berada di depanku itu berkali-kali tertawa melihat sekelilingnya. Tapi aku sedikit aneh melihat tingkahnya itu. Berkali-kali dia bertanya tenang makanan, minuman dan barang-barang yang seharusnya dia ketahui sebagai orang Korea. Dia itu seperti yeoja yang ketinggalan zaman. Seperti yeoja yang baru pertama kali menginjakkan kakinya di di dunia ini.

            “Leeteuk-shii… apa itu toppoki?” tanyanya menujuk sebuah gerai makanan.

            “Ne… apa kau mau makan itu?” tanyaku diiringi anggukan kepalanya.

            “Aigoooo…. jeongmal mashita!!!” Serunya saat menyuapkan setusuk toppoki, kue beras dengan saus merah.

            “Ya~~~ apa kau belum pernah memakan ini?”

            “Aniya… dari dulu aku ingin sekali memakan ini saat menonton TV, tapi dokter melarangku.” Jawabnya masih sibuk melahap toppoki yang ada dipiringnya.

            “Mwo? dokter? Kenapa dia melarangmu?”

            “Karena itu tidak baik untuk kanker otak.”

            “Mwo? kanker otak?” Aku benar-benar heran, waktu itu juga dia berkata tentang kanker otak.

            “Ahhh maksudku… maksudku adalah makanan ini tidak baik untuk pasien yang terkena kanker otak, dan aku sebagai suster yang baik harus menjadi contoh yang baik.”

            Aku tahu dia menyembunyikan sesuatu, lagi-lagi reaksinya terlihat gugup, tidak mau menatapku.

            “Jungshin-shii… sebenarnya siapa kau ini?” tanyaku dalam hati.

            Kami melanjutkan acara jalan-jalan kami setelah Jungshin puas melahap 2 piring toppoki. Kami duduk di bangku taman tak jauh dari pasar malam kecil itu. Kami mengobrol sejenak. Jungshin adalah yeoja yang lucu, berkali-kali perutku dibuat kaku karenanya. Dia juga seorang yeoja yang sangat bersemangat.

            “Omo… baru kali ini aku bertemu yeoja seoptimis dan bersemangat sepertimu.”

            “Hahaha… kita ini hidup hanya sekali, jadi kita harus terus bersemangat agar kita tidak menyesalinya.” Ujarnya tersenyum

            “Wow… sepertinya selama ini hidupmu selalu bahagia, jadi kau bisa berkata seperti itu.”

            “Ani… aniya… aku berani bertaruh hidupmu jauh lebih bahagia.”

            “Wae?”

            “Karena kau masih bisa tersenyum, berjalan, berlari, dan melakukan apapun sesuai keinginanmu. Bahkan kau bisa membuat orang lain ikut bahagia. Karena kau masih diberi kesehatan Leeteuk-shii… kau sungguh beruntung…” Jungshin menatapku langsung dan tersenyum. Tapi aku bisa melihat ada kesedihan dalam mata dan senyumannya itu.

            “Bukankah kau juga sehat? Kau ini seorang suster!”

            “Hahaha kau benar… sekarang aku adalah suster.” Jungshin mendongakkan kepalanya menatap langit.

            “Sebaiknya kau kuantarkan pulang sekarang…” Ujarku setelah sempat beberapa menit kami terdiam.

            “Aniya… aku bisa pulang sendiri Leeteuk-shii…”

            “Namja macam apa aku ini membiarkan seorang yeoja pulang sendiri ditengah malam!”

            Tanpa menunggu persetujuannya, aku menarik tangannya.

            “Leeteuk-shii!!!” Serunya protes

            Aku masih menggenggam tangannya saat kami sampai di tempat mobil BMW putihku terparkir sendirian.

            “Masuklah…” Aku membukakan pintu mobilku dan memperlihatkan wajah memaksakku sebelum yeoja itu membuka mulutnya untuk protes.

            “Kamsahamnida Leeteuk-shii…” Ujarnya saat perjalanan menuju apartemennya.

            “Nado… kamsahamnida, kau telah membuatku senang malam ini.”

            “Hahaha.. itu memang tugasku sebagai seorang suster.”

            “Ya~~~ saat ini aku bukan pasienmu lagi.”

            “Arraseo leeteuk-shii… kau tidak boleh menjadi pasienku lagi.”

            “Mwo? Wae?”

            “Aishhhh… jika kau menjadi pasienku lagi, itu berati kau sedang sakit!”

            “Hahahaha… apa kau mengkhawatirkanku suster?”

            “Andweee!!! Berhentilah menggodaku!”

            “Hahaha mianhae!!!” Aku sulit menghentikan tawaku saat aku meliriknya dan melihat wajahnya memerah, entah karena malu, atau karena kesal.

            “Stop… “ Ujarnya

            “Ahhh… jadi ini apartemenmu? Terlihat indah…” Aku menghentikan mobilku di depan sebuah gedung apartemen yang tidak terlalu besar tapi terlihat nyaman.

            “Ne… jeongmal kamsahamnida Leeteuk-shii… aku sangat senang seorang idola mau mengajak yeoja biasa sepertiku jalan-jalan hehehe…”

            “Hahaha ne… ne… aku juga senang melihat Susterku tertawa.”

            “Baiklah… hati-hati menyetir Leeteuk-shii.”

            “Tunggu!!!” Aku menarik lengan Jungshin sebelum dia keluar dari mobil.

            “Mwo?” tanyanya heran.

            Aku mengambil tasku di jok belakang dan mencari benda kecil yang aku beli tadi di pasar malam kecil.

            “Ini untukmu…” Ujarku menyerahkan sebuah bros kecil berbentuk bunga dengan warna yang berbeda disetiap kelopaknya.

            “Mwo? untukku?” Jungshin terlihat kaget kali ini.

            “Ne… ku pikir itu cocok untuk yeoja yang bersemangat sepertimu. Semoga hidupmu bisa berwarna seperti bros ini…”

            Aku melihat senyuman tergurat di wajahnya, dan rona merah mulai terlihat dikedua pipinya.

            “Kamsahamnida Leeteuk-shii… kali ini aku mengakuimu sebagai malaikat hahahaha…”

Jungsin POV

            Aku menghempaskan tubuhku di atas kasurku yang empuk setelah merasa lelah berjalan-jalan semalaman. Aku meraih bros pemberian Leeteuk dari kantong hoodieku. Aku mengangkatnya tinggi-tinggi. Kilauan warna-warni dari kelopaknya terlihat semakin indah saat terkena pantulan cahaya lampu kamarku. Aku belum pernah menerima hadiah indah seperti ini dari seorang namja. Seingatku, chinguku sewaktu sekolah hanya memberiku bunga, kartu ucapan, dan buah-buahan saat aku tergeletak di rumah sakit.

            “Gomawoe Leeteuk-shii…” Aku memeluk bros kecil itu dalam dekapanku dan menutup mataku, terlelap tidur, dengan mimpi indah tentang namja berlesung pipi itu.

Keesokan harinya,

            “Kamsahamnida… semoga cepat sembuh…” Ujarku ceria pada seorang pasien yang selesai diperiksa oleh Dokter Han.

            “Omo… kau terlihat sangan ceria Jungshin-shii, tidak gugup seperti biasanya.” Dokter Han tersenyum melihatku, masih melambaikan tangan pada pasien itu.

            “Ne… tentu saja Dokter…”

            Aku mulai terbiasa dengan pekerjaanku ini. Ternyata menjadi suster bukanlah hal yang mudah seperti yang aku lihat selama ini. Aku jadi teringat suster yang merawatku waktu itu. Dia selalu tersenyum saat memberikan laporan kesehatanku setiap hari. Walaupun hasilnya tidak baik, dia selalu berusah a menyampaikannya dengan ceria, sehingga akupun tidak terlalu khawatir dengan kondisiku sendiri.

            “Dreetttt…”

            Aku merogoh kantong seragamku mengambil handphone yang bergetar. Ternyata ada 1 text message dari nomor yang tak dikenal.

            Annyeong suster…

            Bagaimana kabarmu hari ini???

            Pasienmu- Leeteuk

            “Omo… Leeteuk-shii????” Rasanya tanganku bergetar. Tentu saja aku merasa kaget, seorang Idola sepertinya mengirimkan text message padaku.

            To        : Leeteuk

            Apa benar kau ini Leeteuk leader Super Junior itu?   Bagaimana kau tahu nomorku?

“Drettt”

From      : Leeteuk

Tentu saja ini aku… tidak ada namja yang menggunakan nama Leeteuk selain diriku hehehe… Hmmm… aku iseng menanyakan nomormu pada Dokter Han :p

To          : Leeteuk

Omo… apa yang inginkan dariku? Jangan-jangan kau ngefans padaku Leeteuk-shii hahaha…

“Dreeeettt”

From      :Leeteuk

Mungkin saja… kau ini yeoja yang aneh, aku jadi penasaran hahaha… Apa nanti malam kau keluar lagi?”

To          : Jungshin

Ya~~ apa kau menggodaku lagi? Aku memang aneh!!! Mollayo… wae? Kau mau mengajakku jalan-jalan lagi?

“Dreeet”

From      : Leeteuk

Hahaha mianhae Jungshin-shii… Tentu aku ingin jalan-jalan lagi denganmu, tapi hari ini jadwalku padat sekali. Jadi, sebaiknya kau tidak keluar malam ini.

To          : Leeteuk

Mwo? Wae?

“Dreeeet”

From      : Leeteuk

Karena aku tidak bisa menemanimu malam ini. Kau tidak boleh jalan-jalan sendirian seperti tadi malam. Kau tahu banyak penjahat di Seoul.

Tanpa sadar aku tersenyum melihat text message dari pasien pertamaku itu. Aku merasa senang mendapat perhatian darinya. Sejak itu, kami saling mengirimkan text message, walaupun tidak setiap hari. Terkadang aku masih tidak percaya jika namja yang mengirimiku text message itu adalah Leeteuk, namja yang dijuluki Angel oleh ELF, fans Super Junior.

Leeteuk POV

“Hyung… ku lihat akhir-akhir ini kau asik sekali dengan iphonemu… apa kau sedang pdkt dengan seorang yeoja?” Tanya roomateku Donghae saat aku tertawa membaca balasan dari Jungshin.

“Hahaha… rahasia…”

“Aishhhhh… Ya~~ Hyung ceritalah padaku… aku jadi semakin penasaran!!! Omo… omo… apa suster yang waktu itu bertemu kita di coffee shop?”

Aku mengangguk

“Jinjja??? Berarti benar kan kau jatuh cinta pada pandangan pertama Hyung!!! Chukae… Chukae…”

“Aniyoooo… aku hanya merasa nyaman bersamanya… tidak lebih…”

“Aigooooo… itu adalah awal dari cinta Hyung!!! Tidak mungkin namja dengan mantan yang banyak sepertimu tidak tahu masalah seperti ini hahahaha….”

“Ya~~~ Donghae-ya!!!” Aku mengejar dongsaengku yang kini berlari sambil tertawa menghindari lemparan bantalku.

            Sudah cukup lama aku tidak bertemu dengannya, tapi aku sudah merasa sangat dekat walaupun kami hanya berhubungun lewat text message dan kadang-kadang aku menelponnya. Aku belum bisa bertemu dan mengajaknya jalan-jalan lagi karena jadwalku yang padat akhir-akhir ini. Konser Super Show, syuting program talk show, pemotretan, dan siaran radio. Aku sendiri heran aku masih bisa menegakkan tubuhku dan tersenyum melewati itu semua.

            “Akhirnya hari ini kita bisa break sebentar… Aigoooo aku sangan merindukan Shinhae… jeongmal bogoshipo!!!!” Seru Donghae memeluk bantalnya.

            “Ya~~ Ya~~ cepatlah temui yeojamu itu… lama-lama kau seperti orang gila setiap hari memandangi foto Shinhae!”

            “Mianhae hyung hehehe… aku akan menemuinya nanti. Kau juga sebaiknya menemui sustermu itu Hyung… Lihatlah wajah malaikatmu lama-kelamaan luntur karena kecapekan.”

            “Ne… aku memang berencana mengajaknya jalan-jalan hari ini. Aku akan mandi dulu.. oh ya… sampaikan salamku untuk Shinhae”

            “Arraseo akan kusampaikan.”

            Aku mengambil iphoneku dan mencari kontak “Jungshin” di contact listku.

            “Yeobboseo…” ujar suara kecil itu

            “Apa kau libur hari ini Jungshin-shii?’

            “Ahhh Leeteuk-shii… ne.. aku libur. Wae?”

            “Aku ingin mengajakmu jalan-jalan lagi. Kau mau?”

            “Mwo? apa kau tidak sibuk?”

            “Aniya… kami libur sehari sehabis Super Show. Aku akan menjemputmu… arraseo…”

            “Ne… arraseo Leeteuk-shii…hati-hati dijalan”

            “Auwwwwww…” Tiba-tiba aku merasakan sedikit nyeri dipunggungku saat aku hendak mengambil jaket baseballku.

            “Aissshhhh kumohon jangan kambuh disaat seperti ini!!!” Ujarku lirih. Punggungku yang dulu terluka saat kecelakan mengerikan waktu itu, sering terasa nyeri akhir-akhir ini, mungkin karena aku kecapean.

            Aku berusaha menahan nyeri ini dan bergegas mengambil kunci mobilku. Untunglah nyeri itu sedikit berkurang saat aku memasuki basement apartemen Jungshin, dan melihat senyum dari yeoja yang membukakan pintunya untukku.

            “Leeteuk-shii… masuklah..”

            “Omo… sudah lama kita tidak bertemu dan kau terlihat semakin gemuk.”

            “Mwo??? itu berarti aku semakin sehat… Kau sendiri terlihat capek dan kurus. Apa tidak apa-apa kita jalan-jalan?” Jungshin menatap mataku terlihat khawatir.

            “Gwencana… jebal kita berangkat.”

            “Tunggu… aku mengambil bekal dulu. Aku membuat Gimbab untukmu.” Jungshin kembali tersenyum dan berlari kecil ke arah dapurnya.

            Tiba-tiba saja aku merasakan nyeri yang luar biasa di punggungku. Rasanya seperti ada beribu-ribu pisau yang ditancapkan ke dalam punggungku.

            “Arrrrghhhh… “ Aku mengerang kesakitan. Aku bertumpu pada tembok disebelahku. Sepertinya sebentar lagi aku akan ambruk, aku tidak kuat menahan rasa sakit ini.

            “LEETEUK-SHII….!!! Aku mendengar Jungshin berteriak melihat keadaanku. Dia berlari ke arahku dan menahanku agar tidak jatuh.

To be Continue alias bersambung

 

 

Second Chance (Part 1)

Annyeong readers…

Author kembali dengan FF untuk Uri Angel and Uri Leader, Leeteuk hohoho…

Gak enak rasanya melihat roomatenya dah pny pairing hahaha…

So, here we go…

Jeng.. Jeng… *pukul panci…

Komen, kritik, dan saran selalu ditunggu…

Kamsahamnida…..

Seandainya aku bisa bertemu Tuhan,

Aku ingin bercakap-cakap dengan-Nya,

Aku ingin Dia mengabulkan sebuah permintaan,

Permintaanku bukanlah permintaan yang ringan,

Untuk itulah aku hanya bisa meminta kepada-Nya,

Hanya Dia yang bisa mengabulkannya,

Aku,

Aku hanya ingin bisa dilahirkan kembali,

Dilahirkan dalam tubuh yang berbeda,

Dalam keadaan yang berbeda,

Jika tidak,

Berikanlah kesempatan padaku,

Kesempatan untuk bisa merasakan hidup,

Hidup yang sesungguhnya,

Aku harap Dia bisa menjawab “YA”,

***

Entah berapa kali jarum-jarum suntik itu menyentuh tubuhku,

Entah berapa kali selang-selang itu melilit tubuhku,

Aku tak peduli,

Saat ini mungkin terakhir kalinya aku bisa melihat dunia,

Dunia yang belum benar-benar aku rasakan,

Aku mendengar suara-suara terus bergumam disekelilingku, terkadang terdengar kencang, terkadang hanya terdengar seperti hembusan angin. Sebelumnya aku bisa mendengar suara tangisan dari orang-orang yang kusayang. Mereka terus menerus memanggil namaku. Aku ingin memjawab panggilan-panggilan itu, aku ingin bisa berteriak dan berkata bahwa aku akan baik-baik saja, apapun yang akan terjadi.

“Baiklah dokter, kita mulai operasi sekarang.”

“Ne… semoga bisa berjalan lancar”

Itu adalah kata-kata terakhir yang bisa kudengar sebelum cairan berwarna bening itu menyebar ke seluruh aliran darahku, dan membutakan seluruh indraku.

“Tuhan, jika kau ada disampingku sekarang, maukah Kau mengabulkan permintaanku tadi???”

***

Beberapa detik atau menit atau jam atau hari atau minggu atau bulan atau beberapa tahun kemudian, entahlah, aku pun tak tahu….

“JungShin-ah… bangunlah… Jebal…”

“JungShin-ah…!!!” suara itu terus memanggilku, makin lama makin kencang, membuatku terusik…

Akhirnya aku membuka mata. Sosoknya terlihat kesal, sosok yang aku sayang, sosok yang ingin ku peluk.

“Omma?????” Tak sadar aku langsung bangun dari posisi tidurku, dan langsung memeluk ahjumma yang selama ini kurindukan.

“Aigooooo…. apa yang kau lakukan???”

“Omma… Omma… Omma…” Aku terus memanggilnya

“Ya~~ Ya~~ Ya~~ apa kau ini sedang sakit!”

Seketika tubuhku kaku mendengar kata-kata itu. Aku tersadar, aku melepaskan pelukanku dan mengedarkan pandangan ke sekelilingku. Aku mengingatnya, aku tahu ruangan ini… Ini adalah kamarku, aku masih hafal warna biru muda yang menenangkan mata. Aku masih hafal langit-langit yang dipenuhi stiker-stiker bintang. Bahkan aku masih hafal aroma hangat kamarku.

“Omma… kenapa aku bisa ada disini?” Aku memalingkan wajahku dan menatap Omma yang terlihat bingung.

“Mwo? Tentu saja kau ada disini. Ini kan kamarmu… Kau di sini sejak tadi malam.”

“Hajiman… bukankah aku seharusnya ada di meja operasi sekarang?”

“Mwo? meja operasi? Apa maksudmu?”

“Bukankah, bukankah sekarang aku harus dioperasi?”

“Hahahaha… JungShin-ah… apa kau pikir luka kecil dikepalamu itu perlu dioperasi?” Omma tertawa, dan aku masih tertegun melihatnya.

“Luka?” Aku menyentuh dahiku, dan memang aku merasakan benjolan kecil.

“Omo… apa kau lupa? Tadi malam kau itu tertimpa kardus di kantormu. Kau sedikit pusing tadi malam,kau pulang ke rumah, dan kau langsung tidur…”

“Sudahlah.. cepat kau bersiap-siap… apa kau tidak berangkat kerja?” lanjut Ommaku dan dia pun pergi meninggalkanku yang masih terduduk di atas kasurku.

“Omo… Omo… apa yang terjadi? Kenapa aku bisa di sini?” Aku bicara sendiri.

Perlahan aku menurunkan kakiku satu persatu dari ranjangku. Perlahan aku melangkahkan kakiku ke cermin coklat besar yang berdiri di sudut kamar.

Aku melihat sosok yeoja berambut pendek sebahu. Aku bisa melihat tubuhnya tidak sekurus yang aku ingat selama ini. Pipinya terlihat merah merona, tidak sepucat yang aku ingat selama ini. Aku melihat menyusuri setiap jengkal kulit tubuhnya, dan aku tidak melihat bekas suntikan jarum-jarum. Aku mengulurkan tanganku untuk menyentuh yeoja itu. Yeoja itupun melakukan hal yang sama.

“Apa itu kau Lee JungShin?” Aku bertanya pada sosok dalam cermin itu.

“Kau terlihat sehat… kau bisa tersenyum… apa benar itu kau?” Aku masih tak percaya melihat Yeoja itu. Aku masih menatap yeoja itu lama, dan beberapa detik kemudian aku melihat bulir-bulir air mata menetes dari matanya yang terlihat sipit.

“Apa Tuhan telah mengabulkan permintaanku?”

“Apa sekarang aku dilahirkan kembali?”

“Apa akhirnya aku diberi kesempatan untuk merasakan hidup?”

Perlahan tubuhku jatuh ke bawah, aku terduduk di atas karpet putih tebal.

“Gomaweo… Gomaweo…” aku terus mengulang-ulang kata-kata itu diselingi isak tangis yang tidak dapat kutahan.

“Terima Kasih Tuhan… aku akan memanfaatkan kesempatan ini sebaik mungkin.”

***

“JungShin-ah. Kenapa kau lama sekali? Apa kau tidak takut terlambat?” tanya ommaku setelah melihatku sehabis mandi.

“Mwo? terlambat untuk apa?”

“Tentu saja terlambat kerja.”

“Kerja? Apa aku kerja? Dimana?”

“Aigoo… apa luka itu membuatmu amnesia???” Ommaku terlihat syok dan bingung.

Aku pun bingung dibuatnya. Aku benar-benar tidak tahu apa yang terjadi. Aku sama sekali tidak ingat. Ingatkanku hanyalah ingatan hidupku sebelumnya, ingatan yang pahit, ingatan yang tidak ingin aku simpan…

“JungShin-ah!!!! Kenapa kau belum siap! Kita bisa terlambat!” Tiba-tiba seorang yeoja muncul dari pintu rumah memanggil namaku. Aku mengenalnya. Tentu saja, dia adalah chingu terbaik yang aku miliki. Aku senang dia juga ikut ke hidupku yang baru ini.

“Sooyoung!!!” Aku berlari melewati ommaku yang masih terlihat bingung dan memeluk chinguku itu.

“Sooyoung-ah… kau tidak berubah… kau masih terlihat cantik… Omo aku sangat merindukanmu… Jeongmal bogoshipo…” Seruku, masih memeluknya.

“Ya~~ Ahjumma… apa yang terjadi pada anakmu ini?” Sooyoung bingung. Dia terlihat pasrah dipeluk.

“Molla… sejak bangun tidur sikapnya sangat aneh… mungkin itu gara-gara kecelakaan tadi malam.”

“JungShin-ah.. jebal lepasakan pelukanmu ini!!! Kau aneh sekali!”

“Mianhae… aku terlalu senang melihatmu…” Aku tertawa

“Mwo? baru saja tadi malam kita bertemu. Jinjja kau membuatku takut JungShin-ah.”

***

“Mwo??? Hidup kembali?” Sooyoung terlihat sangat terkejut mendengar ceritaku tentang permintaanku pada Tuhan. Kacang yang tadi dipengangnnya jatuh berserakan.

“Ne… aku pun merasa bingung…”

“Jungshin-ah… imajinasimu sungguh tinggi. Bagaimana kau bisa hidup di lain waktu. Selama ini aku bersamamu, dan aku bisa pastikan kau tidak kemana-mana, kau adalah Jungshin yang sekarang, bukan Jungshin yang kau ceritakan tadi.”

“Sooyoung-ah.. percaya lah padaku… Aku tidak ingat apapun selain ingatanku sebelumnya. Aku bahkan tidak tahu kalau aku sudah bekerja, punya apartemen sendiri seperti yang kau katakan.”

“Aigooo… bagaimana aku bisa percaya pada hal mustahil seperti itu… Mungkin ini gara-gara kardus sialan yang jatuh tepat di atas kepalamu itu… Sebaiknya kau periksa ke dokter.”

“ANDWEEEE…!” Lagi-lagi tubuhku mengejang mendengar kata-kata sakit, rumah sakit, dan dokter.

“Aku tidak akan menginjakkan kakiku ke tempat mengerikan itu!” Seruku.

“Arraseo… Arraseo… tenangkan dirimu… Lihatlah semua orang menatap kita.”

“Jadi… kau bisa percaya padaku?”

“Mollayo… Kau kena cancer, lalu kau hidup kembali… apa aku bisa percaya itu semua?”

“Kumohon… kau harus membantuku menjalani kehidupan baruku ini.”

“Aisssshhhhh…. ne… ne… aku akan menuruti khayalan anehmu itu… Sebagai gantinya, kau harus menraktirku seumur hidupmu.”

“Arraseo… gomawoe Sooyoung-ah…” Aku memeluknya lagi. Aku merasa bahagia.

“Ya~~ lepaskan aku… jebal kita sebentar lagi terlambat.”

“Ahhh ne… tapi sebenarnya dimana kita bekerja?”

“Jika melihat reaksimu tadi, kupikir kau tidak akan suka tempatmu bekerja.” Sooyoung mengigit bibirnya, terlihat khawatir.

“Mwo? Wae? Memangnya aku berkerja dimana?”

“Itu…” Sooyoung menunjuk sebuah gedung besar. Di sana terpampang tulisan besar Seoul Hospital.

“Mwo??? kita bekerja di rumah sakit?” Uratku terasa tertarik kaku, jantungku berpacu dengan cepat.

“Ne… kau adalah seorang suster.”

“Mwo? Suster? Aigooooo….”

***

“ JungShin-ah… apa yang kau lakukan di situ…”

“Ahhh… ne… ne… chosonghamnida dokter…” Aku benar-benar blank. Tubuhku bergetar hebat saat harus berjalan melewati lorong rumah sakit, berganti pakaian seorang suster, dan sekarang harus berhadapan dengan dokter.

“Kau terlihatn aneh Jungshin-ah… Gwencana?” Tanya seorang ahjussi yang tak lain adalah Dokter di Rumah Sakit tempatku berkerja, dan aku adalah asistennya.

“Ne… ne… gwencana… hehehe…”

“Omo… Sooyoung-ah… help me!!!” Aku berteriak dalam hati.

“Ya Tuhan… apa aku tidak bisa dipisahkan dari Rumah Sakit??? Wae???” Lanjutku masih dalam hati.

Rasanya aku ingin muntah berada di sini… Mataku sudah bosan melihat seprei putih, lorong panjang, jarum suntik, selang infus, dan Hidungku sudah menolak bau obat yang terasa di Rumah Sakit. Walaupun statusnya berbeda, jika aku bisa meminta lagi, aku pasti akan minta untuk dipindahkan. Seumur hidupku aku sudah puas berada di tempat ini sebagai pasien, dan sekarang aku tidak ingin lagi berada di sini, meskipun sekarang aku menjadi seorang suster.

“Annyeong…” Suara seoarang namja yang tiba-tiba masuk ke ruang periksa telah membuyarkan lamunanku.

“Ahhh Leeteuk-shii…” jawab dokter Han.

Mataku tak berkedip saat melihat namja itu. Aku seperti melihat malaikat. Rambutnya yang pirang gelap terlihat cocok dengan kulitnya yang putih. Dan senyumnya itu… Senyum dengan lesung pipi kecil… senyum seorang malaikat.

“Jungshin-shii…” Aku tidak mendengar panggilan Dokter Han, mataku masih menatap lekat namja itu.

“Mwo?? ahhh… chosonghamnida Dokter Han…” Aku tersipu malu, bukan malu karena Dokter Han, tapi aku malu melihat namja itu tertawa kecil melihatku yang kelihatan sekali sedang menatapnya.

“Aigooooo… Leeteuk-shii… kau harus mengurangi aura ketampananmu itu… Lihatlah susterku terkena auramu… hahahaha…” Ujar Dokter Han tertawa

“Hahahaha… mianhae…” Namja itu juga ikut tertawa dan menyibakkan poni rambutnya.

“Jungshin-shii tolong ambilkan dokumen pasien Park Jung Soo.” Pinta Dokter Han

“Mwo? Ah ne…” terlihat sekali aku kelabakan. Untunglah Dokter Han menunjukkan tempat dokumen itu tersimpan.

“Jadi… apa yang terjadi padamu sekarang? Apa punggungmu terasa nyeri lagi?” tanya Dokter Han pada namja itu, selagi aku sibuk mencari dokumen dengan nama Park JungSoo.

“Aniya… kali ini jari kelingkingku patah.”

“Omo… kau ini… Baiklah aku akan mengambil peralatanku dulu.” Dokter Han beranjak dari kursinya dan melangkah keluar ruangan.

“Brukkkkkk…”

“Aishhhhhh… babo!!!” Aku mengumpat dalam hari saat menjatuhkan dokumen-dokumen yang kini berserakan di lantai.

“Gwencana?”

“Omo…” Aku kaget namja itu kini telah disampingku membantu membereskan kecerobohanku ini.

“Wae… kau terlihat kaget sekali… Apa kau benar-benar terpukau dengan ketampananku?” Namja itu tersenyum membuatku semakin salah tingkah.

“Mwo??? Andweeee…” Aku buru-buru memalingkan wajahku dan berusaha fokus mengumpulkan dokumen-dokumen yang masih berceceran.

“Hahahaha… lihatlah mukamu merah.” Namja itu kini tertawa

“Tentu saja mukaku merah… wajahmu tadi dekat sekali dengan wajahku!” Seruku dalam hati.

“Aigooo… apa yang kalian lakukan?” tanya Dokter Han melihatku dan Namja yang masih tertawa itu.

“Chosonghamnida dokter Han, aku menjatuhkan tumpukan dokumen ini.”

“Ckckcckk… kau harus lebih berhati-hati Jungshin-shii…. Leeteuk-shii kemarilah biar aku memeriksamu.”

“Ne…” Namja itu menepuk bahuku sebelum beranjak pergi untuk pemeriksaan.

“Jinjja… siapa dia itu? Percaya diri sekali mengatakan dirinya tampan.” Ujarku dalam hati.

Author POV

“Syukurlah ini tidak parah. Cukup di gips dan diperban…” Ujar Dokter Han

“Jinjja? Kamsahamnida Dokter Han…”

“Lain kali kau harus hati-hati Leeteuk-shii… kau ini kan idola dengan jadwal yang super sibuk, jadi kau harus menjaga dirimu sendiri. Apa lagi sampai sakit punggungmu itu kambuh.”

“Ne… arraseo Dokter Han.” Leeteuk tersenyum mendengar jari kelingkingnya yang patah saat syuting itu tidak parah.

“Jungshin-shii… tolong kau perban jarinya.” Pinta Dokter Han pada susternya itu.

“Mwo? Aku?” Jungshin terlihat bingung mendapatkan perintah dari atasannya itu.

“Ne… siapa lagi suster yang ada disini. Jebal… “

“Ah ne.. ne.. ne…” Jungshin melangkah gontai mengambil peralatan.

“Leeteuk-shii… aku masih ada urusan sebentar… aku permisi dulu.” Dokter Han pergi ke luar ruangan meniggalkan namja dan yeoja itu.

Beberapa menit kemudian,

            “Aigooo… apa kau ini benar-benar seorang suster?” Ujar Leeteuk yang sekarang duduk di pinggir ranjang pasien, memperhatikan Jungshin yang sibuk mengurus jari kelingkingnya.

            “Mwo??? Ngggg… tentu saja. Wae?”

            “Lihatlah caramu membalut jariku. Kau membuatnya seperti sedang mengikat tali sepatu.”

            “Jinjja… Aigooo… chosonghamnida.”

Jungshin POV

“Aigooo aku benar-benar tidak tahu caranya membalutkan perban ini. Biasanya kan aku yang diperban! Eottokae…”

Rasanya aku ingin lari dari ruangan itu secepatnya. Aku benar-benar tidak tahu apa yang sebenarnya harus aku lakukan. Ditambah lagi sedari tadi namja ini memperhatikan gerak-gerikku.

“Atau kau sebegitu gugupnya berada dekat denganku?” tanya namja itu lagi.

“Mwo???? Gugup??? Andweee….!!!”

“Hahahaha… kau tidak pintar berbohong suster…”

Leeteuk POV

“Hahahaha… kau tidak pintar berbohong suster…” Aku tertawa melihat tingkah suster ini.

Sejak pertama aku datang, aku tahu kedua matanya itu terus menatapku. Dan aku geli melihat tingkahnya yang terlihat bingung seperti ingin menangis.

“Apa kau ini seorang ELF?” tanyaku penasaran.

“Mwo? ELF? Apa itu?” Suster itu masih sibuk membalutkan perban pada jariku.

“Aigooo…. kau tak tahu ELF? Tunggu… kau tahu siapa aku?”

“Andwe… memangnya kau siapa?” Suster itu mendongakkan kepalanya dan menatapku.

“Benarkah kau tidak tahu?” Aku melihat kedua matanya, dan aku yakin dia tidak berpura-pura.

“Omo… apa kau tidak pernah nonton TV?” tanyaku lagi.

“Hmmm… tentu saja pernah. Kau pikir aku dari ini manusia purba!” Aku tersenyum lagi melihat tingkahnya yang kini melotot padaku.

“Tapi… dokter tidak membolehkanku untuk menonton lama-lama…” lanjutnya.

“Mwo? Wae? Kenapa dokter?”

“Entahlah… katanya TV membuatku tidak bisa istirahat, dan itu bisa memperparah kanker otak.”

“Mwo? kanker otak?” Aku bingung mendengar jawabannya.

“Ahhh… maksudku… aku akan malas bekerja dan kebanyakan nonton TV bisa membuat otakmu rusak hehehe..” Suster itu terlihat gugup dan terlihat menyembunyikan sesuatu. Entahlah, aku semakin penasaran denganya.

Jungshin POV

            “Jungshin… kau ini sungguh babo!!!” umpatku dalam hati.

Aku benar-benar lupa. Sekarang aku kan bukan Jungshin yang dulu. Aku benar-benar harus berhati-hati.

“Jadi… siapa kau sebenarnya?” Aku berusaha mengalihkan pembicaraan.

“Apa kau ini artis?” Aku tadi mendengar Dokter Han menyebutkan kata-kata Idola.

“Hahahaha… apa aku terlihat seperti seorang artis?” tanyanya tersenyum, memperlihatkan lesung pipinya lagi.

“Ne… kau terlihat tampan, kulitmu putih dan halus, pakaianmu terlihat stylist, rambutmu juga terlihat tertata sekali. Lagipula jarang namja mau mengecat rambutnya dengan warna seperti rambutmu”

“Omo… Omo… apa kau ini suster sekaligus detektif?”

“Hahahaha… begitulah… Jadi tebakanku benar?”

“Entahlah…” Kali ini namja itu tidak tersenyum, dia hanya menatapku, tajam. Tanpa alat pacu jantungpun, sekarang jantungku sudah berdetak kencang, ditambah jarak kami sangat dekat. Aku belum pernah sedekat ini dengan seorang namja. Satu-satunya namja yang ada hanyalah dokter spesialisku dulu, dan umurnya tentu jauh di atas namja yang ada didekatku ini.

“Auuuwwwwww… Ya~~ Apa yang kau lakukan!” Namja itu menjerit kesakitan karena aku sengaja mengikat perbannya dengan kencang. Aku benar-benar gugup.

“Baiklah selesai… semoga cepat sembuh.” Aku berkata dengan cepat dan segera membereskan peralatanku tanpa melihat wajahnya.

“Aishhhh… kau ini memang suster yang aneh.” Ujarnya.

Aku hanya tersenyum, tentu saja senyum yang dibuat-buat, dan aku bergegas pergi.

“Ya~~ Suster…!” terpaksa aku berhenti mendengarnya memanggilku.

“Setidaknya katakan siapa namamu” tanyanya

“Wae?”

“Jadi aku bisa mencari suster yang lebih baik darimu hahahaha…”

“Aishhhhhh… arraseo… Lee JungShin Imnida… semoga kau tidak kembali kesini lagi.” Jawabku ketus.

“Hahahaha… senang bertemu denganmu Jungshin-shii… Aku Park Jungsoo… Aku juga tidak berharap kembali ke sini.”

“Aishhhh… sepertinya imajinasiku tentang malaikat tadi itu salah!!!” Ujarku dalam hati.

Aku kembali melanjutkan langkahku yang terhenti tanpa menengok namja dibelakangku yang masih tertawa itu…
Ya Tuhan… inikah hidup yang sebenarnya….

To be Continue alias Bersambung